KATA KATA GALAU

KATA KATA GALAU
31


__ADS_3

Hari ini semuanya terasa menyiksa hati.


Perihal atma yang ditinggal pergi,


atau perihal cerita yang belum selesai namun harus berhenti.


Kisah yang harusnya abadi, nahasnya harus timbulkan luka yang tak mudah terganti.


Perginya dirimu bukan hal yang aku sesali,


tapi ini tentang mencintai.


Ya, aku yang terlalu mencintai,


dan kau yang tiba-tiba meninggalkanku sendiri.


Tanpa argumentasi waktu, hingga saat ini yang ku rasa hanyalah sendu.


Aku ingin tahu apa maksudmu datang kepadaku,


hanya sekedar bertamu, atau sengaja untuk membuatku bertemankan dengan pilu?


Hari ini, entah kenapa bisa-bisanya aku tetap menaruh harap yang sama.


Entah ini hanya usaha kejar afsun untuk sukma, atau entah memang aku yang tak jemu ikut kecewakan atma.


Sudah jelas kini kau pergi tanpa pedulikan kisah elegi pada potongan kesah. Yang mengiris perlahan pada kecewaku yang meringis.


Sementara kau berlalu dengan alasan yang melulu. Sibuk, tak ingin kecewaku bertumpuk.


Aku disini malah menyibukkan diri dengan halu, tentang kau yang akan kembali, dengan selipan doaku selalu, dan masih percaya dengan kata barangkali.


____


Malamku hanya berkawan dengan hening, dibawah nabastala ditemani sang dewi malam serta cahaya gemerlap. Sang anila yang menyelimuti diri, membawa pergi atmaku ke ruang imajinasi sebab akara milikmu masih terasa direlung hati.


Genggaman yang pudar perlahan menghilang, candramawa kini yang kurasa. Senandika satu satunya yang bisa kulakukan, nelangsa sudah menghampiri. Romansa milik kita memang tidak bisa abadi, segala adorasi sudah sia sia, semesta sudah menolak kehadiranmu dan aku dengan nama kita.


Ikhlasku tak semegah pesonamu, sebab itulah kasihku tak binasa dengan segera. Tapi apa daya, bukan hasrat di antara kita yang renta, tapi Tuhan tidak mengabulkan doa yang kita panjatkan. Kita sempat berandai perihal bagaimana Dewa bercinta, tapi justru patah tak tersisa.


Katakan, bagaimana rasanya kehilangan ketika sukma masih begitu terperdaya, berahi masih begitu menggelora. Sebab aku bak kayu relai, diasuh dengan ruai oleh sang Dewi. Tapi tahu bahwa kita tak dapat kembali.


____


Pada dasarnya yang pernah bertahan tanpa alasan dan mencintai tanpa tetapi akan pergi tanpa sebuah pesan, meninggalkan milyaran kenangan, melepaskan kedua tanganmu, dan tidak akan kembali.


_____


Wicaramu menyuguhkan raspodi,


daksamu memberi pelukan yang mampu menghangatkan hati,


aksamu menatapku dengan teduh seakan aku adalah batari,


saat itu aku seolah tersihir aji penenang diri.

__ADS_1


Kamu memberiku seluruh afeksi,


membuat hati yang sudah lama mati kembali bersemi,


kamu mampu membuat kalbu merasakan anomali,


mampu membuatku merasa indah bak bunga kasturi.


Laksana secawan air, pelepas dahaga musyafir


Tak ada syair, tak ada puisi.


Tak tau harus kugambarkan seperti apa perasaan ini


apa itu yang harus kugunakan ibarat?


Lintang diatas nabastala itu kah? atau mega senja yang sedang kutatap? aku tak tahu


Bibirku tersumbat atas harsaku


Tak ada rangkaian kasturi yang seindah tutur lugumu


tak perduli berjuta waktu lagi harus kumentaskan bersamamu


cukup diam tak usah kau bicara, biar kujeritkan apa mau hati 'aku sungguh mencintaimu'


____


Berbahagialah.


Satu-satu nya cara agar semua kembali seperti semua adalah dengan cara berbahagia.


____


Tapi sampai saat ini, gadis kecil yang hanya bisa menahan isak tangis sendirian dibalik pintu kamarnya itu nampak masih gelabah dirundung masalah.


Suara pecahan barang seolah sudah menjadi musik favoritnya setiap hari. Rumah yang seharusnya menjadi tempat untuk berlindung, justru berubah jadi tempat dimana harapannya mati tergantung.


Siapa kau mencium tangan Ayahku? siapa kau terduduk diatas pangkuan Ayahku?


Tidakkah kau berpikir betapa kotornya dirimu? jalangkah sebutan itu? mengapa buana tak meluluhlantahkanmu saja dari alam semesta?


Segelincir dengki mengalir di pelupuk mata, meneteskan sejuta nestapa yang bahkan kau pun tak tahu bagaimana rasanya.


Lihatlah rumahku itu, indah bukan? gesekan kaca itu adalah kata sambutan pertama dalam rumahku.


Lihatlah rumahku, ah maksudku... lihatlah nerakaku. Kejam bukan?


Mengapa semesta membunuhku begitu sadis? ditikam belati dengki tak berkesudahan, dipecuti cambuk iri membinasakan.


Tuhan,


Sampai kapan aku harus bertahan?


Atmaku ini lelah dikoyak oleh bayang-bayang retisalya. Daksaku sudah terlalu perih menahan luka yang terus mengeluarkan rudira.

__ADS_1


____


Hembusan anila membuaiku lembut, disaksikan dewi malam yang tertutup awan, aku menyeduh rinduku atas nama tuan yang saat ini daksanya tak bisa kudekap.


Tuan, malam ini aku merindukanmu.


Izinkan aku untuk mengkambing hitamkan kopi sebagai alasan insomniaku yang pada kenyataannya alasan insomniaku itu karena merindukanmu.


Tuan bolehkah aku meminta padamu agar kau hanya menyeduh satu nama di dalam rindumu, hanya aku, tanpa ada si gadis dahayu yang dulu sempat merajut asmaraloka bersamamu.


Tuan, maaf bila aku egois, sebab aku tak ingin kau terlalu larut dalam seduhan rindumu padaku dan rindumu padanya, aku hanya ingin kau merindukanku dan bukannya dia.


Tuan, kau sudah memilih aku sebagai puan barumu, dan aku pun menjadikanmu sebagai tuanku. Tuan, aku tak ingin kau berbagi rindu pada siapapun, sebab rindumu itu milikku.


Milikku ya milikku, aku tak ingin berbagi dengan siapapun.


_____


KITA BERDUA


Berbeda dalam perihal mengungkap rasa,


kamu yang mampu memendam dan aku memilih mengaung.


Menjadi suatu keserasian canggung yang penuh kelucuan.


Kita perlahan menyusuri relung hati masing-masing dengan banyak pandora yang belum terjajah tanya.


Bersikeras saling membuat candu walau hati nyatanya tuli dengan rahsa bahagia.


Hanya bersemayam pada keelokan cinta,


bersama bilah duri tajam yang selalu siaga penuh hasrat menikam dua insan yang saling menenangkan luka.


Berharap semesta kali ini tidak bercanda dengan mempersatukan dua hati— bermula asing—yang saling menaut.


Kesekian kalinya, ada perihal jujur dariku kepada langit beserta baswaranya yang selalu menjadi saksi bisu atas pengakuan malu-malu jiwa dara disini,


"Aku ingin menjadi penumbuh harsa bagi salah satu jumawa mu agar ia tak selalu menoleh pada apa yang menjadikannya pilu. Sekalipun semesta tertawa atas perpisahan kelak, aku tak menyesali menyayanginya".


____


I just wanna see your beautifull face,


wanna touch your heart,


wanna hold your hand,


j-just wanna know what you feel now.


___


Semua orang pasti akan merasakan berada di titik terlemah. Titik dimana kamu merasa benar-benar jatuh, lalu terlempar sangat jauh, dengan perasaan yang begitu rapuh.


—Bullshit_3125

__ADS_1



🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀


__ADS_2