
16:00
Di sebuah ruang kelas yang hampir kosong sepulang sekolah. Berkumpulah tiga orang aneh yang sedang memandangi sebuah foto.
Orang pertama yang diidentifikasi sebagai seorang playboy palsu yang mengaku punya banyak sekali mantan.
Orang kedua telah diidentifikasi sebagai seorang otaku maniak pecinta anime BL dan cerita-cerita berbau BL.
Orang ketiga ini hanya bisa dikenali sebagai seorang siswa biasa yang saat ini diketahui tidak memiliki sesuai yang spesial sama sekali.
Orang pertama : Apa yang harus kita lakukan dengan foto ini.
Orang kedua : Hebat juga Si Sialan itu berhasil mendapatkan foto sejelas ini.
Orang ketiga : Dalam foto ini tergambar seorang memakai jubah sambil mengankat telunjuknya.
Orang Pertama : Menggankat tangannya?
Orang kedua : Coba lihat di depan orang ini terdapat panel point.
Orang Pertama : Apa mungkin dia sedang melakukan konfirmasi B.U.P?
Orang ketiga : Mungkin saja.
Orang kedua : Kira-kira siapa orang ini?
Orang ketiga : Sialnya wajahnya tertutupi oleh jubahnya.
Orang Pertama : Bagaimana kita bisa mengetahui siapa orang ini hanya dari sebuah foto?
Orang ketiga : Hmmm…aku juga sedang berfikir.
Orang kedua : Mengidentifikasi kebiasaan.
Orang Ketiga : Apa maksudmu.
Orang kedua : Orang ini mungkin bisa menutupi wajahnya, tapi tidak dengan kebiasaannya. Dalam foto ini, dapat dilihat bahwa orang ini punya kebiasaan mengangkat telunjuknya untuk menggaktifkan B.U.P.
Orang Pertama : Biasanya siswa akan mengankat kelima jarinya untuk melakukan konfirmasikan!
Orang Ketiga : Apa itu bisa dijadikan petunjuk!?
Orang Kedua : Memang tidak terlalu, tapi setiap orang pasti memiliki kebiasaan. Apalagi yang dikatakan Andreas benar, sampai sekarang aku tidak pernah melihat siswa mengkonfirmasi B.U.P dengan mengacungkan telunjuknya. Mungkin hanya 1 atau 2 siswa yang memiliki kebiasan seperti ini.
Orang Pertama : Aku juga tidak pernah melihat hal seperti itu.
Orang ketiga : Berarti bisa diasumsikan bahwa mengacungkan jari telunjuk untuk melakukan konfimasi adalah kebiasaan pelaku.
Orang Pertama : Tapi bagaimana kita mencari siswa yang memiliki kebiasaan seperti itu? Kita tidak mungkin bertarung satu-satu dengan semua siswakan, apalagi mungkin ada lebih dari satu orang yang memiliki kebiasaan yang sama.
Orang Kedua : Tidak mungkinlah kita melakukan itu.
Orang ketiga : Benar juga bagaimana ya!?
16:18
Orang pertama : Ah sial sudah jam segini! Aku harus segera pergi, Ekstrakurikuler Basket akan segera dimulai!
Orang kedua : Aku juga harus mengikuti Ekstra sastra, kami pergi dulu ya
Orang Ketiga : oke
Orang pertama dan kedua pergi untuk mengikuti Ekstrakulikuler masing-masing meninggalkan Orang ketiga sendirian di dalam kelas.
*****
Kebiasaan ya.
Bagaimana caranya ya mencari 1 dari sekian banyak siswa disini yang punya kebiasaan seperti itu. Sepertinya mememang informasi ini belum bisa digunakan.
“Huh….” Aku lau mulai memandangi keluar jendala.
Bagaimana ya sekarang. Mungkin aku harus ikut kumpul Ekstrakulikuler juga ya, daripada sendirian disini.
“Ya sudahlah”
Tanpa berfikir lagi, aku lalu mengambil tasku dan segera saja pergi menuju ruang ekstrakulikuler yang ku ikuti. Berjalan menuju gedung ekstrakulikuler yang terletak di samping bangunan utama sekolah, memang cukup melelahkan harus berjalan kesana, apalagi ruangan ekstakurikulerku terletak di lantai 3.
Akhirnya aku sampai di depan sebuah ruangan. Sebuah ruangan dengan pintu yang penuh dengan tempelan stiker dan poster anime.
Ya benar sekali ini adalah ruangan ekstrakulikuler yang dimana aku terdaftar sebagai salah satu anggotanya.
Ekstrakulikuler Penelitian Kebudayaan Jepang.
Nama yang cukup keren bukan atau sebenarnya nama itu hanya sebuah formalitas saja.
Aku lalu memasuki ruangan tersebut.
“OKAERINASAI BAYU-kun!!”
Sambutan dalam bahasa jepang yang berarti “Selamat pulang” keluar dari seorang gadis berambut pendek yang sekarang ini sedang bercosplay mengenakan pakaian maid.
Impian dari para lelaki bisa melihat gadis berpakaian maid seperti ini memang luar biasa.
“Sudahlah Kak”
“Eh!! Panggil Senpai!!”
“Baik-baik Debora-senpai”
Namanya kak Debora, kelas XIID.
Hobinya bercosplay dan juga terjangkit penyakit sindrom chuunibyu. Meski begitu dia sangatlah cantik ditambah hobinya yang suka bercosplay merupakan nilai plus darinya.
Statusnya!? Untuk yang mengincarnya lebih baik buang jauh-jauh harapan itu, karena dia sudah punya pacar.
Saat ini dia sedang menikmati marathon anime di laptop miliknya sambil memakan pudding kesukaannya. Sungguh kegiatan yang buruk bagi tubuh.
“Dimana ketua!?”
__ADS_1
“Dia sedang mengikuti pertemuan para raja kegelapan untuk membahas suatu perjanjian antar kerajaan!!” balasnya sambil tetap fokus ke laptopnya.
Ah dia menggunakan bahasa Chunnibyu lagi. Chunnibyu atau sindrom kelas dua smp adalah istilah bagi orang yang suka berkayal dan meniru tinggkah laku tokoh anime secara berlebihan dan biasanya hal ini dimulai pada kelas 2 smp.
Pertemuan para raja kegelapan!? Hmm… aku harus menerjemahkan bahasa chunnibyu ini ke dalam bahasa Indonesia yang baku dan benar.
Pertemuan raja kegelapan ya……ketua adalah raja kegelapan yang benar saja.
Hm…
“Oh…maksudnya rapat antar ketua ekstra ya”
Bahasa yang cukup membingungkan. Emangnya ketua seorang raja kegelapan apa!?
Di ruangan 10 X 5 meter ini terdapat banyak sekali barang-barang mewah nan aneh. Seperti lemari rak penuh dengan buku komik, lemari berisi baju-baju cosplay sebuah Tv dan game console, dan sebuah kotatsu (meja khas jepang yang dilapisi selimut dengan penghangat dibawahnya), bahkan ada sebuah kulkas disini. Entah dapat dana dari mana bisa mengisi tempat ini dengan barang-barang mewah seperti ini.
Aku lalu mengambil komik Detektif C*nan dan duduk di kotatsu.
Ahh…hangatnya……
Menghiraukan asal dana yang entah dari mana, duduk di bawah kotatsu seperti ini memang nikmat.
Apa kalian mulai bertanya-tanya mengapa ruangan yang cukup luas ini hanya dihuni oleh ku, kak Debora dan ketua yang kebetulan sedang rapat?
Sebenarnya yang terdaftar sebagai anggota ekstrakulikuler ini cukuplah banyak. Tapi, sebagian besar mereka tidak cukup aktif atau bahkan hanya titip nama saja.
Dan jadinya beginilah hanya sedikit yang datang di perkumpulan harian ekstra.
Tapi ya, kegiatan ekstrakulikuler penelitian jepang Cuma seperti nonton bareng anime atau sekedar main origami, baca komik, dan kadang-kadang juga mempelajari bahasa jepang dan sejarahnya juga sih, kadang.
“Oi kak Debora”
“Sudah kubilang pakai kata Senpai!”
“Hah! Debora-senpai apa ekstra ini tidak ada kegiatan lain yang seru gitu”
“Hmmm….apa ya? Biasanya juga Cuma begini-begini saja sih, jadi aku tidak tau. Coba kalau hal ini coba Tanya saja keketua langsung”
“Hah!!” memang nama ekstrakulikuler Penelitian Kebudayaan Jepang itu cuman formalitas saja ya.
Aku lalu melanjutkan membaca komik C*nan ini.
*****
17:45
Sepertinya sudah waktunya.
“Aku pulang dulu ya Debora-senpai”
“Ah baik!! Mata ne!!”
Jika kalian berfikir aku akan berjalan pulang menuju rumah tercintaku maka kalian salah besar. Saat ini aku dengan segaja berbelok menuju halaman belakang sekolah.
Aku berencana menemui seseorang dibelakang sini.
Tampaklah seorang yang sedang membereskan peralatan-peralatan dan sebuah robot.
“EH! Bayu, ada apa!?” Sapanya terlebih dahulu.
“Aku hanya kebetulan lewat, mau kubantu membereskannya!”
“Tentu saja, itu sangat membantuku”
Aku lalu membatu Resfa membereskan peralatan miliknya.
“Kau membuat robot lagi ya!?”
“Ya, kali ini untuk perlombaan di jerman”
“Wow keren!!”
“Benarkah!?”
Resfa memang sering sekali mengikuti berbagai perlombaan dan itu menjadi sumber pendapatan point utamanya yang menjadikannya peringkat 7.
“Kau tau kau tak perlu menyembunyikannya lagi” kataku sambil menurunkan sebuah kotak penuh sukucadang robot.
“Apa maksumu Bayu!?”
“mengangkat jari telunjuk ke atas adalah gayamu bukan!?.....”
“…..” Resfa terdiam sesaat.
“..itu bukan gaya sembarangan, itu adalah pose kemenangan, kebiasaan yang biasa kau lakukan saat memenangi berbagai perlombaan. Kau melakukan ini karena kau perlu dana lebih untuk membuat robot barukan!? Itu juga menjawab mengapa dia tidak terlihat naik peringkat setelah mengalahkan banyak siswa, karena dia memang sudah meiliki peringkat yang tinggi dan point yang di dapatkannya langsung digunakan untuk membeli suku cadang ini kan!?”
Sang sepuluh besar. Memiliki jumlah point yang sangatlah banyak diatas 100.000 point dan jarak antar satu peringkat dengan yang lain terpaut banyak point. Sehingga untuk mengubah peringgkat sangatlah sulit entah itu naik maupun turun.
“….Apa maksudmu itu, aku sama sekali tidak memahaminya”
“Sudahlah mengakulah kau pelaku penyerangan beberapa siswa belakangan
inikan!? Resfa”
Sejak mendapatkan foto itu dari Pascal, aku bepikir keras tentang siapa pelaku sebenarnya. Lalu, saat aku sedang berjalan menuju ruang ekstrakurikuler, aku sempat membaca sebuah artikel yang dipasang oleh klub surat kabar di mading dan yang menjadi berita utama adalah kemenangan seorang jenius “Resfa” pada ajang lomba robot. Di artikel itu juga terdapat foto Resfa yang berdiri di podium nomor 1 dan mengacungkan jari telunjuknya ke atas sebagai pose kemenangan. Dan dari situlah aku mengasumsikan bahwa Resfalah pelaku dari kejadian ini.
“Entah bagaimana kau bisa tau”
“Aku menganalisa dari setiap bukti dan kemungkinan yang ada dan semua mengarah kepadamu” Jawabku sok detektif ala C*nan. Padahal sih cuma beruntung saja.
Resfa lalu tiba-tiba mengankat telunjuknya ke atas dan seketika itu muncul area. Padahal untuk mengaktifkan B.U.P memerlukan konfirmasi dari kedua orang yang akan bertarung, tapi resfa mampu mengaktifkannya sendiri.
“Jadi kau berhasil meretas keamana B.U.P ya”
“Ha..Ha..Ha…meski mengetahui semua itu, kau masih berani menghadapiku sendiri ya. Diriku yang peringkat 7 ini melawan kau yang hanya peeringkat 200-an kebawah Ha…Ha..Ha” sepertinya sifat asliya keluar juga ya.
Sebuah panel pertaruhan pun keluar, tapi aneh! belum juga aku memasukan nominal pertaruhan, panel tersebut sudah terisi dengan angka 20.000 point. Itu jauh melebihi batas yang sudah ditetapkan dan itu sama saja aku bertaruh dengan semua pointku. Dan lagi panel pertaruhannya terisi angka nol, jadi artinya hanya pointku saja yang dipertaruhkan, licik sekali dia.
“Sialan kau ya”
__ADS_1
Bagaikan partikel yang menyatu, sebuah pedang muncul di depanku. Ya ARK milikku berbentuk sebuah Pedang bermata dua. Di sisi lain Ark milik Resfa adalah dua buah Sabit kecil.
“Sebelumnya aku ada satu pertanyaan terlebih dahulu, mengapa para siswa yang kau lawan bisa berakhir dengan penuh luka dan pingsang!?” Tanyaku
“Jawabannya mudah sekali”
Entah datang dari mana, tiba-tiba datang dua buah robot besar berdiri dibelakang Resfa. Robot setinggi kira-kira 2,5 m itu sepertinya sangat lah kuat.
“Ohhh…..” sepertinya hal ini akan sangat menyulitkan.
“Ark mungkin tidak dapat melukai mereka. Tapi robot-robotku ini bisa melakukannya” terpampang senyum di wajahnya yang menyebalkan itu.
“Jadi semua point yang kau curi itu digunakan untuk ini ya”
Kupikir jika hanya melawan Resfa seorang tidak akan terlalu sulit. Tapi sekarang aku harus melawan dua robot besar ini dengan mempertaruhkan seluruh pointku, sepertinya aku terlalu sok sih.
(Battle Begin!!)
Dua robot itu maju menyerang. Dengan kepalan tangan mereka berusaha menghantam ku, untung saja aku masih sampat menghindar dengan melompat kebelakang.
“Kita lihat apa kau mampu menghadapi mereka”
Salah satu robot megarahkan tinju nya, reflek aku segera menunduk dan berguling kedepan untuk menghindari serang itu.
Tapi diluar perhitungan robot satunya sudah menungguku dan berusa menginjakku.
*Srkk* untung aku masih sempat menahan dengan pedangku. “Hiiaatt!!” aku mendorong robot tersebut sampai terjatuh.
“Hah…hah..berat..”
*Duak!* karena lengah serangan tiba-tiba datang dari arah samping dan membuat ku terpental cukup jauh.
“Ukh..!!” rasa sakit ini terasa sangat nyata. Jika serangan ini disebabkan oleh Ark seharusnya tidak sesakit ini.
“Ha..Ha…HA…menyerahlah dan biarkan dirimu dihancurkan”
Kedua robot itu lalu membuka mulut mereka dan menembakkan laser ke arahku.
“Ah sial!” aku berlari dan berusaha menghindari tembakan mereka.
“Lari teruslah lari!!”
Jika begini terus aku tidak bisa menang. Tiba-tiba saja robot itu bergerak dengan cepat dan sudah berada di sampingku. “Apa!?” robot lalu mengerahkan pukulannya dan sialnya aku tidak sempat untuk menghindari pukulan itu “Ukh!” dan membuatku terpental dan tersungkur di tanah.
“Ha…Ha…Ha dengan begini aku akan menjadi Nomor di sekolah ini, bukan di dunia ini HA…HA..HA” Ucap Resfa seperti sedang mendeklarasikan kemenangannya.
“Apa enaknya menjadi nomor 1…..huh~huh~”
“Oh sepertinya kau masih bertahan ya”
“Sepertinya sudah cukup main-mainnya” Dengan sisa HP milikku yang sedikir ini, aku kembali berdiri “Kau yang tidak tau, sebaiknya DIAM SAJA!!”
“…….Omong kosong apa yang kau ucapkan, Serang dia” Perintah Resfa kepada robot miliknya.
Sebuah robot sudah siap dengan kepalannya datang kearahku.
*Bruak* aku langsung melompat saat robot itu meninju kebawah dan *Slash* dengan cepat aku memengal kepala robot itu.
“Hah!! Mustahil!! Bagaimana bisa kau bergerak secepat itu, Kau yang hanya peringkat 200 kebawah”
Aku lalu melemaskan pergelangan tanganku “Ahh…sudah lama aku tidak melakukan Battle, rasanya tubuhku masih agak kaku”
Robot satunya pun datang dan kembali mengeluarkan tinjunya.
“Ayo datanglah”
*Crrat* belum serangan robot itu terealisasi aku menusuknya tepat mengenai dada robot itu.
“Seharusnya aku bilang ini lebih awal sih, tapi sepertinya ku katakan sekarang juga tidak masalah. Jangan pernah meremehkanku!”
“DASAR KEPARAT KAU!!”
Resfa yang sudah terpancing oleh amarah datang kearahku. Dia melancarkan serangan secara brutal.
*Srk* aku berusaha menghindar dan menepis serangannya.
“RASAKAN INI!!”
“Hup!” aku lalu melompat keatas dan menggunakan kepalanya sebagai pijakanku. Dan juga *Slash* aku menyerang Resfa tepat mengenai kepalanya.
Belum juga Resfa berbalik dengan cepat aku melancarkan serangan berikutnya *Slash* serangan kali ini membuat Resfa kehilangan cukup banyak HP.
“Si-sialan kau”
Aku lalu berdiri tepat di depannya.
“Aku sebenarnya ngak mau dianggap Copyright tapi kata-kata itu cocok dikatakan saat ini. Menyerahlah dan biarkan dirimu dihancurkan” Ucapku
“Dasar kau” Resfa masih berusaha menyerang ku dan tentu saja aku tidak akan diam saja.
*SRash* “Critical Slash” aku menyerangnya dan seketika itu HP milik Resfa habis.
(Battle End) Seluruh Area pun menghilang beserta Ark.
“MATI KAU!!” meski pertandingan berakhir Resfa berusaha meninjuku. *Duak* Aku lalu meninjunya tepat di perut dan membuatnya terkapar seketika.
“Aku akan melaporkanmu” aku membuka panel dan masuk ke bagian pelaporan pelanggaran. Aku lalu melaporkannya tanpa menuliskan namaku sebagai pelapor. Aku tidak mau ada orang yang tau tentang hal ini. Aku tidak mau mengulang hal itu lagi “Sepertinya kali ini aku sedikit berlebihan”.
Meski aku memenangkan pertandingan ini aku tidak bisa mendapatkan point sedikit pun. Yang kudapatkan hanya rasa capek saja.
Aku segera meninggalkan tempat itu.
*****
Di sebuah rungan
Tampak beberapa orang sedang melihat sebuah video.
“Bagaimana menarik bukan”
__ADS_1
“Jadi ini orang yang kau maksudkan, kepala sekolah”
“Ya dia sudah terlalu lama menyembunyikan jati dirinya……Pendragon”