
"Assalamualaikum," suara dari telepon yang berasal dari seberang desa.
"Waalaikumsalam." jawabnya pelan
"Kamu baik-baik saja kan?"
"Iya,"
"Kenapa jawabnya pelan?"
"Ibuku ada di depan kamar"
Telepon dimatikan.
Zinda selalu resah ketika dihubungi kekasihnya diwaktu malam. Ia takut akan ketahuan oleh kedua orang tuanya, terutama Ayahnya yang selalu melarang Zinda berteman dengan seorang laki-laki.
5 tahun lamanya mereka menjalin cinta tersembunyi. Karena Zinda masih belum bisa memantapkan hati untuk mengungkapkan tentang perasaanya kepada keluarganya. Rasa takut selalu menyelimuti hati Zinda.
Ia hanya mampu menatap dan berbincang dengan kekasihnya ketika waktu di sekolah saja.
***
Suara kokok ayam menggema ditelinga Zinda, membuat ia terbangun dari alam bawah sadarnya. Cuaca hari itu sedang tidak bersahabat. Mentari pagi diselimuti oleh awan hitam. Namun, Zinda tetap bergegas dari tempat tidur untuk menjalani kewajibannya sebagai siswi SMA.
Ia tak peduli dengan cuaca di luar rumah. Ia terus berjalan menelusuri sawah-sawah dan ilalang-ilalang yang sedang bergoyang tertiup angin. Di tengah perjalanan, ia dihampiri oleh Zaydan, kekasihnya. Mereka berangkat sekolah dengan berjalan kaki, karena jaraknya tidak jauh dari tempat tinggal yang mereka tempati.
Kini Tetes demi tetes hujan turun membasahi tubuh mereka, mengguyur hati yang terpancar cinta, mereka lari-lari kecil mencari tempat untuk berteduh. Namun tak ada satupun tempat yang membuat mereka terhindar dari tetesan air hujan. Hujan semakin lebat, petir menggelegar tanpa henti, kini topanpun ikut datang menyertai dan menumbangkan beberapa pohon.
Kini mereka lari-lari kecil lagi, mereka pasrah hujan mengguyur tubuh yang masih dengan seragam abu-abunya. Diantara dedaunan yang bergoyang tertiup angin, petir saling sahut sapa, hujan semakin gemuruh, Sepasang Mata saling menatap tajam penuh kehangatan.
"Aku mencintaimu," ucapnya parau
"Apa,? Apa kamu bilang,? Aku tak mendengarnya."
"Hey, kalian kok hujan-hujanan begini,? Yok buruan masuk." teriak Radit yang datang tepat di depan mereka dengan mobil avanza putih. Suara kerasnya mengalahkan gemuruhnya hujan hingga suqranya terdengar sangat jelas di telinga Zinda dan Zaydan. Merekapun bergegas masuk ke dalam mobil putih dengan baju basah kuyupnya. Sesampainya disekolah, mereka langsung menuju loker masing-masing untuk ganti seragam kering.
__ADS_1
Tak lama kemudian, bel masukpun berbunyi.
Semua siswa-siswi berhamburan untuk menuju kelas masing-masing.
Pelajaran kini dimulai, Pelajaran kali ini adalah pelajaran yang sangat dilemahkan dan amat sulit bagi Zinda, yaitu Fisika. Lain halnya dengan Zaydan. Semua mata pelajaran ia Kuasai.
Zaydan adalah siswa yang bisa dibilang sempurna di sekolah. Selain wajahnya yang tampan, badannya yang gagah, dan matanya yang sipit, ia juga siswa yang paling cerdas. Ia telah menjujung tinggi nama sekolah dengan bakat-bakatnya yang selalu menjadi juara di semua lomba. Baik dari tingkat kecamatan, provinsi, bahkan nasional.
Waktu terus berjalan.
Zaydan mampu menyelesaikan tugas fisika 30 soal dalam waktu 1 jam saja.
Zinda hanya menatap kertas yang bertuliskan rumus-rumus yang tak ia mengerti dengan tatapan kosong. Kertas jawabanpun masih terhampar rapi dan bersih di depannya. Tak ada noda tinta sedikitpun diatasnya. Ia tersenyum hambar seraya melempar pandangannya pada teman-teman kelas yang sedang sibuk mengerjakan.
"Hey," tegur Zaydan
Diam tanpa kata adalah pilihan Zinda untuk menyikapi teguran Zaydan yang berada di sampingnya.
"Bengong aja dari tadi, gih ngerjakan, bentar lagi istirahat."
"Tanya apa?"
"Kenapa sih, seorang Zaydan yang ganteng, super cerdas, baik pula. Bisa tetep suka sama seorang gadis desa yang tengil, bodoh__"
"Hey ... Hey coba liat aku." tegur Zaydan memotong mentah-mentah ucapan Zinda. Sembari membalikkan bahu Zinda, dan mendongakkan kepalanya agar menatap mata sipitnya.
"Asal kamu tau ya, aku itu gak pandang kamu dari segi fisik maupun IQ, mau kamu jelek, bodoh, gak jadi masalah. Bahkan meskipun kamu buta sekalipun, aku akan menjadi matamu. Jika kamu lumpuh, aku akan menjadi tangan dan kakimu. Jika kamu tak dapat mendengar, aku akan menjadi telingamu. Jika kamu tak dapat berbicara, aku akan menjadi lisanmu. Karena hatiku telah memilihmu untuk menjadi cinta pertama dan terakhirku. Juga Ibu dari anak-anakku nanti. Karena putihnya hatimulah aku menjadi luluh padamu."
Zinda membalikkan badan sembari melihat kertas yang berisikan rumus-rumus dengan wajah merah merona dan hati yang meronta-ronta berkecamuk cinta.
Teeeettt ... ...
Bel tanda istirahat berbunyi.
"Aku ke kantin dulu ya!" pamit Zaydan.
__ADS_1
Zinda menganggukkan kepalanya. Tak berani menatap wajah ganteng Zaydan.
Zaydan segera pergi menuju kantin untuk membeli nasi dan kembali ke kelas.
"Yuk, makan dulu," ajaknya
"Loh, kok makan disini,?"
"Aku ngerti, kamu lapar kan,?"
Zinda melemparkan senyuman manisnya sebagai tanda "Iya"
"Kamu terus ngerjakan, biar aku yang suapin"
Awalnya Zinda masih malu-malu kucing untuk menerima sesuap nasi yang menuju arah ke bibirnya. Namun, akhirnya suapan demi suapan nasi oleh Zaydan mulai memenuhi perut kosongnya yang sedari tadi meronta-ronta. Pada suapan terakhir Zinda menyapu pandangannya ke arah luar untuk memastikan tidak ada yang melihat tingkah Zaydan terhadap dirinya.
"Nda," panggil Zaydan
"Iya"
"Maaf," ucap Zaydan seraya mengambil sebutir nasi yang tersangkut di bibir kecil Zinda.
"Ehem ... , so sweet banget sih" gertak Radit yang baru datang mengagetkan mereka berdua.
"Eh, Radit" ucap mereka dengan tak sengaja bersamaan, membuat pandangan keduanya saling menatap.
"Oh, ya, ini buat kamu" ucap Zaydan seraya memberikan piring kotornya untuk mencairkan suasana.
"Tega banget sih kamu Dan, tapi demi putri Ndil dan pangeran Ndul, aku rela disuruh apapun" ujar Radit dengan wajah pasrahnya sembari menundukkan kepala layaknya gaya budak pada majikannya.
Putri Ndil dan Pangeran Ndul adalah julukan nama dari Radit untuk Zinda dan Zaydan.
Bersambung ...
***
__ADS_1
Mohon dukungannya readers semua, jangan lupa sedekah like, love, dan vote nya. Agar Author bisa terus bersemangat up bab baru. Trimakasih sudah mampir membaca🙏