
Tiba dirumah kontrakan tempatnya karantina mandiri. Beruntung tak ada yang orang yang melihat Aji pulang.
Semua rencananya berjalan lancar, Aji kembali menarik batu permatanya dari stang motor. Dan segera masuk ke kamar, seluruh badannya basah dan dia segera melepaskan pakaiannya.
Menaruh tas koper dilantai, dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Malam ini sangat melelahkan, dia hanya ingin menelepon istri dan anak-anaknya. Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00.
Aji kembali membuka ponselnya, dia melihat 10 panggilan tak terjawab dari Fitri.
Dia pun berusaha menghubungi istrinya.
"Halo dek," sapanya.
"Abang tidur ya ? Dari tadi kami telpon gak diangkat-angkat." Tanya Fitri.
"Iya sekarang abang kalo sore lemas kali, ngantuk aja bawaannya. Udah gitu kalo tidur lama, pulas. Ini aja abang udah ngantuk lagi abis minum obat," jawab Aji.
Tentu Aji harus berbohong kepada Fitri, dia tak ingin istrinya cemas. Apalagi jika Fitri mengetahui Aji pergi menyerang IVAC dan Tongkar.
Bisa-bisa Fitri meminta Ali dan Surya untuk ikut membantunya, yang malah akan menambah masalah bagi Aji.
Dia tak ingin memberitahu siapapun tentang kekuatan baru ini, karena kekuatannya ini akan menjadi sia-sia. Pak Udin akan mengarahkan Aji pada berbuat kebaikan dan membela yang lemah.
Aji tak mungkin bisa merampok bank lagi, karena Surya, Ali bahkan Denis akan menghalanginya.
Sedangkan Aji masih ingin mengumpulkan banyak harta untuk menjamin kesejahteraan keluarganya.
Dia sendiri tak tahu apapun tentang kekuatan ini, selain dari batu permata berwarna hitam yang tersambar petir.
Aji sendiri juga tak yakin kekuatan ini akan selamanya menjadi miliknya. Karena batu permata itu bisa kapanpun dicuri orang atau bahkan diambil paksa dari tubuhnya.
"Oh iya bang, berarti obat dari bang Denis betul-betul paten. Kata bang Denis, abang pasti banyak tidur, itu tandanya obatnya bekerja."
"Abang harus banyak istirahat ya, orang ini senang kali dapat hadiah dari abang. Tapi gapapa tu bang, bang Tomi mungkin ninggalin emasnya itu buat keluarganya bang." Tanya Fitri.
Aji mengatakan pada Fitri bahwa dia mendapat emas batangan yang ditinggalkan Tomi.
__ADS_1
Memang sebelum kematiannya Tomi sudah berpesan kepada keluarganya dan sahabat-sahabatnya. Seluruh barang perabotan isi kontrakannya akan diwariskan kepada Aji.
Karena percuma jika barang-barang perabotan itu diantarkan ke kampung halamannya, lagipula Tomi berniat Aji mau melanjutkan pekerjaannya di museum dan mengurus barang-barang antik dan batuan mulia milik keluarga Viktor.
"Bagian untuk bapak mamak bang Tomi ada kok dek, nanti kita antar ke kampungnya ya. Sekalian kita ziarah ke kuburannya."
"Sebenarnya ini kan pemberian Hapis. Tapi bang Tomi sama sekali gak mau sentuh. Tapi dibagikan ke kita, bang Tomi nunjuk abang, yaudah kita bagi-bagi aja biar ngerasai semua." Jawab Aji.
Aji harus berbohong kepada Fitri dan semua sahabatnya. Bahwa dia mendapat emas batangan dikontrakan Tomi.
Agar mereka semua tidak curiga, jika Aji yang hanya seorang ojek online tiba-tiba memiliki uang sangat banyak.
"Tapi tadi siang pas Surya bagi-bagi hape baru dari abang. Bapak nanya bang, kontrakan itukan udah digeledah polisi. Kok polisi gak ngambil emas-emas bang Tomi jadi barang bukti ya bang." Ucap Fitri.
"Oh tapi pak Udin mau terima hape itu ?" Tanya Aji.
"Mau bang, langsung dipake sama ibu." Jawab Fitri.
"Oh iya baguslah, jadi Bang Tomi nyimpan emas itu dibawah lemari. Jadi lantai keramik kontrakannya dijebol buat lubang penyimpanan gitu dek."
"Bang Tomi tau emas itu dari hasil gak jelas Hapis, tapi mungkin dia gak enak nolak pemberian Hapis terus. Jadi disimpan aja ditempat aman, abang tau tempat penyimpanan itu karena abang yang bantuin ngorek tanahnya dulu."
Aji memberikan cerita bohong yang sangat detail untuk mengelabui Fitri. Karena dia yakin, setelah ini istrinya pasti akan menceritakan ulang seluruh ceritanya barusan kepada pak Udin dan sahabat-sahabatnya.
"Oh gitu ya bang, untung abang kena covir ya. Kalo gak abang mana mau ke kontrakan itu lagi. Lewat situ aja abang sedih, apalagi sampe tidur dikamar mendiang bang Tomi."
"Selalu ada berkah dibalik musibah ya bang. Andai aja abang dulu langsung bongkar kamar bang Tomi. Pasti abang udah gak capek-capek lagi ngojek cuma dapat 10.000 sehari. Hehehe," Fitri meledek suaminya.
"Iya lah, senang lah kau ya. Dapat hape baru, duit banyak. Suami sakit pun masih untung," jawab Aji kesal.
Aji senang Fitri mempercayai cerita karangannya, dia semakin yakin pak Udin dan sahabat-sahabatnya juga pasti akan mempercayai kebohongan yang sudah dipikirkannya selama 2 hari ini.
"Ya gak gitu bang, kita dapat rejeki ya harus bersyukur. Ternyata persahabatan abang sama bang Tomi sangat membekas dihatinya."
"Adek selalu sisipkan doa untuk bang Tomi kalo lagi ibadah, dia kan sahabat kita. Dia juga sayang kali sama Beril." Ucap Fitri.
Fitri benar-benar berpikir Tomi meninggalkan banyak harta untuk mereka.
__ADS_1
"Oh iya bang, besok telponlah anak-anak ini. Kasian kali adek liat orang ini, rindu kali sama abang. Nazwa tadi nangis-nangis pengen liat abang." Pinta Fitri.
"Iya dek, maafin abang ya. Besok pas ngantar makanan abang, ambil duit yang abang tarok dipintu ya. Nanti beliin Beril Nazwa ayam goreng, sekalian adek traktirlah orang itu semua." Perintah Aji.
Aji kemudian diam dan bersedih, ambisinya mengalahkan Tongkar membuatnya lupa pada Beril dan Nazwa yang sangat merindukannya.
"Nanti adek boleh beli selop baru gak bang ? Selop adek rusak lah bang, udah lama juga." Tanya Fitri.
"Iya beli lah, online apa beli ditoko juga gapapa. Nanti minta tolong diantarkan sama Surya. Sekalian belikan punya anak-anak sama Surya juga belikan dia satu."
"Nanti abang kasi seratus juta sama adek, cukup gak ?" Tanya Aji.
Seumur hidupnya belum pernah Aji dan Fitri memegang uang asli seratus juta. Aji baru merasakannya setelah dia menjadi Kabut Tengkorak.
Aji sengaja menggoda Fitri dan ingin melihat reaksinya. Karena kelak Aji akan memberi banyak uang padanya.
"Ya ampun bang, abang masih mimpi ? Besok adek kirim kopi hitam sama abang ya. Ada air panas disana kan ?" Ucap Fitri meledek Aji.
Jelas Fitri tak percaya, meskipun Aji sudah membagi-bagikan banyak ponsel mahal pada keluarga dan sahabatnya.
Biasa Aji hanya memberikan uang belanja pada istrinya paling banyak sekitar 50.000 per hari sejak pandemi virus covir melanda. Bahkan akhir-akhir ini lebih sering memberikan 20.000 per hari.
Pekerjaannya sebagai ojek online sangat jauh dari kata sejahtera. Fitri jelas menganggap Aji bercanda tentang memberikan uang tunai seratus juta.
"Ish ish ish, yaudah kalo gak mau abang kasi sejuta ajalah." Ucap Aji sambil menggoda Fitri.
"Ya maulah bang, kalo ada segitu ya. Makin cinta adek sama abang. Abang gak kasi duit aja adek masih cinta, apalagi dikasi duit banyak."
"Tapi kan adek tau abang suka becanda, gak mungkinlah. Emas bang Tomi abang jual juga gak secepat itu." Balas Fitri.
"Yaudah besok adek liat sendiri, terus hitung aja. Dibelanjakan yang perlu aja. Jangan sombong, jangan pamer, disimpan buat beli rumah ya." Ucap Aji.
"Hoaaamh," Aji menguap kelelahan.
"Abang tidur lagi yah, ngantuk abang." Sambung Aji.
"Iya bang, besok awak jam 10 ngantar makanan abang ya."
__ADS_1
"Kata bang Denis, kalo bisa pagi-pagi abang latihan lagi. Biar lebih cepat sembuh." Saran Fitri.
"Iya dek iya, rencana abang juga gitu. Yaudah ya, selamat malam. Mimpi indah ya sayang." Ucap Aji kemudian dia memutus panggilan telepon.