Kabut Tengkorak 2

Kabut Tengkorak 2
Chapter 6 : Latihan


__ADS_3

Setelah menyantap makan siangnya, Aji segera bergegas menuju bagian paling belakang kawasan industri Named yang tak jauh dari kontrakannya.


Hanya sekitar 10 menit mengendarai sepeda motor. Aji mengingat disana ada bangunan pabrik tua yang sudah terbengkalai. Bangunan yang sudah puluhan tahun kosong dan di kelilingi tanah kosong yang sudah dipenuhi tanaman liar.


Dia ingin mencari tempat yang sepi, untuk mencoba satu per satu batu permata hitam yang ada di tubuhnya ini.


Saat Aji tiba disana dia melihat segerombolan pria sedang berkumpul didepan pintu utama bangunan pabrik tua itu.


Aji memutari pabrik mencari jalan lain, tapi dia malah menemukan jalan setapak yang tak tahu entah mengarah kemana.


Disekelilingnya hanya ada ilalang tinggi dan pepohonan. Tak ada tanda kehidupan, Aji hanya terus mengikuti jalan setapak itu.


Dan ternyata jalan setapak itu mengarah persis kesisi belakang pabrik tua yang terbengkalai.


Aji melihat tembok yang sudah mulai runtuh, dia bisa saja memanjatnya. Tapi Aji ingin membawa motornya masuk kedalam agar tidak hilang diambil pencuri.


Dia berjalan mendekati tembok itu, memukul dan merubuhkannya. Hanya sekali pukulan, Aji merubuhkan tembok hingga rata dengan tanah dan motornya bisa melintas.


Sejenak dia kagum dengan luasnya bangunan pabrik ini, sangat disayangkan pabrik ini kini hanya menjadi reruntuhan. Mungkin sudah 20 tahun lebih pabrik ini terbengkalai sejak peristiwa reformasi dinegara Maranesia.


Bisa jadi pemilik sebelumnya adalah investor asing yang meninggalkan pabrik ini begitu saja karena krisis ekonomi yang sangat parah.


Tanaman-tanaman liar tumbuh subur memenuhi halaman pabrik. Dia senang sekali karena lokasi ini yang sangat cocok untuk dijadikan tempat latihannya.


Rasa penasaran membuatnya mengintip kedalam bangunan, terlihat banyak sisa-sisa tiang besi besar yang melintang hampir merubuhkan bangunan utamanya.


Para pemulung pasti sudah banyak yang kesini untuk mengambil besi-besi tua yang sudah tak terpakai.


Aji memarkirkan motor di samping bangunan. Lalu masuk kedalam pabrik, agar lebih yakin tidak ada seorang pun yang melihatnya. 


Rasa takut mulai menyelimuti pikiran Aji, ini pertama kali dia akan melepas semua batu permata hitam dari tubuhnya.


Apa aku langsung mati ?


Apa virus covir itu akan menyerangku lagi ?


Apa nanti aku terluka lagi akibat bekas bacokan dan terusuk batang pohon ?


Aji sudah sangat nyaman dan menyukai permata hitam ini. Tapi rasa penasaran ingin mempelajari kesembilan permata hitam bergejolak sangat kuat di hatinya.


Dia ingin menemukan permata hitam yang memiliki kemampuan kecepatan luar biasa dan menaruhnya pada motor trail.


Serta ingin mengetahui kemampuan apa lagi yang di miliki ke 9 permata hitam ini.


Tanpa pikir panjang Aji nekat mencabut semua permata yang menempel di tubuhnya. Lalu menaruh ke sembilan permata itu ke dalam tasnya.


Sesaat dia melihat kedua tangannya, meraba perutnya. Kemudian mencari bekas bacokan di punggungnya. Dadanya juga tak terasa sesak akibat virus covir yang menginfeksi beberapa hari lalu.

__ADS_1


Dan tak menemukan perubahan apapun pada tubuhnya, seolah luka-luka dan sakit akibat virus itu tak pernah ada. Dia bernafas dengan baik, berjalan, dan melompat seperti layaknya manusia normal.


Senang karena yang di takutkannya tidak terjadi. Kemudian Aji kembali menatap tasnya, tapi karena semua batu ini memiliki bentuk dan warna yang sama Aji jadi bingung harus mulai dari batu permata yang mana.


Aji mengambil satu permata secara acak, di tempelkannya ke dada kirinya. Kemudian mencoba memukul tembok.


Tak terjadi apapun, tembok masih kokoh berdiri. Karena tidak merasakan sakit, Aji kembali memukul tembok itu lebih kuat.


Dia masih tak mampu merubuhkan tembok itu, namun Aji menyadari tangannya tidak terasa sakit meski memukul tembok sekuat tenaga.


Lalu Aji memikirkan wujud Kabut Tengkoraknya, dan lagi-lagi tak ada perubahan.


Kemudian dia berlari di sekitar pabrik, Aji tak merasa semakin cepat.


Aji mencoba merubah bentuk tembok, lalu dia beralih ke potongan besi yang menjorok keluar tembok. Tak merubah apapun seperti yang di pikirkannya.


Sejenak dia berkonsentrasi menenangkan pikirannya. Lalu berusaha mendengar suara di sekitarnya. Dan semua masih normal Aji tidak memiliki pendengaran luar biasa dengan batu pertama ini.


Tak mau membuang waktu, Aji langsung mengambil permata hitam keduanya. Di tempelkan persis di sebelahnya sejajar berbaris ke arah kanan.


Dan mulai melakukan percobaan seperti yang di lakukannya tadi. Memukul, berlari, merubah wujud, merubah bentuk benda, melompat, mendengar, melihat, bahkan Aji berusaha untuk terbang ke angkasa.


Tapi semuanya sia-sia, Aji mulai berpikir hal-hal mistis. Karena permata ini pun muncul di tubuhnya secara misterius. Mungkin salah satu kekuatan permata ini adalah yang berhubungan dengan hal mistis dan makhluk astral.


Aji mengambil batu permata hitam ketiga, kali ini ditempelkan persis di tengah dadanya.


Dalam sekejap mata Aji bergerak sangat cepat. Ini baru pertama kali dirasakannya, dia berlari di dalam pabrik dan menabrak benda-benda yang berserakan.


Debu-debu yang sudah menumpuk puluhan tahun disana pun melayang diudara akibat hempasan angin dari tubuh Aji.


Karena debu yang semakin tebal memenuhi pabrik, Aji kemudian mengambil tas pinggangnya dan berlari keluar gedung.


Batu permata ke empat di taruh ke dada bagian kanan. Dan kini Aji kembali merasakan sesuatu. Tubuhnya langsung berubah, jaket, celana, sepatu, hingga sarung tangan kulit yang tiba-tiba muncul entah dari mana.


Aji sudah mengetahui kemampuan batu ini. Dia tak ingin mencobanya lebih lama, dia kembali ke wujud manusia.


Batu permata kelima pun di taruhnya di dada paling kanan. Dan lagi dia langsung merasakan sebuah energi sangat besar dalam tubuhnya dengan mudah dia menebak ini permata yang mengandung kemampuan kekuatan luar biasa.


"Draaak," sebuah pukulan tangan kiri Aji menjebol dinding pabrik.


Diluar dugaan Aji dinding itu runtuh dan membuat lubang yang sangat besar. Tembok tua yang sudah rapuh itu jatuh hampir menimpa dan menguburnya.


Dengan sigap dia berlari menghindar. Kemudian Aji memasang batu permata ke enam di perutnya.


Aji tidak menyusun permata-permata itu melingkar dari dada hingga ke punggung, seperti pertama kali permata itu masuk kedalam tubuhnya.


Mencoba bereksperimen menempatkan permata itu sesukanya di tubuh.

__ADS_1


Kemudian dia mendengar suara sekelompok pria berbicara dan mencoba masuk kedalam bangunan pabrik.


"Ayok bang kita periksa ? Ada apa didalam itu ?"


"Biasa itu binatang paling musang apa tikus ntah kalilawar. Udahlah minum lagi kita."


"Masak keras kali gitu bang, kayak tembok rubuh."


"Ayok kita periksa, kau takut hantu ya ?"


"Mana ada hantu siang-siang gini, mana ada itu hantu. Hantu aja takut nengok aku."


"Kalo gak takut ya ayoklah kita periksa."


"Ngapain, gak penting. Bukan masalah takut, aku malas kali gerak. Udah enak kali posisi ini, udah linting lagi lah barang tu. Ngapain kita urusin, bukan punya kita juga ini."


"Ah penasaran aku bang, masuk lah aku. Ikut gak klen dua ?"


Permata hitam ke enam Aji ternyata mengandung kemampuan meningkatkan panca inderanya. Dia dapat mendengar pembicaraan orang yang berada sekitar 100 meter darinya dengan sangat jelas.


Aji juga mampu merasakan ketakutan ke empat pria yang sedang berjalan mendekati bagunan pabrik.


Buru-buru dia memasang ketiga permata yang tersisa di tas ke tangan kirinya. Ke sembilan permata itu kembali terpasang di tubuhnya.


Terlintas di kepalanya ide jahil untuk menakuti ke empat pria itu. Sekaligus dia ingin mencoba melakukan perubahan wujud yang di luar kebiasaannya.


Aji mencoba merubah wujudnya menjadi kerangka tulang manusia raksasa.


Dia sendiri terkejut melihat perubahan itu, tubuhnya tumbuh setinggi 5 meter dan kepalanya bertambah menjadi 4 yang menghadap ke 4 sisi berbeda.


Dengan mudah tangannya mencapai atap bangunan pabrik. Dan dia dapat melihat ke segala arah dengan 8 mata di 4 kepalanya


Tapi Aji kesulitan bergerak dalam wujudnya ini, akhirnya dia memanjat gedung pabrik. Saat hendak naik keatap, bagian belakang gedung itu rubuh.


Diluar dugaannya, wujud kerangka manusia raksasanya jatuh ke tengah bangunan kemudian tertimpa atap. "Braaak duuuam" menciptakan suara gemuruh yang kuat.


"Ahhh, bodoh." Teriak Aji kencang.


Dia menyesali perbuatannya sendiri, kini dia terjebak dalam reruntuhan bangunan. Besi-besi tua dan bebatuan menjepit badannya.


Ke empat pria itu sangat terkejut mendengar teriakan Aji yang menggema. Salah satunya bahkan pingsan terjerembab ke tanah.


3 pria lainnya melihat kerangka tulang belulang manusia raksasa yang bangkit dari reruntuhan.


Mereka lari tunggang-langgang meninggal temannya yang masih pingsan.


"Hantuuu, hantuuu." 

__ADS_1


__ADS_2