
Zaydan duduk melamun di depan gerbang sekolah menatap pohon yang sedang tertiup angin dan disinari oleh panasnya matahari di siang itu. Menunggu Zinda yang tak kunjung datang.
"Woy ... " gertak Radit membuyarkan lamunannya.
"Zinda mana?" tanya Radit.
"Tadi bilangnya mau ke kamar mandi, tapi sampai sekarang belum juga datang."
Tak lama kemudian, Zinda datang dengan wajah pucat dan cairan merah yang berbau anyir mengalir di kedua lubang hidungnya. Sontak dua pasang mata Zaydan dan Radit kaget dengan keadaan Zinda yang lemas tiba-tiba itu.
Dengan gesit Zaydan merangkul Zinda dan mempersilahkannya duduk. Perlahan ia menghapus cairan merah yang mengalir di hidung Zinda dengan tisu. Sedangkan Radit, pergi menuju kantin untuk membeli minuman hangat untuk Zinda.
"Diminum dulu," ucap Radit seraya menyodorkan segelas teh hangat.
"Terimaksih," jawab Zinda mendesah terbata-bata.
Zinda mulai menyesup teh hangatnya hingga pada tegukan terakhir.
"Pulang pakek mobilku saja ya ... " sela Radit
"Sebentar lagi aku sudah baikan kok," jawab Zinda memaksakan suaranya keluar jelas.
"Yakin, bisa pulang sendiri?, dengan keadaanmu ini?"
Zinda mengangkat tangan kanannya sebagai tanda " jangan bicara lagi"
Radit memahaminya.
Keadaan ini sering sekali dialami oleh Zinda. Ketika pikirannya mulai memaksakan membongkar sebuah hal yang sulit ia memecahkannya. Salah satunya yaitu mencairkan beberapa rumus fisika yang sulit ia mengerti. Hal seperti ini juga ia alami ketika badannya terasa capek. Keadaan ini tak berangsur lama. Cukup dengan mencoba menenangkan diri, itu akan membuat keadaan semakin membaik.
Zinda perlahan melangkahkan kakinya menelusuri jalan kecil yang berada di tengah sawah ditemani oleh Zaydan dan juga Radit.
Radit memilih menapaki kakinya di jalan kecil itu, untuk menemani langkah Zinda. Seorang gadis desa yang sudah ia anggap sebagai sahabat dan adik sendiri.
Kaki kanan Zinda tergelincir ke dalam sebuah jalannya air kecil yang berada di tengah-tengah antara jalan kecil itu dengan sawah. Ia mencoba bangkit sendiri. Tetapi, kakinya sebelah kanan terasa sakit yang luar biasa. Membuatnya meringia menahan sakit.
Dengan gesit, Radit mencoba membantu Zinda untuk bangkit.
"Ayo naik." ucap Zaydan sembari mencangkungkan badannya di depan Zinda.
"Udah, jangan banyak mikir. Kalok gak mau, biar aku aja yang digendong." ujar Radit menyejukkan suasana.
__ADS_1
"Daripada aku harus gendong kamu, mending aku gendong gajah" cetus Zaydan.
Melihat tingkah laku mereka berdua, Zinda melemparkan senyumannya pada tanah yang masih basah karena guyuran hujan tadi pagi.
Langkah demi langkah Zaydan menapaki kakinya yang masih kuat menggendong Zinda di punggungnya. Jalanan yang berada di tengah sawah diiringi oleh desiran luasnya padi yang mulai menguning tertiup angin, seolah-olah ikut serta menyelimuti hati mereka.
Kini mereka bertiga telah sampai di jembatan yang dibawahnya terdapat air jernih mengalir dengan tenang. Dihiasi rerumputan hijau yang menempel di balik bebatuan di tepi sungai.
"Sampai disini saja ya," ucap Zaydan, perlahan menurunkan Zinda dari punggungnnya.
Tak ada keberanian di benak Zaydan dan Radit untuk mengantarkan Zinda sampai di kediamannya. Karena jika hal itu terjadi, akan berakibat kepada Zinda. Pak Reno, Ayah Zinda akan sangat marah jika ada teman laki-laki Zinda yang berani kerumahnya. Nada kerasnya akan menggelegar bak petir menyambar di siang bolong.
Walau begitu, Zaydan dan Radit tak hanya tinggal diam. Mereka berusaha menyapu pandangan di sekitar berharap menemukan ide.
Zaydanpun menangkap pandangannya pada Kang Danu yang sedang duduk santai ditemani sepeda ontel tua miliknya di bawah pohon kelapa.
Kang Danu adalah seorang pria paruh baya yang baru ditinggal pergi oleh istrinya 2 tahun lalu. Karena disebabkan penyakit jantung yang tak bisa diselamatkan.
Kang Danu adalah orang kepercayaan di desa itu karena kejujurannya. Kang Danu mengetahui semua hal tentang mereka bertiga. Karena mereka juga sering bercerita dengan beliau ketika pulang sekolah. Lebih-lebih tentang jalinan cinta Zaydan dan Zinda. Karena mereka lebih sering curhat dengan Kang Danu di banding Radit. Akan tetapi, Kang Danu tak pernah membuka mulut kepada yang lain. Siapapun yang bercerita kepada Kang Danu, rahasianya akan tersimpan dengan baik.
Dengan segera Zaydan mendekati Kang Danu.
"Iya, ada apa nak Idan" jawab Kang Danu mengetahui keberadaan Zaydan. Karena sedari tadi ia melihat langkah Zaydan mendekatinya.
"Saya butuh bantuan Kang Danu."
"Bantuan apa?"
"Zinda sakit, tolong anterin ke rumahnya ya Kang." pinta Zaydan dengan sangat.
"Sekarang Neng Zinda ada dimana?"
"Di jembatan sana Kang." ucap Zaydan seraya menunjuk ke arah Zinda yang sedang ditemani Radit.
Dengan gesit, mereka mendekati Zinda.
"Neng Zinda kenapa?" tanya Kang Danu pada Zinda
"Gak papa kok Kang, cuman lagi pusing sedikit dan kaki sakit." jawab Zinda cengingisan.
"Tolong anterin Zinda pulang ya Kang." pinta Radit
__ADS_1
"Siap" jawab Kang Danu sembari menggangkat tangan kanan pada dahinya bak hormat pada bendera.
Zinda segera duduk pada boncengan belakang ontel tua Kang Danu.
"Terimaksih banyak" ucap Zinda memandangi wajah Zaydan dan juga Radit secara bergatian sebelum Kang Danu mengayuh sepeda ontelnya membawa dirinya.
"Hati-hati" sela Zaydan
Sepeda ontel Kang Danu kini mulai melaju menjauhi mereka. Zaydan terus memandanginya hingga bayangan Zindapun menghilang.
Kini Zaydan dan juga Radit membaringkan tubuhnya di gubuk sawah yang tak jauh dari jembatan itu. Merasakan desiran angin yang beralun tenang dari jembatan. Dan menghirup udara segar pedesaan untuk menghilangkan penatnya.
Beberapa menit kemudian, mereka beranjak pergi melanjutkan perjalanan pulangnya yang berbeda arah untuk beristirahat di rumah masing-masing.
Zaydan masih duduk santai di depan meja belajarnya sembari melihat sinarnya matahari yang menembus dedaunan di depan kaca kamarnya.
Suara getaran tanda ada pesan masuk bergema di telepon Zaydan yang berada di atas meja belajarnya. Ia segera meraihya.
"Sudah nyampek rumah?" pesan Zinda dari WhatApp memastikan keberadaan Zaydan.
"Iya, sekarang kamu gimana?"
"Alhamdulillah sudah membaik, aku istirahat dulu ya" pamit Zinda
"Iya, jadikan aku mimpi indahmu"
Senyuman manis Zinda mulai melebar.
Emoji love, terkirim. Balasan dari Zinda.
Di sudut lain, Radit merebahkan tubuhnya di atas kasur empuknya dengan menatap langit-langit kamarnya. Ia menggunakan kedua telapak tangannya sebagai tumpuan bantal di kepala. ia melamun membayangkan sosok gadis cantik sahabatnya, Zinda.
"*Kamu memang tak begitu cantik, tapi karena sikap baik dan putihnya hatimulah yang membuatmu itu terasa sempurna mengalahkan wajah cantiknya wanita di luar sana. Gimana Zaydan gak mau nempel terus sama kamu, kamunya itu membuat para lelaki merasa nyaman. Dan luluh karena sikapmu. Tapi apalah dayanya aku. Yang hanya seorang pria tak berwibawa dan ... ... . Do'ain aku ya Ndil, agar kelak aku menemukan wanita sebaik kamu untuk kujadikan ibu dari anak-anakku" Radit membatin.
Bersambung* ...
...****************...
Hallo reader semua, mohon dukungannya. Di tunggu sedekah like, love, dan vote nya ya, Agar Author semangat lanjutkan bab baru. Dan tetap bisa berkarya. Trimakasih banyak sudah mampir membaca.
Salam cinta dariku ...
__ADS_1