
Kini usiaku empat belas tahun, aku duduk di kelas dua smp, aku mendengar percakapan bapak dan ibu diruang tamu.
"Pak ibu hamil lagi"
"Hmmm...sudah berapa usia kandunganmu" dengan santai bapak menjawab sambil mencukur jenggotnya.
"Sudah tiga minggu pak, ibu minta uang untuk cek kandungan ke puskesmas"
Aku fikir bapak akan senang dan berubah setelah mengetahui ibu hamil, aku seperti mendapat angin segar aku seperti punya keyakinan bahwa bapak akan senang, yahh...itu hanya hayalanku belaka, setelah mendengar jawaban bapak kepada ibu.
"Uang lagi...uang lagi...aku tidak punya uang, kalau kamu mau cek, pakai uangmu sendiri kamu jahit setiap hari pasti punya uang" .
Seperti biasa jawaban dari laki-laki biadab sudah akrab di telingaku.
"Ibu tidak punya uang pak, jahitan ibu belum ada yang bayar" jawaban ibu sambil mengelus perutnya.
"Di tagih, jangan belagak seperti orang kaya raya saja"
"Tapi pak, ibu sudah minta tapi belum ada yang membayar".
"Haaahhhh....aku gak mau tahu aku gak punya uang"
"Kalau gak punya uang jangan sok-sokan hamil"
Seperti tersambar petir di pagi hari, hatiku terasa teriris, terbakar amarahku, aku berjalan mendekati bapak entah dari mana keberanian itu, darahku sudah mendidih melihat perlakuan yang tidak manusiawi oleh bapak, aku langsung berbicara dengan nada keras kepada bapak.
__ADS_1
"Kamu ini bapak, apa seperti itu perilaku seorang bapak" suara kerasku didepan bapak.
"Cuuuuhhh" ludah bapak tepat di wajahku.
"Dasar kamu anak kurang ajar, sudah berani kamu sama orang tua".
"Aku berani karena bapak tidak punya perasaan sama ibu"
"Plaaakkk" tamparan keras membuatku tersungkur ke lantai oleh tamparan bapak.
"Kalau kamu tidak suka dengan sikapku, kamu boleh angkat kaki dari rumah ini dengan ibumu".
Bapak keluar rumah entah mau kemana mengendarai motornya.
"Astaghfirullah, nak kamu tidak apa-apa, kamu jangan kurang ajar sama bapakmu".
"Tidak nak, kamu jangan bicara seperti itu, ayahmu orang baik kita doakan saja semoga berubah semua sikap bapakmu".
"Ibu mau periksa ke puskesmas, ini aku ada uang bu tidak banyak siapa tahu cukup".
"Jangan nak, bawa saja uangmu buat keperluan mu".
"Tidak bu, buat ibu saja, buat periksa adiku dalam perut".
"Terimakasih nak, nanti ibu bawa periksa"
__ADS_1
Memang aku sekarang bisa punya penghasilan sendiri meskipun tidak banyak aku rajin untuk menabung dan buat bantu-bantu ibu, aku dapat uang dari tambal ban dan cuci motor pamanku, aku sepulang sekolah semenjak kelas satu SMP aku selalu melakukan pekerjaan itu, mau bagaimana lagi anak seusia ku yang seharusnya tidak melakukan pekerjaan ini terpaksa aku lakukan, didikan keras dari sebuah kehidupan tempatku belajar menjadi seorang laki-laki yang bertanggung jawab tidak seperti bapak, pamanku memang orang baik selalu perhatian denganku beliau selalu menasehati ku agar menjadi laki-laki yang bermental baja, awal dari usaha tambal ban dan cuci motor paman memang perihatin dengan keluargaku, pamanku ini adalah adik kandung ibuku rumah kami tidak jauh hanya beda RT saja.
Paman memang suka membantu ibu dalam hal keuangan, tapi pamanku tidak berani mencampuri urusan keluargaku, apalagi soal bapak paman sudah bosan menasehati bapak, lewat tambal ban dan cuci motor adalah jalan paman membantu keluarga kami, dimana aku mulai di ajari menjadi tulang punggung keluarga, mau mengandalkan bapak rasanya itu hal yang tidak mungkin.
Hasil dari tambal ban dan cuci motor biasanya aku bagi dua dengan paman, buat bayar listrik dan alat tambal ban, awalnya paman menolak tapi aku selalu menyisihkannya di tempat tambal ban, aku tidak mau terlalu membebani paman, aku juga sadar aku sudah banyak di bantu paman, bukan orang aji mumpung ketika mendapat uang lupa dengan siapa kita berawal.
Selepas pulang sekolah aku bergegas kerumah paman, kebetulan sudah ada dua motor terparkir didepan rumah paman, aku segera melakukan pekerjaan ku dari belakang paman datang.
"Lut kamu sudah makan?".
"Sudah tadi dirumah"
"Sudah sholat?"
"Alhamdulillah sudah pak sum"
Dari kecil aku selalu memanggil pamanku dengan sebutan pak Ma'sum, memang bukan nama asli di KTP pamanku, itu nama yang diberikan gurunya ketika di pesantren dulu, pamanku memang orang taat beragama setiap waktu sholat apapun pekerjaanku selalu di ingatkan untuk meninggalkan, beliau selalu berpesan perintah yang paling awal di dahulukan adalah perintah Allah, aku belajar agama juga banyak dari paman lemari di ruang tamunya penuh dengan buku dan kitab-kitab, aku seperti menjelajahi dunia ketika melihat buku dan kitab-kitab paman.
Dari belajar mengajipun dari paman, memang paman adalah salah satu Ustadz di desa kami, beliau mengajar anak-anak dari usia lima tahun sampai anak-anak yang beranjak dewasa, beliau megajar tanpa dibayar sepeserpun, beliau tulus ikhlas mengajar kami satu pegangan teguh beliau adalah mari kita berlomba-lomba dalam hal kebaikan, meskipun tidak dibayar aku rasa paman tidak pernah kekurangan materi.
Setiap waktu ada saja yang datang kerumah beliau, mereka sekedar meminta saran, meminta doa, kadang ada juga ada yang meminta beliau untuk memimpin tahlilan, tak jarang yang datang kerumah paman memberi amplop, meskipun paman tidak mau menerimanya dan paman juga tidak pernah memintanya, setiap orang yang datang pasti meninggalkan amplop itu.
Tak jarang dari amplop itu beliau bagikan kepada anak-anak didesa, notabene mereka yang yatim-piatu kadang juga menyuruhku untuk memasukan ke kotak amal Masjid.
Aku terkadang heran, kenapa mereka yang datang selaku dengan ikhlas memberikan, lambat laun aku mulai tahu bahwa orang yang berilmu tidak usah repot-repot mencari dunia, dunia yang akan mengejar kita, itu kata-kata paman yang memang terbukti.
__ADS_1
Pamanku juga mempunyai seorang anak perempuan yang beda empat tahun lebih muda dariku, dia bernama Nisa dia sama seperti pamanku yang tak kalah cerdas soal ilmu agama, dia juga yang membantu mengajar anak-anak untuk mengaji selepas Magrib.
Sorepun tiba waktunya aku untuk pulang, aku hari ini dapat tuga motor untuk di tambal dan satu motor untuk dicuci, memang tidak mahal namanya juga didesa satu tambalan ban untuk motor itu hanya lima ribu saja, untuk cuci motor tujuh ribu, hari ini aku dapat uang duapuluh dua ribu, sebelas ribu aku bawa pulang setengahnya seperti biasa separuhnya aku tempatkan di kaleng tambal ban.