KING MAFIA & WANITA BERCADAR

KING MAFIA & WANITA BERCADAR
Pergi


__ADS_3

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ.


“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185).


_____


Pov author ....


"Nak, jagoan umi dan abi, baik-baik ya di sana. Umi sayang banget sama kamu," ujar Nissa sembari mengelus perutnya yang sudah membesar.


Ia tersenyum menatap perutnya yang sudah berbeda. Pinggang ramping itu sudah berubah menjadi perut yang buncit.


Renungan masa remaja, kembali teringat dalam pikirannya. Seulas senyum kembali terbit, ia menatap dirinya di depan kaca lebar.


"Ternyata gini rasanya ... para wanita emang hebat, ini tidak semudah yang kubayangkan." Ia mengusap peluh pada keningnya.


Ting tong ....


Suara bel berbunyi. Nissa tersenyum, ia sudah tahu siapa yang akan datang.


Langkah demi langkah ia ayunkan menuju pintu utama. Terasa berat, ini yang ia rasakan, maklum bumil.


"Assalamu'alaikum." Terdengar suara orang mengucap salam dengan suaranya yang khas.


Nissa membuka pintu itu, ia tersenyum.


"Wa'alaikumsalam." Dia raih tangan itu, tangan yang sudah memberinya kekuatan, kemudian dia mengecupnya lama.


Alvin tersenyum, sejenak ia lupakan penat. Dia balas perlakuan Nissa dengan sebuah kecupan hangat pada kening.


"Hallo bidadari sama jagoannya abi. Abi kangen banget, dari tadi pengen cepet-cepet pulang." Punggung tegap itu ia bungkukkan, detik kemudian dia mencium perut buncit sang istri.


"Masuk yu! Aku bawa martabak coklat, kayaknya enak makan bareng kamu." Alvin mencolek hidung Nissa yang tertutup oleh niqob, selanjutnya ia rangkul pinggang sang istri.


"Martabak ini harusnya gak usah pake gula lagi!" gerutu Alvin, Nissa mengerutkan keningnya heran.


"Emangnya kenapa?"


"Lihat kamu aja udah kerasa manis, jadi gak usah ditambah gula lagi." Alvin terkekeh, sejurus kemudian Nissa mencubit pinggang sang suami.


"Gombal terus! Udah gak pantes, Kakak udah gak muda lagi!" seru Nissa. Alvin melotot, kemudian menggelitik bidadarinya.


"Aku masih muda."


Nissa nyengir, detik kemudian dia menatap netra coklat milik suaminya. "Khullah, boleh gak Nissa pergi jalan-jalan bareng temen? Kayaknya seru!"

__ADS_1


Alvin tersenyum, lalu mengusap puncuk kepala Nissa. "Jangan ya, nanti kamu kecapek-an, kasian janin yang ada di perut kamu." Alvin masih berusaha untuk lembut.


"Kali ini aja, kalau aku udah punya anak ... aku gak bisa kayak gini lagi. Ini terakhir kalinya, refreshing sebelum melahirkan." Nissa mengusap tangan Alvin manja.


"Ya, Khullah, boleh ya? Aku juga gak apa-apa kok, ini cuman jalan-jalan."


"DIAM!" bentak Alvin tanpa sadar.


Satu kata, namun mampu menggoreskan banyak luka pada hati Nissa yang lembut. Bentakan pertama oleh Alvin, suaminya!


Mata Nissa memerah, satu tetes air mata jatuh.


"Khullah ... Khullah jahat! Khullah udah bentak Nissa!" ujar Nissa sesegukkan.


"Sayang, maafin aku, aku tadi gak sengaja. Maaf ...." Alvin meraih tangan Nissa, namun kalah cepat. Nissa menepis tangan Alvin, lalu menatap netra suaminya dengan mata yang sudah memerah.


"Jahat!"


Nissa berlari menuju anak tangga, ia tak memperhatikan jalan di depannya. Alhasil dia terjatuh.


Brugh!


"Ahk ...!" ringis Nissa menahan rasa sakit di bagian perutnya. Darah mengalir begitu banyak.


Ia mengangkat kepala sang istri. "Khumaira, bertahan ya ... aku tahu kamu kuat."


"Maaf, tadi aku gak sengaja."


Telat! Nissa sudah pingsan di hadapannya sendiri.


"Ahk! Aku memang bodoh!" teriak Alvin menggelegar.


_____


Alvin tertunduk lemas, ia menatap ranjang Nissa dari balik jendela kaca.


"Maaf ... ini semua salah aku, andai aku tidak terlalu protektiv ... pasti ini semua tidak akan terjadi."


Alvin terjatuh lemas, ia memukul-mukul kepalanya sendiri. "Bodoh! Aku memang sangat bodoh!"


"Sudahlah, Nak. Ini itu takdir yang Allah berikan untuk kamu. Percaya takdir itu lebih indah dari apa yang kamu bayangkan." Dia —mama Alvin.


"Iya, Ma. Tapi tetap ... aku gak bisa maafin diri aku sendiri kalau terjadi sesuatu pada Nissa, atau janin yang ada dalam kandungannya."


Cklek!

__ADS_1


Ia melirik orang yang baru saja keluar dari ruangan sang istri, detik kemudian dia berdiri dengan segera.


"Bagaimana keadaan istri dan anak saya?" tanya Alvin lirih. Sekelebat bayangan menghantuinya, ia tidak ingin kehilangan sang istri, separuh jiwanya.


"Alhamdulillah anak Bapak terselamatkan, sekarang kami sedang membersihkannya," ujar dokter tersenyum.


"Alhamdulillah, lalu bagaimana keadaan istri saya?" Raut wajah Alvin kembali berubah. Dia kembali teringat akan kesalahannya.


"Istri Bapak ... kritis. Kami tidak bisa melakukan apapun lagi, kami sudah berjuang, namun tuhan yang menentukan. Saya permisi." Dokter pun pergi meninggalkan Alvin.


Alvin kembali terjatuh lemas tak berdaya. "Gak! Ini gak boleh terjadi! Hiks ...."


Ia berlari menuju ruangan sang istri.


"Sayang, Khumaira, bangun, ya? Katanya kamu mau main bareng anak kita."


"Kamu berhasil, Sayang. Anak kita terlahir dengan selamat. Bangun dong," ujar Alvin getir, ia tutupi rasa sedihnya dengan senyuman. Senyuman palsu!


"Jangan gini dong. Aku minta maaf, maaf udah bentak kamu. Sekarang kamu sadar, ya ...."


"Sayang, hiks ...."


"Kamu gak kasian sama anak kita, bangun dong, aku rindu sama kamu."


Alvin terus saja berucap sendirian, tanpa ada yang menjawabnya. Hening, sunyi, sepi, itulah keadaannya sekarang.


Isak tangis kembali terdengar, Alvin tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.


"Sayang ...," lirih Alvin.


Ia dekap sang istri erat, seakaan menjelaskan bahwa dirinya tak mau kehilangan sang istri.


Tiiiiit ...!


Hembusan nafas terakhir seorang Nissa. Alvin mendekapnya semakin erat.


"Sayang, kamu jangan bercanda!"


Alvin tersenyum seperti orang gila. "Sayang! Hiks."


"Dokter!"


TBC ....


Maaf kalau feelnya gak dapet.

__ADS_1


__ADS_2