KING MAFIA & WANITA BERCADAR

KING MAFIA & WANITA BERCADAR
AKU YANG MENJALANI


__ADS_3

POV ALVIN...


Setelah perihal kepala botak selesai, aku segera kembali ke kamarku dan melanjutkan pekerjaan kantor yang sempat tertunda.


Di tengah-tengah kesibukan duniaku, dering handphone mengganggu konsentrasi, segera aku angkat takutnya penting.


[Hallo Mah, ada apa?]


[....]


[Alvin usahakan, udah dulu ya.]


Sambungan diputus sepihak oleh aku, pasti di sana Mama ngomel-ngomel tidak jelas.


Yang pasti, besok aku dipinta datang ke rumah, sepertinya penting sekali.


Jam menunjukan pukul pukul 23.00 dan pekerjaanku baru saja selesai, aku putuskan untuk langsung tidur karena terlalu lelah.


***


Pagi telah tiba, aku sudah siap dengan setelan formal, hari ini aku akan ke kantor terlebih dahulu.


Saat sedang memainkan handphone, aroma makanan langsung menggugah seleraku, aku langsung pergi menuju asal aroma makanan itu berada.


'Masakan calon bini, eh ralat.' Aku geleng-geleng sendiri dengan pikiranku yang entah pergi kemana, entah apa yang merasukiku.


"Eh Nissa kamu yang masak?" Kalimat itu spontan keluar dari mulut ini saat melihat Nissa.

__ADS_1


"Aku hanya bantu bibi kak," ucap Nissa sambil menunduk.


'Duh bini idaman.' Aku sadar dan langsung geleng-geleng kepala.


Apa yang kau pikirkan Alvin?! Memalukan sekali, untung Nissa bukan indigo.


"Kenapa kak?" tanya Nissa, mungkin heran dengan tingkahku.


"Eh, mmm ... tidak apa-apa."


Satu kata untukku saat berada di depan Nissa MEMALUKAN, bahkan saat aku pidato di depan banyak orang pun tidak gugup sama sekali.


"Silahkan dimakan Kak." Aku mengangguk.


Saat aku duduk, Nissa pergi sambil membawa sepiring nasi dan sedikit lauk, aku tentu tidak rela.


"Emang boleh Kak?" tanya Nissa dan aku pun mengangguk.


Nissa duduk tepat di hadapanku dan langsung memakan makanan dengan lahap.


***


Sekarang aku sudah berada di perusahaan A'X company, tepatnya perusahaan aku sendiri.


Para karyawan menunduk hormat padaku, tapi inilah aku yang sebenarnya, sikap dingin ini selalu melekat padaku, aku langsung pergi begitu saja.


Semua pekerjaan telah selesai, aku langsung pergi menuju rumah Mamahku takut dia ngomel tak jelas.

__ADS_1


Aku sudah sampai dan langsung diajak Mamah menuju ruang tamu, apa ini aku sungguh tidak paham.


Di sini sudah ada seorang wanita muda dan wanita seumuran dengan Mama, sepertinya dia Ibu dari wanita itu.


"To the point aja Ma, Alvin masih banyak pekerjaan."


"Jadi Mama mau jodohin kamu dengan anak temen Mama, namanya Kaila."


Auraku sudah berubah menjadi dingin dengan emosi yang hampir meledak, apa Mamah tidak tahu kemarahan anaknya ini.


"Ma aku tegaskan sekarang juga, Mama dengan mudahnya menjodohkan aku dengan wanita yang sama sekali aku tidak kenal!" Aku berhenti sejenak untuk mengatur emosiku.


"Apa Mama tidak pernah muda? Aku yang akan menjalaninya, aku yang menderita! Dan Mama tidak akan merasakannya!" tegasku dengan emosi dengan yang menggebu-gebu.


"Kalau Mama tetap memaksa, aku pastikan dua wanita ini akan mati di tanganku," ucapku dingin dan emosi mulai mereda.


Mama gemetar ketakutan, kemudian aku pergi menuju kamar karena tidak ingin tahu kelanjutannya, dan takutnya emosiku memuncak.


Aku tidak tahu lagi apa yang Mamah lakukan yang jelas dua wanita brengs*k itu sudah pergi.


"Alvin," panggil Mamah lirih.


"Hmmm, ada apa?"


"Mama tidak bermaksud membuat kamu menderita, Mama hanya ingin kamu secepatnya menikah, Mama sudah tidak muda lagi Nak."


"Apa ada seseorang di hatimu?" tanya Mamah pelan, mungkin takut aku marah.

__ADS_1


"Aku nggak tahu Mah, kalau itu permintaan Mamah, aku akan usahakan."


__ADS_2