Kala Bos Menggoda

Kala Bos Menggoda
Bagian 46 • Terprovokasi


__ADS_3

Haura tidak konsentrasi dalam menyetir, dalam otaknya memikirkan Theo yang terus mengusik hidupnya. Dia mengenang masa-masa dirinya dihina, dicampakkan, diusir. Membuat Haura tanpa sadar mengerem mobilnya secara mendadak, hingga dirinya sempat tersentak, napasnya memburu, dan wanita itu mencengkeram kuat setir kemudinya. Dendam di dalam dada Haura semakin menjadi-jadi, awalnya dia tidak ingin membenci Theo, akan tetapi karena pria itu selalu mengganggu hidupnya membuat Haura bertekad untuk memberi pelajaran kepada mantan suaminya itu.


Haura kembali menjalankan mobilnya, dengan kecepatan sedang dia menyetir mobilnya menuju kantor De Beauty, membelah jalanan kota Tadpole yang sedikit lengang karena langit sedang tidak bersahabat pagi ini.


Wanita itu turun di depan lobi, dan meminta sekuriti untuk memarkirkan mobilnya ke basemen karena hujan, membuat Haura malas untuk parkir sendiri. Dia turun dan berjalan anggun masuk ke dalam lobi, tangan kirinya menenteng clutch sementara tangan kanan menggenggam cup kopi yang masih mengepulkan asap panas, yang dia bawa sebelum berangkat kerja tadi. Namun, tiba-tiba seseorang menarik rambutnya dengan sangat kuat, membuat Haura meraung kesakitan. Haura spontan menoleh ke arah si penarik tersebut, dia terkejut melihat Alila dan Angeline sudah berada di belakangnya—sejak kapan mereka berteman? Atau mereka sedang merencanakan konspirasi untuk membuat Haura menderita.

__ADS_1


Haura mengedarkan pandangannya ke segala arah, semua orang melihat ke arah dirinya dengan tatapan beragam, tidak sedikit yang mencemooh dan menganggapnya wanita penggoda bos perusahaan ini. Haura marah, ia mencengkeram cup kopi yang ia bawa karena merasa murka.


"Wanita murahan! Kemana kau sembunyikan suamiku hingga dia tiga hari tidak pulang?!" teriak Alila, wanita itu benar-benar tidak waras dan membuat Haura semakin malu, sementara Angeline menyedekapkan kedua tangan ke depan, dengan senyum ironi seolah sedang mengolok-olok Haura.


Haura menarik napas panjang, lalu berjalan mendekat ke arah kedua wanita itu, dia benar-benar sudah tidak tahan dengan perlakukan dua wanita ini, padahal Haura tidak pernah berbuat jahat pada mereka, akan tetapi—keduanya benar-benar jahat dan bahkan di luar batas.

__ADS_1


Haura terdiam sesaat, dia mulai memutar tutup cup kopi yang dia bawa, dan dengan begitu cepat ia menyiram air kopi panas ke muka dua wanita di hadapannya lalu membuang wadah bekas kopi panas itu ke lantai, tentu saja Alila dan Angeline menjerit kesakitan karena panas. Semua orang semakin membelalakkan mata karena keberanian Haura.


"Jika kau ingin menantangku, Alila! Perhitungkan dulu, siapa kau, dan siapa aku, dan satu lagi—ingat kata-kataku! Jika kau berani melawanku, dan mempermalukan diriku lagi, akan kubuat kau menderita, hingga kau tidak bisa membayangkannya sebelumnya!" desis Haura menunjuk ke arah Alila yang masih menangis kesakitan, lalu Haura menoleh ke arah Angeline, dan menunjuk muka wanita yang selalu dia hormati itu. "Aku menghormatimu, karena kau adalah teman Alden, bahkan saat Alden ingin menuntut dirimu karena ulahmu yang membuat aku masuk rumah sakit—kemarin, aku orang pertama yang mencegahnya, seharusnya aku biarkan Alden melakukan itu, agar kau membusuk di dalam penjara!" gumam Haura dengan jari telunjuk menempel di kening Angeline, lalu berbalik badan, dan pergi meninggalkan kedua wanita yang masih merintih kepanasan akibat air kopi panas yang Haura siramkan ke muka mereka berdua.


__ADS_1



__ADS_2