
Jane menatap testpack yang kini tengah ia pegang, tanganya gemetar menatap garis dua berwarna merah yang menandakan positif itu. Yah positif hamil!
“Apakah mungkin aku benar-benar hamil?” desis Jane dengan mat berbinar. Binar dimatanya sulit diartikan apakah ini binar bahagia atau binar kesedihan.
“Dave, yah aku haru segera menelepon Dave”Jane bergegas menuju kamarnya dan meraih ponselnya diatas dipan.
Tuttt……tut….tut…
Jane mengernyitkan keningnya, dan kembali mecoba menghubungi Dave. Tidak pantang menyerah Jane terus menghubungi Dave hingga panggilan ke 19x. Panggilan ke 20x barulah bisa ia terhubung dengan Dave.
“Halo sayang.” ucap Dave dengan suara seraknya. Suara yang bisa membuat Jane jatuh cinta berlipat-lipat kali.
“Kenapa susah sekali menghubungimu Dave?” tanya Jane yang hampir marah namun ia kendalikan karena apabila ia mencoba marah dengan Dave mungkin Dave yang akan lebih murka terhadapnya.
“Aku tidak mendengarnya karena aku sedang tidur.”
“Dave,”
“Kenapa Jane?”
“Apakah kau habis meminum alkohol?” tanya Jane karena ia mendengar nada suara Dave berbeda seperti biasanya. Ini lebih berat seperti biasanya, seperti suara Dave yang sedang berada dibawah pengaruh alkohol.
“Iya tadi malam. Sedikit kok,”
“Kenapa kau minum?”
“Aku sedang pusing Jane, kalau kau hanya ingin mengintrogasi lebih baik aku matikan saja.” Ucap Dave langsung mematikan teleponnya.
Tuttt…tut…tutt….
Seketika Jane terhenyaak dengan perlakuan Dave. Semakin kesini dave semakin kasar, semakin bertingkah seenaknya. Seolah tidak menghargai perasaan Jane. Terlebih setelah Jane mengetahui perselingkuhan Dave. Habis manis sepah dibuang itulah kata pepatah jaman dahulu yang benar adanya. Jane merasa dirinya seperti sampah yang tidak berguna dan tidak dibutuhkan lagi. Namun, bagaimana dengan anak ini? Sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat untuk memberi tahu Dave tentang anak ini.
Jane berderap kembali kekamar mandi dan mengambil testpack itu. Ia membuka lemari kamarnya dan menyembunyikan testpack itu di bawah tumpukan pakaian karena ia merasa disitu adalah tempat yang cukup aman dan jauh dari jangankauan kakaknya Gloria. Gloria tidak mungkin menggeledah kamarnya hingga kelemari.
Jane mengelus lembut perutnya senyum tipis terukir diwajahnya, ia seolah tidak yakin ia sedang mengandung seorang bayi didalam perutnya.
“Sayang aku kangen.” Tulis pesan yang tiba-tiba masuk diponsel Jane.
__ADS_1
Jane membuka pesan dari Dave dan tersenyum. Jane yakin bahwa Dave juga mencintainya, Dave seperti itu hanya karena ia sedang tidak stabil, Dave mencintainya. Itulah kalimat yang selalu ad didalam otak polos Jane yang membuat ia terus bertahan disamping Dave.
“Baik sayang, aku akan kesana dan melayanimu.” Balas Jane dan bergegas menuju rumah Dave.
“Jane!!” teriak Ana ketika ia melihat Jane yang hendak masuk kedalam gedung kampus mereka. Jane berbalik mencari sumber suara, dilihatnya Ana yang baru saja turun dari taxi dan membayarnya.
“Hai, An.” Sapa Jane balik sampai menunggu Ana tiba didepannya.
“Tunggu aku,” ucap Ana setibanya didepan Jane.
“Oh iya, aku lupa memberitahumu kak Gloria hari itu ada meneleponku menanyakan kau?”
“Oh…”
“Just oh?” pekik Ana dengan mata yang membulat
“Hahaha… ayolah An, kau seperti tidak tahu kak Gloria saja.”
“Iyahh.. I know, tapi karena dia mengkhawatirkanmu Jane.”
“Ssstttt…. Udah ga usah dibahas masalah itu sudah selesai.” Desis Jane setengah berbisik.
Jane dan Ana memlih kursi paling belakang, hal yang haram mereka lakukan apabila mereka duduk didepan. Ana sengaja mengambil posisi duduk dibelakang agar ia bisa sambil tidur, maklum karena Ana bekerja malam hari hingga membuatnya seringkali tertidur dikelas. Ana bekerja disalah satu club malam dan Jane mengetahui itu. Jane pernah mencoba sebulan bekerja di club sebagai skorsing tapi tidak lama karena keburu ketahuan oleh Dave dan keluarga Jane. Tentu keluarganya akan sangat murka jika mengetahui Jane bekerja di club malam. Padahal bekerja didunia malam tidak selalu berhal negative kok tapi yah pemikiran masyarakat sudah jelek terhadap wanita yang bekerja malam. Sedangkan Ana keluarganya berbeda kota dan Ana membutuhkan biaya untuknya bertahan hidup di kota orang ini hingga mengakibatkan ia menerima tawaran bekerja disini.
“Jane, entar izinkan aku kelas yah.” Bisik Ana ketika membuka sedikit matanya.
“Terus kamu ke kampus hari ini buat apa? Buat numpang tidur?” delik Jane.
“Hehe yang penting kan aku ada niat ke kampus” Ana tertawa kecil
“Lagian aku pusing banget nih, uang di ATM tinggal dikit mana bentar lagi harus bayar uang kuliah.” Ana menghela napas kembali merebahkan kepalanya diatas meja.
“Kan kau ada ATM berjalan.” Kekeh Jane.
“Jack lagi sakit, lagian bentar lagi istrinya kan mau melahirkan, aku gam au menuntut banyak kasian dia sama istrinya nanti.” Desah Ana.
“Hhahaha… baru kali ini aku mendengar seorang pelakor baik hati sepertimu yang masih memikirkan istri sahnya.” Jane tertawa terbahak-bahak hingga membuat beberapa orang di kelas menatapnya.
__ADS_1
“Sssttt….. kau gila Jane!” ucap Ana mencubit lengan Jane.
“Ups… sorry.” Jane segera mengatup bibirnya dan meundukkan pandangan kebawah.
Mereka berdua tertawa. Jam pun usai Jane dan Ana keluar dari kelas mereka.
“Istirhat diapartemenmu aja yok.”ajak Jane dan Ana pun mengangguk.
Sesampainya diapartemen Ana ternyata ada Jack kekasih Ana yang telah menunggu didalam, karena hal lumrah bagi sepasang kekasih saling berbagi kode sandi apartemennya tidak heran jika Jack bisa masuk kedalam apartemen Ana. Selain Jack, Jane juga orang yang mengetahui sandi apartemen Ana yang sengaja Ana berikan. Jane dan Ana memang sudah sangat akrab hingga tidak ada lagi rahasia diantara mereka. Jane juga sudah lama mengetahui bahwa Ana adalah seorang simpanan pemilik Bar tempat ia bekerja.
“Halo sayang,” Ana menghamburkan tubuhnya memeluk Jack.
“Ayolah Ana, kau tidak malu dengan Jane.” Jack berusaha melepaskan pelukan Ana.
“Its oke Jack, jangan hiraukan aku, anggap saja aku tidak ada kalian bebas melakukan apapun.” Ucap Jane terkekeh. Dan melewati Ana dan Jack diruang tamu. Jane berhambur menuju kamar.
“An, sepertinya kita tidak bisa ssering bertemu untuk beberapa bulan kedepan.” Jack berbalik menjatuhkan tubuhnya diatas sofa.
“Kenapa tiba-tiba?” Ana mengikuti Jack dan duduk disamping kekasihnya itu.
“Istriku sepertinya mencium hubungan terlarang kita.” Wajah Jack semakin serius. Ana terpaku.
“Ingin ku buaatkaan minum?” Ana berdiri dari duduknya dan menuju dapur.
“Kau malam ini tidak usah masuk kerja. Aku butuh waktu untuk menghandle semuan dan membuat keadaan kembali tenang.” Jack berdiri dan menuju pintu keluar apartemen. Ana diam tak bergeming hingga Jack benar-benar pergi meninggalkan apartemennya.
Jane yang sudah tidak mendengar suara Jack keluar dari kamarnya untuk memastikan.
“Are you okay An?” Ana hanya mendesah.
“Istrinya sepertinya sudah mulai curiga dengan hubungaan kami.” Ucap Ana membuka percakapan.
“Lalu?” Jane berusaha menarik kesimpulan dari permasalahan yang Ana hadapi.
“Yasudah, kau hanya perlu meninggalkan Jack dan mencari mangsa baru.” Cetus Jane santai. Ana masih diam tak bergeming. Jane melirik Ana. Seolah tau maksud tatapan Jane “Iya, aku sudah terlanjur mencintainya.” Ucap Ana.
“Dia berbeda, daripada mantan kekasihku dulu. Dia tidak pernah kasar kepadaku.” Jane sulit untuk menanggapinya karena jika membahas soal cinta ia juga bodoh akan cinta.
__ADS_1
Tbc