
"Fiona, pancinya sudah kusiapkan. Mau digunakan untuk apa?" tanya Seri seraya mengangkut sebuah panci berukuran sedang yang terbuat dari tembaga.
Fiona baru saja memasuki ruang dapur kembali, membawa sekeranjang kluwek yang sudah dicuci bersih. Gadis itu pun meletakkan keranjang di atas meja, lalu memeriksa panci yang dibawakan Seri. Berbeda dengan panci modern, yang dibawa Seri ini memiliki tiang pegangan yang cukup panjang, berfungsi sebagai gantungan di atas api menyala. Fiona belum pernah melihat panci kuno seperti itu.
"Oke, ini bisa dipakai. Terima kasih, ya!" ucap Fiona. Senyum Seri mengembang begitu lebar mendengarnya. "Sama-sama!"
Lucas menyusul masuk ke dapur setelah Fiona. Jasnya sudah terlepas, dibawakan oleh salah satu pelayan. Ujung kedua lengan kemejanya sudah terlipat sampai ke siku, menampilkan tangan gempal pemuda tersebut. Seorang pelayan lain dengan sigap membawakan Lucas handuk, guna mengelap keringat yang bercucuran di dahi sang tuan muda.
"Tuan Muda, apakah ingin disiapkan air untuk mandi?" tanya si pelayan. Lucas masih mengelap keringat seraya menjawab, "Nanti saja. Sepertinya Fiona belum selesai."
Lucas memberikan kembali handuk ke tangan si pelayan, lalu menghampiri Fiona. Gadis itu tengah menuang semua biji yang telah dicuci ke dalam panci. Kemudian, ia menciduk air dari drum di sudut ruangan dan mengisi panci hingga biji-biji itu terendam semua.
"Oke, sekarang waktunya merebus. Umm ... ." Fiona mengangkat alisnya. Ia bingung melihat tungku yang menggunakan kayu bakar. Bagaimana cara menyalakannya?
Seri melihat Fiona yang tampak linglung. "Aku bisa menyalakannya kalau kau mau!"
"Nah! Sangat membantu sekali! Tolong, ya!" Fiona mengacungkan jempol ke arah Seri. Gadis itu langsung bersemangat.
Di belakang Fiona, terdengar para pelayan berbisik-bisik. "Bagaimana mungkin, dia tidak bisa menyalakan api sendiri? Bagaimana hidupnya selama di desanya dulu, sebelum bekerja di sini?"
Sial, aku lupa kalau yang barusan itu akan terlihat aneh sekali. Mereka kan tak mengerti kalau aku hanya tahu kompor gas!
"Fiona, selanjutnya apa yang harus dilakukan?" Pertanyaan Lucas mengambil alih perhatian para pelayan.
Fiona menghela napas lega. Baguslah, dia mengalihkan topik!
"Selanjutnya kita akan merebus semua biji ini, minimal selama dua jam, untuk menghilangkan sisa racun yang masih menempel," jawab Fiona. Lucas tampak mengangguk-angguk paham.
"Lalu, setelahnya?"
"Kita keringkan dulu, lalu ... ." Fiona berhenti sejenak. Ia memandang ke sekitar, seperti mencari sesuatu. "Aku butuh karung dan abu. Apa kita punya?"
__ADS_1
"Karung dan abu?" tanya Lucas memastikan. Fiona mengangguk.
"Fiona, apinya sudah menyala!" Seri dengan bangga memperlihatkan hasil kerjanya. Api telah berkobar dari dalam tungku pembakaran. Rupanya Seri juga telah memasangkan panci pada gantungan di atas tungku. Alas panci pun menyentuh ujung api, membuat air di dalamnya termasak perlahan-lahan.
Oh, cara memasaknya seperti pakai api unggun kalau sedang berkemah ... . Fiona mengambil kesimpulan. Ia baru mengerti teknologi memasak sederhana di dunia ini.
"Terima kasih, ya, Seri!" seru Fiona. Seri makin melayang, ia merasa telah sangat berjasa. Fiona pun menyadari hal itu dan tersenyum. Rupanya dia anak yang polos sekali.
"Tadi kau butuh karung dan abu, untuk apa?" tanya Lucas lagi.
"Untuk fermentasi, Tuan," jawab Fiona. "Nanti, setelah direbus selama dua jam, semua biji ini akan dipendam dalam abu di karung."
"Fermentasi? Seperti saat orang membuat minuman beralkohol dan roti?"
"Kira-kira seperti itu, hanya caranya yang berbeda. Pokoknya, begitulah!" tandas Fiona. Dia juga tak terlalu mengerti bagaimana proses fermentasi bekerja. Ia hanya tahu cara melakukannya saja.
"Oh, baiklah. Hei, kalian!" Lucas memerintah para pelayan. "Siapkan karung, dan juga abu yang banyak!"
"Baik, Tuan!"
"Wah, terima kasih semuanya! Kita bisa menggunakan semua ini untuk biji-biji pangium berikutnya!" Fiona tampak ceria.
Dua jam berlalu tak terasa. Panci rebusan telah diangkat. Seluruh biji kluwek telah ditiriskan di atas meja panjang. Setelah kering, Fiona mengambil karung dan abu yang telah disiapkan. Gadis itu mengalasi bagian bawah karung dengan lapisan abu. Kemudian, memasukkan sebagian biji yang telah kering.
"Jadi, seluruh biji yang telah direbus harus dilapisi oleh abu seperti ini. Jangan sampai ada yang terlewat. Sisi bawah, atas, kanan, dan kiri harus rata tertutup abu," terang Fiona.
Setelah lapisan biji terakhir telah ditutup abu, Fiona mengikat karung hingga rapat. "Ini kita biarkan selama kurang lebih 40 hari."
"Apa sudah semuanya? Seperti itu saja? Lalu, bijinya bisa dimakan?" tanya Lucas lagi.
"Apa, biji pangium tadi itu bisa dimakan? Seperti tupai makan biji?" Seri ikut menimbrung obrolan. Gadis itu menoleh ke arah Lucas. Majikannya itu mengangkat bahu.
__ADS_1
"Duh, bukan! Bukan bijinya yang akan kita makan langsung!" Fiona mengambil napas sejenak. "Setelah 40 hari, nanti bijinya harus diolah lagi. Kita akan menjadikannya bumbu masak!"
"Bumbu masak??" Kali ini, bukan hanya Seri dan Lucas yang heran, tetapi seluruh pekerja yang ada di dapur. Fiona mengiyakan. "Lihat saja, nanti!"
***
Selang dua minggu kemudian, Fiona mengajak Lucas untuk kembali ke lahan, memeriksa buah-buahan pangium yang telah mereka timbun dengan dedaunan. Sesampainya di sana, pembusukan telah terjadi. Hampir seluruh daging buah telah habis dimakan ulat, menyisakan banyak biji yang tersebar di tanah.
Fiona, Lucas, dan empat prajurit yang mengawal mengumpulkan kembali biji-bijian tersebut seperti yang mereka lakukan sebelumnya. Namun, kali ini, Fiona mengusulkan untuk mencucinya di sungai yang berlokasi dekat lahan. Tak lupa pula, gadis itu menginstruksikan para prajurit yang mengawal untuk membawa jaring, panci, dan kayu bakar secukupnya.
"Masukkan biji ke dalam jaring, lalu ikat jaring di pinggir sungai, agar airnya terus-menerus membasahi bijinya sampai bersih. Sementara itu, kalian ... ." Fiona menoleh ke arah para prajurit yang berdiri di tepi sungai. "Siapkan panci dan nyalakan api. Kita akan merebus semuanya ini setelah dicuci selama tiga jam. Lalu, untuk kalian berdua, tolong siapkan karung dan abu."
Fiona jadi teringat masa-masa selama bekerja di kantor dulu. Jelas dan tegas adalah gaya Fiona memimpin, sewaktu bertemu klien dari vendor yang bekerja sama dengan perusahaannya. Fiona tidak main-main ketika ia menemukan kesalahan dari pihak vendor. Di satu sisi, atasannya memuji Fiona karena ketelitiannya. Namun di sisi lain, mereka memperingatkan agar Fiona jangan terlalu bersikap keras.
Apa kabar, ya, Pak Theo dan Mbak Dea? Kalau nanti aku bisa kembali ke dunia asalku, apa mereka akan percaya kalau aku sudah pergi ke jaman abad pertengahan, tanpa ada listrik dan internet?
Eh, tunggu sebentar ... apa aku bisa kembali? Ngomong-ngomong, di mana jiwa Nayesa yang asli? Apa benar, dia sudah tiada seperti yang terjadi di webtoon? Kalau aku memang benar sudah meninggal lalu pindah ke dunia ini ... apa jangan-jangan, Nayesa juga pindah ke dunia lain juga?
Fiona tenggelam dalam lamunan cukup lama. Tiba-tiba, ia terkejut akan pemikirannya sendiri.
Jangan-jangan, kami sudah bertukar tempat? Mungkinkah itu terjadi?
***
Mohon maaf, dengan sangat menyesal, penulisan "Kedai Rawon di Isekai" ini terpaksa tidak dilanjutkan di sini.
Kisah Fiona dan Lucas masih bisa dibaca gratis kelanjutannya di tempat lain. Bisa baca lewat browser tanpa harus download apa pun. Gratis sampai tamat dengan frekuensi terbit sama, yakni Selasa dan Jumat. Silakan cek kolom komentar untuk tahu di mana tempatnya.
Untuk menjawab pertanyaan2 yang mungkin akan diberikan, berikut sudah kubuat daftar tanya jawabnya di kolom komentar di bawah.
__ADS_1
Terima kasih banyak. Sampai bertemu lagi. Untuk yang gak mau ketinggalan karya-karya Ryby lainnya bisa join ke grup chat. Aku masih akan sering ke sini untuk mengecek grup chatnya. Atau follow instagram @author_ryby.
...****************...