
Ira mendapatkan ucapan selamat dan congratulation dari adik-adik kelasnya dan sahabat terdekatnya saja.
Ira hampir putus asa dan merasa bahwa Labis memberikan perhatiannya hanya menganggap dirinya hanya sebagai adiknya. Umur Labis dengan Ira terpaut 3 tahun. Wajar saja jika Ira beranggapan seperti itu.
Ira tahu tak mungkin baginya mendapatkan hati Labis. Karena Ira tahu bahwa Labis tak mudah untuk didapatkan. Beruntung saja jika Ira bisa dekat dan akrab dengan Labis kala itu.
--------'' Disisi lain "--------
Ira terus memperjuangkan mimpinya walau dia harus meninggalkan sosok pujaan hatinya itu, Ira yakin akan pilihannya itu. Sebelum Ira pergi dia banyak bercerita banyak tentang Ira pada teman dekatnya Aya.
Banyak sekali Ira bercerita tentang Labis padanya. Dan yakin bahwa Aya tak akan bercerita pada orang lain ataupun siapapun itu termasuk Labis. Karena Ira yakin Aya adalah orang yang bisa di pegang omongannya.
Setelah beberapa bulan berlalu Ira masih berhubungan baik dengan Labis dan temannya Aya. Ira memulai kehidupan baru karena dia juga telah menjadi mahasiswa di universitas yang telah ia pilih, begitu juga dengan Labis.
Disini ditempat yang baru ini Ira mengikuti beberapa kegiatan yang diselenggarakan oleh kampus. Dan berharap Ira bisa memulai lembaran baru dengan semangat barunya.
Ira menjalani hari dengan senang dan penuh tawa selama ini. Susah senang dia nikmati dengan lapang dada. Sampai suatu ketika negara ini dilanda musibah besar.
Disinilah Ira mulai merasakan kegelisahan yang luar biasa.Bagaimana tidak, musibah ini datang tanpa aba-aba dan tanpa ada sebuah lampu kuning peringatan yang jelas.
Sungguh luar biasa bukan!
__ADS_1
Kalian pasti merasakan apa yang aku rasakan. Jangankan kalian dunia ini saja mungkin merasakannya.
Dan musibah ini membuat orang tua Ira khawatir akan keadaan Ira yang jauh dari rumah dan sanak saudara.
Kring... Kring.... drettt.... drett.......
Suara hp Ira berdering, dan ketika ia melihat layar hp terpampang jelas nama Labis.
"Halo, Assalamualaikum" ucap Ira sambil melihat lagi siapa yang meneleponnya itu.
"Iya, Waalaikumsalam warohmatullahi wabarokatu" Sahutnya.
"Iya, mau tanya ni, liburan tahu ini kamu pulang atau tidak" tanyannya.
"Bagaimana ya, rencana sih nggak akan pulang sebelum kelulusan, tapi Ndak tahu juga ni, amak belum kasih kabar. Mungkin Ndak akan pulang" Sahut Ira.
"Terus pengen pulang Ndak, mumpung aku masih dirumah ni belum balik ke kota, jadi bisa aku tunda jika kamu mau pulang" .
"Pulang saja dulu kekota, kan kmu juga banyak tugas toh sama praktek juga".
"Iya berati jika kamu pulang nggak bakal ketemu dong" Sahutnya dengan nada sedikit kecewa.
__ADS_1
"Kepulangan ku ke rumah juga belum pasti iya atau tidaknya, jadi pulanglah dulu kekota" Sahut Ira meyakinkan Labis. Karena Ira tidak mau jika Labis tetap dirumah akan tetapi banyak praktek yang harus ia lakukan di sana.
"Baiklah, berkabar saja jika kamu akan pulang ke rumah ya" pintanya.
"Baik, akan kukabari nanti" jawab Ira.
"Selamat istirahat, selamat malam, sampai jumpa lagi, mimpi indah ya Assalamualaikum" ucapnya sambil mengakhiri pembicaraan malam ini.
"Selamat malam, selamat istirahat kembali dan semoga mimpi indah juga, waalaikumsalam warohmatullahi wabarokatu" sahut Ira dan kemudian mengakhiri panggilan telepon.
Akhirnya percakapan pun selesai
Pagi harinya Ira menatap layar ponselnya berharap mendapatkan kabar baik dari amaknya. Pagi menjelang siang Ira mendapatkan telepon dari kakaknya yang tinggal di ibukota negara ini.
Kurang lebih percakapannya dan basa basinya hanya sekedar tanya kabar dan kondisi ditempat tinggal Ira. Dan menawarkan apakah Ira ingin pulang atau tetap stay di sana.
Kemudian teleponnya disambung sama amak dan kebetulan ada abang sepupu dirumah. Mereka berunding bahwa Ira harus pulang kerumah sebelum wabah ini benar-benar parah dan semua akses keluar masuk kota dan pulu bahkan negara ditutup permanen untuk beberapa waktu yang tidak bisa ditentukan ini.
Setelah perundingan itu Ira mendapatkan tiket untuk penerbangan pulang kerumah, dan tertulis di Gmail jadwal penerbangan besok pagi. Tanpa pikir panjang Ira langsung berkabar kepada Labis bahwa esok pagi ia pulang kerumah.
__ADS_1