
"Dave... apa kau menyukainya?"
"Tentu Jane, kau yang terbaik daripada Sonya."
Senyum lebar terlukis diwajah Jane diiringi air mata yang ikut jatuh di sudut mata Jane.
"Kau janji tidak akan meninggalkanku lagi Dave?" Jane menatap Dave dengan penuh harap sembari merebahkan tubuhnya disamping tubuh Dave, Jane merebahkan kepalanya di dalam rangkulan Dave.
"Tantu Jane, aku tidak akan meninggalkanmu. Lagipula aku dengan Sonya waktu itu hanya bercanda. Aku tidak mencintainya. Aku waktu itu hanya sedang nafsu, percayalah aku bercinta dengannya hanya didasarkan dengan nafsu karena merindukanmu Jane." Tangan Dave membelai lembut rambut Jane yang basah. Rambut panjang ikal berwarna coklat kepirangan itu cukup berantakan.
Jane hanya diam, rasa cinta Jane yang sangat besar kepada Dave membuat ia ketakutan kehilangan Dave padahal ini adalah yang kedua kali Dave bermain gila dibelakang Jane. Tapi memang benar cinta membutakan segalanya. Jane menutup mata akan hal itu, sakit tentu sakit bagi Jane tapi entah apa yang membuat Jane masih yakin jika ia mampu merubah Dave. Lelaki kasar, maniputif dan terkenal suka bermain dengan banyak wanita. Sebuah kesalahan bagi Jane menjadi seorang kekasih Dave, Jane adalah wanita polos yang hanya mengenal satu pria didalam hidupnya yaitu Dave. Jika bukan karena malam itu ia terlena akan bujukan rayuan Dave. Sampai saat ini mungkin Jane tidak akan menjadi budak **** seorang pria penikmat liang surga seperti Dave.
Drrrriiinnngggg....
Ponsel Jane berbunyi hingga membangunkan Jane yang baru saja hampir terlelap. Mata Jane mencari-cari dimana ponselnya karena ia pun lupa meletakkanya dimana tadi. Jane turun dari ranjang tempat tidur sembari menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Tangannya meraih jaket yang tergeletak dilantai dan merogoh saku jaket itu.
"Ini dia." desis Jane ketika berhasil menemukan telepon genggamnya.
Kak Gloria
Nama yang tertulis dilayar ponselnya.
Jane hanya bisa menarik nafas dalam sebelum akhirnya ponselnya berhenti berdering. Bukan karena ia tidak ingin mengangkat telepon tersebut, namun telepon itu sudah berhenti sebelum ia menekan tombol hijau.
__ADS_1
"Tentu aku pasti akan mendengar ocehannya" desis Jane sembari memutar bola matanya.
"Ups.. maafkan aku" Jane terkekeh ketika ia melihat Dave yang tengah tidur tanpa tertutup benang sehelaipun karena Jane menarik selimut tersebut untuk menutupi tubuhnya tetapi membuat tubuh Dave terpampang nyata. Jane hanya bisa terkekeh riang.
"Dari mana saja kau? kenapa tidak pulang semalam." tanya Gloria dengan tatapan penuh selidik.
"Aku menginap diapartemen Ana." ucap Jane berlalu menuju kulkas dan meraih gelas dengan sekali teguk air itu sudah mengalir deras didalam tenggorakan Jane yang sudah kering sedari tadi.
"Anabel?"
"Eung," jawab Jane datar kemudian kembali meneguk air dingin digelas itu.
Gloria saudara perempuan Jane saat ini ia tengah bekerja disalah satu perusahaan swasta dikota itu. Menjadi budak korporat yang sangat sibuk membuat ia jarang pulang ke apartemen mereka. Bahkan sampai diusianya yang terbilang cukup dewasa 26 tahun ia sedang tidak memadu kasih dengan siapapun. Bukan berarti tidak ada pria yang menyukainya. Dengan parasnya yang cantik nan anggun hal mustahil membuat seorang pria tidak meliriknya. Traumanya dengan pria membuat Gloria mengesampingkan asmara cintanya hingga membuat ia hanya fokus dengan karir sampai saat ini.
Berbeda dengan Jane yang saat ini berusia 22 tahun didalam otaknya hanya ada Dave, Dave dan Dave. Jane sekarang adalah salah satu mahasiswi disalah satu universitas bergengsi sedangkan Dave hanyalah perawat honorer di salah satu rumah sakit swasta. Dave memang tidak melanjutkan pendidikannya sedangkan Jane melanjutkan pendidikannya. Mereka bertemu ketika mereka masih bersekolah di Senior High School. Gloria sang kakak sudah lama tidak menyetujui hubungan Jane dan Dave, Karena Dave adalah adik tingkatnya ketika di Senior High School tentu Gloria sudah tau bagaimana sifat Dave.
Langkah kaki Jane terhenti apakah Gloria mengetahui bahwa Jane menemui Dave?
"Tentu saja tidak." Jawab Jane berusaha sesantai mungkin.
"Aku tadi baru saja menelepon Ana, dan dia bilang kau tidak menginap diapartemennya." ucap Gloria menaikkan sebelah alisnya.
Jane berbalik menatap Gloria "Kenapa kau terus-terusan ikut campur sih kak!" teriak Jane.
"Ternyata kau masih berhubungan dengan lelaki keparat itu? Oh.. kau ingin aku laporkan dengan Mama?" ancam Gloria dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Hentikan ancamanmu itu!! ini hidupku, bukan hidupmu! urusi saja urusanmu!" bentak Jane dengan tatapan tak kalah penuh amarah.
Gloria terdiam dengan ucapan Jane, geraham Gloria mengatup tak bisa membalas ucapan Jane. Benar.... Jane sudah sangat dibutakan oleh cinta... Cintanya pada Dave.
Jane berlalu meninggalkan Gloria yang tengah berdiri didapur dan masuk kedalam kamarnya.
"Brakkkk!!!!!" Jane menutup pintu kamarnya dengan keras. Muka Gloria panas menahan amarah, rasa kepeduliannya terhadap adik semata wayangnya ternyata tidak disambut baik oleh sang adik. Gloria melakukan ini semua demi adiknya. Jane yang sekarang bukanlah Jane yang dulu, Jane sangat berubah setelah Jane mengenal Dave, ia bahkan tidak peduli dengan keluarga. Hidup Jane hanya berisi Dave, Dave dan Dave. Tidak masalah bagi Gloria apabila pria yang Jane temui tidak sberengsek Dave. Rasa trauma yang dialami Gloria membuat ia sangat selektif dalam memilih pria terlebih Jane adalah adiknya, ia tidak ingin adiknya menderita.
Drriinnggg.....
"Halo?"
"Glo, bisa kekantor sekarang?"
"Maaf Pak, tapi saya baru saja pulang dari kantor karena semalam saya lembur. Bukankah hari ini waktunya saya libur?" tanya Gloria dengan penuh hati-hati.
"Iam so.. sorry Glo, tapi ini benar-benar tidak bisa saya handle sendirian. Saya membutuhkan kamu. Saya minta tolong kamu kekantor sekarang yah."
Tuutt... tuuttt... tutttt...
Belum sempat Gloria menjawab ponselnya sudah mati.
"Shiiittt!!!!" umpat Gloria dengan penuh kesal, hatinya panas dengan keadaan hari ini, belum selesai permasalahannya dengan Jane dan sekarang ia harus mengahadapi permasalahan dikantor lagi. Gloria termasuk orang yang sangat dibutuhkan dikantor karena dedikasinya yang tinggi membuat ia berhasil menduduki jabatan diperusahaan itu diusianya yang tergolong masih muda.
Gloria beranjak dari tempat ia berdiri melewati kamar Jane, langkah kakinya terhenti tepat didepan pintu, hati dan fikirannya saat ini tidak sejalan. Hatinya berkata ingin masuk dan merangkul Jane, memeluk Jane dan meminta maaf atas tindakannya hari ini, namun logikanya menolak ia tetap kekeh agar Jane harus berpisah dengan Dave.
__ADS_1
‘Oh ayolah, Dave bukan lelaki yang baik, ia tidak sebaik yang kau kira Jane. Aku ingin menolongmu. Aku adalah saudaramu! Kakakmu! Aku tidak ingin kau mencintai orang yang salah’ batin Gloria hingga menitikkan air mata. Akhirnya Gloria mengikuti logikanya dan beranjak dari depan pintu kamar Jane, meraih kunci mobilnya dan keluar menuju kantor.
Tbc