
Aku tidak ingin salah paham dengan kebaikanmu~
~•~
Setelah keluar dari kantor polisi, entah mengapa Haura merasa napasnya memburu, jantungnya berdebar—seolah dirinya baru saja mengeluarkan tenaga besar untuk menghadapi sesuatu. Tidak bisa dipungkiri, rasa trauma yang dia miliki akibat perlakuan Delarosa terhadap dirinya selama ini, seolah menimbulkan luka sayatan yang begitu dalam, dan kini Haura dengan berani membalas semua perkataan mantan mertuanya itu. Mengingat bagaimana Delarosa menganiaya dirinya, membuat hatinya selain. Membuat Haura marah dan semakin dendam.
Alden masih merengkuh Haura sembari berjalan pelan menuruni anak tangga, dia masih merasa khawatir karena menurut dirinya Haura mungkin saja masih syok atas penyerangan yang dilakukan Delarosa terhadap dirinya.
Haura melepaskan diri dari rangkulan tangan Alden. "Aku tidak apa-apa. Kau bisa melepaskan aku."
Tidak ada pilihan lain—selain melepaskan Haura, Alden menuruti apa pun yang dikatakan oleh wanita itu kali ini, dan tidak akan mengintervensi apa saja yang keluar dari mulutnya.
"Untuk apa kau melakukan sejauh ini untukku, Alden?" Pertanyaan Haura membuat Alden terkesiap. "Kau sangat baik kepadaku, kau sangat mengkhawatirkan diriku, untuk apa?"
Alden terdiam sesaat. Seolah tengah memilah kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan Haura.
"Aku melakukan itu, hanya karena kau adalah kekasih kontrakku," elaknya. Alden terlalu takut untuk menyatakan cintanya pada Haura, bukan karena apa-apa. Dia hanya takut cintanya bertepuk sebelah tangan, hanya dengan cara ini—dirinya bisa dekat dengan wanita pujaannya, tanpa harus takut tentang apa pun, bahkan penolakan.
"Jika hanya itu alasanmu, jangan membuatku memiliki rasa lebih, atau berharap padamu—karena kenyataannya. Hubungan kita memang sebatas pekerjaan saja, dan tidak lebih. Kau tidak perlu berbuat seperti tadi, memperkenalkan dirimu sebagai tunanganku, itu sangat berlebihan."
Jujur saja, Alden sedikit merasa tersinggung oleh ucapan Haura, tapi dia mengingat tentang kejadian penyerangan tadi. Mungkin saja Haura sedang Trauma atau apa pun itu, yang jelas Haura terlihat memang sedang tidak ingin di ganggu saat ini.
__ADS_1
"Biarkan aku pulang sendiri." Haura berjalan sendiri, menyetop taksi yang kebetulan sedang lewat, tanpa menengok ke arah Alden, dan membuat pria itu terdiam untuk beberapa saat, hingga taksi itu pergi begitu saja.
Kebodohan Alden adalah, dia tidak pernah berani mengatakan cintanya untuk wanita yang memang ia dambakan selama ini. Wanita yang membuat dirinya bergetar sejak pertama kali bertemu di bangku Sekolah Menengah Atas. Haura memang terkenal cantik dulu, dia salah satu bunga sekolah yang banyak menjadi incaran para siswa. Dulu dia ingin menyatakan cintanya pada Haura, tapi sebelum ia sampai dan menemui gadis pujaannya itu. Alden dihadang oleh segerombolan kakak kelas, dan dihajar habis-habisan karena mereka tahu Alden membawa coklat dan sepucuk surat yang ditujukan untuk Haura, mereka mengintimidasi Alden, dan berkata—Haura gadis cantik, dan Alden adalah pemuda payah yang tidak pantas mengejar cinta Haura, dan bisa dipastikan Haura akan menolaknya secara mentah-mentah.
Alden mengacak-acak rambutnya karena frustasi, rasa pengecut yang tertanam dalam otaknya, membuat dirinya cepat atau lambat akan kehilangan Haura, yang dengan susah payah sudah ia genggam.
~•~
Sembari menunggu penyelidikan polisi, Delarosa berubah menjadi tahanan, sementara Alila yang tidak terbukti ikut dalam penyerangan Haura, statusnya menjadi saksi. Delarosa sendiri tidak habis pikir, jika Haura bisa memiliki kekuatan untuk mengurung dirinya di penjara.
"Siapa wanita yang bersama dengan wanita iblis itu?" desis Delarosa, matanya menyipit menunjukan amarah yang tidak bisa dia tutup-tutupi.
"Apa?!" seru Delarosa tidak bisa menutupi keterkejutannya.
"Apakah lelaki itu benar-benar berpengaruh di kota ini?" Theo menimpal, ingin tahu.
"Keluarga Walsh—bukan keluarga sembarangan, mereka memiliki kuasa yang tidak main-main, dan mereka benar-benar sangat disegani."
Delarosa menelan ludah mendapat penjelasan dari Alila, menantu kesayangannya yang selalu ia bangga-banggakan. Jika benar seperti itu, pasti Delarosa harus mendekam di dalam penjara untuk waktu yang lama.
" Apakah sebahaya itu berurusan dengan mereka?" Theo mencoba mengorek informasi tentang lelaki yang mengaku-ngaku sebagai kekasih mantan istrinya.
__ADS_1
"Ya, mereka benar-benar memiliki akses untuk apa pun, dan Mamamu sedang dalam bahaya, bisa saja Alden membayar pengacara terbaik, maka dia benar-benar ingin menjebloskan mama ke penjara."
Mata Delarosa menajam tidak percaya, wanita busuk itu memiliki akses mengenal orang penting seperti Alden, apa yang dia lakukan—hingga wanita itu juga benar-benar merubah penampilannya.
"Oia... Theo, besok kau dan aku akan pergi ke rumah sakit," ajak Alila, ia mengingat perkataan Haura, yang memberi tahu jika Theo-lah yang mandul.
"Untuk apa?"
"Untuk memeriksa kesuburanmu, apakah benar yang dikatakan wanita itu, jika kaulah yang sebenarnya mandul."
"Untuk apa? Apakah kau tidak percaya dengan putraku?!" Delarosa kembali resah, dia takut jika benar apa yang dikatakan Haura, jika sebenarnya Theo yang mandul, bukan Haura.
"Untuk tes, jika benar Theo tidak bisa memiliki anak, maka aku seharusnya bisa mendapat lelaki lebih baik dari anakmu!" Alila berbalik badan dan pergi dari kantor polisi.
◦•●◉✿To be continue✿◉●•◦
Hallo maaf, ya. Cuma bisa update satu bab dan agak telat, karena dua hari ini sangat sibuk. Besok akan kembali update satu hari dua bab.
__ADS_1