
''Liyan, aku lari ke bandung. aku udah nggak tahu lagi harus apa pas kamu dengan gamblangnya mau kuliah ke luar negri. Liy, aku rindu kamu. Betul - betulan rindu kamu.
drrt..drtt..drrt..
Getaran handphone yang dahsyat menganggu tengah malam ku. pukul 11.59. Mager, biar kan saja bergetar tidak penting, acuh ku. Namun getarannya semakin menjadi - jadi, ah... siapa sih udah jam 12 pas juga.
Deg...
Liyan calling...
Bak di hantam petir, telepon yang lama ku nantikan, akhirnya menelponku. ku kucek mataku dalam. Benar nggak sih ini Liyan.. Dengan sedikit deheman, ku angkat telepon itu, dari seberang telepon terdengar suara yang begitu merdu menyapaku.
''hi, Andri. Apa kabar ?''
''ba..baik. Liy..
''aku, mau minta maaf soalnya yang
waktu itu''.
eh, nggak apa kok. maaf juga udah teriak - teriak didepan kamu.
''Andri, see you, aku udah di bandara soeta
sekarang'',aku sayang kamu..
__ADS_1
''maaf banget''..
tiit....tiittt..tiiiiiiit........
eh, li..liyann..
hallo...hallo...hallo...
Setelah mendengar kata sayang, air wajahku keruh, suaraku bahkan hilang setika. Tak tunggu lama, langsung ambil jaket kulit ku mencari kunci mobil dan langsung bergegas keluar dari villa untuk kembali ke jakarta. Sebelum melesatkan mobil ku aku menelpon ibu untuk mengecek rumah Liyan
''mama, Liyan ada di rumah nggak?''
''mama, tolong bilang tungguin Andri bentar''
langsung kumatikan begitu saja, tanpa ba bi bu lagi ku telusuri jalan tol yang membentang. Antara rasa senang, namun dengan air mata yang tak kalah sakitnya..
Liyan, kamu kejam sama aku..
Aku nggak tauk harus ngomong apa dengan kondisi aku yang jarang bicara sama orang lain. bi anggi, mang akun dan ayah sedari tadi menemani ku di bandara, beberapa kali ku lihat jam dan jadwal penerbangan. Dan kurasakan, waktu semakin menjepit saja.
''Liyan, Sayang kamu yakin mau kuliah di sana, disini juga banyak yang bagus kok''. tanya Ayah, padaku
__ADS_1
''Tidak ayah, aku sudah terlanjur''. kataku diam
''iyah non, kasihan Aden Andri Non'', Kata Mang Akun di sambangi oleh pukulan di pundaknya oleh bi Anggi.
''eh, aku menatap kedua orang itu menyelidik.
''kenapa sih, ada apa Mang, Bi ?" tanyaku
''Aden Andri, selalu bertanya apa yang non suka setiap kali non ulang tahun, den Andri selalu datang dengan coklat favorit non. yah emang bibi bohong kalo coklat itu dari bibi sama mang akun. Maaf yah non'',
kata - kata bi Anggi begitu menguras isi otak ku ini, bagaimana tidak lelaki yang selama ini di samping ku begitu pedulinya pada hidupku ini melebihi ibu yang ada di dekatku yang bahkan tak pernah peduli padaku.
kepergianku untuk kuliah juga, karena ibuku yang selalu merasa bahagia dengan brondong - brondong sewaannya.
Namun, panggilan dari gerbang keberangkatan menghentakan ku.
terlambat sudah bagiku untuk pulang. ku peluk Ayah hangat, begitupun bi Anggi dan Mang akun. 2 orang yang selalu menemaniku di rumah.
bye Andri Putra, Bisikku pelan..
ah.. ni mobil nggak bersahabat banget. Paksa aja deh, didepan ada rent car. nanti aku tinggalin mobil disana.
semoga masih ada sempat, liyan please tunggu aku...
__ADS_1
yah, aku kalah sama waktu. setelah berlari masuk. 3 sosok yang ku kenal telah keluar dari bandara menuju mobil. ada rasa sakit disini. ku rogoh saku jeans ku menelpon nomor cantiknya. sayang tak ada balasan disana.. hanya terdengar suara operator seluler yang mencoba menertawaiku..
menunggu lagi..mungkin nanti..