
Hari telah menjadi gelap gulita bulan yang menyinari se isi hutan.
Taka yang sudah terbiasa dengan kegelapan malam karena di ajarkan oleh Pier, yang membuat Taka memiliki penglihatan begitu tajam.
Itu merupakan salah satu keahlian khusus yang harus di miliki oleh seorang pembunuh.
Seketika
Brak.
Taka yang sedang berada di atas pohon, mendengar suara tersebut lalu melihat ke arah sumber suara. Ternyata Pier yang terjatuh dengan bersimpahan darah di pinggulnya.
Taka segera turun dan berlari ke arah Pier sambil berteriak “Pier!!”
Taka kemudian membantu Pier berjalan ke dalam rumahnya.
Sesampainya di dalam rumah, Taka membantu Pier untuk duduk.
Pier lalu menatap Taka yang mengingatkannya akan masalah yang akan datang lalu berkata “apa kamu benar-benar ingin menjadi orang seperti diriku?”
Taka sudah menyadari bahwa Pier adalah seorang pembunuh, karena sewaktu Taka masih kecil sering melihat Pier pulang ke rumah dengan darah di seluruh tubuhnya.
Taka kemudian melihat ke arah Pier yang sedang duduk dengan tatapan yang membara lalu berkata “aku selalu menunggumu berkata seperti itu, tetapi aku tidak ingin kamu mengajariku hanya dasarnya saja.”
Pier yang sedang duduk bersandar kemudian berkata “baik, aku akan mengajarimu. Seperti apa pembunuh itu.”
Keesokan harinya, matahari masih belum terbit suasana masih terasa gelap dengan banyak sekali embun pagi mengelilingi se isi hutan. Terdapat seorang anak yang sedang memukul ke sebuah batang pohon dengan 3 ranting yang tebal di depan sebuah gubuk dari bayu.
Bak.
Bak.
Taka sedang berlatih pukulannya dan gerakan bertarungnya.
Pier sedang mengamati Taka berlatih di sampingnya berkata sambil menunjukan kelima jarinya “Ingat ini, Taka. Satu, lihatlah situasi dan kondisi. Dua, jangan sampai ada yang mengetahui identitas mu. Tiga, jangan memberi tahukan kepada siapapun klien mu. Empat, jangan biar kan ada saksi. Lima, keluar lah dalam keadaan hidup.”
Bak.
Bak.
Taka terus berlatih gerakannya mendengar pernyataan Pier kemudian berkata “aku sudah mengingatnya.”
Beberapa saat kemudian.
Taka berhenti berlatih untuk mengambil jam istirahatnya.
Taka kemudian berjalan mengambil botol air dan menghampiri Pier yang sedang duduk di depan rumah lalu berkata “hey, Pier. Kenapa kamu memutuskan menjadi seorang pembunuh.”
Pier yang sedang duduk bersantai dengan bersandar sambil melihat ke atas dengan luka perban di pinggangnya lalu berkata “aku hanya membunuh untuk bertahan hidup.”
__ADS_1
Taka kemudian minum air di botol yang di pegang olehnya sambil bertanya “kenapa bisa seperti itu?”
Pier masih menatap langit yang di indah terdapat daun yang bertebaran karena ulah angin sambil berkata “Taka, tahukah kamu. Jika kamu tidak mempunyai kekuasaan maka membunuh merupakan jalan satu-satunya untukmu bertahan hidup, bahkan itu lebih baik dari pada orang yang memiliki kekuasaan yang besar.”
Hhhuffftt.
Taka yang sedang minum terkejut dengan pernyataan Pier soal menjadi pembunuh itu lebih baik.
Pier melirik ke arah Taka yang tersedak air lalu berkata “kamu pasti tidak mengerti perkataanku, bukan?”
Taka kemudian mengelap mulutnya yang basah dengan berkata “yah, aku masih belum mengerti, apa maksudmu?”
Pier kembali menatap langit biru dengan berkata “dengan kekuasaan, kamu bisa membodohi siapapun. Dan itu lebih kejam dari pembunuhan, apa kamu mengerti?”
Taka kemudian melihat ke arah Pier yang sedang bersandar menjawab dengan tatapan penuh ambisi “aku mengerti!”
Pier lalu melihat ke arah Taka yang sedang melihatnya dan bertanya “kenapa kamu ingin menjadi pembunuh sepertiku?”
Taka yang melihat Pier sedang menatapnya kemudian mengalihkan tatanpannya ke atas langit biru dan berkata “aku juga tidak tahu, tetapi yang pasti. Saat kamu, selalu pulang dengan berlumuran darah. Itu membuatku merasa hal yang aneh di dalam diriku.”
Pier terkejut dengan perkataan anak berusia 10 tahun lalu bertanya “kenapa??”
Hehehe.
“Sepertinya aku hanya ingin terlihat sepertimu, Pier,” kata Taka kepada Pier sambil melihat langit biru dengan botol di pegangnya.
Pier kemudian mengingat sesuatu, lalu berdiri dan berjalan ke dalam rumah.
Pier sedang membuka suatu kotak yang ber isi sebuah liontin hitam bergambar naga.
Taka mengintip apa yang sedang di lakukan Pier lalu bertanya “benda apa itu?”
Pier yang sedang menatap liontin tersebut melihat ke arah Taka dan melambaikan tangannya dengan berkata “Taka, kemari.”
Taka kemudian menghampiri Pier.
Pier langsung memasangkan liontin tersebut ke leher Taka dan berkata “jaga lah itu.”
Taka melihat liontin bergambar naga di lehernya dan memegangnya kemudian bertanya kepada Pier “apa ini?”
Lalu Pier duduk di kursi dengan berkata “aku menemukanmu sedang memakai liontin itu, dan aku berusaha mencari tahu asal usul liontin tersebut. Sepertinya orang tuamu bukanlah orang biasa.”
Mendengar penjelasan Pier, Aka menjadi ingin mengetahui orang tuanya lalu berkata “jadi ini milik orang tuaku, apa aku bisa bertemu dengan mereka?”
Pier yang sedang duduk lalu menatap Taka dengan serius “kamu masih belum bisa menemuinya sekarang, lebih baik kamu di sini terlebih dahulu untuk berlatih denganku.”
“Apa itu sebabnya kamu selalu pulang dengan berlumuran darah” tanya Taka.
Pier kemudian berdiri dan berjalan ke jendela rumah dengan berkata “aku akan melatih mu dengan serius, apa kamu siap?”
__ADS_1
Taka yang melihat Pier sedang melihat keluar lewat jendela rumah, dengan angin yang berhembusan ke dalam rumah membuat Pier terlihat begitu serius.
“Aku siap!” tegas Taka.
...****************...
15 tahum kemudian di dalam hutan dengan matahari terik menyari se isi hutam dan daun-daun bertebaran.
Dor.
Dor.
Pier yang sedang menembaki Aka yang sedang berlari dengan berkata “Taka, jangan perlihatkan dirimu terlalu jelas.”
Saat Pier ingin menembaknya kembali, seketika.
Huuuusst.
Sebuah pisau tepat di leher Pier.
“Aku mengalahkanmu, Pier” kata Taka yang sedang memegang pisau tepat di leher Pier di belakangnya.
Pier kemudian mengangkat tangannya lalu memutarkan badannya.
Plak.
Pier langsung menepis pisau tersebut yang membuat pisau tersebut terlempar.
Taka kemudian melompat mundur karena terkejut dengan keberanian Pier, padahal pisau tepat di lehernya. Membuat leher Pier berdarah akibat tergores pisau.
“Taka, jangan mengasihani musuhmu. Jika aku bukanlah Pier, sekarang kamu sudah mati di tanganku” kata Pier sambil menodongkan pistol di tangannya ke arah Taka.
Taka langsung mengangkat tangannya lalu berkata sambil tersenyum dengan nada meledek “jika aku bukan Taka, kamu sudah mati terlebih dahulu.”
Di waktu yang sama, di sebuah ruangan tembak. Terdapat seorang wanita cantik berpakaian polisi dengan badan langsing dan rambut sepundak sedang mengarahkan pistol yang di pegangnya ke arah sasaran.
Dor.
Dor.
Dor.
Pria di sebelah melihat tembakan wanita tersebut berkata “Visa, akurasi tembakanmu semakin berkembang.”
Pria tersebut adalah Rey, kepala devisi dari Visa di kepolisian.
Visa baru saja di pindahkan ke kantor polisi kota Hatse, karena kecerdasannya yang membuat Visa di taruh ke kota Hatse saat lulus dari akademi.
Kota Hatse terkenal dengan kejahatannya yang selalu meningkat setiap bulannya.
__ADS_1
Visa yang sedang membidik kemudian berhenti mendengar penjelasan dari Rey lalu berkata “terima kasih.”