
Tahun 1988 awal pertemuan Bapak dan ibuku, ibuku sedang berkunjung kerumah bibiku kebetulan rumahnya satu desa dengan bapak ku, awal mula mereka bertemu ketika papasan di jalan, ibuku sedang mengendarai sepeda berpapasan dengan ayahku yang sedang mengendarai sepeda motornya.
Seperti halnya ketika dua insan sudah di takdirkan berjodoh mulailah timbul sebuah perasaan dari bapakku bisa di katakan cinta pada pandangan pertama.
Meskipun Ibuku sering berkunjung kerumah bibiku tapi jarang atau bisa dikatakan tidak pernah bertemu dengan bapak ku, di jalan ataupun di tempat lain karena bapak sering merantau ke jakarta.
Singkat cerita mereka sudah saling kenal, dan mereka sering ngobrol sampai bapak memberanikan diri untuk melamar ibu, lamaran ayahku diterima baik oleh keluarga ibu, meskipun bapak sering merantau tapi bisa dikatakan bapak dari keluarga yang cukup berada di desa, maklum saja di tahun itu masih bisa di hitung jari yang mempunyai motor.
Hari pernikahan bapak dan ibu tiba, selayaknya pernikahan pada umumnya di desa, kehidupan rumah tangga mulai berlanjut, setahun kemudian aku lahir.
"Anaku gagah seperti bapak ya bu?"
"Lihat pak bibirnya seperti ibu"
Setelah beberapa tahun kelahiranku ayah sedikit demi sedikit mulai kembali hobinya, iya, judi.
Dari sini kehidupan keluarga yang mula damai, pelan-pelan mulai timbul pertikaian.
__ADS_1
Bapak sering pulang larut malam, dan jarang memberikan uang kepada ibu, dengan alasan hasilnya bekerja belum di berikan, ibuku hanya ibu rumah tangga biasa, tapi punya keterampilan menjahit, untuk menutupi kebutuhan sehari-hari hasil dari ibu menjahit, untuk beli susu untuku, beras, keperluan rumah tangga lainnya, mau mengandalkan uang dari bapak seperti tidak mungkin.
Ibu sedang sakit, kebutuhan sehari-hari terus berjalan dalam kondisi seperti itu ibu tidak bisa menjahit, pagi hari dengan tubuh yang lemas dan batuk yang begitu keras, ibu memberanikan diri untuk minta uang kepada bapak.
"Pak, beras sudah habis susu buat farid juga habis, ibu minta uang buat beli keperluan sehari-hari" dengan batuk menjadi-jadi ibu sambil terbata-bata berbicara
"Uang terus, uang terus, memang uang aku kasih kemarin sudah habis" dengan tatapan tajam dan nada tinggi bapak berbicara kepada ibu.
"Sudah pak, bapak kasih ke ibu sudah seminggu yang lalu"
"Maaf pak, tapi memang habis buat beli keperluan rumah, itupun masih ibu bantu dengan hasil ibu jahit".
"Belum ada uang, hasil panen kemarin sudah habis"
"habis kemana pak, itukan rencana buat tabungan kita ke panen selanjutnya"
"Habis tak buat main judi kemarin"
__ADS_1
"Astaghfirullah" ibu berlinang air mata
"Sudah kamu sama anakmu mau makan apa enggak itu bukan urusanku"
"Kalau begini, aku mau pulang kerumah orang tuaku, kamu sudah tidak bertanggung jawab atas kewajibanmu" ibu terus menangis menatap ayah
"Plaaakkkkk" tamparan keras mendarat di pipi yang basah oleh air mata.
"Sekali lagi bicara seperti itu, aku bunuh kamu" dengan tatapan kesetanan tatapan bapak.
Aku yang masih umur empat tahun, hanya bisa ikut menangis menyaksikan kejadian baru aku lihat diumurku yang masih belum mengerti apa-apa.
"Darrrr" bapak menutup pintu dengan keras mengunci kami dari luar
"Ibu....Ibu...Ibu..." terus dan berulang kata itu yang keluar dari mulutku.
Ibu terus menangis dikursi setelah mendapat tamparan dari ayah, terus menangis sambil memelukku.
__ADS_1