Kamu

Kamu
me and Andri...


__ADS_3

    Bahkan kacamata hitammu tak mampu tutupi coklat bola matamu. Bila dikatakan kamu adalah angel maka kamu adalah iblis yang begitu mengusikku. Dari wajah yang tampan, lesung yang menggoda, rambut coklat yang halus serta tubuh yang begitu wow. kamu memang pantas untuk di kagumi bahkan oleh seorang nenek - nenek sekalipun.


    Dulu mungkin aku tak pernah menggangapmu ada bahkan di sampingku. Berkat jaraklah aku tahu bahwa semua bisa berubah. Seperti bait lagu KITA ADALAH RASA YANG SAMA TETAPI DI WAKTU YANG SALAH. Karena tidak mungkin aku harus menjadi Pelakor di saat Hari Bahagiamu, ANDRI PUTRA.


    Yah, dia menikah di saat aku tiba kembali ke indonesia setelah menyesaikan studi S2 di Australia, selama 8 tahun terakhir kami memang tidak saling berhubungan. Aku jenuh, malas serta marah. Padahal hubungan kami hanyalah sebagai tetangga, sebatas teman, dan yah aku rada susah mengakui kalau sebenarnya dia adalah alasan kenapa aku bisa menjadi kuat. Ibuku seoarang sosalita begitupun ibunya, hanya saja ibuku tak pernah memberi perhatian yang pantas untukku. Ditambah ayahku yang memadu ibuku dan lebih memilih tinggal dengan istri mudanya. Meski sebenarnya ayah memiliki perusahan yang bergerak di bidang pertambangan dan memilki bisnis tour and travel. Namun ayah selalu ingin memanjakanku karena ayah tahu betapa terguncangnya aku saat mereka berdua memilih bercerai dan harus meninggalkan aku dengan ibu seperti nyonya Rosi ini.


Lain dengan ibuku, ibu Andri selalu tersenyum penuh perhatian padaku bahkan selalu menitipkan bekal makanan untukku pada anaknya. Ayah Andripun orang yang sukses karena memiliki bisnis mebel terbesar. Ditambah Andri adalah putra semata wayang mereka. Namun stay humble dan itu betul terpancar dari kehidupan mereka.


    Sebenarnya aku adalah gadis yang cukup unik. karena di luar rumah aku lebih suka memasang wajah datarku dan menyembunyikan senyumanku. Namun aku termasuk siswa berprestasi di sekolahku begitupun Andri. Sedangkan di rumah aku selalu menikmati bermain game ala lelaki, dan cross dressing beberapa anime yang memang kusukai, bahkan aku adalah otaku. Komikku lumayan banyak. jika walk in closet di isi oleh tas sepatu dan gaun, maka miilikku adalah ribuan komik yang sudah ku koleksi dari SD hingga sekarang. termasuk beberapa buku puisi dan novel segala macan genre.


    Kembali pada Andri, dia adalah anak lelaki yang begitu menyukai pelajaran olahraga namun prestasi akademiknya tak kalah memuaskan. Senyumanya bak Bintang hallyu korea, karena memang ibunya adalah blasteran bali - korea yang menjadi mualaf.


Tak bisa ku khianati memang Andri adalah orang yang bertahan berlama - lama di samping ku. Meski aku poker face dan jarang tersentuh. Namun Andri lah satu - satunya temanku, orang yang bertahan bersamaku dari kelas 3 SD hingga kelas 12 SMA. Kami selalu kekantin dan duduk berdua namun jarang diantara kami yang memulai pembicaraan sedangkan ketika ada yang say hallo padanya langsung di ajak ngobrol begitu saja di depanku.


    Kami berdua adalah saksi dari pertumbuhan dua insan yang tercela ini.

__ADS_1



''liyan, nanti lulus kuliah bareng lagi yuk?" kata Andri


''ngak mau''. kataku


''egh''. Dia hanya dia mematung dengar kataku. Dengan tarikan nafasnya dia langsung bertanya dengan tenang


''kenapa, li? Bosan yah, kerana setiap kali hanya sama aku terus?'' tanyanya dengan senyuman


Tiba - tiba matanya membulat dan tercengang. ''loh, kok nggak bilang - bilang sih? kenapa musti ke Australia segala sih liy, kamu nggak mikirin aku yah?'' katanya dengan wajah memerah


''mikirin kamu? maksud  kamu ndri?'' tanyaku semakin bingung dengan wajahnya yang berubah drastis


''eh'' diamnya semakin lama, lalu dengan mata tertutup dia mulai berdiri di hadapanku.

__ADS_1


''liy, aku nggak tahu kamu orangnya kek gimanah padahal bukan sehari - dua hari kita sama - sama. Aku tahu kamu itu penuh dengan rahasia, bahkan kesabaran yang aku perjuangin buat nunggu kamu curhat sesuatu yang penting aja tuh susah. Kamu tahu liy, setiap kali kamu diam itu sebanarnya menyiksa aku, di tambah lagi kamu selama ini hanya tersenyum ketika hujan turun dan pas kamu ulang tahun. Bahkan kamu sering melamun di balkon sambil menggeraikan rambut kamu yang sekarang semakin panjang. yang terakhir kamu potong waktu 6 bulan lalu.


liy, aku nggak buta. aku nggak tuli. kalo kamu butuh aku, butuh pelampiasan, butuh teman uneg - uneg, aku bisa liy. aku bisa luangin berjuta - jutanya waktu aku buat kamu. tapi apa? kamu selalu nggak pernah noleh atau lihat aku. aku disini liy, di depan kamu bahkan bisa di samping kamu. kalo kamu nerima aku.


Aku mendengarkan dengan wajah kaget dan sedikit bergidik, karena Andri tidak pernah seperti ini di tambah lagi suasana kantin yang begitu ramai, hingga saat Andri meluapkan kekesalahnya berbarengan dengan kantin yang senyap seketika. Banyak pasang mata yang milirik kami disaat yang bersamaan. Yah, seluruh sekolah tahu lengketnya Andri denganku sehingga meraka mengira kami adalah pasangan kekasih begitupun beberapa guru disekolah ini.


Dari semua kalimat panjang lebarnya, kata - kata terakhirnya mampu menghipnotis ku.


''nerima kamu Ndri? '' tanyaku polos.


Dengan wajah seramnya yang selama ini bahkan tak pernah di tunjukan akhirnya, dia berbalik dan pergi begitu saja dari pandanganku.


Aku bukannya bodoh, mana ada lelaki yang mau bertahan kalau bukan dengan rasa sayang dan sukanya ke kita. hanya ada beberapa part yang buat aku jadi salting, kok dia tahu 6 bulan lalu aku gunting rambut, kok dia tau aku selalu nongkrong di balkon  padahal itu balkon khusus yang sengaja aku suruh di desain miring sehingga wajahku tak terpampang keluar selain itu dia tahu kalo aku suka senyum pas hujan dan setiap kali ultah aku selalu senyum, tapi senyuman itu hanya buat bi Anggi dan mang Akun. Apa jangan - jangan . ah pusing...


 

__ADS_1


 


__ADS_2