Kemiskinan Sering Tak Diangap

Kemiskinan Sering Tak Diangap
Episode 3


__ADS_3

"Hari ini kalian tidak sekolah",


Bagaimana dengan sekolah kalian berdua, Tanya wanita tua cerewet itu, serta dengan nuasa keras.


Dimalam hari mereka memang terbias berkumpul sehabis mencari Rezeki tadi siang, maka dimalam hari adalah waktu untuk mengistirahatkan badan yang sudah letih.


"Sekarang libur Bu. Dan dua minggu lagi katanya abang Andre mau ujian, apa benar bang? gadis kecil itu menatap tajam mata sang ibu, mendengar kabar Abangnya mau ujian sedikit khawatir, takut jika kakanya tidak bisa ikut karena tak bisa bayar uang sekolah.


Gadis itu melontar kalimat terhadap wanita tua yang galak itu, mereka terlihat seakan-akan sedih. Andre mengerti ikut merasa sedih, jika kali itu dia tak bisa mengikuti ujian mungkin dia seakan tertinggal, dan mungkin saja dia tak lulus ujian akhir sekolah.


"Tapi Wanit tua galak itu, dia berkata tak punya uang. Andre apalagi untuk bulanan mu sudah banyak menungak, Ratna" wanita galak tua itu berkata, Apa harus dilunaskan semua pembayaran sekolah mu?


Andre terdiam sambil mengangguk, guru bilang aku harus melunasinya, Bu. Semu yang harus dibayar 300 ribu.


Ratna wanita galak itu, 300 ratus ribu, itu bukan uang yang sedikit. Dikeluar Andre uang segitu terasa banyak. Sedangkan dikeluarganya uang itu sangat sulit untuk didapatkan, uang yang diminta anaknya mungkin saja gaji bapaknya selama 2 minggu.


Tapi Bu Lina ikut bicara, membela Abangnya, Abang Andre sudah mau ujian Bu, habis gimana lagi dari pada dia tudak lulus nanti. Mungkin saja uang sekola Abang belum ada dibayar selama ini, tentu saja banyak tungakanyan.


Ratna terdiam langsung menarik nafas panjang, ikut khawatir dengan masalah ini. Lagi pula putranya sudah berjuang bertahun-tahun untuk sekolah ini, masa disaat-saat terakhir ini harus kandas harapanya.


Saat mereka tersiam binggung, Soni yang dari tadi diam ikut menyeletuk.


"Lebih baik kamu berhenti saja sekolah. Untuk apa sekolah, habis waktu saja"!!!

__ADS_1


Seisi rumah terdiam menjadi sunyi, saat kata menyakit itu terucap Andre merasa tersakiti.


Saat mendengar ucapan itu, seakan-akan hati anak-anaknya tersakiti tercabik-cabik.


"Andre sudah hampir tamat bukankah sia-sia perjuangan dia selama ini, sia-sia, Wanita tua cerewet itu mencoba mendekati suaminya, sekaligus membujuknya.


"Soni laki-laki tua itu berkata, sudah dari dulu aku bilang tetap saja kalian membatah ku. Buat apa sekolah nati juga kesawah sama ke kebun. Dan kalian yang perempuan ini juga nanti akan menikah, membuang uang saja.


Andere yang audah tak kuat lagi mendengar ucapan laki-laki tua itu, akhirnya keluar ruamah. Dia seakan-akan menyesal menceritakan semua ini kepada wanita tua itu. Dia juga sadar kedua orang tuanya sungguh kejam pada anak-anak mereka. Tak akan mungkin mau membantu. Seharusnya dia diam saja, dan memikirkan cara lain sendiri.


"Sepertinya aku harus mencari kerja atau meminjam uang pada seseorang.


Remaja itu terlihat putus asa memikirkan nasib sekolahnya. Tak tahu harus berkata pada siapa, nyatanya meskipun swmua sanak saudara ayah kaya-kaya, tapi tetap saja mereka tak akan ada yang peduli pada dia dan juga adik-adinya.


Tiba-tiba Andre ingat dengan kakaknya yang dirantau. Sepertinya dia harus menghubungi mereka, mungkin saja ada yang mau membatunya. Tapi bagaimana cara dia mendapatkan nomor telpon?


Tadi sebelum Nelpon kak witdia, Andre telah menelpon kakak pertama dan keduanya. Tapi bukan seperti yang mereka pikirkan, mereka tak bisa membantu dan malah mengejeknya.


"Mu pikir, uang segitu gampang mencarinya, itu satu bulan kerja aku!! "Witdia terdengar marah.


Tapi kak, Aku perlu bangat uang itu, apa kakak bisa membantu saat ini? "


Kau tidak usah sekolah, Saya juga tamat SD dan udah bisa cari uang sendiri. Jangan mentang-mentang kamu anak laki-laki kesayangan Ibu dan ayah akhirnya tak tau diri. Witdia segera mematikan Hapenya.

__ADS_1


Andre yang mendengar kata-kata kasar itu tak terasa air matannya terbendung tumpah, dia udah habis pikir dimana harus mencari uang.


Kak kamu ada di Sini Andre? kamu ngapain kesini? Bagus teman sekolah Andre, Bagus berkata, kamu sudah mencoba telpon kakak mu, Sudah Andre, dia berkata tak punya uang.


"Nggak, aku cuma nanya aja sebagai sahabat, Andere aku juga banyak nunggak,


Mendapat perkataan seperti itu membuat Andre Resah, tapi sekarang malah dipancing, dasar bodoh.


Belum Aku sudah menghubungi kakak ku juga, teryata kehidupanya juga sulit. Karna itu mereka tidak ada yang bisa bantu.


Bagus yang mendengar keluh Andre menepuk pundaknya bahunya memberi semangat.


"Sabar yah, kita berdua ini sama-sama orang susah, nggak ada yang mau bantuin kita. Aku tahu ko bagaimana perasaan kamu, "


Andere paham betul bertapa kehidupan mereka berdua sangat sulit. Berbeda dwngan Andre memiliki keluarga yang pelit. Sedangkan Bagus kedua orang tuanya sudah meninggal, dia harus tingga sama pamanya. Tapi ya itu, tinggal bersama saudara pasti tidak enak, Bagus sering kali mendapat perlakuan kasar.


Andre bertanya, kalau kamu gimana apa sudah dapat uang untuk melunasi uang sekolah mu? sedangkan Bagus mengeleng sudah aku mungkin sudah dapat solusinya.


Gimana solusinya Bagus, aku tidak mengerti maksud mu, Bagus selalu menyebut-nama-nama temanya yang datang tadi pagi. Mereka berjanji akan batu aku mencari uang.


Tapi sebelum itu kamu coba dulu deh, pinjam uang pada saudara ayah mu!! Saudara ayahmu kan tua-tua. Tapi kalau benar-benar tidak dapat kamu datang ke ujung gubuk kebun.


Kenapa begitu, Andre heran, entah kenapa ia semakin merasa tak enak. Tapi lagi-lagi Bagus hanya tersenyum kecil

__ADS_1


Tidak usah binggu sekarang, nanti kamu juga tahu.


Bagus pamit bersama teman-temanya. Andre semakin berkecamuk dengan pikiran kusut. Tapi jika dipikir-pikir lagi dia bisa melakukan apa saja untuk uang itu. Dia tidak akan melepaskan kesepatan itu, meskipun sekalian dia menerima usulan Bagus, mungkin saja benar-benar saudara Ayahnya perkiraan ada uang bisa membatunya.


__ADS_2