
Lina terdiam. Benar apa yang dikata adiknya itu, Anggi itu ada adalah saudara mereka. Karena bapak pemudah remaja itu merupakan kakak kandung sang bapak.
"Tidak, mulai ini jangan anggap dia sepupu mu lagi. Dia adalah saudara jahat membuat kita tidak punya teman.
Wera mengangguk mengerti sambil tertunduk, rasa benci begitu tumbuh pada saudara sendiri. Mungkin suatu hari nanti dendam ini menupuk dan saat dia beranjak dewasa.
Kebun jagung yang menguning.
jagung yang menguning memang pemandangan yang indah menakjubkan bagi seorang yang jarang melihatnya. Tapi bagi sang gadis itu, hal ini sudah biasa, bahkan bisa dikatakan bosa berada di sana sepanjang hari.
menjaga sapi agar tak masuk kedalam kebun, tugas ini sudah menjadi makanan sehari-hari gadis kecil itu. Jangan ditanya kemana Ibu dan Bapaknya pergi sehingga tak membantunya menjaga burung, itu arena kedua orang tuanya telah pergi ke kebun orang lain untuk bekerja, dan kembali bila telah sore saja.
" Kamu sudah makan? Kamu dari pulang sekolah belum makan sedikitpun, " Lina segera memanggil sang Adek yang terlihat asyik bermain karet sipingir sawah.
"Iya kak jawab sang Adek.
Kulit begitu terlihat gelap dekil, karena sering berjemuran di terik mata hari, membuat dua bocah tersebut begitu menyedihkan.
Selesai makan beberapa menit, enteh karenah terlalu lapar, seakan makan itu begitu masuk dimulut terasa nikmat bangat. Akhirnya makan itu habis disantap saat itu. Bahkan perkerjaan telah terlupakan sehingga membuat masalah baru.
Melihat sapi sudah masuk dikebun jagung, Lina hanya bisa teria heboh untuk mengusir sapi tersebut agar segera pergi.
__ADS_1
"Ya tuhan, Dek Pasti nanti kita akan dimarahi Ibuk serta Ayah. Jagung dikebun begitu banyak dirusak sapi.
"Iya juga sih, gimana itu kak, Kakak aku takut, air matanya mengalir dipipinya, Wera tak bisa menyembunyikan ke khawatirannya dengan menghadapi kemarahan kedua orang tuanya di malam hari nanti.
"Tidak apa-apa, biar kakak coba besihkan ajar tak terlihat, berdoa saja hari ini tidak ada masalah.
Ya Allah, Dek pasti nanti kita akan dimarahin Ibu dan bapak. Jagung begitu banyak habis dimakan sapi.
Wera hanya bisa termenung takut, cemas. Air mata mengalir di pipinya, Wera tak bisa menyembunyikan ke khawatirannya dengan menghadapi kemarahan kedua orang tuanya di malam hari.
"Tidak apa-apa, biar kakak coba bersihkan agar tahu tekalu kelihatanya. Berdoa saja hari ini Bapak gak ke kebun.
"Bagaimana bisa Jagung begitu bagus habis dimakan burung? "
Ya biasanya magrib begini rumah itu sepi, tapi sekarang disini dengan teriakan kemarahan sang ayah dan beberapa kali terdengar suara wanita cerewet yang tak kalah memarahin anak-anaknya.
Tak ada yang berani menjawab, bahkan tak ada satu pun yang berani bersuara. Apalagi untuk membatahkan kalimatnya, Jika bersuara Ibu dan Ayahnya bisa mengusir mereka dari rumah.
Sebenarnya apa yang kalian lakukan di kebun Jagung? Hanya menjaga kebun jagung aja kalian tidak becus" Kali ini Ibu yang membentak mereka.
Anak itu terdiam semuanya medengar perkatataan kasar dari kedua orang tuanya. Rumah yang terbuat dari papan itu kembali senyap setelah mereka sempat heboh tadinya. Cahaya lampu sampai redup seketika.
__ADS_1
""Sudah sekarang pergi tidur sana, " setelah mendapat ijin dari kedua orang tua, mereka berempat saudara segera meninggalkan ruang tamu itu.
Kehidupan miskin begitu terasa. Hidup dirumah seadanya saja, tidak punya makanan yang cukup untuk dimakan, kesederhanan itu mungkin dikatak tekanan batin bagia sebagian orang.
Bukan karena pendusuk setepat belum maju, ditempat tinggalnya bisa dikatakan daerahnya sudah sangat maju, hanya satu keluarga yang belum bisa maju, bahkan barang-barang moderen sudah banyak keluaran terbaru. Hanya karena satu buah rumah tua itu yang melebihi kemiskinanya.
Hari ini kalian berdua tidak sekolah, Pangil Andre pada adeknya perempuan yang sudah menduduki bangku SMP, sambil mengusap kepala adeknya.
"Iya Abang kenapa?
Andre tersenyum canggung.
Mengatakan kalimat seperti itu pada adeknya, tapu jika ia juga tak bisa pergi kesekolah hari ini.
Dek kamu punya uang tidak? Abang gak punya uang sedikit pun, kalau abang sekolah gak tahu bayar ongkos dengan apa, dan bagaimana dengan keadaan ini.
Memang seperti itu sulitnya mereka, beberapa kali Bapak dan Ibunya berkata berhenti aja sekolah, supaya kau bisa memberes kebun dan sekaligus bisa mencari uang untuk keluarganay, dia ingin anaknya tidak punya pendidikan hanya tamat sekolah SD, dan SMP saja.
Liha menatap pandanganya kedepan abangnya.
Andre terpanah lalu tersenyum. Dari 4 bersaudara memang adek bungsunya ini manusia yang paling baik serta lembut hatinya, meski ia sering menjahilinya dan membuat adek bungsunya menangis, tapi dengan cara itu pula dia menunjukan kasih sayanya.
__ADS_1
" Terima kasih saudara ku, adek bungsu ku, kalau abang punya uang ganti yah, si kecil hanya mengangguk kecil.