Kegabutan Diriku

Kegabutan Diriku
Seventh


__ADS_3

"AKH!" Aku terpejam dan kaget


Hey? Sepertinya aku tidak terjatuh dan sepertinya ada seseorang yang menahan diriku. Perlahan ku buka mataku dan melihat orang yang telah membantu diriku.


DEG! Tenang, tidak boleh salah tingkah. Ya! Dia Roren! Aku ingin menatapnya lebih lama. Aku ingin seperti ini, kami berjarak berdekatan dan saling menatap.


"Kamu baik baik saja? Apa mau ku bantu ambilkan tumbuhan itu?", pinta Roren


"Pft.. hahaha 😂"


"Ada apa? Apa yang lucu?"


"Ada apa dengan wajahmu? 😂 Kenapa bisa hitam? Ada bercak lumpur pula, dan juga serbuk kapur.."


"Eh? Benarkah? Mungkin, saat aku sedang mencari tumbuhan di sela sela bangunan dan juga sekitar genangan. Hahaha, apa sangat banyak?😂"


"Eum.. ku bantu bersihkan? Mumpung aku bawa sapu tangan.. Ayo, disini juga ada air untuk mencuci wajahmu.."


*Splash


Air pun mulai membasuh wajah Renzo. Aku pun membantunya menge-lap wajahnya hingga kotoran kotoran nya hilang. Kami bercanda bersama dan bermain air. Tapi, kami segera kembali ke kelompok kami, karena waktu sdh mau habis.


Karena aku sudah mendapatkan tumbuhannya, aku akan menghampiri Vita terlebih dahulu.


"Hei! Vita, aku sudah dapat tumbuhannya. Ayo sekarang kita kembali"


"Benarkah? Tapi, aku dan Juen juga sudah dapat banyak.."


"Banyak banget,, dapat dari mana? Kita kan cuma perlu satu, yang lainnya gimana?"


"Oh iya ya.. Lu pilih aja Lys, yang mau dibawa yang mana.."


Ah! Aku baru ingat, kelompok Renzo kan belum dapat tumbuhan, apa ku beri ke kelompoknya saja ya?


"Vit, kelompok kita pake tumbuhan ini aja ya.. Sisanya kita kasih kelompok lain yuk"


"Boleh deh, kasih aja. Gue tunggu disini ya"


Aku pun berjalan mencari Renzo. Kalau tidak salah, dia berjalan lewat simpangan kecil ini. Tumbuhan obat yang di ambil Vita dan Juen berjumlah lumayan banyak. Pasti kelompok Renzo belum dapet tumbuhan.


...


...


...


...


...


Ah! Tampaknya Itu seperti rambutnya. Dia berada di taman bunga di dekat ruang masak. Apa yang sedang dilakukannya?


...


Uh.. Tunggu, itu kan... Wana? Sedang apa mereka?


"Renzo, aku sudah dapat tumbuhannya. Ayo kita kembali!", ucap Wana kepada Renzo.


"Baik, ayo", jawabnya sambil tersenyum

__ADS_1


Uh... Apa ini? Bukannya ku bilang aku tidak boleh bersedih? Lagian, aku bukan siapa siapa nya Renzo. Untuk apa aku mengurusi kehidupannya. Namun, mengapa perasaanku..


Aku berlari menuju lokasi Vita berada. Air mata ku tak kunjung mereda. Perasaan ku seperti tak ada kesempatan dan harapan. Hampa! Aku tidak bisa menahan diriku..


"Hiks... Hiks... Huhuhuhu.."


"Lys, lu kenapa? Kok nangis sih?"


"Hiks.. Ng-ngga papa kok Vit.. Cuma inget keluarga aja. Hiks.."


Rasa penasaran Vita pun muncul. Dia melihat sekeliling dan melihat pada satu titik. Dia melihat ke arah Renzo dan Wana berjalan berdua. Vita pun menghembuskan nafasnya.


"Kita kembali aja yuk Lys, kan kelompok kita udah dapet tumbuhannya."


"Hiks... Oke..."


Vita dan diriku beranjak dari tempat kami duduk tadi dan berjalan menuju lapangan sekolah. Sambil memapah diriku, Vita mencoba menghiburku dengan menceritakan perlakuan Vita terhadap Juen tadi. Ternyata, dari tadi Vita selalu menjahili Juen. Vita tahu bahwa Juen takut dengan kucing. Vita pun mengambil kucing berwarna abu abu, dan menaruhnya tepat disebelah kiri Juen. Juen berteriak dan menjerit sambil berlari. Vita tertawa terbahak bahak. Dan..


"Vit, kok diem sih? Lanjutin dong..."


"Eh?! Eum.. Ceritanya cuma sampe situ kok Lys.. Hehehe"


"Ooo... Hahahahaha"


"Juen, sudah ketemu belum? Kasihan Lysa sendirian.."


"Ih, bantu dong kalo mau cepet ketemu.."


"Hah, iya deh. Sini gw bantu"


Mereka berdua mencari bersama disekitar kolam ikan sekolah. Disana lumayan banyak binatang peliharaan guru yang biasanya para guru bawa untuk mengurusnya.


"Gw ga suka kucing, udah cari tumbuhan dulu ajaa.."


Suara Juen tidak terdengar oleh Vita. Jadi, Vita berinisiatif untuk membawanya dan menunjukkannya kepada Juen.


"Liat deh Juen, imut kan? Bersih lagi. Ga ada kutunya."


"Apanya yang-....


Belum selesai bicara, Juen membalikkan badannya dan mulai...


"KYAA! Ih Vit, jangan bawa ke sini donk! Bawa pergi sana!" Juen memojok disudut dan berjongkok memeluk lututnya ketakutan


"Ooo, lu takut kucing yaa... Tapi, kucing ga jahat kok... liat deh, imut kan? Jinak lagi.."


"Heh! Kalo kamu ga bawa pergi tuh kucing, aku ga mau bantuin kamu lagi loh!"


"Tsk, iya deh iya.. Galak banget sih.."


Vita menaruh kucing Bu Oliv di dekat pot bunga sakura. Di taman sekolah, memang sangat indah spotnya. Juga teduh dan asri. Cocok untuk makan dan berbincang bincang.


Akhirnya Vita melanjutkan tugasnya untuk mencari tumbuhan. Tapi, Vita senyum senyum sendiri. Dia kurang puas dengan apa yang dilihatnya tadi. Vita pun mengambil kembali kucing yang dia taruh, dan secara diam diam, Vita letakkan tepat disebelah Juen yang sedang berjongkok mencabuti tumbuhan yang diperlukan.


"Meow.." Lirih kucing Bu Oliv gemas.


"Vit, udahan dong main sama kucingnya. Aku sudah dapat banyak nih tumbuhannya. Bantuin rapihin tanahnya dong"


Juen tak kunjung membalikkan badannya untuk melihat. Dia masih sibuk mengambil tumbuhan itu.

__ADS_1


"Iya nanti gw bantuin, sekarang lu ambilin dulu aja tumbuhan tumbuhannya.. Pfft.. Hihi"


"A, elah lu! Udah selesai nii. Seka-..."


Lagi lagi, Juen belum selesai ngomong. Percakapannya terpotong karena membalikkan badannya dan merasakan sesuatu menyentuh kakinya. Seperti bulu, tapi sangat halus. Juen pun menatap ke bawah..


"Akh! Ih, kok bisa disini sih kucingnya? Eh Vit! Kamu kan yang taruh disini? Ih, kan kamu tau aku ga suka kucing.. Ish, kucingnya ngejar lagi.. Vit bantuin dong..", ucap Juen sambil berlari.


"Pft... Pft... Hahahah, alay banget sih.. Kalo mau gue tolong, lu harus turutin apa pun syarat yang gue beri.."


"Ish, ya udah deh, buruan... Masa gue kejar kejaran sama kucing sih..."


Vita mencoba menangkap kucing Bu Oliv, tapi kucingnya terlalu cepat berlari. Pada akhirnya, mereka saling kejar mengejar Vita ngejar kucingnya, si kucing ngejar Juen, Juen pula ngejar Vita buat dijadikan tameng. Tapi sesuatu terjadi. Saking fokusnya ke kucing, Juen pun tidak fokus dengan arah yang dia lihat. Dia terus menerus melihat ke belakang. Vita pun tidak menyadarinya. Tapi, seketika kucing itu tidak lagi mengejar Juen. Kucing itu berbelok dan berhenti. Juen pun menyadarinya dan Juen pun berhenti. Vita yang baru menyadari bahwa kucing itu sudah berhenti, tak bisa menghentikan langkahnya karena jarak dirinya dengan Juen sangat dekat. Mereka..


"Vit, stop..."


"Akh.." Teriak Vita saat menabrak Juen


Namun, Vita tak merasakan kesakitan. Dia, dia.. Vita terjatuh tepat diatas tubuh Juen. Mereka saling bersentuhan satu sama lain. Vita mencoba bangun dari posisinya. Tapi Vita tak bisa, Vita terlalu...


...


...


...


...


...


...


...


...


...


...


...


...


...


...


...


...


...


Thank you readers tercinta... Jangan lupa like komen dan juga vote novel satu ini yaa, because I really really really need your support. And Ya, jangan lupa untuk menambahkan novel ini sebagai novel favorite kalian yaa... Oke, love you readers... 😘


~Author 😝


Readers, jangan lupa kunjungi novel chat aku yang berjudul 'Tentang Dirinya'. Like dan vote sekalian yaa readers...

__ADS_1


__ADS_2