
Jam 08.43 semua peserta sudah mulai datang, masing-masing kelas harus memiliki Point' tertinggi dalam setiap pertarungannya, meskipun disini tingkat kelas tidak diukur, siapa saja yang dapat bertahan hingga babak terakhir dan mendapatkan lawan kuat, maka dia juga akan menjadi kendidat terkuat dari Raja Iblis.
Lavender nampak berdiri disebuah ruangan monitor, dia mengamati setiap sistem dengan keahliannya dalam bidang teknologi sihir, meskipun era iblis modern banyak yang melemah ternyata tidak semua iblis melemah dengan keahliannya masing-masing.
“Lavender, berikan aku musuh yang kuat nanti, agar aku benar-benar bisa melepaskan kekuatan diriku ini” Ujar Amura.
“Baiklah Yang Mulia Sayang~ akan aku persembahkan musuh terkuatmu diera dulu.” Ujar Lavender dengan lirih.
Amura berjalan keruangan tunggu bersama Zeres dan Emilia, namun ketika mereka berada ditengah jalan, Emilia menabrak seseorang yang merupakan kakak kelas dari mereka. Orang itu berkata.
“Jika kau berjalan gunakanlah matamu untuk melihat dasar pelacur”
Sebuah Ayunan tombak dilancarkan keorang tersebut, namun dengan reflek yang sangat cepat orang itu mampu menghindarinya, bahkan memberikan serangan balik dengan "Gate" dimana gerbang merah terbuka dengan menembakan beberapa proyektil. Disaat itu akan mengenai Amura, Emilia dan Zeres.
Sebuah Medan anti sihir menghentikan setiap serangan dari orang tersebut, mata ajaib 'Linon' ungu memancarkan auranya. Mata ajaib itu benar-benar merusak seluruh ruangan ditempat tersebut, sampai-sampai orang asing tadi mengaktifkan pelindung kuat untuk menahan tekanannya yang dibantu dengan 2 rekan lainnya.
"Mata Ajaib? Bukankah mata itu hanya dapat dimiliki oleh darah murni? Kenapa iblis rendahan sepertimu memilikinya?."
Amura menjawab "Darah Murni? Itu tidak ada kaitannya dengan Mata Ajaib, semua orang dapat meningkatkan Mata Mistiknya menjadi Mata Ajaib perusak atau Mata Sihir Penciptaan, Manipulasi, Kehancuran dan lain sebagainya, itu semua tidak ada kaitannya dengan darah murni atau tidak."
"Apa kau berani melawan bangsawan.?" Ucap Orang tersebut..
Emilia menjawab "Jika kalian memang merasa lebih baik darinya kenapa tidak gunakan kemampuan yang sama. Bukankah kalian menyebut diri kalian darah murni.?"
"Gadis Pelacur, apa kau berani menantang kelas atas?" Ujar orang asing tersebut.
Tepat disaat seperti itu, Zeres hampir mengeluarkan energi gelapnya kembali, namun itu berhasil ditahan oleh Amura dengan menekan balik energi milik Zeres, begitu juga dengan Emilia dimana Amura mengikat mantra paksa untuk membatasi tindakan yang tidak dia kehendaki.
"Kita buat tawaran, jika kau gagal dalam pertandingan ini, maka kau harus mencabut omonganmu itu, dan akui aku sebagai Raja Iblis dan jika aku ataupun kami kalah, kami siap menjadi bawahanmu dan menuruti permintaanmu" Ujar Amura.
"Hmmmm... Tawaran yang menarik, namun posisi bawah tetap akan menjadi posisi bawah, kalian akan tetap menjadi yang terbawah" Orang asing itupun kini pergi meninggalkan Amura, Zeres dan Emilia, disini Emilia bertanya.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan Amura? Mereka itu kakak kelas kita, jelas dari segi kemampuan kita berada jauh dibawahnya bukan kenapa kau malah menantang mereka" Tanya Emilia dengan keras.
"Aku tidak mengerti apa yang ada dipemikiranmu Amura, yang jelas mereka itu berbahaya" Ucap Zeres, namun Amura menanggapi.
"Tenang saja, aku punya rencana yang bagus untuk strategi ini. Kalian tidak akan dikalahkan ataupun dipermalukan, kalian pikir siapa aku, tidak dapat mengalahkan mereka? Itu konyol" Balas Amura.
...言  ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄ ̄□...
Beberapa ronde berlalu, setiap murid pilihan dari kelas satu hingga kelas tiga benar-benar minim yang lolos, hanya beberapa dari mereka yang mampu lolos dan maju kebabak penyelisihan, untuk menentukan kekuatan dan kecocokan mereka dengan pendiri dunia iblis yang tidak lain dan tidak bukan adalah Raja Iblis itu sendiri.
Masuk hingga beberapa babak, sampai masuklah seorang petarung yang tidak lain adalah orang asing tadi yang bernama 'Leounoaz' Seorang pemuda unggul dari kelas 3B dengan kapasitas sihir militer, yang berasal dari keluarga bangsawan kelas 1 yaitu bangsawan Edgarden, pemilihan lawan dimulai.
Darah menetes, tangan Leounoaz disayatnya dengan pedanya. Lingkaran sihir muncul dimana dia akan memanggil seseorang yang sepadan dengannya dari masa lalu, dan sistemnya hanya diterapkan sesuai dengan kemauan dan kemampuan. Hingga dari balik kabut tebal munculah sosok dengan rambut kuning berkilauan, mata ungu memancar yang indah, dengan pedang menghunus udara dan bilah yang tajam, tidak lain dan tidak bukan adalah bawahan dari Lavender yang bernama Lith.
"Orang itu." Ucap Lirih Amura.
Lavender berkata "Serasa Nostalgia melihat wajah cantik jelita itu, ia telah menemaniku dengan banyak pertarungan dimasa lalunya, rasanya sangat nostalgia ketika bisa melihatnya kembali."
"Yah begitulah, meskipun anda akan mengubah ingatanku dengan ingatan tentang menguras habis cairan putih anda, aku tidak akan lupa dengan kesetiaannya menemaniku" Balas Lavender.
Amura membalas "Tidak usah menambah dalih yang lain, aku tidak melakukannya ataupun mencoba melakukannya, aku tau kau itu nafsuan tapi coba ubah perilakumu itu."
Lavender membalas "Yahh lain kali aku akan mengusahakannya, baiklah mari kita lihat bagaimana dia bisa menang dari Lith-Chan"
Pertarungan akhirnya dimulai, dimana kedua belah pihak antara Lith dengan Leounoaz saling bertarung, Leounoaz dengan gatenya mampu membuat Lith cukup kesulitan, hingga ketika keduanya saling beradu serangan dijarak dekat, Leounoaz menembakan satu proyektil dari Gatenya, itu menembus tubuh Lith, tapi dia masih belum tumbang.
Hingga saat yang mengejutkan terjadi, dimana tangan kiri dari Leounoaz terputus dari tubuhnya, dia mengeram kesakitan karena lengannya yang terputus, meskipun begitu, dia mencoba untuk beregenerasi. Namun hal itu akan sia-sia karena pedang milik Lith memang berfungsi merusak penyembuhan lawan dengan merusak sel-sel tubuhnya dan mematikan sumber penyembuhan sihirnya.
Lavender yang melihatnya dari layar monitor berkata "Dia masih tetap ceroboh, lawannya juga sama. Dia terlalu meremehkan iblis dengan kualitas tinggi dari 3000 tahun lalu, maka dia akan merasakan akibatnya sendiri."
Namun disaat yang sama itupun Leounoaz langsung mengesekusi Lith dengan rajaman pedang. Lavender yang melihatnya merasakan emosi yang amat mendalam, bahkan auranya sempat gusar yang menyebabkan ruang monitor berantakan, disana juga terdapat Sovia dia merasakan hawa ketakutan dan hawa membunuh yang sangat intens, sampai-sampai Sovia berkidik merinding.
__ADS_1
"Lavender ada apa?" Tanya Sovia.
Lavender membalas "Tidak apa-apa, aku hanya teringat sesuatu yang menyakitkan hatiku. Kejadian ini, sama seperti kejadian dimana Lith mati didepan mataku, dia dibunuh oleh para Vampire baj***n itu."
...ミ●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●...
"Meskipun dia kuat, tapi dia ceroboh dan bodoh yaa, membandingkan sesuatu hanya dengan kekuatan adalah hal terbodoh yang pernah aku lihat dengan mata kepalaku sendiri. Meskipun dia menang, itu tidak ada gunanya jika dia menang dalam keadaan knyol seperti itu" Ujar Amura.
Babak berikutnya akan di isi oleh peserta wanita terbaik yang diambil dari kelas Amura, yaitu Emilia— dari sekian banyaknya peserta perempuan, hanya Emilia yang paling mendekati Raja Iblis dalam segi pemikiran dan kekuatan, begitu pula dengan pendiriannya, namun akhir-akhir ini pendiriannya mulai goyah sejak kesombongannya dipatahkan oleh Amura, begitu pula dengan Zeres.
"Ronde kali ini adalah kau, gunakan kalung ini." Ucap Amura, Emilia bertanya.
"Untuk apa ini?" Amura membalas.
"Ini terhubung dengan diriku, untuk mewujudkan taruhan tadi, kau harus membutuhkan konsentrasi yang besar dan kekuatan yang besar agar kau pantas dikatakan keturunan terbaik. Kalung ini terhubung dengan sosok pendiri yang menghancurkan tatanan dunia, Raja Iblis Tirani itu sendiri, dengan kata lain adalah aku. Percayalah denganku, maka kita pasti akan menang."
"Percaya. . . . Apa kau tidak akan mengkhianatiku?" Tanya Emilia.
Amura berkata "Apakah ada sejarah dimana mengatakan Raja Iblis mengkhianati rekannya?."
Emilia membalas "Jika memang ada kesempatan itu, maka aku akan percaya denganmu, aku akan mencobanya"
Emilia keluar dari ruangan, hingga sesaat setelah keluar dari ruangan Zeres masuk kedalam ruangan tunggu, dimana dia berkata kepada Amura.
"Apakah kau memang Raja Iblis Tirani yang sebenarnya?"
Amura membala. "Tidak ada paksaan untuk percaya bahwa aku adalah Raja Iblis Tirani, aku tidak peduli dengan posisi itu, yang aku ingin perbaiki sekarang hanya kemerosotan moral dari para Iblis yang memandang rendah satu sama lain."
Zeres berlutut dihadapan Amura, keheningan menutupi suasana. Tidak ada yang tau apa yang mereka bicarakan, namun ada hal yang mereka janjikan satu sama lain. Amura menjawab "Jadi begitu... Aku akan membantumu."
"Terimakasih atas kebaikan anda, sampai kapanpun saya bersedia melayani anda" Ucap Zeres.
__ADS_1