Kabut Tengkorak 2

Kabut Tengkorak 2
Chapter 3 : Bu Mar


__ADS_3

Aji tersentak dan terbangun dari tidurnya. Mimpi buruk tentang peristiwa pembegalan yang dialami beberapa hari lalu selalu hadir.


Dia merasakan dirinya disabet parang, perutnya tertusuk batang pohon dan kemudian tersambar petir. Aji kembali memegangi perut dan punggungnya, dia mencari bekas luka itu lagi.


Lalu dia meraba permata didadanya dan masih dirasakan tertanam utuh disana.


Kemudian Aji bercermin, dia melihat tubuhnya. Dia mampu melihat 9 batu permata hitam tertanam mengelilingi dada dan punggungnya.


Dia berpikir kelak saat dia pulang dan tidur sekamar dengan istrinya.


Apakah Fitri dapat melihat batu permata ini ?


Apa yang akan dikatakan Fitri ?


Apa respon Fitri ?


Bagaimana jika Aji selalu mencopot permata ini saat pulang kerumah ?


Dimana dia akan menyembunyikan 9 batu yang masing-masing sebesar jari kelingkingnya ?


Kini masalah baru muncul dalam benaknya. Aji pun meminum segelas air lalu menuju kamar mandi.


Setelah mandi dan menyegarkan diri, Aji membuka ponselnya. Dia ingin melihat beberapa pesan chat yang belum dibukanya dari kemarin.


Dia langsung menemukan pesan dari adiknya Lili.


"Bang, mamak udah mendingan. Tinggal nunggu pemeriksaan lagi dari dokter."


"Kalo abang udah sehat telpon awak ya, mamak mau ngomong sama abang." Isi pesan Lili.


Aji pun berinisiatif langsung menelepon adiknya. Dilihatnya waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi.


"Tuuut," baru sekali berdering Lili langsung menjawab telepon Aji.


"Halo bang, kek mana kondisi abang ?" Tanya Lili.


"Udah sehat aku, cuma orang-orang ini aja takut. Karena isu virus ini bahaya terlalu dibesar-besarkan. Udah gak batuk, udah gak demam lagi pun aku."


"Entah pun aku bukan kena covir, cuma demam biasa." Jawab Aji.


"Abang gak mau test virus itu bang ? Disini aja bang, duit yang abang kasi semalam masih banyak kali kok." Tawar Lili.


"Gak usah, mahal kali test virus itu, gak penting. Mending uangnya kau simpan aja. Buat jajanmu sama beli pulsa."


"Belikan mamak makanan kesukaannya ya, pesan aja dari aplikasi. Nanti kalo kurang, bilang ya biar abang kasi lagi." Perintah Aji.


"Iya bang," jawab Lili menuruti abangnya.


Lili tak mau mendebat Aji, keputusan abangnya sangat mutlak. Sejak Ayahnya meninggalkan mereka berdua. Ajilah sosok pelindung dan pencari nafkah mereka.


Tanpa diketahui Fitri selama Aji bekerja dia selalu membagi dua berapapun uang yang diperolehnya.

__ADS_1


Selama menjadi jendral IVAC Aji juga tak pernah menolak setoran dari anggota. Dan dia terkadang melindungi transaksi narkoba anak buahnya dari kelompok lain.


Meskipun sepemikiran dengan Tomi, Aji tetap berupaya membantu anak buahnya anggota IVAC beraksi di Named Utara. Demi mendapatkan uang tambahan untuk menghidupi keluarganya.


"Kau mau motor apa dek ?" Tanya Aji spontan.


"Uhuk-uhuk uhuk-uhuk," Lili tersedak mendengar pernyataan Aji.


"Kau lagi makan ya ?" Tanya Aji lagi.


"Glek-glek, hhhfff ahhh." Terdengar Lili minum air dan menarik nafasnya.


"Iya bang awak lagi makan, abang mau beliin awak motor ya ?" Tanya Lili riang.


"Iya nanti abis abang karantina ini ya. Kita ke showroom ya, pilih sendirilah." Ucap Aji.


"Mamak pasti gak ngasi bang, takut awak jatuh apa nabrak orang pula nanti." Jawab Lili.


"Udah nanti aku yang bilang sama mamak, mana mamak ?" Tanya Aji.


"Lagi didalam bang, lagi diperiksa dokter. Aku sarapan dulu bentar diluar kamar."


"Ini dokternya udah keluar bang, abang ngomong sama mamak dulu ya. Aku mau nanyak dokternya." Ucap Lili.


Lili bergegas masuk ke kamar rawat inap ibu mereka. Dan memberikan ponselnya pada ibunya.


"Abang nelpon mak, awak mau nanyak dokter dulu." Ucap Lili yang kemudian mengejar dokter itu.


"Baek mak, udah gak batuk, udah gak demam. Kayaknya awak cuma demam biasa mungkin karena kehujanan aja." Jawab Aji.


"Syukurlah nak, maaf mamak ngerepotin Aji ya. Aji mesti kesana kemari cari bantuan. Udah mamak bilang sama Lili mamak sebenarnya gapapa. Cuma pusing aja." Ucap ibunya.


"Gak repot kok mak, semua itu gratis. Dari yayasan bang Tomi sama bang Denis dulu. Masak orang itu gak mau bantuin mamak."


"Aji pun sebenarnya udah sehat, tapi bang Denis bilang karantina aja dulu 14 hari sesuai aturan pemerintah. Biar aman dan gak nyebarin ke kaluarga. Apalagi Aji kan berobatnya mandiri."


"Mamak juga gitu ya, kata bang Denis berobat sampe sembuh. Kalo masih sakit jangan pulang. Lagian sayang uang rumah sakitnya udah dibayar penuh, bang Denis juga kan udah ngasi uang sama Lili."


"Buat makan sama jajan cukuplah, nanti kalo kurang bilang aja sama awak." Jawab Aji.


Lagi-lagi Aji terpaksa berbohong, karena dia tahu ibunya tak ingin merepotkannya. Kali ini dia bahkan menyeret nama sahabatnya Denis untuk mengelabui ibunya sendiri.


Ibunya tak ingin membebani Aji yang sudah memiliki keluarga sendiri, lagipula dia tak ingin Aji tertekan hingga harus nekat berbuat kejahatan untuk mencari uang.


Aji menjadi pimpinan IVAC saja sudah membuat ibunya ketakutan. Meskipun ibunya tahu Aji memiliki kemampuan beladiri diatas rata-rata dan disegani orang.


Seorang ibu tahu persis kondisi jiwa dan mental anaknya. Dimata bu Mar, anak lelakinya itu memiliki tingkat emosi tinggi yang sangat mudah tersulut.


Pemberani dan nekat, untungnya dia bertemu pak Udin yang berhasil mendidik dan membekalinya dengan ilmu karate dan silat. 


Pak Udin juga berhasil menjadi sosok panutan dan pengganti figur ayah dimata Aji.

__ADS_1


"Sampekan salam mamak sama pak Udin dan Denis ya nak, makasih banyak, semoga tuhan membalas semua kebaikan mereka."


"Aji juga jangan ribut-ribut sama mereka. Yang akur, dijaga persahabatannya. Silaturahmi, saling menghormati dan jaga emosi ya nak." Nasehat ibunya.


"Iya mak, nanti kalo mamak sehat kami maen kesana ya." Ucap Aji.


"Oh iya mak, awak kan diwariskan perabotan bang Tomi dikontrakan ini. Pas awak bongkar, awak dapat emas batangan 3 kilo di bawah lemari bang Tomi."


"Nanti awak jual, terus kita beli rumah ya mak. Beli dua rumah gandeng, biar cucu mamak kalo mau maen sama neneknya gak jauh kayak sekarang." Sambung Aji.


Aji pun melanjutkan cerita bohongnya, kali ini dia berusaha mengelabui ibunya.


"Ya tuhan, banyak kali itu. Apa orang tua Tomi tau Ji ? Mereka yang paling berhak atas harta anaknya Ji, bukan kita." Ucap ibunya.


"Nanti awak kasi tau mak, tapi ini harta memang sengaja disimpan bang Tomi. Kalo gak, pas dia dirumah sakit pasti dikasi taunya sama adiknya dari telepon."


"Surya sama Ali kan ada waktu dia dibawa kerumah sakit. Mereka saksinya semua isi kontrakan itu buat awak. Rumah sama motornya dikasi ke orang tuanya."


"Lagian awak memang mau bagi satu kilo buat orang tuanya. Nanti awak anter langsung kekampungnya sekalian mau ke ziarah ke kuburan bang Tomi kirim doa."


"Ini juga sebenarnya bukan emas bang Tomi mak, mana sanggup bang Tomi ngumpulin gajinya beli emas segitu banyak." Ucap Aji menjelaskan.


"Emas si Hapis itu ya nak ? Curiga mamak kalo dari dia itu lah." Tanya ibunya.


"Iya mak, Hapis itu sekalipun awak mau kali bunuh dia. Tapi awak akui dia memang pintar mak. Bang Denis aja bikin 5 perusahaan sama dia. Masa bang Denis bodoh sih mak."


"Kalo kata bang Denis bisnis utama orang itu jual beli barang elektronik. Dan itu bisnis sah dan resmi, tapi bisnis sampingannya nyelundupin narkoba."


"Awak gak tau lah mak, kadang yang baik ini pun dimata orang jadi buruk. Yang awak liat buruk diliat orang lain jadi baik pula." Jawab Aji.


"Jangan gitu nak, ucapan adalah doa. Dia itu udah kalian anggap adek dulu, lupakan aja peristiwa itu lagian dia juga udah dihukum penjara. Doakan aja Tomi."


"Yaudah, nak kalo menurut Aji baik. Tanya pendapat pak Udin, kawan Aji kan banyak yang baik-baik. Kalo dirasa baik dan gak merugikan orang lain jalanilah."


"Mamak udah tua, gak sanggup mikirkan kek gitu. Yang penting kalian sehat dan jangan berantam-berantam. Semua masalah bisa dibicarakan baik-baik." Nasehat ibunya.


"Iya mak, mamak cepat sembuh ya ? Nanti kalo awak udah lepas karantina kita makan direstoran ya ?"


"Sama ini mak, awak mau beliin Lili motor. Kasi ajalah mak, yang penting bawanya pelan-pelan asal selamat. Biar ada langkahnya, kan gak mungkin dia kita kurung terus nanti jauh jodohnya." Ucap Aji.


"Ya mamak gak ngasi karena mamak gak ada duit nak. Kalo abangnya mau belikan mana bisa mamak larang. Nanti dia jadi melawan kan mamak juga yang pening."


"Yang penting adekmu dipantau, jangan jauh-jauh bawa motornya. Dia mau kuliah itu, cobalah tanya, ntah serius apa gak. Gak ngerti mamak." Balas bu Mar.


"Yaudah mak, nanti awak bicarakan sama dia ya. Mamak istirahatlah, jangan stres rejeki kita udah mulai terbuka. Biar awak yang urus itu nanti. Mamak cepat sembuh ya," ucap Aji.


"Iya nak, Aji juga ya." Kemudian Aji menutup teleponnya.


Dia tersenyum puas, cerita karangannya ternyata dengan cepat dipercaya oleh istri dan ibunya.


Kini, dia tinggal beraksi untuk memenuhi semua janjinya pada keluarganya.

__ADS_1


__ADS_2