Kala Bos Menggoda

Kala Bos Menggoda
Bagian 52 • Pulang ke Tempat Ternyaman


__ADS_3

Ponsel Haura berdering sesaat setelah dia kembali memasukkan benda itu di dalam tasnya. Wanita itu terlihat gusar saat melihat nama di layar ponselnya.


"Halo?"


"Kau di mana? Aku ada di dalam apartemenmu, apakah kau pergi?" Alden terlihat khawatir dari cara dia bicara, karena sebelumnya dia melihat Haura nampak sedih.


"A–aku keluar sebentar, aku membeli sesuatu ke supermarket," balasnya seadanya.


"Membeli apa? Kulihat bahan makanan sudah tersedia."


Haura menghela napas panjang. "Aku pulang sekarang," sahut wanita itu menutup teleponnya.


Beruntung saat ia memasukkan ponsel ke dalam tasnya, ada taksi yang kebetulan lewat—Haura langsung melambaikan tangan dan masuk ke dalam mobil tersebut.


"Kemana Nona?" Si sopir bertanya sembari melirik ke arah spion melihat Haura dari sana.


"Apartemen pusat kota, Mr. "

__ADS_1


Si sopir mengangguk mengerti, dan menjalankan mobilnya menuju tempat tinggal Haura.


Saat Taksi Haura berjalan maju, dari belakang pula mobil sport milik Theo berhenti, lelaki itu tidak tahu jika Haura masuk ke dalam taksi di depannya. Mantan suami Haura memperhatikan kanan dan kiri, akan tetapi nihil dia tidak menemukan wanita cantik itu. Theo memutuskan untuk menghubungi mantan istrinya, tapi Haura malah mematikan ponselnya sehingga pria itu kehilangan jejak Haura.


Theo mengingat jika sebelumnya Haura berkata telah menjenguk ibunya, dan berakhir dengan penghinaan yang dilakukan oleh wanita yang telah melahirkannya itu. Theo pikir ibunya telah berubah pikiran dan tidak akan menggangu Haura, agar Haura memaafkan kejahatannya dan meringankan hukumannya—tapi yang terjadi malah, Delarosa seolah menabuh genderang perang dengan Haura, wanita yang selalu bersikap lemah lembut itu. Theo memutuskan untuk masuk ke dalam tahanan, dan berbicara pada ibunya. Namun, seorang sipir tidak mengizinkannya, karena sebelumnya Delarosa mengamuk dan sekarang pingsan hingga dibawa ke ruang kesehatan. Theo sangat frustasi dan tidak bisa berbuat apa pun untuk sang ibu. Apa yang dibicarakan ibunya dan Haura hingga berakhir dengan ibunya pingsan dan Haura menangis, pasti ada pertengkaran hebat yang terjadi?


~•~


Haura turun dari taksi masuk ke lobi, dia terkejut ketika melihat Alden sudah berdiri di depan pintu lobi dengan tangan bersedekap seolah menunggu sang pujaan hati dan meminta jawaban, Haura telah pergi ke mana.


"Warna bibirmu?" Alden menunjuk ke arah bibir wanita yang ia cintai itu.


"Kenapa?" tanya Haura belum sadar. "Oh... aku hanya sedang ingin memakai warna ini saja, apakah jelek?"


"Tidak, apa pun yang kau pakai. Kau tetap sama cantiknya seperti kita pertama bertemu di Sekolah Menengah Atas," sahut pria itu mengulurkan tangan untuk menggandeng tangan kekasihnya.


Haura menggapai tangan Alden dan menggenggamnya dengan erat, seolah tidak ingin lepas dari Alden walau sedetik pun.

__ADS_1


"Kau lapar?" tanya Haura dengan bergelayut manja di tangan Alden.


"Lumayan."


"Kalau begitu aku akan memasak makanan untukmu."


"Aku akan membantumu," jawab pria itu.


Keduanya berjalan menuju lift, dan naik ke lantai atas menuju unit apartemen mereka. Haura mengurungkan niat bertemu dengan Theo hanya karena Alden yang memintanya untuk pulang, karena hanya Alden lah satu-satunya tempat ternyaman untuk Haura kembali dan menyandarkan diri dan juga hidupnya—pria inilah yang selalu memiliki tangan hangat nan lembut yang selalu ada untuk Haura. Tanpa sadar Haura menatap lekat wajah pria yang berjalan di sampingnya, kemudian mempererat pelukannya di tangan Alden, membuat Alden berhasil menoleh dan mengelus kepala Haura.


"Ada apa? Kangen?" ucapnya nakal.


"Tidak...." Haura melepaskan tangannya dan menghindar, tapi gerakkan Alden lebih cepat dari Haura dan pria itu berhasil merangkul wanita itu kembali hingga Haura tidak bisa lepas.


To be Continue~


__ADS_1


__ADS_2