
Saat tiba didepan rumah kebetulan ibuku sedang menyapu halaman depan rumah, kebiasaan ibu setiap sore memang menyapu daun-daun dari pohon di halaman rumah, meskipun rumahku sederhana tapi terlihat asri oleh banyaknya pepohonan, aku turun dari sepeda menutup lututku dengan tangan.
"Ya Allah nak, kakimu kenapa?
"eemmm...anu bu...emmm anu..."
"Anu kenapa?
"Tadi di jalan aku jatuh"
Aku tidak berani menceritakan yang sebenarnya terjadi, aku takut ibu terlalu khawatir, mungkin kalau jatuh dari sepeda itu hal biasa, tapi tertabrak motor mungkin agak membuat khawatir ibu.
"Hati-hati, jangan ngebut naik sepeda, mandi dulu nanti lukanya ibu obatin"
Kata-kata ibu memang selalu menenagkan, kacaunya fikiranku setelah melihat apa yang terjadi antara bapak dan perempuan di tempat itu berangsur tenang.
"Bu, tadi aku ketemu bapak di WTS"
"Mungkin bapak sedang kumpul sama teman-temannya"
"Emmm...tapi bu, tadi aku lihat bapak sedang dipeluk perempuan"
Seketika ibu terdiam, bak tak percaya dengan apa yang baru aku katakan, mata ibu mulai berkaca-kaca mungkin dalam benak ibu, cukup hanya bermain judi dan mabuk-mabukan sudah membuat keluargaku perlahan hancur, jangan dengan perselingkuhan, aku hanya menatap wajah ibu yang sayu.
"Bu, ibu tidak apa-apa"
"Ibu tidak apa-apa nak, mungkin kamu salah lihat"
"Enggak bu, itu beneran bapak motornya juga motor bapak parkir disitu"
"Mungkin Lutfi salah lihat, kita berprsangka yang baik saja, mana lukamu ibu obatin"
Ibu menurutku adalah wanita yang luarbiasa, tidak pernah berprasangka buruk kepada siapapun termasuk bapak, ibu selalu memendam rasa sakitnya, tidak pernah menampakan kesedihan didepan anaknya, malampun tiba seperti biasa bapak selalu berangkat pagi pulang larut malam, yang alasannya bekerja tapi aku tidak pernah tahu bapak kerja apa, kejadian tadi sore yang aku lihat bersama teman-temanku membuat rasa benci terhadap bapak mulai tumbuh, aku mencoba menerka isi hatiku sendiri kenapa semua ini harus terjadi, usia delapan tahun aku harus menanggung beban kehidupan seperti ini, aku mencoba menilai kenapa keluarga yang lain tidak seperti keluargaku, keluarga mereka terlihat baik-baik saja, bapak mereka selalu baik kepada istrinya, apalagi bapak Dimas begitu sayang kepada ibu Dimas, setiap aku main ketempat Dimas bapak dan ibunya bercengkrama hangat layaknya pasangan suami istri, dan dengan Dimas juga begitu perhatiannya, aku selalu iri dengan keluarga ini aku selalu membayangkan bapak dan ibu seperti keluarga mereka, lamunanku yang semakin menjadi tersadar oleh suara motor bapak, aku melihat dari balik pintu kamar benar saja itu bapak, bapak duduk di kursi ruang tamu, sementara ibu menyiapkan kopi untuk bapak, ibu datang dengan secangkir kopi duduk di sebelah bapak.
"Pak, tadi Lutfi lihat bapak di WTS, dengan seorang perempuan".
Bapak yang sedang meminum kopinya, langsung menyemburkan kopi buatan ibu.
"Apa kamu bilang, aku di WTS" seperti biasa tatapn ayah kepada ibu seperti seorang pembunuh.
"Iya pak, Lutfi tadi cerita sama ibu"
"Aku ini kerja mana mungkin aku di WTS, mana panggil anakmu yang kurang ajar itu"
Tanpa di panggil ibu aku datang menghampiri bapak di ruang tamu
"Iya tadi Lutfi lihat bapak sedang di WTS, ayah sedang berpelukan dengan perempuan"
"Anak kurang aja" bapak menjewerku dengan keras
__ADS_1
Aku menepis tangan bapak yang sedang menjewerku, aku berlari kekamar, aku menangis baru kali ini bapak kasar denganku.
"Sudah pak, ibu cuma tanya ibu juga bilang mungkin Lutfi salah lihat, itu bukan bapak"
"Ajari anakmu itu sopan santun, kamu dirumah kerjanya apa, didik anak saja gak becus"
Bapak menghampiriku dikamar, bapak bilang kepadaku jangan lagi untuk mengadu kepada ibu yang tidak-tidak, aku menjawab perkataan bapak, tanpa banyak bicara bapak meraihku dan membantingku di tempat tidur, sesak dan terasa mau mati pandanganku mulai gelap, aku kesulitan bernafas karena bantingan bapak begitu kuat, fikiranku menerawang apakah ini yang selayaknya dilakukan orang tua kepada anaknya, ibu datang menghamipiriku dengan teriakan.
"Astaghfirullah....bapak apa yang kamu lakukan"
"Didik anakmu itu supaya tidak kurang ajar sama orang tua"
"Sudah pak sudah, ibu yang salah maafkan anakmu"
Tanpa sepatah kata apapun bapak pergi meninggalkan kami, kemuadian bapak pergi dengan motornya entah kemana, ibu yang sedari tadi memeluku seraya meneteskan air matanya, terus meracu dengan kata-kata kekhawatiran seorang ibu.
"Nak kamu tidak apa-apa nak"
Aku hanya memejamkan mataku tanda aku baik-baik saja, nafasku masih berat dan tersengal-sengal, ibu semakin ketakutan melihatku seperti itu, beberapa saat aku mulai bisa bernafas dengan lancar dan menangis sejadi-jadinya, perasaanku marah terhadap bapak aku mulai dendam dengan perlakuan bapak kepada kami, tapi apa daya aku belum cukup umur dan fisiku masih kalah jauh dengan bapak, mulai saat itu jiwa kebencianku tertanam hebat kepada bapak, suatu hari nanti aku akan membalas semua perlakuan bapak terhadap kami.
Malam itu seperti hujan badai, meski langit cerah bertabur bintang, tidak dengan perasaan ini, angin berhembus sejuk melewati celah papan kayu yang menjadi dinding rumah kami, uraian air mata dari surgaku terus mengalir dipipi beliau, kapankah semua ini akan berakhir hidup selayaknya sebuah keluarga bukan bak dineraka jahanam, dalam hati selalu berkata ibu tenanglah tunggu anakmu menjadi dewasa, untuk membalas semua perlakuan bapak yang selalu menyakitimu.
Pagipun tiba seperti biasa aku bersiap untuk berangkat kesekolah, aku berpamitan kepada ibu, aku menghampiri ibu didapur yang sedang mencuci piring, aku meraih tangan surgaku itu, aku menciumnya semoga kelak apa yang aku lakukan selalu mendapat ridho dari ibu.
"Ibu, aku berangkat dulu, Assalamualaikum"
"Walaikumsalam, hati-hati nak"
"Lut, kamu mau kemana, kesekolah bukan ke arah sana"
"Emmm....ini Dim aku disuruh ibu sebentar"
"Disuruh apa Lut, tumbenan"
"Ehhh....aku di suruh nganter jahitan kerumah ibu sofi" aku sengaja beralasan biar Dimas tidak mengikuti.
Rumah ibu sofi memang di pinggir desa kami dekat dengan WTS.
"Oohhh...kirain mau kemana, yasudah aku duluan Lut jangan sampai telat kesekolah"
"Ok, aku segera menyusulmu nanti"
Aku melanjutkan penyelidikanku, sampai aku didepan WTS itu aku melihat bapak dengan perempuan yang kemarin, perasaan ku memang tidak meleset, sama halnya seperti kemarin ayah di peluk dan di cium perempuan itu
"Bapak biadab, ibuku selalu dibohongi" mulutku gemetar menahan emosi.
Aku melanjutkan kesekolah aku meninggalkan tempat pelacuran itu, aku sampai disekolah seperti biasa pak Muklis tukang kebun sekolah dengan ramah menyapa anak-anak yang sedang mulai masuk parkiran sepeda.
"Tumben Lut kamu datang agak siang, biasanya belum ada murid kamu udah datang" dengan kata-kata khasnya beliau menyapaku.
__ADS_1
" Iya pak tadi disuruh ibu dulu nganter jahitan" sengaja aku berbohong kepada pak Muklis.
Pak Muklis tukang kebun disekolah, beliau sudah bekerja mungkin dari aku belum lahir, perawakannya yang tinggi dan rambut mulai memutih hampir rata, mungkin itu alasanku mengatakan beliau bekerja disekolah ku dari aku belum lahir.
Sejak saat kejadian kemarin aku seperti berubah menjadi seorang pendiam, yang biasanya aku selalu bergurau dengan teman-teman aku memilih untuk langsung masuk ke kelas dan diam duduk di bangku ku, mungkin teman-teman merasa aneh dengan perubahan sikapku secara tiba-tiba, Rima teman perempuan yang memang akrab dengan ku menegurku.
"Lut kamu kenapa, tumben langsung masuk kelas"
Aku masih terdiam, aku belum sepenuhnya sadar dari lamunanku, untuk kedua kalinya Rima menegurku.
"Heeeiiii Lut!!!!"
"Ehhh iya Rim ada apa"
"Aku dari tadi negur kamu, kamu diam aja kenapa ada apa"
"Enggak ada apa-apa memang kenapa rim?"
"Kamu hari ini aneh"
Bel sekolah berbunyi, suara sepatu ibu Dewi mulai terdengar beliau adalah wali kelasku, aroma perfum ibu Dewi yang khas mulai tercium, ibu dewi meletakan bukunya di atas meja.
"Selamat pagi anak-anak".
"Selamat pagi bu" suara teman-teman sekelas menjawab sapa ibu Dewi
"Hari ini kita ulangan Matematika sesuai ibu bilang kemarin, kalian sudah belajar?".
"Sudah bu" suara cemas teman-teman sekelas ku
"Baik, Lutfi tolong bagikan soal ini kepada teman-teman".
Aku kembali kelamunanu, aku tidak mendengar perintah ibu Dewi.
"Lutfi!!!" suara keras ibu Dewi baru menyadarkan ku.
"Iya bu ada apa?".
"Tadi ibu nyuruh apa sama kamu?".
"Maaf bu, saya tidak mendengar".
"Kamu kenapa, kamu sakit?" ibu dewi berjalan menghampiri ku.
"Tidak bu, saya tidak apa-apa".
"kalau kamu sakit, kamu bileh ke UKS, atau
pulang dulu tidak apa-apa".
__ADS_1
"Tidak bu, saya tidak apa-apa"
Hal sebenarnya di benaku seperti perang, aku mulai menjadi orang pemurung, aku selalu diam dalam hari-hariku selanjutnya, yang biasanya aku humoris kini aku menjadi seperti orang asing di diriku sendiri, aku mulai menjauh dari keramaian teman-teman.