Keluarga Yang Tak Di Inginkan

Keluarga Yang Tak Di Inginkan
Chapter 2 (Uraian Air Mata)


__ADS_3

Setelah kejadian itu selalu membuatku trauma setiap melihat ayah, bayangkan saja dengan usia masih belita aku melihat pemandangan yang seharusnya tidak pernah terjadi pada keluarga manapun.


Hal tersebut harapanku untuk yang terakhir, aku ingin bapak seperti dulu lagi, tapi itu hanyalah sekedar angan-angan saja, hal serupa terus aku saksikan.


Dimalam yang hening aku terbangun dengan suara motor bapak, dari kejauhan sudah terdengar.


"Dok..dok..dokkkk" suara keras pintu di gedor.


Ibu bergegas bangun dari tidurnya, untuk membukakan pintu.


"Kamu jadi istri kerjaannya tidur saja" hardir ayah kepada ibu.


"Maaf pak, ibu dari tadi nunggu bapak pulang, ibu ketiduran. ibu menunduk


Tangan ayah langsung menjambak ibu.


"kalau suami ngomong lihat, jangan nunduk saja"


"Ampun pak, ibu minta maaf" pinta ibu sambil sesegukan.


Aku hanya menyaksikan di balik pintu kamar, tidak ada keberanian untuk menegur, aku bingung harus berbuat apa, aku masih empat tahun.


"Astaghfirullah" ibu didorong ayah hingga terjatuh.


Rambut legam dan halus ibu rontok di tangan ayah.


"Aku lapar, kamu masak apa hari ini"


"Ibu masak sayur singkong pak"


"Kamu pikir aku kambing, kamu kasih makan daun"


"Maaf pak, ibu gak punya uang hanya itu yang bisa ibu masak" ibu masih berdiri di depan pintu


"Heeehhh.....Kamu jadi istri harusnya bisa mikir, bisa bantu cari uang, jangan ngandalin suami saja"


"piiiaaarrrr!!!" suara ayah membanting piring di meja


Sontak memecah kesunyian malam itu, pak seswanto tetangga sebelah rumahku mendengar dan datang kerumahku.


"tok..tok...tok" ketukan pintu dari pak seswanto


"Ada apa ini bulek mi" tanya pak seswanto sambari membenarkan sarungnya yang di selempangkan di pundaknya.


"Tidak ada apa-apa pak ses" sambil mengusap air mata yang dari tadi deras mengalir di pipi surgaku itu.

__ADS_1


"Tadi bapak gak sengaja nyenggol piring jatuh" ibu menutupi kejadian yang tidak manusiawi dari seorang bapak.


Prinsip ibu harus selalu bisa menutupi apapun aib keluarga, ibu selalu mengalah dan tak mau pisah dengan bapak, bukan karena masih didasari sebuah perasaan tapi lebih kepada nasib anaknya nanti, didalam lubuk hati ibu, selalu punya harapan bapak akan menjadi orang tua yang baik kelak di kemudian hari, ibu masih punya keyakinan bapak akan berubah.


"Kamu jangan ikut campur, mau ada apa dengan keluarga saya itu urusan saya" suara ayah sembari mendekati pak Ses.


"Bukan begitu Muh, ini sudah malam jangan ribut-ribut, kita ini hidup di lingkungan bermasyarakat, apapun masalahnya selesaikan dengan kepala dingin" kata pak Ses menenangkan bapak.


"Kamu itu tahu apa, kalau tidak tahu persoalannya jangan ikut campu sama keluarga orang, urusi saja keluargamu"


"Sudah pak Ses saya tidak apa-apa, dan bukan masalah besar pak" kata ibu.


"Yasudah, saya pamit dulu apapun masalahnya selesaikan dengan kepala dingin" pak ses berpamitan untuk pulang.


Pak ses bergegas pulang, dalam perjalanan pulang mengelus dadanya.


"Ya Allah, semoga keluarga ini selalu di beri kedamaian".


"Bapak bau alkohol"


Bau menyengat dari awal bapak datang yang mengusiku sebelumnya aku belum pernah menciumnya.


"Tidak usah banyak bicara, sana masak yang enak buat aku"


"Tapi pak, didapur sudah tidak ada apa-apa buat di masak".


"Astaghfirullah, Terimakasih pak" tutur lembut ibu


Dimalam itu juga aku tahu bapak sekarang bukan cuma berjudi tapi mulai mengonsumsi minuman beralkohol, semakin hari perlakuan ayah semakin menjadi.


Tak terasa usiaku sekarang sudah delapan tahun, ibuku semakin hari semakin kurus, habis badanya tergerus dengan sikap bapak kepada ibu, dulu kita punya sawah dua hektar di dua tempat, motor dua, sapi satu, kolam lele, satu persatu mulai habis di jual bapak untuk modal judi dan minumnya, rumah yang dulu terisi dengan peralatan rumah tangga boleh dikatakan komplit untuk sebuah keluarga di desa, kini juga mulai habis terjual, sekarang bapak juga mulai main perempuan, aku pernah bertemu bapak disalah satu kami orang kampung menyebutnya WTS (wisata tengah sawah) kala aku sedang main bersepeda dengan teman-teman seusiaku, bapak sedang bersama teman-temannya dan sedang dirangkul perempuan dan aku yakin itu bukan ibuku, dalam benaku mana mungkin ibu berada di tempat seperti itu, setelah aku perhatikan itu memang bukan ibu, wanita itu berpakaian layaknya seorang PSK, bisa dibayangkan bagaimana berpakaiannya, Dimas seorang temanku medekatiku.


"Lut, itu sepertinya bapakmu" tanya Dimas.


Aku masih terdiam sambil memperhatikan.


"Heyy...Lut" untuk kedua kalinya Dimas berbicara denganku


"Aku juga tidak tahu Dim, mungkin saja orang lain, bapaku orang baik, mana mungkin di tempat seperti itu" aku mencoba meyakinkan Dimas.


Memang jarak antara jalan yang aku lalui bersepeda dengan teman-teman ku agak jauh dari tempat tersebut, sekitar seratus meter.


"Kamu tidak mencoba memastikannya Lut?"


"Enggak Dim, aku gak berani"

__ADS_1


"Siapa tahu itu memang bapakmu"


"Ayok kita jalan lagi, kita sebentar lagi sampai di lapangan"


Memang waktu itu sore hari, biasa kami anak-anak kampung atau pedesaan setelah bersepeda, sering bermain bola bersama-sama, sesampainya di lapangan yang tadinya aku semangat untuk bermain bola, setalah kemarin teamku di kalahkan oleh team Dimas, aku urungkan aku segera bergegas untuk pulang, fikiranku mulai kacau, apakah tadi yang aku lihat itu bapak atau bukan.


"Dim, aku gak jadi main bola, aku mau pulang saja"


"Lah gimana sih Lut, katanya mau bales teamku hari ini".


"Aku sepertinya kurang enak badan Lut".


"Alaaahhh.... ngomong aja kamu takut, kamu takut kalah lagi, memang teamku lebih jago dari teammu Lut".


"Iya Lut bilang saja kamu takut" celetuk arya.


"Enggak memang kurang enak badan saja aku, ibuku juga pesan kalau pulang jangan sore-sore"


Aku segera bergegas pulang, di usiaku yang masih bocah setelah melihat kejadian tersebut aku masih belum mengerti, hal apa yang dilakukan ayah dengan perempuan itu, aku mengayuh sepedaku sekuat tenaga, fikiranku berkecamuk.


"Tinnnnnnn......awaaasssss!!!"


"Brakkkkkkk"


Dari perempatan aku tidak melihat kanan kiri aku tertabrak oleh sepeda motor pak Mugi.


"Ya Allah, Lut kamu tidak apa-apa?" tanya pak Mugi sambil membangunkanku


"Aduhh...sakit" celotehku setalah jatuh tertabrak motor pak Mugi


"Kamu tidak apa-apa nak"


"Gak papa pak, saya yang salah gak tengok kanan kiri"


"Itu lututmu berdarah, ayo kita ke puskesmas, biar lukamu di obati"


"Tidak pak, gak papa hanya lecet saja"


"Maaf pak sekali lagi saya minta maaf"


"Yasudah, kalau gak mau ke puskesmas kamu saya antar pulang"


"Udah pak gak papa, saya pulang sendiri saja"


"Yasudah lain kali hati-hati ya nak"

__ADS_1


Aku lalu bergegas mengambil sepedaku, aku pulang untuk menceritakan kejadian apa yang barusan aku lihat antara bapak dan perempuan itu.


__ADS_2