Kemiskinan Sering Tak Diangap

Kemiskinan Sering Tak Diangap
Miskin itu sedih


__ADS_3

Kenapa miskin itu sangat meyedihkan?


Kenapa semua orang memandang rendah seseorang jika dia punya keluarga miskin lalu dipandang sebelah mata.


Lina selalu bertanya pada dirinya, serta takdir Allah, kenapa hidupnya begitu susah. Apa tuhan itu tak adil?


Pernah mendengar ucapan manusia, Tuhan itu tidak akan menguji umatnya, kalau umatnya tidak mampu menipanya serta keluarganya.


Gadis yang berumur 10 tahun itu dipaksa dewasa sebelum waktunya. Karena lingkungan keluarga yang begitu keras. Dia hanya gadis kecil harus berjuang seperti orang dewasa bertahan hidup.


Lina apa yang kamu lakukan disana. Cepat masuk, hari sudah malam, " teriak wanita tua cerewet itu, menyetak lamunan lina.


Lina menggangguk patuh. Itu ibunya yang memanggil, wanita tua yang telah berumur, tapi tetap saja galak pada anak-anaknya dirumah, jika sudah marah pasti caci-maki, serta cubit mencubit. Tak kenal balas kasihan, jika sudah marah pasti cubit akan melekat dipusat anak-anaknya.


Lina memasuki pondok kecil yang selama yang selama ini tempat dirinya beristirahat, saat dia sudah merasa lelah seharian membatu kesua orang tuanya disawah, ia akan akan bermenung disana menghistirahatkan badanya yang sudah letih.


Menjadi anak yang paling kecil dari 7 bersaudara, Lina sering kali merasa iri dengan kakaknya. Karena tidak dia saja yang dilahirkan duluan. Jika saja sekarang dia sudah tumbuh dewasa, mungkin dia sudah bisa pergi merantau seperti kakaknya yang lain. Dan disana dia bisa bebas dan tak hidup susah penuh tekanan dikampung seperti saat ini.


Mereka tak ingin hidup miskin seperti saat ini, ada saja setiap hari orang datang menghina mereka. Apakah menjadi miskin itu sebuah keinginanya, atau sebuah takdir yang sangat buruk.

__ADS_1


Ayam berkokok itu tandaknya waktu subuh sudah mulai masuk, sebentar lagi akan datang fajar menerangi bumi. Sudah biasa bangun subuh, berempat saudara itu sudah sibuk membatu ibu mereka memasak.


Lina serta dua kakanya telah bangun pagi setengah jam yang lalu, begitu juga dengan Ayahnya dan Ibu yang terlihat sudah sibuk menyiapkan barang bawaan untuk dibawa kesawah.


Ayah, Ibu apa hari ini kami akan membatu anda juga disawah. Kata Wera yang bertanya, dia adalah kakak Lina yang masih sekolah.


"Iya, " Ayah menjawab si sela-sela kesibukan menyusun barang, Wera kamu bawa gorengan Bakwan aja, Lina kamu bawa Es aja ya. Jangan sampai luka Ibu sakit mang ini.


Mereka berdua mengangguk patuh. Ya mereka tidak akan menolak perintah kedua orang tuanya, apalagi usaha seperti ini memag sudah biasa bagi keluarga ini. Dengan begini mereka yang masih kecil tetap semangat, membantu orang tuanya.


Ya sudah berpamitan mereka segera keluar dan berjalan kaki menuju sekolah.


Wera, apa kamu bisa membawa es itu? jalan pematang sawah ini licin. Bagaimana jika natik terpleset jatuh? Lina mencemaskan adiknya yang masih kecil itu, cukup banyak begitu juga yang dijinjin Lina.


Menganggakat Rok dan harus melalui pematang sawah yang licin, mereka kelihatan memang sangat sulit, tapi mau bagaimana lagi dia memiliki Ayah dan Ibu yang sangat egois, Jika ingin bersekolah inilah cara satu-satunya.


Tidak apa-apa kak aku bisa, " Wera yang kecil kurus dengan semangat yang kuat. Dengan langkah kecil dia terlihat begitu licah melewati setiap tanah sawah yang licin itu.


Senyuman mereka begitu terpacar dari wajahnya, setelah bersusah payah melewati sawah yang licin tersebut.

__ADS_1


Tiba-tiba datang dua orang laki-laki menghampirinya, Wahcoba lihat ada duo ekor monjet berteriak nyaring, membuat beberapa temanya yang lain tertawa terbahak-bahak.


"lihat saja tampangnya serta bajunya juga, yang sangat kucel, benar-benar menjijikan, satu lagi anak itu berbicara, tapi kali ini seorang anak yang seumuran mereka yang megejekanya.


Mendengar ejekan itu sudah biasa.


Memang begitulah perilaku anak-anak yang ada dilingkungan kehidupanya. Mereka juga tak jarang mendapatkan bulliyan dari sekolah.


Sayangnya itu semua harus Lina dan Wera tanggungkan, mereka tidak bisa berkata apa-apa, sekaligus mereka punya orang tua yang galak amat.


Tak ingin melihat kelakuan lingkunganya yang menyedihkan itu, Lina berusaha segera pergi dari lingkungan tersebut, Hinaa demi hinaan sering mereka dapatkan dari tetanga, tetapi hal itu sudah biasa didengarnya.


Semua orang bisa ikut-ikutan dalam mencelanya, mungkin karenah rumah mereka jauh berada disebrang kebun sana, makanya ereka mengejek anak mojet.


Terkadang orang pernah berkata, sauda itu lebih jahat dari pada orang lain.


"Kak Lina, kenapa-orang-orang selalu bilang kita anak monjet? padahalkan kitakan tidaa ada berbuat jahat pada mereka? sambil bertanya pada kita.


Itu karna saudara kita yang anggi yang mengejek kita pada orang lain, makanya orang lain ikut-ikutan.

__ADS_1


__ADS_2