Kesempurnaan Usia

Kesempurnaan Usia
Menanti Kabar


__ADS_3

Ditariknya gorden agar sedikit tersingkap oleh Ibu Zinda hingga membuat cahaya mentari pagi menyilaukan wajah Zinda yang masih terbaring lemas di atas ranjang pasien dengan infus yang melekat pada punggung tangan kirinya.


"Permisi," ucap seorang suster dengan peralatan lengkap yang dibawanya seraya mendekati Zinda untuk memeriksa keadaannya.


"Kapan saya bisa pulang sus?" tanya Zinda saat hendak di cek tensi darahnya.


"Dua atau Tiga hari lagi mbak."


"Gak bisa besok saja sus, saya sudah baikan kok sus"


"Nanti bisa mbak tanyakan lagi ke dokter Andre."


"Baik sus."


"Saya permisi dulu," ucap suster meninggalkan ruangan Zinda.


Ruangan begitu hening. Tak ada suara dari manapun. Dua ranjang pasien di sebelah kanan Zinda terlihat kosong. Di ruangan yang lumayan besar itu hanya ada Zinda dan Ibunya saja.


"Ibu ke kamar mandi dulu ya," pamit ibu Nita memecahkan keheningan.


"Iya bu,"


Tanpa disadari, tiba-tiba Radit datang nyelonong masuk mendekati Zinda dengan membawa sebuah parcel buah.


"Hey, gimana kabarnya?" tanya Radit dengan wajah sumringahnya untuk menghibur Zinda.


Mata Zinda terbelalak melihat kedatangan Radit yang menjadi tamu tak diundang itu.


"Kok kesini?" ucap Zinda panik seraya mencoba sedikit duduk.


"Loh, jawabnya kok malah gitu sih, kan lagi gak ada Ibu dan Ayahmu toh."


"Zinda ... Gak mau ke kamar mandi?" tanya ibu Nita yang masih berada di ambang pintu dan tatapannya masih pada pet di dalam kamar mandi untuk memastikan sudah mati atau tidak.

__ADS_1


Dengan sergap Radit mengedarkan pandangannya di sekeliling ruangan itu. Namun, tak dapat ia tangkap sebuah tempat yang aman untuk bersembunyi. Iapun memilih untuk pergi dari ruangan Zinda.


Ibu Nita mendekati Zinda yang posisinya kini berubah. Dan tatapannya berhenti saat menanagkap sebuah parcel buah yang sedang duduk manis di atas meja samping Zinda.


"Sejak kapan ada parcel disini?" tanya Ibu Nita penasaran.


"Duh ... " sergah Zinda melempar pandangnnya pada parcel di sampingnya.


Dengan keadaan panik, pikiran Zinda segera terbang melayang mencari sebuah alasan.


"Assalamualaikum," ucap salam Pak Reno yang baru datang mampu mencairkan suasana.


"Alhamdulillah," gumam Zinda dalam hati dengan tarikan nafas lega.


"Kenapa kok bisa sampek gini?" ucap Pak Reno dengan nada kerasnya memanaskan suasana hati Zinda lagi.


"Namanya juga sebuah kecelakaan pak," sambar Ibu Nita.


"Iya, kenapa kecelakaannya bisa di simpang tiga, jalanan yang ramai kendaraan. Zinda kan gak bawa sepeda buk!" suara pak reno mulai menggelegar.


Pandangan Ibu Nita menangkap Zinda yang terlihat tak sadarkan diri.


"Sudahlah pak, jangan dibahas sekarang, Zinda baru saja siuman." Ibu Nita panik dan mencoba membangunkan Zinda.


Pak Reno tak begitu menghiraukan keadaan Zinda saat itu. Karena hatinya sudah mulai bercampur aduk dengan emosi.


Di Bawah Langit dan di atas bumi yang sama, namun pada sudut tempat yang berbeda, Zaydan sedang terbaring lemas diatas ranjang kamarnya. Ia menatap langit-langit kamarnya dengan lamunan yang jauh melayang memikirkan keadaan Zinda saat itu. Karena selama kecelakaan kemarin, ia tak mendapat kabar tentang keadaan Zinda. Ia mencoba menghubungi Zinda. Tp ponsel Zinda tak dapat dihubungi, tidak aktif.


Dari insiden kecelakaan kemarin, rasa bersalah terus menghantui pikiran Zaydan. Ingin rasanya ia datang dengan sendirinya menemui Zinda. Perkara ketahuan atau tidaknya oleh ayah Zinda, ia siap dengan segala konsekuensinya. Namun, apalah daya dengan tubuhnya yang terbaring lemas belum juga boleh pergi jauh oleh dokter.


"Assalamualaikum," gertak Radit yang datang tiba-tiba membuka pintu kamar Zaydan.


"Percaya banget deh, kalok gak tanpa nyelonong dengan mengagetkan orang itu, bukan Radit namanya."

__ADS_1


"Kan, yang penting Happy, iya kan," sahut Radit dengan santainya.


"Oh ya, baru saja aku jenguk Zinda di rumah sakit ... "


"Gimana keadaannya?" sergah Zaydan memotong pembicaraan Radit mentah-mentah seraya beranjak dari tidurnya merubahnya ke posisi duduk.


"Wiiiihhh .... Semangat banget deh."


"Udah, gak usah basa-basi. Cepetan ceritah gih," ucap Zaydan tak sabar mendengarkan cerita tentang keadaan Zinda.


"Tadi kuintip sekilas dari kaca pintu ruangan Zinda dirawat, berhubung gak ada orang, yasudah aku nyelonong masuk aja. Tapi ternyata ada Ibu Nita disana, untungnya baru keluar dari kamar mandi. Aku cari tempat sembunyi gak ketemu, ada sih sebuah kursi disana, tapi takutnya malah ketemu. Ya ... mending aku kabur aja dari sana. Ha ha ha ha. Tapi ... Ada sesuatu yang aku lupa disana." Radit menjelaskan panjang lebar.


"Apa?" tanya Zaydan penasaran.


"Parcel buah yang kubawa untuk Zinda. Ku taruh di meja samping Zinda. Kira-kira ketahuan gak ya sama Ibu Nita, duh ... Dasar payah aku ini, kenapa gak kutaruh di lemari kecilnya aja ya," ucap Radit sembari menempelkan telapak tangan kirinya pada jidatnya.


Pikiran merekapun mulai campur aduk, bingung, takut akan ketahuan dan takut Zinda tertampar suatu amarah. Apalagi Zaydan yang pikirannya terus menerus kusut di tambah lagi dengan semburan kabar buruk dari Radit membuat pikirannya semakin kacau.


***


Bintang malam kini bersembunyi di balik awan hitam. Malam begitu ramai dengan suara gemuruhnya hujan dan sapaan petir yang berkedip keras kesana kemari menemani hati Zaydan yang tak karuan. Zaydan selalu menatap ponsel miliknya, berharap Zinda memberi kabar.


Waktu terus berputar.


Kini jam dinding yang terpampang di tembok kamarnya, jari kecilnya menunjuk ke arah angka 3 dan jari panjangnya menunjuk ke arah angka 12. Zaydan terus saja mencoba membuka ponselnya. Namun, tak ada getaran dan bunyi yang menandakan sebuah pesan atau telepon masuk. Pikirannya melayang entah kemana perginya. Ia tak dapat berpikir jernih.


Kini iya teringat dengan kebiasaannya bersama Zinda saat di jam 3 pagi. Tak pernah lupa, ia dan juga Zinda selalu saling mengingatkan untuk shalat sunnah disepetiga malam melalui ponsel miliknya. Namun, kali ini suasana begitu berbeda. Zaydan merasa hal yang membuatnya semangat kini tak dapat menyemangatinya lagi. Ia pun berusaha mencari sebuah ide agar bisa mendapat kabar Zinda setiap saat. Bahkan ia tak sabar tuk bertemu langsung dengan Zinda. Karena semenjak kejadian itu, bayangan Zaydan tak dapat meraba keadaan Zinda saat itu dan saat ini.


Pada sudut yang lain, Zinda pun merasakan hal yang sama dengan apa yang Zaydan rasakan. Semalam suntuk Zinda tak juga mampu untuk memejamkam matanya. Rasa rindu menggebu-gebu dihatinya. Ingin sekali tuk berjumpa tuk melihat keadaanya. Namun apalah daya dirinya yang masih tak kuasa menahan tubuhnya dalam menginjakkan kaki ke bumi dengan sendirinya. Bayangan Zaydan selalu menghantui memenuhi pikirannya. Ingin sekali menghubunginya mendengarkan suara Zaydan. Tapi ponselnya kini belum juga ia tahu keberadaannya. Semakin sulitlah untuk ia memberi kabar.


Bersambung ....


...****************...

__ADS_1


Hallo readers semua, mohon dukungannya. Di tunggu sedekah like, love, dan vote nya ya, Agar Author semangat lanjutkan bab baru. Dan tetap bisa berkarya. Trimakasih banyak sudah mampir membaca.


Salam cinta dariku ...


__ADS_2