Kesempurnaan Usia

Kesempurnaan Usia
Pertemuan


__ADS_3

Dari sekian purnama Zaydan dan juga Zinda belum juga tukar kabar. Pikiran Zaydan kalut, menembuskan pada hati yang dilanda rindu yang mendalam.


Semburat mentari pagi mulai menampakkan sinarnya dari ufuk timur, pertanda gelap akan berganti terang. Zaydan beranjak dari tempat tidurnya dengan badan yang sudah kembali sehat. Ia mencoba bersiap-siap untuk menjalankan aktivitas seperti biasanya. Rasa bersemangat pada dirinya belum juga tumbuh. Ia mencoba melangkahkan kakinya menyusuri padi-padi yang sudah beranjak panen dan ilalang-ilangan yang tertiup angin dengan lembutnya serta ditemani sejuknya embun di pagi hari. Ia terus melangkah dengan pandangan yang dilempar ke sana kemari berharap bertemu zinda di pagi itu. Namun, bayangan Zindapun tak dapat ia tangkap. Langkah demi langkah ia tapaki hingga mengantarkan ia ke gerbang sekolah. Pandangannya berkeliling mengintari seantero sekolah. Namun, tetap saja ia tak menemukan sosok Zinda, kekasih yang sangat ia rindukan.


"Hey ... Selamat pagi pengeran Ndul, lagi cari Zinda ya?" gertak Radit yang datang tiba-tiba dari belakang Zaydan mengagetkan.


"Eh, iya nih, kamu liat Zinda gak?"


"Emmm ... Iya lah."


"Dimana?" tanya Zaydan penuh harap


"Dihatimu." Radit memukul bahu kiri Zaydan dengan wajah ceria dan cengingisan tak lupa pula menyunggingkan bibir dan juga alisnya secara bergantian.


Diam tanpa kata adalah jurus Zaydan dalam menanggapi candaan Radit yang membuat hatinya semakin kalut. Ia melangkahkan kakinya menuju ruang kelas tanpa menghiraukan Radit.


"Sorry Dan, aku kan cuma bercanda." Radit berteriak pada posisinya yg masih berdiri tegak


"Tapi, ucapanku benerkan. Dihatimu ada Zinda," gumam Radit


"Tunggu Dan," ucap Radit seraya berusaha mengejar langkah kaki Zaydan yang semakin cepat dan menjauh.


Ketika Zaydan sampai pada ambang pintu kelas, wajah segarnya mulai tampak secara spontan saat mata sipitnya menangkap sosok wanita yang ia rindukan sedang duduk manis di bangku kelas dengan menatap sebuah kartu nama. Dengan sergap Zaydan mendekat. Ingin rasanya ia memeluk wanita itu. Tapi, ia berusaha menahan nafsunya karna ia sadar bahwa belum halal dengannya.

__ADS_1


Zinda mengetahui keberadaan Zaydan. Iapun segera memasukkan kartu nama itu pada tas miliknya lalu mengadahkan mukanya pada wajah Zaydan.


"Sudah sehat?" tanya keduanya yang tak sengaja bersamaan. Sepasang mata bertemu saling menatap riang.


"Alhamdulillah," lagi-lagi kata syukur keluar dari mulut mereka secara bersamaan.


"Uhh ... So sweet banget deh," ujar Radit yang datang tiba-tiba.


Teeettt ....


Teriakan bel masuk terdengar ke seantero sekolah.


...Jam pertama di kelas XII IPA 1, ruang kelas belajar Zinda dan Zaydan yang terjadwalkan mata pelajaran Fisika kosong. Karna Pak Sam, guru Fisika ijin keluar kota selama satu minggu kedepan. Begitupula pada kelas XII IPS 1, ruang kelas Radit yang terjadwalkan mata pelajaran olahraga juga kosong. Raditpun beranjak dari tempat duduknya menuju kelas XII IPA 1 yang juga berada di lantai 1 dan tak jauh dari kelasnya....


..."Gitu amat ayahmu Ndil," ucap Radit...


..."Oh ya, gimana kabar parcel buahnya?" lanjutnya...


..."Kamu sih, masih bawa parcel buah segala. Hampir aja ketahuan, tapi untungnya cuman ibu saja yang mencurigai. Tapi ibu gak sampek tau itu dari siapa. Semuanya aman terkendali di tanganku"...


Kelas XII IPA 1 yang terdiri dari 20 siswa di tambah lagi dengan Radit yang ikut meramaikan jam kosong di kelas itu. Semua siswa tak menghiraukan keberadaan Radit. Karna mereka semua sibuk dengan kegiatan sendirinya. Ada yang bernyanyi, nonton film di laptop, sibuk belajar, bahkan tak sedikit yang sibuk bercerita, termasuk Zaydan, Zinda dan juga Radit.


Keasyikan di kelas XII IPA 1 sontak diam seketika saat Kepala Sekolah datang memasuki ruangan.

__ADS_1


Dengan segera Radit beranjak dari tempat duduknya. Tak lupa ia berpamitan terlebih dahulu kepada Kepala Sekolah yang sedang berdiri gagah di depan sebagai tanda hormat dengan sedikit membungkukkan badannya di depan Kepala Sekolah, lalu ia segera pergi munuju kelasnya.


Dengan wajah sangarnya, Pak Setyo, kepala sekolah mengumumkan bahwa satu bulan lagi kelas XII akan melaksanakan ujian nasional secara serentak. Beliau mewanti-wanti agar semua siswa lebih meningkatkan lagi pola belajarnya. Dan besar harapan beliau, semua siswa XII mendapatkan nilai A. Beliau juga berpesan agar semua siswa terutama bagi kelas XII untuk menjaga pola makan. Agar ketika ujian berlangsung, semua siswa dapat mengikutinya dengan keadaan sehat.


Zinda kembali resah mendengarkan semua apa yang dilontarkan Pak Setyo.


"Apakah aku bisa?" gumamnya dalam hati.


Tatapan Zaydan yang semula fokus ke depan, kini beralih ke samping kanannya. Terlihat Zinda yang sedang menundukkan wajahnya. Zaydanpun mencoba menguatkan Zinda dengan meletakkan tangan kirinya pada punggung tangan Zinda yang tergeletak di atas meja. Karna ia paham dengan apa yg sedang Zinda pikirkan. Lalu pandangannya kembali pada Pak Setyo. Sedangkan Zinda masih dalam tundukannya dan tak mampu untuk mengadakan wajah kedepan.


Usai Pak Setyo melontarkan pengumuman dan beberapa pesan, beliau keluar dari ruangan.


Kini pandangan Zaydan kembali memfokuskan pada Zinda. Sontak Zaydan kaget saat melihat cairan merah yang berbau anyir kembali membasahi hidung Zinda.


"Kamu bawa tissu?" tanya Zaydan dan menyadarkan Zinda dengan datangnya cairan merah dihidungnya itu.


Zindapun segera mengambil tissu di dalam tas miliknya. Tanpa sengaja, sebuah kartu nama jatuh dekat kaki Zaydan.


Bersambung ....


...****************...


Hallo readers semua, jangan lupa like, love dan votenya ya. Agar Author bisa semangat lanjut bab barunya. Trimakasih sdah mampir membaca

__ADS_1


salam cinta darikuđź’–


__ADS_2