Kabut Tengkorak 2

Kabut Tengkorak 2
Chapter 5 : Berhenti Kerja


__ADS_3

Fitri telah berpamitan dengan majikan-majikan tempat dia bekerja. Ada 3 rumah yang didatanginya pagi itu. Yang hanya disinggahinya sekitar 15 menitan setiap rumah, sekedar untuk mengucapkan rasa terimakasih.


Fitri ingin selalu menjaga hubungan baik dengan mereka semua, karena ibu-ibu yang menjadi majikannya sudah sangat baik dan banyak membantu keluarganya selama ini.


Dan Fitri meyakini kelak mereka semua akan menjadi tetangganya. Dia ingin mengikuti jejak bu Sri yang dikenal ramah dan baik terhadap seluruh tetangganya.


Diluar dugaan, mereka bahkan memberikan Fitri gaji penuh. Sebagai itikad baik dan rasa terimakasih kepada Fitri. Mereka juga tak enak hati tidak membayar gaji Fitri yang sudah dianggap anak oleh pak Udin.


Mereka takut Fitri akan mengadu kepada bu Sri, meskipun Fitri sekuat tenaga menolak uang gajinya. Mereka tetap saja memaksanya untuk menerima.


Fitri menerima uang gajinya sebesar 1.200.000 dari ketiga majikannya. Dia sangat senang sekali dan berniat mengirimkan makanan kerumah majikan-majikannya sebagai rasa terimakasih.


Fitri mengendong Nazwa dan menggandeng Beril berjalan kaki kerumah pak Udin. Disana Surya sudah menunggunya untuk mengantarkan makanan Aji.


Tiba dirumah pak Udin, Fitri yang masih terengah-engah langsung disambut tanya Surya.


"Kakak nyuci ya ? Tadi ku jemput kerumah klen gak ada."


Fitri langsung berjalan ke dapur mencari air minum. Meninggalkan Nazwa dan Beril dalam pengawasan Surya.


"Capek kali kakak, pamitan sama ibu-ibu itu." Jawab Fitri.


"Jadi kakak berenti kerja ?" Tanya Surya penasaran.


"Iya Sur, kata abang berenti aja. Kakak mau ngurus sekolah Beril nanti." Jawab Fitri.


"Disini masih kan kak ?" Surya tak ingin melepas Aji dan Fitri begitu saja.


Kehadiran Beril dan Nazwa menambah kebahagiaan rumah ini. Lagipula Aji sudah dianggap saudara sendiri.


"Gak tau Sur, kata abang kakak mau dibukain kedai kelontong." Ucap Fitri.


"Mak sombong kali bah, kek gini rupanya persaudaraan itu ya. Sakit kali awak rasa, mau dipisahkan sama anak-anak ini yah. Awak ditinggalkan pas lagi sayang-sayangnya. Sakit tapi tak berdarah."


"Beril sama Nazwa mau ninggalin om ya ? Tega Beril nak ? Nazwa gak sayang lagi sama om ? Om sedih kali lah." Ucap Surya yang jelas membuat Beril dan Nazwa tak memahami maksudnya.


"Gak usah gilak kau ya Sur, mana lah ngerti orang ini. Nanti kau ngomong kek gitu sama abang aja."


"Kau gak suka kakakmu ini maju ? Senang kau kakak nyuci terus 3 rumah ?" Ucap Fitri kesal.


"Gak lah kak, becanda adek kak. Tapi kakak pindah janganlah jauh-jauh. Susah aku nanti nengok orang ini." Jawab Surya.

__ADS_1


"Kayaknya kakak mau ke perumahan cluster baru itu Sur, yang ada kolam renangnya ditengahnya." Jawab Fitri bercanda.


"Mak, hedon kali yah ? Ngeri kali dunia perhaluan ini ya ?"


"Gak sekalian kakak bilang mau beli jet pribadi, sama beli mobil mewah."


"Pamerlah teros. Aku baru beli supercar, murah banget." Surya meledek Fitri.


"Udah ayoklah, nanti terlambat kita buka kedai ini. Tadi kakak chat aku mau singgah beli ayam goreng dulu. Ngerih kali horang kaya baru ini yah." Ajak Surya.


Surya menaikkan Beril di dek depan motor maticnya kemudian menyalakan mesinnya mereka pun bergegas menuju restoran ayam goreng yang disukai Beril.


Sementara di kontrakan Aji telah menyiapkan uang dua ratus juta yang dimasukkannya kedalam kantong plastik hitam berukuran 5 kilogram.


Uang pecahan 100.000 disusunnya rapi kedalam kantong plastik itu. Dengan maksud untuk memberi kejutan istimewa pada Fitri.


Saat Surya tiba Aji telah menutup pintunya kembali dan menaruh plastik hitam didepan kamarnya.


Hanya Surya yang berani mendekati Aji, karena mereka berkeyakinan Surya memiliki kekuatan mutan. Dan regenerasi sel yang melebihi manusia normal.


"Bang, klen mau pindah ya ?" Surya sangat penasaran dan tak sanggup menahan tanya pada Aji.


"Kakak katanya mau buka kedai bang," tanya Surya mencecar Aji.


"Iya jualan di sekitaran situ juga. Kan kita selama ini beli rokok agak jauh. Nanti abang buka kalo bisa persis disebelah cafe. Biar bisa berbagi konsumen kita."


"Kenapa ? Kau takut saingan sama ku ?" Aji bertanya balik.


"Ihh sorry ya gak level. Mana mampu abang bersaing sama ku, orang jualan kita aja beda. Hahaha," jawab Surya.


"Udah sana jauh-jauh kau, nanti ketularan. Itu kasikan plastik itam itu sama kakak." Perintah Aji.


"Kata bang Ari sama bang Denis, virus itu gak mempan sama kami. Kak Nadita juga kayaknya kebal. Virus itu nyerang orang-orang lemah aja." Jawab Surya.


"Ish ish ish, lantam kali muncong kucing kampung ini ya. Macam udah keras kali tulang-tulangnya."


"Ku tendang dua kaki kau, jatuh ni aku ya." Ucap Aji.


"Bwahahaha, satu kaki aja. Kalo gak cari pegangan dulu, biar gak jatuh." Balas Surya tertawa puas, mereka bercanda seperti biasa.


"Kau pikir aku orang bingung, cari pegangan."

__ADS_1


"Ada ni pegangan aku, keras kali pun. Gak sanggup kau nanti." Aji melanjutkan candaan mereka.


"Apa itu bang ?" Tanya Surya pura-pura penasaran mengikuti permainan Aji.


"Stang becak, puas kau. Puas kau ?" Teriak Aji.


"Ish goyang kali lah, gak mau lah adek bang. Belum siap adek digoyang, belum malam minggu ini." Surya pun berlari menuju motornya.


Karena dia melihat raut wajah Fitri sudah mulai kesal dengan candaan mereka berdua.


"Bwahahaha," mereka berdua tertawa puas sekali.


Surya sangat merindukan kehadiran Aji di cafe. Biasa mereka selalu bercanda tawa tiada henti.


Aji melihat ke arah jendela, di lihatnya Beril dan Nazwa melambaikan tangan.


"Abang makan yang banyak ya nak ?" Ucap Aji sambil membalas lambaian tangan kedua anaknya.


"Om, antarkan Nazwa beli es krim ya. Nazwa juga makan yang banyak ya nak." Ucap Aji.


"Iya ayah cepat sembuh ya." Ucap Beril.


Nazwa hanya terus melambai dan memberikan kecupan manis dari jauh pada ayahnya.


Surya pun membawa mereka kembali ke cafe, sedangkan Aji langsung mengambil satu box besar ayam goreng yang berisi 8 potong. Lengkap dengan kentang dan saosnya.


"Kakak mau ke bank dulu ?" Tanya Surya menawarkan bantuan.


"Gak lah Sur langsung balek aja kita," pinta Fitri.


"Hati-hati simpan uang itu kak, atau kakak titip sebagian sama ibu, sama mamak kakak atau mamak bang Aji. Biar awak antar sekarang, kalo kakak mau." Saran Surya.


"Gak usah lah dek, ngerepotin kau. Udah buka cafe aja."


"Eh Sur, antar kakak beli selop dulu lah. Itu di toko-toko dekat ini simpang pujaan aja." Ucap Fitri.


"Gak beli online aja kak lebih murah," jawab Surya.


"Iya, tapi kakak butuh sekarang. Ini udah rusak kali. Sakit kaki ku," Fitri mengeluhkan sendalnya yang sudah rusak.


"Siap ndan," balas Surya.

__ADS_1


__ADS_2