Kedai Rawon Di Isekai

Kedai Rawon Di Isekai
10. Perbedaan


__ADS_3

Hari yang dinanti Lucas pun tiba, dan Fiona masih memejamkan mata. Gadis itu sudah bangun. Saat ini pun telah berdiri siaga di lobi sambil menunggu tuannya turun. Namun, rasa kantuk yang menyerang membuat matanya tertutup dengan posisi badan tetap berdiri. Bahkan, ia tidak sadar kalau Lucas sudah ada di hadapannya saat ini.


"Fiona." 


"Hmmm ... ."


"Fiona!"


"Hah?! Eh, ah, Tuan Lucas! Pagi!" sahut Fiona. Ia gelagapan, lalu mengusap sudut bibir, barangkali ada iler menempel. 


Lucas menatap pelayannya itu heran. Ada sedikit kantung kehitaman mulai tampak di bawah kedua mata Fiona. "Kau tidak tidur semalam?"


"Hah? Oh, umm ... tidur ... ." Fiona menguap lebar, tanpa ia tahu bahwa tindakan itu tidak sopan di hadapan seorang majikan. 


Sudah dua malam berlalu sejak Fiona berada di dunia yang baru ini. Ia tidak dipanggil ke kamar Lucas, dan hal itu merupakan sesuatu yang baru bagi kehidupan Nayesa. Biasanya, gadis itu harus pergi ke kamar tuannya setiap malam. Namun, tetap saja Fiona tidak bisa terlelap di malam hari. Ia terbiasa tidur di atas kasur empuk spring bed di dunia sebelumnya. Meski tidak senyaman tempat tidur Lucas, tetapi yang jelas lebih empuk dibanding dipan kayu dengan kasur tipis di kamar pelayan yang ditempatinya saat ini.


Asrama pelayan dilengkapi satu kamar bagi satu orang. Isi kamar pelayan berupa meja dan kursi sederhana. di sudut ruangan terdapat lemari pakaian yang berisi beberapa set kemeja putih dan celana hitam untuk lelaki, atau gaun hitam untuk perempuan. Lalu ada cermin di atas meja, setinggi dari kepala sampai dada. Terakhir, dipan kayu dengan kasur bulu tipis di atasnya.


Sepanjang malam, Fiona gelisah dan tak bisa tidur nyenyak. Kamarnya sempit. Pengap sekali dengan tidak adanya sumber angin berembus, kecuali lubang ventilasi kotak di dekat langit-langit. Fiona biasa tidur dengan AC atau kipas menyala. Kali ini, hanya angin alami yang bisa ia andalkan. Fiona menghabiskan waktu, bukannya tidur malah kipas-kipas.


Namun, Lucas tampak tidak keberatan Fiona menguap seperti itu. Pemuda itu malah tertawa dan berkata, "Kau bisa lanjut tidur di dalam kabin. Ayo!"


Kabin kereta kuda tiba di halaman depan kastil Abbott. Kabinnya dicat hitam legam dengan ukiran berwarna emas di pinggirannya. Terdapat lambang keluarga Foxton di sisi luar pintu kabin, berupa siluet kepala rubah emas yang menghadap depan, dengan latar belakang warna hitam, cocok dengan warna kabinnya.

__ADS_1


Fiona pernah melihat kereta kuda milik keluarga Foxton sebelumnya, saat kemarin ia melintasi area belakang kastil. Kereta-kereta itu berjejer rapi di parkiran dekat kandang kuda. Di antara semuanya, ada satu yang memiliki pintu paling lebar. Fiona sempat heran, kenapa yang satu itu berbeda sendiri. Sekarang gadis itu tahu jawabannya, ketika kendaraan yang dia maksud ada di depan mata.


Begitu kereta tiba tepat di hadapan Lucas, seorang pengawal membukakan pintu. Lebarnya pasti didesain khusus untuk Lucas, karena bila tidak, sang tuan muda tidak akan mungkin bisa masuk. Fiona menyusul setelah Lucas merapatkan tubuhnya di kursi pojok. Pemuda itu terlihat sangat tak nyaman dengan posisi duduknya.


"Tuan, kenapa?" Fiona menyadari yang Lucas lakukan, ketika dia baru saja duduk di jok berlapis beludru di seberang Lucas. Pemuda itu menggeleng. "Tak apa," jawab Lucas.


Fiona mengerutkan dahi dan memperhatikan kaki tuan mudanya. Perut gembul Lucas sampai terdesak di antara kedua paha. Sesaat kemudian, Fiona membulatkan mulut. Ia mengerti.


"Tuan, di sini masih luas. Lihat!" Fiona mengangkat kaki, berselonjor sampai jok di depannya. Gaun hitamnya sampai terangkat, menyingkapkan betis. Lucas terbelalak. "Hei, apa yang kau lakukan!"


"Eh, kenapa?"


"Betismu!" Lucas menurunkan kaki Fiona, agar gaunnya menutup anggota tubuh gadis itu kembali. "Nanti kelihatan dari luar!"


"Ah, maaf! Bukan itu maksudku." Fiona menyentuh kaki Lucas dan menariknya, melebarkan jarak antara kedua paha. "Anda tidak perlu duduk tidak nyaman begitu hanya karena ada aku. Anda takut aku merasa kesempitan, 'kan? Tenang saja, kabin ini masih luas."


"A-ah, baiklah ... ." Lucas memosisikan ulang duduknya agar lebih relaks. Fiona tersenyum. Lucas si antagonis itu ternyata orang yang peka pada orang lain, simpul Fiona dalam hati.


"Kenapa?" tanya Lucas. Fiona menggeleng. "Tak ada apa-apa. Lagi pula, menurut saya Anda tidak sebesar itu, Tuan."


"Kau pernah melihat ada yang lebih gemuk dibanding aku?" Lucas balik bertanya. Fiona membuka mulut, lalu segera mengatupkannya kembali. Ia ingin menjawab ya, tetapi ditahannya. Di dunia yang baru ia tinggali selama tiga hari ini, Fiona memang belum pernah bertemu lagi dengan orang gemuk lain. Kalau di dunia sebelumnya, yang sampai lebih dari 100 kilogram pun Fiona pernah melihatnya. Dibandingkan Lucas, Fiona yakin berat badan tuannya itu masih di bawah angka tersebut.


Fiona hanya menjawab sekenanya. "Entahlah, aku belum lihat banyak orang di luar kastil." 

__ADS_1


Kereta mulai berjalan, ditarik oleh dua kuda cokelat yang berlari kecil. Posisi duduk Fiona bergoyang ketika roda kayu di luar mengenai kerikil. Tidak senyaman jok mobil, tetapi setidaknya dibalut kain beludru lebih dari selapis. Kereta kuda biasa hanya bermodalkan tempat duduk kayu yang polos.


Angin semilir berhembus dari kedua jendela pintu kabin yang terbuka. Fiona mengerjapkan mata, rasa kantuk kembali menyerangnya. Gadis itu menguap lagi.


"Tidurlah. Perjalanan kita masih lama. akan kubangunkan kalau sudah sampai," tawar Lucas.


"Benarkah, Tuan? Baiklah ... ." Fiona mengerjap-ngerjap. Tak lama, kepalanya bersandar ke dinding kabin sembari memejamkan mata.


***


Diam-diam, Lucas menatap Fiona lekat-lekat setelah budaknya itu tertidur. Sampai terdengar sedikit mengorok pula, saking pulasnya. Lucas spontan menahan tawa.


Beda dari yang biasanya, ucap Lucas dalam hati. Memang, banyak perbedaan terjadi sejak dua hari lalu. Fiona yang di hadapannya ini bukanlah Fiona penakut yang selalu terlihat mau menangis. Yang sekarang ini lebih banyak bicara, secara berani pula, tanpa menunduk-nunduk seperti para pelayan lain. Meski tak sopan, tetapi Lucas menyukainya. Setidaknya dengan menatap mata, pemuda itu jadi tahu kalau lawan bicaranya tidak sedang menertawakan diam-diam.


Lucas mengalihkan pandangan ke luar jendela. Kereta yang mereka tumpangi tampak baru saja memasuki distrik bangsawan. Para keluarga pemilik gelar bangsawan yang lebih rendah tingkatannya dari Foxton tinggal di area ini. Selain pemukiman mewah, di distrik ini juga ada pertokoan untuk rakyat menengah ke atas. Para nyonya dan gadis senang berjalan-jalan di area pertokoan ini untuk berbelanja atau sekadar cuci mata.


Tak jauh dari sana pula, terdapat alun-alun kota yang dihiasi air mancur tinggi. Aliran airnya keluar dari mulut patung rubah setinggi dua meter yang berdiri gagah di tengah-tengah kolam. Patung tersebut adalah simbol bahwa keluarga Duke Foxton-lah yang menguasai wilayah ini.


Banyaknya kegiatan perdagangan yang terjadi di sekitar alun-alun membuat area ini begitu ramai. Langkah kaki para kuda mulai memelan karena banyaknya orang yang lewat. Selain sebagai lintasan orang-orang berlalu-lalang, di sini juga selalu ada pencanang berita. Berpakaian dengan warna mencolok dan memegang bel besar di tangan. Para pencanang bertugas mengumumkan berita kerajaan maupun berita yang diberikan oleh pembeli jasanya. 


Lucas melihat, pencanang itu mulai menggoyangkan belnya lagi, pertanda akan ada berita baru yang diumumkan. Lucas mendengarkan saksama, lalu dibuat terkejut olehnya.


"Dengarlah! Berita terkini! Rupanya sang putra penerus, Lucas Foxton, yang telah membeli lahan penuh pepohonan beracun pangium! Dengarlah! Dengarlah!"

__ADS_1


***


__ADS_2