
Terimakasih telah membaca buku ini.
Dari judulnya saja sudah ketahuan dong ya, buku ini melanjutkan cerita dari Kabut Tengkorak pertama.
Langsung pada intinya, selamat membaca.
—--
Setelah melumpuhkan Tongkar dan meninggalkannya di pinggiran jalan Tol kota Named.
Aji kembali menuju rumah Tongkar, dia ingin mengambil beberapa dokumen yang disimpan Tongkar.
Dia kembali ke wujud manusianya, hujan pun turun sangat deras. Disepanjang perjalanannya dia melihat setidaknya 4 kecelakan lalu lintas yang disebabkan mobil anggota IVAC yang menabrak pengguna jalan lain.
Situasinya kacau, polisi dan militer dimana-dimana. Mereka sepertinya bersiap mencegah sebuah peristiwa besar.
Sejak peristiwa kudeta dinasti Viktor tahun 2018, pemerintah pusat memperkuat polisi dan militer dikota Named. Presiden takut sisa-sisa ormas IVAC memberontak dan kembali menyatakan kemerdekaan Sumarea.
Dan menyadari banyaknya senjata api ilegal yang tersebar dimasyarakat, membuat kondisi Sumarea khususnya kota Named sangat tidak stabil.
Tongkar adalah salah satu jendral IVAC yang masih tersisa dan paling yang menonjol setelah ditangkapnya Pistol. Bahkan dia terang-terang memproklamirkan IVAC Generasi Baru, dan mencoba mengumpulkan kembali kekuatannya.
Saat Aji tiba dirumah Tongkar, sudah banyak sekali polisi dan militer yang berkumpul. Garis dilarang melintas yang berwarna kuning cerah dipasang melintasi seluruh rumah itu.
Dia mengamati rumah itu dari kejauhan, tak lupa diambilnya batu berwarna hitam yang mirip sekali dengan permata berbentuk navette yang masih terpasang di motor trail.
Aji mengetahui posisi penyimpanan barang-barang yang dicarinya dari membaca pikiran Tongkar saat dia mengalahkannya. Tapi dia tidak mengetahui apakah barang-barang itu telah dipindahkan apa belum.
Melihat banyak sekali orang yang berkumpul dirumah ini meskipun telah malam hari dan hujan turun sangat deras. Akan sangat sulit bagi Aji mengambil barang-barang itu tanpa menghadapi mereka semua.
Dia tak bisa menunggu lebih lama lagi, Fitri akan menghubunginya malam ini. Dia harus segera tiba dirumah dan menjawab panggilan telepon istri dan anaknya.
Keluarganya akan sangat cemas jika Aji tak menjawab panggilan mereka. Mereka hanya tahu Aji sedang karantina mandiri akibat terinfeksi virus covir dan kondisinya sangat lemah.
Dia belum menceritakan kepada siapapun tentang kekuatan yang diperolehnya. Bahkan kepada istrinya sekalipun.
Kembali pada Aji, dia sudah mendapatkan sebuah ide. Kemudian Aji merubah wujudnya menjadi Kabut Tengkorak dan meninggalkan motornya dipinggir jalan.
Dia sangat percaya diri mampu melumpuhkan semua petugas yang menjaga rumah Tongkar. Tubuhnya mengeluarkan kabut asap yang sangat tebal untuk menghalangi pandangan petugas disekitar.
Dia berlari menuju tembok yang sore tadi coba dirubuhkannya. Namun petugas yang berjaga dengan cepat menyadari kehadiran orang asing.
Benar dugaan Aji, batu permata hitam yang diambil dari motornya merupakan batu yang mengandung kekuatan sangat besar.
"Deraaag," hanya dengan sekali pukulan dia mampu membuat lubang besar di tembol tebal rumah mewah itu.
__ADS_1
Aji langsung masuk menuju tempat penyimpanan Tongkar, dia mengetahui ada ruangan khusus didalam kamar utama. Ruangan itu tersembunyi dibalik lemari.
Petugas yang terdiri dari militer dan polisi belum masuk kedalam kamar itu karena pintunya terkunci. Dan petugas belum memiliki izin untuk menggeledah rumah ini.
Mereka panik dan kebingungan dengan munculnya kabut asap yang sangat tebal. Meskipun menyadari kehadiran seseorang dengan kekuatan misterius.
Petugas tak berani mengambil resiko mendekati sumber suara tembok yang hancur dan menjauhi sosok misterius yang tak diundang itu.
Setelah didalam kamar utama tubuh Aji kembali menyemburkan kabut putih tebal. Yang membuat seluruh rumah itu dipenuhi kabut asap.
Meskipun petugas sudah berusaha menyalakan senter untuk membantu penglihatan mereka, namun semua itu sia-sia. Kabut yang diciptakan Aji sangatlah tebal.
Ini merupakan strategi Aji yang dipikirkan sejak tiba di rumah Tongkar. Dia mengerahkan kekuatan penuh untuk menciptakan kabut asap. Sekaligus menguji batas tertinggi kekuatan barunya.
Akibatnya kabut tak hanya muncul dari tubuh Aji, air hujan yang turun ketanah juga berubah menjadi uap dan menciptakan kabut yang sangat tebal menutupi wilayah perumahan.
Hal ini tidak disadari Aji yang sedang berada didalam kamar, hanya Aji yang mampu melihat dengan jelas didalam kabutnya sendiri.
Para petugas semakin ketakutan dan menjauhi kabut itu. Mereka menghindari kabut asap yang diduga beracun. Mereka tak tahu fenomena apa yang sedang terjadi dan lebih memilih menyelamatkan diri terlebih dahulu.
Mereka sudah mendengar tentang adanya sosok Kabut Tengkorak yang menyerang IVAC dari para korban yang selamat.
Sementara didalam kamar, Aji dengan mudah mendorong lemari besar yang menutupi pintu ruang penyimpanan.
Aji menendang lubang kunci hingga rusak dan pintu besi itu terbuka dengan sendirinya. Dia melihat brankas baja setinggi satu meter dan lemari kayu terletak diatasnya.
Dengan kekuatan penuh Aji menarik brankas baja itu keluar ruangan dan melemparkannya ke lantai kamar. Lalu dia mengambil tas koper milik Tongkar yang berada diatas lemari.
Dia membukanya dan mengambil dokumen-dokumen yang tersimpan dilemari kayu. Meskipun dia tak tahu apa isinya tapi menurutnya Tongkar pasti menyembunyikan sesuatu diantara puluhan dokumen ini.
Dan Aji kembali ke brankas yang dilemparkannya, dia menendang brankas itu hingga membentur tembok.
Dia terus melakukannya, hingga pintu brankas itu mulai renggang dari badannya. Brankas itu sudah rusak akibat tendangan bertubi-tubi dan bentuknya pun sudah penyok sangat dalam.
Aji dengan mudah menarik pintu brankas yang sudah menganga. Saat dia melihat isinya, 4 kotak kayu cantik, 2 kotak besi berukuran sedang. Serta 20 batang emas seberat 1 kilogram.
Aji langsung mengosongkan brankas itu, memasukkan semua isinya kedalam koper. Kemudian menutup dan menguncinya.
Aji menaruh koper itu kepunggunganya, dia teringat salah satu kemampuannya adalah merubah bentuk dan benda-benda disekitarnya.
Dia pun mencoba membayangkan tas koper ini memiliki tali yang mampu mengait dan terpasang kokoh dipunggungnya.
"Tssiiing," empat buah sabuk tiba-tiba muncul dan mengikat koper ke badan Aji dengan kuat dan kokoh.
Aji tersenyum puas, dia masih tak percaya memiliki kekuatan luar biasa ini. Sabuk itu juga menutupi seluruh bagian koper hingga tak sedikit pun bagian koper itu yang terlihat dari luar.
__ADS_1
Dia bergegas keluar rumah dan lari dari pengepungan petugas yang jumlahnya sudah sangat banyak diluar menunggunya.
Aji terkejut ternyata kabut yang diciptakannya tak hanya menutupi dirinya saja. Tetapi juga menutupi area lingkungan sekitar rumah Tongkar.
Kemanapun Aji berjalan, kabut asap baru terus tercipta. Dan menaikkan suhu udara disekitarnya.
Warga sekitar dan petugas berlarian menjauhi kabut asap yang semakin meluas, karena Aji sekarang berada diluar rumah.
Dan mereka akhirnya menyadari kabut itu tidak beracun namun tetap berbahaya bagi pernapasan, hanya saja semakin lama didalam kabut mereka akan merasa semakin kepanasan.
Petugas dan warga sekitar semakin panik dan keadaan menjadi sangat kacau, mereka berlari untuk menghindar dan menjauhi kabut tebal. Jarak pandang mereka hanya sekitar 2 meter, kabut ini sangat menakutkan ditengah hujan deras.
Saat Aji mendekati motornya, ada dua orang polisi Named yang sedang melarikan diri dari kabut asap. Mereka melihat Aji dan mencoba menghentikannya.
Dalam kabut tebal yang semakin panas, mereka melihat sosok menggunakan jaket berwarna hitam, celana dan sepatu dengan warna senada.
Mereka tak bisa melihat kepala ataupun wajah sosok yang dipanggil Kabut Tengkorak oleh masyarakat. Kedua polisi itu langsung menembaki sosok menyeramkan itu sampai senjata api mereka kosong.
Aji tak bergeming, dia pun tak ingin melukai 2 polisi muda itu.
Dengan suara menggema, "pergilah, sebelum ku makan klen."
Kedua polisi muda itu langsung berlari terbirit-birit menjauhi Aji. Kemudian Aji menambah kabutnya, dia tak ingin ada orang yang coba mengejar ataupun mengikutinya.
Aji menyalakan motor dan langsung menarik gasnya dalam-dalam. Dia meninggalkan lokasi rumah Tongkar tanpa melukai satu orang pun.
Hujan malam ini membuat jalanan Named timur sepi. Aji memacu motornya hingga kecepatan maksimum. Dan tak ada yang mampu mengikutinya.
Tubuh Aji yang terus menciptakan kabut asap yang tebal membuat jalanan yang dilaluinya dipenuhi kabut asap. Tak ada seorang pun yang berani mengejarnya.
Ditengah perjalanan Aji kembali ke wujud manusianya. Dan kabut asap berhenti, lalu Aji menoleh kebelakang. Kabut asapnya masih menutupi jalanan yang telah dilewatinya.
Dia sangat yakin dengan kabut setebal itu, tak seorang pun mampu mengejarnya. Kemudian dia kembali memacu kendaraannya tanpa keraguan dengan kecepatan tinggi ditengah hujan deras.
Dia bahkan melibas tikungan tajam hanya dengan sedikit menarik tuas rem. Aji yakin dia tak akan terluka apalagi mati jika terjatuh di jalanan. Badannya mampu menahan terjangan timah panas, aspal dingin ini tak akan melukainya.
Satu-satunya hal yang meragukan Aji adalah motor yang dikendarainya. Motor trail ini diambilnya dari orang yang mencoba membunuhnya.
Dia tak tahu kondisi motor ini, dan naas tiba-tiba bannya bocor dan membuat Aji kehilangan kendali. Dia kesulitan mengendalikan laju motornya.
Aji berkali-kali menyeimbangkan motornya agar tidak jatuh ke aspal, sambil perlahan menarik rem mengurangi kecepatan dan menghentikan laju kedua rodanya.
Setelah berhenti, Aji mengambil sebuah batu permata hitam dari punggungnya. Dan menempelkannya pada tangki motornya. Batu permata itu menempel dan menyatu pada besi tangki motornya.
Ban motornya berubah seperti baru, warna cat motor hijau putih berubah lagi menjadi hitam pekat.
__ADS_1
Batu permata hitam miliknya ini benar-benar memiliki kekuatan yang sulit dimengerti Aji. Tapi dia sangat menyukainya. Aji kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah kontrakannya.