
“Aku disuruh menikah.” Ucapan Ana membuat Jane terkejut.
“Kau serius An?,” Tanya Jane dengan lebih pasti. Ana mengangguk mengiyakan.
“Kok bisa sih An!” Ana menunjukkan sebuah chat yang berisi percakapannya dengan Alex, Jane membaca dengan ekpresi serius, kemudian Ana menunjukkan lagi isi chatnya dengan kakaknya.
“Tunggu, ini yang dibahas video, video yang kemarin?” Ana mengangguk.
“What!, Alex gila! Dia memberikan video itu kepada saudara dan orang tuamu?” Ana kembali mengangguk kali ini anggukannya lebih pelan dan disertai isak tangis.
“Its, Oke Ana sudah, sudah jangan menangis.”
“Aku tidak habis fikir kenapa kau dan Alex melakukan itu dan membuat video sih An!”
“Aku awalnya tidak menyetujui ketika alex ingin merekam, namun Alex mengancam agar itu menjadi bukti bahwa kami tidak saling meninggalkan…huhu…huhu…” tangis Ana kembali pecah.
“Lalu, sekarang?”
“Dia ingin kembali padaku setelah ia meninggalkan aku.” Ucap Ane bingung.
“Dia juga menungkit perihal anaknya.” Ana yang awal mula tertutup dan banyak menyimpan rahasia kehidupannya dulu akhirnya mulai terbuka. Jane sempat terkejut mendengar kata “Anak” yang diucapkan oleh Ana.
“Maksudmu anak An?” Tanya Jane dengan penuh hati-hati. Ana mengangguk “Aku sempat hamil Jane.” Jantung Jane berdegup kencang.
“Aku sempat mengandung anak Alex, namun waktu itu Alex sempat membuat ku ragu dan bimbang karena sikapnya yang seolah-olah tidak ingin bertanggung jawab terlebih aku masih ingin melanjutkan kuliah jadi aku menggugurkannya Jane.” Jane terkejut, kedua tangannya menutup mulutnya yang kaget bukan kepalang mendengar pernyataan Ana. Ia tidak menyangka Ana pernah melewati situasi mengerikan tersebut. Karena bagi Jane Ana adalah orang yang sangat tertutup dia bahkan hampir tidak pernah menceritakan kesulitannya, terkadang Ana mau bercerita sedikit-sedikit itu saja karena Jane yang memancing dan meyakinkan Ana bahwa beban jangan ditanggung sendiri, kita bisa berbagi walaupun tidak bisa meringankan namun bisa mendengarkan dan berharap bisa sedikit membuat lega.
“Alex mempertanyakan anak itu lagi.” Ucap Ana dengan tatapan sendu menatap Jane.
__ADS_1
“Gila, Alex benar-benar lelaki gila, setelah ia pergi dengan seenaknya ia ingin kembali lagi?” Jane benar-benar geram dengan Alex walaupun jika di fikir fikir tingkah Dave hampir sebelas duabelas dengan Alex.
“Bagaimana dengan Jack?” Tanya Jane sembari mengusap air mata Jane.
“Jack mengetahuinya, namun untuk saat ini Jack tidak bisa banyak ikut campur Karena hubungan kami juga sedang tercium dengan istrinya. Bahkan aku dan Jack untuk saat ini sedang menjaga jarak untuk bertemu.” Jane menghela napas kemudian mengucap pundak Ana dengan lembut sembari menenangkannya. Ia tidak bisa banyak membantu karena disisi lain kehidupannya juga cukup rumit.
Jane masuk kedalam kamar mandi, dan kembali mencoba mengecek kehamilannya kali ini ia membeli alat test pack 2 macam ia berharap waktu itu alat test pack nya yang salah.
Setelah membuang air kecil yang ia tamping kedalam wadah kecil, dengan hati-hati Jane memasukan alat test pack itu kedalam wadah kecil. Merendamnya dan menunggu hasilnya beberapa detik.
Hasil yang diberikan tidak sesuai harapan Jane, test pack itu kembali memberikan dua garis merah.
“Tidak…ini pasti salah.” Ucap Jane dan kembali membuka bungkus test pack yang kedua dan memasukkanya lagi kedalam wadah tadi.
Lagi-lagi tidak sesuai harapan garis dua kembali muncul di test pack yang kedua membuat Jane frustasi.
“AAAaaaaaaaaa!” Jane berteriak frustasi dan melempar test pack itu kesembarang arah. Jane kemudian menangis tersedu-sedu.
Setelah 45 menit perjalanan dari apartemennya menuju rumah Dave, tibalah Jane didepan rumah Dave. Sesampainya disana Jane tidak mendapati Dave dirumahnya hanyalah Nenek Dave yang sudah tua sekitar berumur 84 tahun dan ibu Dave yang tengah menyapu halaman.
“Dave baru saja pergi nak, kerumah sakit sebentar ada yang perlu diurus sebentar.” Ucap ibu Dave sembari menyapu.
Jane mengangguk kemudian masuk kedalam kamar Dave. Jane dan Dave sudah lama menjalin hubungan dan keluarga mereka juga sudah saling kenal terlebih Jane juga sering main kerumah Dave jadi sudah biasa Jane keluar masuk kerumah bahkan kekamar Dave walaupun Dave tidak ada dirumah.
Jane masuk kedalam kamar Daveberharap ingin merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Jane naik keatas ranjang dan merebahkan tubuhnya. Sembari menunggu Dave pulang ia mensekrol-sekrol beranda instagramnya .
Drrrttttt…..drrrttt….
__ADS_1
Jane merasakan ada getaran seperti ada ponsel, Jane menoleh kekanan dan kekiri mencari sumber suara.
“Dave tidak membawa ponselnya?” batin Jane ketika ia mendapati ponsel Dave yang bergetar tadi.
Dilihatnya ada pesan dari “Bubble gum”
‘Bubble gum’ siapa ini? Batin Jane ketika melihat ada pesan dari nama yang asing ia dengar. Karena biasanya teman bahkan keluarga Dave itu Jane mengenalnya semua.
Belum sempat Jane membuka pesan dari bubble gum, pesan dari bang Junan kemudian masuk
“Aku punya obatnya Dave.”
Deg…. Jantung Jane berdegup
‘Obat? Obat apa..’ batin Jane. Segera jane membuka pesan dari bang Junan dan menghiraukan pesan dari sang bubble gum tersebut.
‘Bang bagaimana ini, pacarku dua-duanya hamil.’
Seperti disambar petir ditengah hari bolong Jane kaget bukan kepalang ketika ia membaca kalimat pacarku dua-duanya hamil.
Dua-duanya? Siapa itu? Pacar yang mana yang hamil? Otak Jane tidak bisa berpikir secara normal Jane kalut, gelagapan, ketakutan. Siapa wanita yang dimaksud? Pacar Dave ada lagi selain dia? Dan anita itu juga hamil?. Ribuan pertanyaan berterbangan di otak Jane.
Jane teringat pesan masuk atas nama bubble gum tadi, segera jemari lentik Jane mensekrol pesan di ponsel Dave dan mencari pesan dari bubble gum tadi. Benar saja sipemilik nama bubble gum adalah kekasih Dave, ketika Jane membuka pesan dari bubble gum berisi pesan-pesan mesra antara dia dan Dave. Sakit, semakin sakit hati Jane ketika ia harus dihadapkan oleh fakta ini. Jane sudah tidak bisa menahan lagi. “Aku harus ceritakan ini semua kepada Mama.” Jane keluar dari kamar Dave ingin menemui Mama Dave. Mama Dave dan Nenek sedang duduk di kursi ruang tamu dan sedang menonton siaran televisi.
“Ma, Jane harus biacara.” Ucap Jane ketika duduk disamping Mama Dave. Kali ini ekspresi Jane serius, benar-benar serius. Mama Dave yang menatap sorot mata Jane seakan kebingungan. Namun ia tidak banyak bertanya dan langsung mengangguki ucapan Jane. Jane beranjak dari duduknya dan menuju kamar Dave yang diikuti oleh Mama Dave. Sesampainya dikamar Jane duduk ditepi ranjang.
“Ma… aku ingin bicara sama Mama.”
__ADS_1
Jane menatap mata Mama Dave lekat air matanya bergelinang hingga nyaris jatuh dipelupuk mata.
Tbc