Kedai Rawon Di Isekai

Kedai Rawon Di Isekai
6. Tanpa Listrik


__ADS_3

"Fiona! Kenapa kamu baru datang sekarang!" Seorang wanita tua berpakaian seragam pelayan melotot tajam ke arah Fiona. Tag namanya bertuliskan "Brie". Pekikan itu terdengar saat yang dipanggil baru saja memasuki area pekarangan kastil. Angin semilir di pagi hari berembus, memaksa membuka mata para pekerja yang hendak menjalankan tugas rumah tangga keluarga Duke Foxton. Sementara itu, majikan mereka sendiri masih terlelap pulas di tempat tidur yang nyaman.


Fiona terlambat karena tadi harus menimba dua ember air terlebih dahulu, lalu membawanya ke kamar mandi bersama di asrama. Gadis itu tadinya mengira kalau semua orang melakukan hal yang sama. Namun, setelah melihat para pelayan lain mandi lebih cepat darinya, akhirnya ia menyadari. Rekan-rekan seprofesinya itu tidak mandi, tetapi hanya membasuh tubuh secara menyeluruh menggunakan lap yang dicelup air, lalu cuci muka dan berganti baju bersih. Tidak ada yang mandi menggunakan pancuran atau pun gayung seperti yang hendak Fiona lakukan.


Terlintas dalam ingatan Fiona, mengenai alur cerita bagaimana si protagonis Renata mandi dilayani banyak pelayan yang mengambilkan air. Bangsawan bisa mandi kapan saja di pemandian pribadi, sementara rakyat biasa membersihkan tubuh sehari-hari hanya dengan mengelap saja. Fiona berdecak, ia benar-benar iri.


"Fiona! Jawab!" Brie sekaligus lagi berteriak, membuat Fiona terlonjak.


"A-ah! Iya! Maafkan saya!" Fiona mempercepat langkah, masuk ke dalam barisan arahan pagi. Fiona tidak pernah membaca adanya adegan arahan pagi untuk para pelayan. Jadi, setelah bersusah payah untuk mandi, ia juga harus menelusuri pekarangan kastil yang luas itu berjalan kaki, karena tidak tahu di mana pertemuannya diadakan. Mau bagaimana lagi, ia tidak dapat bertanya pada Seri karena takut rekannya itu curiga.


Sementara itu, para pelayan lain geleng-geleng melihat kedatangan Fiona yang terlambat. Ada juga yang tersenyum menyeringai, seperti telah menyimpulkan sesuatu yang tidak-tidak.


Fiona tahu hal itu, karena ini seperti dalam cerita sebenarnya. Mulai ada rumor mengenai Nayesa keluar asrama di malam hari, menuju gedung utama. Peraturan sebenarnya adalah, seluruh pelayan rumah tangga harus beristirahat di asrama pada malam hari. Gedung utama hanya boleh dilalui oleh para prajurit yang menjaga keamanan, selain anggota keluarga Foxton itu sendiri tentunya.


Beberapa pelayan terkadang memang mendapat perintah eksklusif untuk masuk gedung utama pada malam hari, tetapi itu pun tidak setiap malam, tak seperti yang Nayesa lakukan. Sialnya bagi Fiona saat ini, karena dalam webtoon "Lady Renata", Nayesa adalah orang yang tak pandai berbohong. Jadi, ketika ditanya alasan pergi ke di malam hari, Nayesa hanya diam saja. Ia tidak mahir dalam mencari-cari alasan. Hal itu membuatnya makin dicurigai. Sekarang malah jadi berimbas pada Fiona yang merasuki tubuhnya.


Tidak bisa begini terus. Selain aku bisa mati karena melayani Lucas, aku juga bisa tiada kalau sampai dikucilkan oleh masyarakat karena statusku. Tapi, bagaimana caranya?


Sementara Fiona berpikir, arahan pagi tetap dilanjutkan. Setiap harinya, arahan diisi oleh Brie, sebagai ketua pelayan, untuk memberitahu ada acara apa saja yang akan terjadi di hari tersebut. Ia juga menentukan bagaimana para pelayan harus menyikapinya. Misalnya saja, makanan apa yang harus disajikan, ruangan mana yang harus dibersihkan lebih ekstra, dan pakaian mana yang dipersiapkan untuk dikenakan oleh anggota keluaerga Foxton. Baik pekerja dalam mau pun pekarangan kastil harus saling bekerja sama, terutama bila terjadi hari-hari spesial.


Untuk hari ini sendiri, tidak ada suatu acara yang berarti yang harus dihadiri atau diadakan. Itu berarti, Brie dapat menutup arahan dengan berkata, "Hari ini, kerjakan seperti biasanya."

__ADS_1


Semua pelayan mengangguk, dan menyahut, "Baik, Bu!"


Terkecuali Fiona, tentu saja. Dia tidak tahu, yang 'biasa' itu seperti apa. Fiona kembali kebingungan, ketika barisan mulai dibubarkan. Mau tidak mau, ia memberanikan diri untuk bertanya pada Brie. Wanita dengan rambut beruban yang ditata ke atas itu hendak pergi ke salah satu koridor, hingga akhirnya Fiona menghampiri.


"Maaf Bu, umm ... Bu Brie, apa yang harus saya kerjakan?"


Brie langsung menoleh ke arah Fiona, terbelalak. Beliau heran, tak biasanya gadis itu bicara padanya. Fiona itu sangat pendiam. Kalau bicara pun suka gugup, susunan katanya jadi berantakan. Fiona patuh pada perintah dan langsung melakukan pekerjaannya. Gadis itu hanya menunduk dan mengangguk. Brie menyadari kalau Fiona tak pernah melakukan kesalahan dalam bertugas, jadi wanita tua itu menyimpulkan kalau gadis itu memang tidak ada keperluan untuk mengobrol, baik padanya mau pun pelayan lain.


Baru kali ini, Fiona bicara pada Brie. Dengan susunan kata yang lancar pula. Seperti bukan Fiona si pendiam yang biasanya. Wanita tua itu memperbaiki letak kaca mata sembari balik bertanya, "Apa maksudmu bertanya begitu?"


"Ah, saya hanya ingin konfirmasi saja," sahut Fiona. Padahal, dia memang tidak tahu, tetapi gengsi mengakuinya.


Brie mengerutkan dahi. "Kau ini pelayan kamar. Tugasmu adalah merapikan seluruh ruangan dan membersihkan toilet!"


Itulah mengapa saat ini, Fiona hanya berdiri termangu menatap toilet di kamar mandi majikannya. Bentuknya mirip toilet duduk modern. Namun, karena di dunia ini belum ada sistem perpipaan yang canggih, maka ini adalah toilet kering. Fiona masih bisa mengakalinya. Ia mengelap menggunakan kain basah supaya permukaan toilet tampak lebih bersih.


Kemudian, tibalah ia juga harus membersihkan pispot, tempat buang air kecil. Bentuknya seperti guci yang terbuat dari tembaga. Fiona meringis, hanya memegangi ujung benda tersebut dengan perasaan amat geli dan jijik.


Tch, Kenapa aku harus mendapatkan ujian ini! Mau pulaaanggg! Aku kangen listrik! Ingin main internet! Ingin mandi pakai shower!


Seraya menangis dalam hati, Fiona mencuci sisa buangan tubuh manusia dalam pispot di dekat sumur belakang. Gadis itu bahkan tak berani melihat apa yang sedang dicucinya. Ia segera menyiramnya dengan air, lalu mengelap cepat-cepat dan sekenanya.

__ADS_1


Area sumur belakang kastil memang dijadikan tempat bagi para pelayan melakukan pekeerjaan mereka. Ada banyak pelayan bersih-bersih barang dan peralatan milik para majikan, sama seperti Fiona. Mereka bersenda gurau sambil menjemur pakaian. Seri datang menghampiri Fiona dengan membawa setumpuk piring kotor bekas sarapan. Ia mengamat-amati Fiona sejenak, sebelum akhirnya berkomentar, "Tumben, kau diam saja, Fiona?"


"Eh?"


"Iya, biasanya kau bekerja sambil bersenandung." Seri terus-menerus mengamati Fiona. Kedua mata bulatnya terbuka lebar dari balik kacamata yang ia kenakan. Sesekali, kepalanya dimiringkan ke kanan atau kiri, seperti burung hantu.


Apa lagi ini? Kenapa Seri ini selalu saja mengamatiku?


Fiona mendecak. Ia hanya ingin menjalani tugasnya dengan tenang, sambil memikirkan jalan keluar dari masalahnya. Sekarang, dia juga harus bersenandung supaya rekannya ini tidak curiga.


Namun, baru saja Fiona menyenandungkan satu lirik dari lagu favoritnya, Seri menghentikannya. "Ada apa?" tanya Fiona tak paham.


"Yang barusan itu lagu apa?" tanya Seri. Fiona terbelalak, dia baru sadar kalau tadi menyenandungkan lagu modern. Ia cepat-cepat bangkit dan segera mengangkut pispot yang telah dicucinya.


"Aku sudah selesai mencuci pispot yang ini. Aku pergi dulu!" Fiona buru-buru pamit sebelum Seri bertanya lebih lanjut.


Wah, hampir saja! Fiona mengembus napas lega. Tiap detiknya ia di dunia baru ini serasa berada di tepi jurang. Kalau tak hati-hati atau salah mengambil langkah, ia bisa terperosok ke dalamnya. Kalau sampai dia ketahuan sebagai seseorang dari dunia lain, pengucilan atau bahkan kematian bisa menunggunya. Di dunia di mana hukum tak setara seperti ini, budak sepertinya tidak akan bisa apa-apa.


"Apa maksudnya semua ini, Lucas!!"


Baru saja Fiona keluar dari kamar mandi majikannya setelah mengembalikan pispot dan menutup pintu, suara teriakan menggelegar terdengar dari ruangan yang tak jauh dari tempat gadis itu berdiri saat ini. 

__ADS_1


...***...


...Follow IG: @author_ryby...


__ADS_2