Kedai Rawon Di Isekai

Kedai Rawon Di Isekai
14. Brie


__ADS_3

"Ke mana anak itu! Sejak pagi aku tak melihatnya!" Brie terdengar geram di area sumur belakang kastel. Matahari sudah memanas di atas kepala, dan Fiona tak juga menampakkan batang hidungnya. 


"Mungkin sedang ada di kamarnya, Bu Kepala," ucap seorang pelayan yang sedang menjemur pakaian. Brie menoleh ke arah gadis pelayan tersebut dan menggeleng, sambil berkata, "Aku sudah memeriksa kamarnya, terkunci. Kugedor-gedor pintunya, tidak ada yang menyahut."


"Apa mungkin dia masih tidur?" tanya pelayan yang lain lagi.


"Aku yakin, dia tidak berada di kamarnya." Brie sang kepala pelayan bingung. Tidak mungkin Fiona keluar kastel sendirian. Sepanjang yang Brie kenal selama ini tentang Fiona, gadis itu selalu tak mau pergi dari area kastel Abbott berlama-lama. Bahkan hanya sekadar ke kedai bersama para pelayan lain di jam istirahat saja ia menolak. Fiona lebih suka berdiam diri di kamarnya, entah untuk alasan apa.


Akan tetapi, hari ini jelas di luar kebiasaan. Sejak matahari terbit sampai tengah hari, tak sedikit pun Fiona terlihat di area kastel.


"Ah, apa jangan-jangan ...." Seorang pelayan lain menengok ke kanan dan kiri, sebelum akhirnya berbisik, "Mungkinkah Fiona ada di kamar Tuan Lucas? Kalian tahu, bukan, kalau mereka itu---"


"Hush! Jangan sembarangan bicara! Jangan buat gosip yang bukan-bukan! Kalau sampai Nyonya Besar mendengar, bisa habis kalian!" Brie menghardik si pelayan tadi. 


Gadis itu langsung bergidik. "Ampun, Bu Kepala! Jangan laporkan saya!"


"Lagi pula," ucap Seri, yang tiba-tiba ikut menimbrung obrolan dengan pispot yang telah dicuci bersih di tangan. "barusan aku dari kamar Tuan Lucas. Fiona tidak ada di kamarnya. Begitu pula dengan Tuan Lucas sendiri."


"Untuk apa kau ke kamar Tuan Lucas, Seri?"


"Ah, ini!" Seri menunjukkan pispot di tangannya. "Bu Kepala memintaku menggantikan Fiona, mengerjakan tugas-tugasnya. Dan tidak ada siapa pun di kamar Tuan Lucas!" sahut Seri.


Brie mengerutkan dahi. "Apa? Tuan Lucas juga tidak ada di tempat?" Pelayan tua itu tampak berpikir. Apa Tuan Muda sedang pergi ke desa-desa seperti biasanya?


Sebagai pelayan terlama yang bekerja untuk keluarga Duke Foxton, Brie telah melihat perkembangan anak-anak majikannya semenjak mereka masih bayi. Ia pula yang membantu sang nyonya besar untuk mengasuh kedua putra Foxton tersebut. Meski tak pernah mengungkapkan secara gamblang, tetapi Brie menganggap Lucas dan Linden seperti anaknya sendiri. 


Wanita paruh baya itu tahu setiap hal yang disukai dan dibenci oleh mereka. Brie juga tahu kapan mereka bersedih, cara membuat mereka senang, dan segala pencapaian yang telah mereka raih. Brie mengetahui kalau Lucas adalah anak yang rapuh, sementara Linden adalah anak yang lebih memilih diam untuk menghindari konflik tak penting. Bila Lucas mulai bercerita perihal sikap Linden padanya, Brie-lah yang menenangkan Lucas agar tidak marah pada adiknya, sebab dia memang tahu kalau Linden tidak pernah membenci kakaknya. Hanya, Lucas selalu menyimpan pikiran negatif terhadap dirinya sendiri. 


Brie pula, yang mengetahui pertama kali, kalau tuan mudanya itu mengidap kelainan karena stres, yakni gangguan makan berlebih. Juga Brie orangnya yang tahu pertama kali, kalau Lucas memiliki hobi baru berupa jalan-jalan di pedesaan sekitar, mengenakan pakaian rakyat biasa dan menunggangi kuda. Pelayan tua itulah yang mencarikan pakaian seperti itu di pasar.

__ADS_1


Apa mungkin, Tuan Lucas pergi ke desa lagi? Mungkinkah dia mengajak Fiona? Tapi, untuk apa? Brie tenggelam dalam pikirannya sendiri, sampai akhirnya, seorang pelayan lain tiba-tiba mengatakan, "Aku melihat Fiona ikut bersama Tuan Lucas pergi menyelidiki lahan yang ada pangium-nya itu."


"Lahan yang bermasalah itu? Jadi, Tuan Muda mengajak Fiona? Kenapa tidak pelayan lain?"


"Mungkin masalah kepercayaan," celetuk Seri. "Sejak awal, Tuan Lucas yang membawa Fiona untuk bekerja di sini. Jadi wajar saja kalau mereka punya hubungan dekat. Fiona pasti berterima kasih pada Tuan Lucas yang sudah memberinya pekerjaan."


"Hmmm, bisa jadi, ya ...."


Para pelayan mengangguk-angguk. Seri kembali ke dalam kastel untuk membersihkan ruangan lainnya. Gadis itu tersenyum simpul. Setidaknya untuk saat ini, ia berhasil membuat para pekerja lain tidak bergosip lebih jauh lagi soal temannya. 


***


Selama perjalanan pulang, Fiona tersenyum-senyum sendiri sembari menatap keranjang di tangannya, yang penuh dengan biji kluwek. Di kepalanya, sudah tersusun rencana-rencana yang akan dia lakukan selanjutnya.


Sebentar lagi, aku sudah bisa lepas dari ikatan perbudakan ini. Meski aku belum tentu bisa pergi dari kastel Abbott, setidaknya aku tidak perlu takut kalau takdir kematian Nayesa akan terjadi padaku di masa depan!


Tak lama, kereta kuda memasuki pekarangan kastel. Fiona dan Lucas segera turun dari kabin. Mereka berdua segera pergi menuju ke arah dapur.


Fiona menggeleng mantap. "Tidak, aku sedang senang sekarang. Mumpung aku masih ingat seluruh cara mengolah biji-biji ini, lebih baik segera dilakukan!"


"Baiklah ... ." Lucas pun menurut. "Siapa yang mengajarimu?"


"Ayah dan Ibuku! Nenekku juga!" seru Fiona. Pandangan matanya lurus ke depan koridor yang mengarah dapur, sementara Lucas berjalan di sisinya. 


Pemuda itu mengerutkan dahi mendengar jawaban Fiona. "Ayahmu yang pemabuk dan suka berjudi itu? Dia tahu cara mengolah biji pangium ini?"


Langkah Fiona yang tadinya begitu bersemangat, mendadak memelan. Ia menoleh canggung ke arah majikannya. "Ah, itu ... maksudku ... kerabatku yang telah mengajariku! Kerabat yang jauh sekali!"


"Oh ... ." Lucas membulatkan mulut. Fiona pun bernapas lega saat lelaki itu menerima alasannya. 

__ADS_1


Ayah Nayesa memang tipe pria yang tak bisa diandalkan. Dari yang Fiona baca di webtoon "Lady Renata", ada sepenggal adegan yang menampilkan bahwa pria itu suka memeras upah hasil kerja keras putrinya hanya untuk mabuk-mabukan dan berjudi. Nayesa jadi tidak bisa mengobati ibunya yang sedang sakit hingga akhirnya tiada. Setelah bangkrut dan dikejar-kejar penagih hutang, akhirnya pria itu menjual Nayesa pada Lucas.


Tipe Ayah yang seperti itu, mana mungkin bisa mengajarkan satu saja hal yang berguna bagi putrinya! Aku bersyukur, ayahku yang sebenarnya sangat baik hati! seru Fiona dalam hati.


Sesampainya di pintu dapur, rupanya Brie sudah menghadang Fiona untuk meminta penjelasan. Diacungkannya tongkat gilingan adonan ke arah si gadis pelayan. "Ke mana saja kau! Tugasmu itu masih banyak, tapi kau malah pergi tanpa pamit! Aku terpaksa menyuruh Seri untuk menggantikanmu!"


"Maaf, Bu Kepala!" Fiona mengangkat keranjang ke depan wajah, bermaksud menghalangi Brie, seandainya wanita tua itu hendak memukul Fiona dengan tongkat gilingan. "Tadinya aku mau pamit, tapi aku harus berangkat pagi-pagi sekali!"


"Sudahlah, Bibi ... ." Lucas melambaikan tangan di antara Brie dan Fiona. "Aku yang mengajaknya untuk pergi pagi-pagi sekali tadi. Kami ada urusan penting."


Melihat sang tuan muda berusaha membela Fiona, Brie menurunkan tongkat gilingannya. "Ya sudah. Lagi pula, tugasmu itu lebih beres bila Seri yang mengerjakannya. Aku heran, selama dua hari belakangan ini, kau melakukan bersih-bersih seperti seorang amatir saja!"


"Apa?!" Fiona mendelik kesal. Itu karena sejak dua hari lalu, jiwaku yang merasuki tubuh ini, bukan Nayesa! Dan aku memang tidak pandai bersih-bersih!


Fiona ingin marah, tapi semua itu tak bisa ia ucapkan. Dari belakang Brie, Seri lewat sambil tersenyum lebar dan melambaikan tangan ke arah Fiona.


"Sudahlah, jangan bertengkar! Bibi, aku ingin menggunakan dapur sebentar," ucap Lucas. Brie langsung menanggapinya dengan asumsi negatif. "Jangan bilang kalau Anda ingin makan banyak lagi, Tuan! Tidak baik bagi kesehatanmu!"


"Bukan!" Lucas menggeleng cepat, lalu menepuk pundak Fiona. "Dia ingin menunjukkan sesuatu padaku, cara mengolah biji-biji ini." Lucas menunjuk keranjang yang ada di tangan Fiona.


Brie melongok, melihat isi keranjang. Ada benda-benda pipih bulat berwarna abu-abu yang tidak ia kenali. Brie mengambil salah satunya, berusaha mengamati lebih saksama. "Apa ini?"


"Biji pangium," jawab Lucas singkat. Brie langsung terkejut dan melempar biji di tangannya ke dalam keranjang kembali. "Yang beracun itu?!"


Fiona mengangguk dan berkata, "Aku akan membuatnya jadi tidak beracun lagi!"


***


Mau baca lebih cepat? Cek kolom komentar.

__ADS_1



__ADS_2