
Malam begitu hening, gemerlap lampu terpancar dimana-mana laksana lautan bintang menghiasi langit dimalam itu. Sorot lampu belajar di atas meja menyinari lembaran kertas putih yang bertuliskan rumus-rumus fisika. Zinda terus saja berusaha memecahkan beberapa rumus dasar yang telah Zaydan tuliskan untuknya dalam mempermudah Zinda belajar. Keinginan terbesar Zinda adalah mampu meraih nilai A pada mata pelajaran Fisika. Agar kekasihnya bangga padanya. Terkadang, ia merasa dirinya tak pantas memiliki kekasih seperti Zaydan. Namun, di balik itu juga, Zinda bangga bisa memilikinya. Karena semenjak ia bertemu dengan Zaydan, hidupnya bak menemukan cahaya kehidupan. Disaat Zinda mulai rapuh, Zaydan selalu menyuntikkan motivasi untuknya agar selalu Bangkit dari keterpurukan dan kesedihan yang sering melanda hati Zinda karena sikap Pak Reno, ayahnya.
"Ingat,! Jangan terlalu memaksa untuk berpikir," pesan Zaydan dari WhatsApp
"Ingat,! Jangan terlalu memaksa untuk berpikir," Zinda membatin, mengulang kata pesan dari Zaydan seraya menutup kertas yang penuh dengan coretan tinta hitam di depannya.
***
Disepertiga malam, Zaydan terbangun dari alam bawah sadarnya. Dengan antusias ia beranjak dari tempat tidurnya. Agar kelopak matanya tak tertutup lagi.
Kini matanya terbelalak menatap kaca kamar mandi. Segera ia menaburkan deraian air pada wajahnya agar mampu melihat dengan jelas.
Usai menyucikan dirinya, ia segera meraih ponsel yang tergeletak di atas tempat tidurnya mencoba menghubungi Zinda.
Nada dering telepon Zaydan membangunkan Zinda pada lelapnya tidur petang itu. Zinda mencoba meraih telepon genggamnya yang berada di meja samping Ia tidur.
"Udah bangun?" tanya Zaydan memastikan kesadaran Zinda pada alunan mimpi yang mungkin saja ia dapatkan.
"Iya," balas Zinda irit kata, dengan mata yang masih belum sempurna memperlihatkan bola matanya pada layar telepon genggamnya.
Dalam keadaan suci, mereka duduk berserah diri di atas hamparan sajadah hijau. Tak pernah mereka lalaikan sebuah shalat Sunnah di sepertiga malam. Karena dengan istiqomahnya melaksanakan shalat tahajud mereka merasa lebih tenang dan lebih dekat dengan Sang Pencipta langit dan bumi serta seisinya. Tak lupa pula, mereka selalu bermunajat agar jalinan cinta kasih mereka berjalan dengan baik hingga maut memisahkan. Di sela waktu untuk menunggu panggilan kebesaran Ilahi dikumandangkan, mereka menyempatkan waktu untuk melantunkan ayat-ayat suci.
Kini, suara adzan telah berkumandang di setiap masjid dengan saling sahut sapa. Desiran angin pagi yang tenang dan menyejukkan telah menemani para kaum muslim yang beramai-ramai menuju masjid dengan balutan mukena yang berwarna cerah membuat para k²aum hawa terlihat wajahnya bercahaya. Begitu pula dengan kaum Adam yang tak kalah ramai menuju masjid dengan baju koko dan sarung yang terlipat rapi. Namun, tidak dengan Zinda, ia melaksanakan shalat subuh tetap pada hamparan sajadah di atas karpet kamarnya yang sedari tadi ia tempati. Usai shalat, Ia pun masih di tempat yang sama dengan lingkaran tasbih pada jemarinya yang ia petik berputar-putar sembari mengucapkan lafadz kebesaran Allah juga sholawat pada Baginda Nabi.
***
"Assalamualaikum, ku tunggu di jembatan." pesan WhatsApp dari Zaydan teruntuk Zinda
Dengan sergap Zinda meraih tas warna coklat miliknya yang sudah ia siapkan di atas meja belajar. Tak lupa pula sebelum berangkat ia berpamitan kepada kedua orang tuanya terlebih dahulu.
"Zinda berangkat dulu." ucapnya seraya mencium tangan ayah dan ibunya secara bergantian.
"Kok berangkatnya pagi sekali?" tanya Pak Reno penasaran
"Iya yah. Mau minta bantuan teman ngerjakan tugas, masih ada soal yang belum Zinda pahami." jawabnya ngasal.
"Gak sarapan dulu nak?" tukas Ibu Nita
__ADS_1
"Tidak bu, nanti beli di kantin saja."
"Assalamualaikum," lanjutnya seraya membuka pintu dan menjauh dari rumah.
Terlihat Zaydan yang sedang menanti kekasih pujaannya dengan sepeda ontel baru miliknya. Karena, di saat ia melihat Kang Danu membawa Zinda pulang dengan menaiki sepeda ontel, Terbesit di otak cerdasnya untuk memiliki sepeda ontel juga agar mampu membawa Zinda pulang pergi sekolah bersamanya.
Kini Zaydan mulai melajukan sepedanya dengan begitu tenang membawa Zinda. Ditemani dengan sejuknya tetesan embun pagi membasahi hijaunya rerumputan dan kuningnya padi. Angin pagi yang begitu dingin menyelimuti perjalanan mereka.
Dengan niat hati, Zaydan mengajak Zinda berangkat pagi agar dapat menikmati pagi bersama dengan ontel baru miliknya. Di tengah perjalanan, cacing di perut Zinda mulai bernyanyi dan terdengar jelas di telinga Zaydan.
Senyuman sumringah menghiasi bibir manis Zaydan saat mendengar suara itu.
Rencana Zaydan sesuai ekspektasi.
Zaydan mulai melajukan sepeda ontelnya dengan jalur yang lebih jauh menuju sekolah.
"Loh, kok malah lewat sini? Kan makin jauh." sergah Zinda penuh penasaran.
Diam tanpa kata adalah pilihan Zaydan menyikapi Zinda saat itu. Membuatnya agar lebih penasaran.
Kini Zaydan memakirkan sepeda ontelnya tepat di depan warung soto Buk Marni yang banernya terpampang jelas. Zaydan turun dari sepeda ontelnya dan segera menuju pintu masuk.
"Kok berhenti disini?" tanya Zinda penuh penasaran.
"Udah, kamu pasti belum makan sarapan kan?" jawab Zaydan menekan.
Senyuman manis Zinda terlontar manja sebagai respon.
Zinda mengikuti langkah Zaydan yang lagi mencari tempat duduk untuk makan bersama. Kini, Zaydan berhenti tepat pada kursi yang dekat dengan jendela hingga pandangan mata menembus sebuah keindahan alam disekitar warung Bu Marni.
Pandangan Zinda menangkap sebuah sepeda ontel yang terlihat pada pantulan kaca yang terbuka disampingnya.
Sejenak ia melamun.
"Ehh ... " sergah Zinda dan dengan menatap Zaydan dengan tatapan tajam.
"Kenapa sih,?" tanyanya kaget hingga membuat kedua alisnya menyatu.
__ADS_1
"Sepeda ontel itu punya kamu?" tanya Zinda. Lagi-lagi ia di kejutkan dengan sesuatu yang membuatnya penuh penasaran.
Entah karena apa, Zinda baru menyadari bahwa selama perjalanan ia menaiki sepeda ontel milik Zaydan.
Zaydan hanya membalasnya dengan anggukan yang di selingi senyuman.
"Alhamdulillah," ucap Zinda penuh syukur.
"Beneran kan, itu punyamu?" tanyanya lagi memastikan.
"Permisi." ucap Bu Marni seraya menyodorkan dua piring nasi lalapan dan dua teh hangat pada meja depan mereka.
"Terimakasih Bu Marni," ucap Zaydan dan tak menghiraukan pertanyaan Zinda.
"Alhamdulillah," lagi-lagi Zinda mengucap syukur dengan wajah sumringahnya.
"Udah, makan dulu." ujar Zaydan menghangatkan suasana yang penuh dengan kebahagiaan dan penasaran yang luas bagi Zinda saat itu
Sontak Zindapun memasukkan sesendok nasi pada batas lapisan bibir kecilnya.
"Astaghfirullah," sergap Zinda yang bibirnya kepanasan.
"Makanya, jangan lupa baca do'a dulu. Jangan langsung santap gitu aja. Nih, diminum." ujar Zaydan seraya menyodorkan air mineral padanya.
Zinda membalasnya hanya dengan cengingisan manja tanpa bersalah.
Usai sarapan pagi, mereka segera melanjutkan perjalanannya menuju sekolah karna waktu sudah hampir mendekat pada jam masuk.
Pada jalan simpang tiga dekat sekolah, Zaydan mengayuh sepeda ontelnya lebih cepat karna waktu yang semakin dekat. Tanpa Zaydan sadari sepeda motor dari arah yang berlawanan melaju cepat.
brakkkk ...
Sepeda ontel yang ditumpangi Zaydan dan Zinda tergeletak menjauh dari mereka yang sudah tak sadarkan diri dengan cucuran air yang berwarna merah berbau anyir di dahi Zinda yang terbentur pada batu di pinggir jalan.
Namun, tidak dengan Zaydan. Ia hanya tergeletak tak sadarkan diri di tengah jalan.
Bersambung ...
__ADS_1
...****************...