Kedai Rawon Di Isekai

Kedai Rawon Di Isekai
3. Paket Misterius


__ADS_3

"Ini kalau dimasak jadi rawon, hanya cukup untuk sekali masak!" celetuk Fiona, saat melihat jumlah biji kluwek yang hanya empat di tangannya.


Satu hal yang sama di keluarga Fiona adalah mereka hobi makan rawon. Masakan sup daging berkuah hitam itu memang menjadi kegemaran masyarakat asal Jawa Timur. Bahkan di desanya dulu, kedua orang tua Fiona memiliki sepetak tanah kecil yang ditumbuhi pohon kluwek. Sesekali, mereka memunguti buah kluwek yang telah jatuh ke tanah dan mengolah bijinya agar bisa dijual ke pasar. Biji kluwek adalah bumbu masak utama rawon yang menyebabkan kuahnya berwarna hitam. Aromanya sedap dan dapat menambah selera makan.


Sudah lama, Fiona tidak makan rawon. Melihat biji kluwek di hadapannya, ia jadi membayangkan masakan tersebut. Fiona tidak terlalu pandai mengerjakan pekerjaan rumah, tetapi kalau masak rawon, ia patut mendapat pujian. Neneknya bahkan sering memuji kelihaian Fiona yang satu itu.


Fiona tidak menaruh curiga apa pun lagi pada si paket misterius. Ia hanya berasumsi kalau neneknya yang memesan untuknya. Segera gadis itu membuka kulkas dan mengeluarkan daging sapi, taoge, dan bumbu-bumbu lain yang diperlukan untuk memasak rawon. Tak lupa pula, Fiona membelah biji kluwek tadi dan mengambil gumpalan hitam di dalamnya, untuk dicampurkan bersama bahan-bahan lain.


"Selesai!" Satu senyuman kecil mengembang di wajah Fiona, setelah seminggu lamanya tak ada yang bisa membuat gadis itu tersenyum. Fiona mengambil semangkuk rawon hangat dari atas panci dan sepiring nasi, lalu duduk berlesehan di depan meja bundar dan makan di atasnya.


"Eyang, Ayah, Ibu ... Fiona makan dulu, ya ... Selamat makan ... ." Fiona meneteskan air mata, seraya menyuap sesendok rawon di tangannya. Enak, sangat enak. Namun, tidak ada lagi yang memujinya seperti dulu.


Fiona menyeka air mata di pipi, berusaha menghindari perasaan sedihnya. Ia tahu tidak boleh berlarut-larut dalam duka, tetapi kadang air matanya sulit dihentikan. Gadis itu memikirkan cara lain untuk mengalihkan perhatian. Ia membuka aplikasi baca komik daring di smartphone, lalu mencari webtoon terakhir yang dia baca.


Fiona begitu asyik membaca webtoon sembari makan rawon, sampai suapan terakhir tanpa ia sadari. Gadis itu langsung membereskan piring kotor bekasnya, dan membawanya ke wastafel dapur. Namun, baru saja ia bangkit dari duduk, kepalanya terasa berdenyut-denyut. Seolah sedang dihantam sampai rasanya pusing sekali. Seluruh ruangan tampak berputar di mata Fiona.


Tak lama, tubuh Fiona oleng karena tak bisa ditahan lagi. Gadis itu meringkuk kesakitan sembari memegangi kepala. Fiona tak tahu, bahwa itu adalah hari terakhirnya, bukan hanya di kantornya saja, melainkan juga di dunia tersebut.


***

__ADS_1


Kembali ke masa kini.


"Aduh!" Rasa sakit di pangkal paha menyadarkan Fiona dari lamunan. Ia tadi tengah berusaha mengingat-ingat apa saja yang telah dilakukan sebelum pingsan. Namun, perih yang gadis itu rasakan membuatnya meringis. Perihnya baru terasa, setelah Fiona tak sengaja menggerakkan kedua kaki yang berada di bawah selimut.


Gadis itu menyelipkan telunjuk kanannya, hendak meraba bagian kulit di antara paha di bawah selimut. Terasa lengket di area kulit labia mayor-nya, yang kalau disentuh jadi perih seperti terluka terkena gesekan kasar, seolah baru saja digunakan paksa.


"Nduk ... kowe nek kerjo sing ati-ati, ya! Ati-ati karo wong lanang!" (Nak, kamu kalau kerja yang hati-hati, ya! Hati-hati sama kaum lelaki!)


Fiona terkenang akan ucapan mendiang sang nenek bertahun-tahun lalu, ketika dulu ia mulai bekerja di kota besar. Neneknya juga menasihati agar tidak melakukan tindakan yang terlalu jauh sebelum menikah.


Selama ini, Fiona masih memegang nasihat tersebut. Tidak, Fiona bukanlah gadis yang lugu atau terlalu patuh. Ia hanya memilih untuk tidak melakukannya. Baginya, itu adalah pilihan hidup masing-masing. Ia tidak memandang aneh pula kalau ada orang lain atau bahkan temannya sendiri yang memilih berbeda. Fiona menganggap kalau itu bukan urusannya. Selain itu, ia terlalu sibuk bekerja untuk bisa punya ikatan cinta dengan seorang pria.


Tentu saja tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk dalam pikirannya saat ini. Fiona berpikir, ia hanya sendirian di ruangan ini. Tak ada satu orang pun yang dapat memberikan penjelasan.


Sampai akhirnya, Fiona merasakan adanya tangan yang menyentuh pahanya. Tangan tersebut besar karena memiliki banyak lemak. Fiona bergidik. Kedua mata gadis itu terbelalak saat perlahan menengok ke kiri. Siapa yang bilang tadi ia sedang sendirian?


Rupanya tidak, ada sesosok pemuda asing tampak tertidur pulas di sebelah Fiona. Rambut peraknya berkilau tertimpa cahaya bulan purnama yang mulai menghilang sebagian. Selimut di atas tubuh gemuk pemuda itu tersingkap, menampilkan dirinya yang bertelanjang dada dan hanya memakai celana kain saja.


Fiona terlonjak kaget. Napasnya menderu, seraya menyeret kedua kakinya ke tepi ranjang, hendak turun dan menjauh dari pemuda asing itu. Selimut putih tadi ia bawa serta guna menutupi dada. Fiona menginjak karpet bulu yang menghiasi lantai. Tubuhnya terus mundur, hingga membentur meja di belakang.

__ADS_1


Fiona bergerak ke arah kanan, melihat ke arah jendela yang tirainya terbuka. Gelapnya malam terlihat masih menyelimuti langit, disertai awan yang bergelung. Fiona berusaha menggoyang-goyangkan gagang kusen jendela, hingga terdengar berderak bersahutan. Terkunci. Fiona terlalu panik untuk bisa menyadari bahwa membukanya hanya perlu menggeser selot. Gadis itu malah berlari kecil ke arah yang berlawanan. Lalu, secara tak sengaja, melewati sebuah cermin seukuran tubuh manusia yang ada di sebelah lemari. Fiona spontan berhenti.


"I-ini ... ini ... siapa?!" Kedua mata Fiona membulat lebar, menatap pantulan yang muncul di sana. Itu bukan dirinya. Ia tak pernah memotong rambutnya yang panjang menjadi pendek sepundak. Fiona juga merasa tidak pernah mengubah warna rambutnya dari hitam menjadi ungu. Gadis itu juga mampu untuk membeli set krim perawatan tubuh dengan gajinya, hingga membuat kulitnya mulus terawat, bukan kusam seperti yang ada di cermin.


"Oke, aku harus tenang ... ." Fiona mencoba menarik dan mengembus napas secara perlahan, sambil menutup mata. Tak ada yang bisa dilakukannya untuk menenangkan diri kecuali dengan cara itu. Tak lama, ia kembali membuka mata dan melihat ke arah cermin.


"Sebelumnya, aku baru saja resign dari kantor. Lalu, ada paket misterius, isinya biji kluwek. Terus, aku memasaknya ... lalu, apa sekarang aku berhalusinasi? Apa aku benar-benar mabuk? Tapi, aku yakin biji kluwek tadi tidak mengandung racun! Rasanya tidak pahit, kok! Kalau sianidanya masih ada, pasti rasa rawonnya juga jadi tidak enak!"


Fiona terus saja mencerocos di depan cermin. Gadis itu tidak menyadari, bahwa suaranya telah mengganggu tidur seseorang. Ya, si pemuda gemuk berambut perak tadi. Lelaki itu meraba area kasur di sebelah kanannya. Yang seharusnya ditempati seorang gadis, rupanya sudah kosong.


Pemuda itu membuka mata, lalu mengusap-usapnya, membersihkan kotoran yang mungkin menempel. Ia menegakkan badan, ingin melihat siapa yang sedari tadi mengoceh ribut. Pandangannya makin jelas, terutama saat ia melihat kalau gadis yang seharusnya ada di sebelahnya saat ini, malah berbicara sendirian di depan cermin.


"Fiona," panggil pemuda itu. Yang dipanggil langsung terkesiap, lupa kalau ada orang lain di kamar yang sama. Fiona menoleh perlahan ke belakang. Si pemuda berambut perak beranjak turun dari tempat tidur, hendak mendekati dirinya. Secara refleks, Fiona melangkah mundur.


"Kau sedang apa?" tanya pemuda itu. Lipatan lemak di dagu dan perutnya bergoyang kala ia melangkah. Fiona melirik ke kanan dan kiri, panik. Ia tidak tahu Harus menjawab apa. Ia bahkan tidak tahu berhadapan dengan siapa. Fiona hanya bisa diam saja.


Melihat gadis di hadapannya tak mengucap sepatah kata pun, pemuda itu menjadi gusar. "Hei, aku bertanya padamu, Fiona Nayesa! Kau sedang apa!"


Fiona mengerutkan dahi. Fiona adalah benar namanya, tetapi Nayesa bukan. Meski begitu, ia merasa tidak asing dengan gabungan nama Fiona Nayesa itu. Tapi ... siapa?

__ADS_1


***


__ADS_2