Kala Bos Menggoda

Kala Bos Menggoda
Bagian 66 • Terakhir Kali


__ADS_3

Hampir saja Haura tidak percaya, jika Callie dan Edward akan memberi restu dengan begitu mudah, Haura pikir--jika sepasang pasangan senja itu tidak akan menyetujui dirinya dan akan lebih memilih Angeline sebagai menantunya dari segi apa pun, Angeline lah yang masuk dalam kriteria itu, dari keluarga terpandang, masih lajang, dan cantik. Akan tetapi pikiran negatif itu seketika sirna saat kakek dan nenek Alden itu merestui mereka.


Alden dan Haura saling memeluk, kini perjalanan mereka akan memiliki tujuan akhir, penantian keduanya tidak sia-sia. Kesabaran mereka terbayar dengan lunas dan akan berakhir indah.


"Biarkan aku dan Edward yang mengurus segalanya, kalian hanya butuh datang ke acara pernikahan kalian tepat waktu," ucap Callie.


"Tapi, Nek—" Alden hanya ingin berkata, dia dan Haura akan menyiapkan semuanya sendiri tanpa bantuan siapa pun.


"Kau cukup membuat sebuah list, dan aku akan mengerjakannya, kalian jangan menganggap kami telah renta, sehingga kami tidak bisa mengurus hal seperti ini!" imbuh wanita tua itu dengan semangat, seolah jiwanya kembali muda saat sang cuci akhirnya mau menikah setelah di tahun-tahun sebelumnya Alden selalu berkelakar jika dirinya tidak akan menikah.


Saat Alden menarik napas ingin menjawab ucapan Callie, Haura menepuk pundak pria itu. Lalu mengangguk dan sedikit menutup mata seolah ia meminta Alden mempercayakan semuanya pada Callie, dan Haura percaya apa pun yang dipersiapkan oleh wanita tua itu akan bagus dan indah.

__ADS_1


***


Hari berganti hari, Alden dan Haura semakin sibuk dengan pesta pernikahan mereka, sementara undangan sudah lima puluh persen disebarkan.


Kini Alden dan Haura sudah benar-benar tinggal dalam satu atap. Tidak ada lagi sekat di antara mereka berdua.


Di sela-sela kesibukan Haura yang tengah mempersiapkan pernikahannya. Tiba-tiba dering ponsel mengganggu Dirinya, Haura yang merasa terganggu karena sedang memeriksa suasana gedung yang akan ia pakai untuk pernikahannya dengan Alden, Haura hanya perlu memeriksanya saja karena Callie dan Edward sudah mempersiapkan ini semua dengan sempurna sesuai dengan warna favorit Haura yaitu merah muda. Haura melirik layar ponselnya dan melihat nama mantan suaminya terpampang di layar ponsel itu, Haura menarik napas dalam-dalam dan mengangkat panggilan itu, padahal sebelumnya Haura merasa jika pria itu sepeninggal ibunya tidak banyak macam-macam dan bahkan tidak mengganggu Haura sama sekali.


"Hallo?" jawab Haura masih sibuk dengan satu tangan yang memegang pena dan kertas untuk mencatat kekurangan-kekurangan yang ia butuhkan, karena lusa perhelatan akbar pernikahan Alden dan Haura akan diselenggarakan.


"Kau di mana? Kenapa sangat ramai?" Haura mengerutkan kening dan menyerahkan catatannya yang sudah selesai ia tulis.

__ADS_1


"Aku di jalan dekat apartemenmu, aku lupa jika aku sudah di-blacklist dan aku tidak bisa masuk ke sana," jawab pria itu, nada bicaranya sungguh tidak biasa. Theo yang dulu angkuh kini berubah seperti orang lain dan terlihat lemah. "Bisakah kau ke mari? Aku ingin berbicara denganmu sebentar," tukas pria itu lagi.


Haura terdiam sesaat sebelum ia kembali membuka suara dan akan menemui pria itu.


"Baiklah, tunggu aku di sana! Aku juga akan memberikan sesuatu kepadamu," sahut Haura kemudian.


"Baiklah aku tunggu."


Tanpa meminta izin pada Alden Haura pergi menemui Theo sendiri, dia akan menyerahkan sebuah undangan untuk pria itu agar pria itu datang untuknya di hari bahagia Haura. Wanita itu hanya ingin dia dan mantan suaminya bisa berteman meski tidak saling memiliki lagi, itulah harapan Haura saat ini.


__ADS_1



![](contribute/fiction/4319780/markdown/2721626/1652773219178.jpg)


__ADS_2