
Keadilan sesungguhnya yang Ira maksud, bukanlah untuk dirinya semata, melainkan untuk kaum sepertinya, dan Ira berharap ia menemukan keadilan seutuhnya.
“Terima kasih untukmu yang selalu menemani, dan untukmu yang selalu ada dalam setiap jalan juangku”
Untukmu yang selalu ada dikala aku sedang tidak baik-baik saja, terima kasih ku ucapkan untukmu dan semoga kau selalu dalam lindunganNya.
Dan buatmu yang jauh disana, semoga masih di jalan juang yang sama. Kau kekasih perjalanan juangku yang belum tahu di mana penghujung Perjalanan ini, tetaplah berjuang dan jangan menyerah.
---------------------------------
Tak terasa penghujung tahun pun telah tiba dimana masa-masa ini banyak dinantikan oleh banyak anak kelas tingkat akhir di seragam putih abu-abu, mereka akan melanjutkan ke perguruan yang telah mereka idamkan selama ini.
Berbeda dengan ira yang menjadi serba salah dan ingin stag dimasa itu, terbelenggu dimasa lalu karena merasa belum berani untuk masuk perguruan tinggih.
“Dan di sinilah Ira berusaha menjadi pemimpin untuk dirinya sendiri dan bisa memutuskan yang terbaik untuk dirinya sendiri” .
Entah mengapa berat rasanya meninggalkan orang yang selalu ada untuk ira, dan selalu yang membuat nyaman.
Posisi ini membuat Ira takut untuk melangkah jauh, apalagi dengan perkataan dia yang selalu membuat luluh hati ini “kala dulu”. Entah mengapa ira begitu bodoh kala itu.
__ADS_1
Dia (Labis) yang selalu mengingatkan Ira akan kesehatan, belajar, mandiri, pokonya banyak deh. Labis adalah laki-laki idaman bagi perempuan diusianya kala itu.
Bagaimana tidak menjadi laki-laki yang banyak diidamkan oleh perempuan seusiaku saat itu. Karena kesopanan, lemah lembutnya kesemua orang dan pintarnya dia yang membuat semua orang terpesona melihatnya.
Betapa beruntungnya Ira bisa mendapatkan perhatiannya, dan Ira menganggap omongan Labis itu hanya omongan belaka tapi sangking seringnya Labis ngomong seperti itu Ira pun dengan sadar tidak sadar menganggapnya serius.
Labis bisa menjadi idaman di kalangan perempuan seusiaku bahkan guru muda yang di sekolahku pun ikut tertarik padanya, selain tampan, pandai, tekun, mancung, pokonya plus++ lah, dan orangnya sabar banget, tapi sekali marah astagfirullah nggak lagi dah lihat dia ngamuk.
Sore itu,,..
Terjadilah sedikit percakapan antara Ira dan Labis.
“Ya, jadi lah. Bagaimana mungkin aku menolaknya. SN ku yang kemarin saja tidak masuk,” sahutku.
“Jauh itu, bagaimana dengan kondisi kesehatan mu nanti, mending daftar SB saja ambil Univ yang sama denganku walau beda jurusan, tapi masih bisa dipantau” katanya sambil membujuk Ira agar tetap melanjutkan sama dengannya.
“Tidak lah, sudah! Aku yakin aku bakal baik-baik saja disana, jangan khawatir banyak teman juga disana!!” sahut Ira dengan nada sedikit tinggih.
“Ya sudahlah kalu itu sudah jadi keputusanmu, ya setidaknya aku sudah mengajakmu lanjut ke Univ yang sama” jawabnya pasrah dengan sedikit menaikkan nada suaranya.
__ADS_1
“(Ira hanya tersenyum dan sedikit kesal karena Labis pernah bilang tidak mau lanjut kuliah dan tak memberi tahuku jika ia akan lanjut)” diam dan pergi meninggalkan Om.
Berat rasanya untuk melangkah maju atau stag di jalan ini. Dan di sinilah keputusan berat harus Ira ambil. Apakah Ira akan tetap mengikuti kata hatinya atau terpengaruh dengan apa yang telah Labis katakan.
Jika Ira mengambil keputusannya maka ia harus menerima beberapa konsekuensinya, pergi jauh keluar dari kota ini dan berpisah dengan orang-orang yang ia sayangi termasuk keluarga.
Tetapi, jika ira mengikuti apa yang telah disarankan oleh Labis maka ia akan tetap tinggal bersama orang-orang yang ira sayang siapapun itu.
Karena selain dekat dengan orang yang Ira sayang perguruan tinggi ini pun tak jauh dari tempat tinggalnya, hanya menempuh perjalanan kurang lebih setengah hari.
Dan dimasa itu Ira sempat bertekad tak ingin lagi melanjutkan pendidikan tertinggi (kuliah) di kota bahkan pulau yg sama.
Kenapa? ya karena menurut Ira itu sama saja dia stay hanya disitu dan tak punya pengalaman lebih lagi, walaupun dengan suasana dan wawasan yang berbeda.
Dengan tekad bulat dan penuh percaya diri, Ira tetap dengan keputusannya pergi jauh dan rela berpisah dengan orang yang Ira sayang.
-----Beberapa Minggu Setelahnya------
Perpisahan pun tiba dimana semuanya dilanda kesedihan dan kebahagiaan. Semua bercampur menjadi satu. Ira menunggu apakah akan ada yang menyampaikan selamat atau sampai jumpa atau apalah lah gitu kepadanya.
__ADS_1