KING MAFIA & WANITA BERCADAR

KING MAFIA & WANITA BERCADAR
Wanita kedua


__ADS_3

Penyesalan akan datang pada akhir, maka janganlah kamu berbuat hal yang akan membuatmu menyesal di hari kemudian.


_____


"Sayang, please, bangun ...," ujar seorang pria, lirih.


"Kamu tega sama aku, bagaimana dengan anak kita? Dia butuh seorang umi yang selalu menjaganya sepenuh hati."


Alvin memeluk manusia yang sudah tak bernyawa itu. Ya, dia sedang memeluk sang istri, istri yang telah menghembuskan nafas terakhirnya, baru saja.


"Maaf, Pak, istri Anda sudah tiada. Tuhan sayang ia, makanya ia ambil secepat ini," ucap dokter sembari menunduk.


"Gak! Ini semua gak boleh terjadi!"


"Katakan ini semua hanya mimpi! Katakan!"


"Sadarlah, Pak, ini sudah takdir yang maha kuasa." Dokter tersebut menutup wajah pucat pasi milik almh.Nissa.


RIP!


_____


Pov Alvin ....


Lima bulan kemudian ....


Hari yang cerah, tidak sama dengan keadaan hatiku yang mendung. Senyum di wajah hanya menutupi rasa penyesalan yang teramat mendalam.


Andai saja dulu aku tidak egois, andai saja aku tidak terlalu protektiv padanya ... mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini.


Bodoh, aku memang bodoh!


Kutundukkan wajah ini, menatap lantai yang berkilau.


Hidupku hanya penuh dengan penyesalan, dia ... dia bukan wanita yang sama seperti dulu.


Sekuat apapun aku mengelak, sekuat apapun aku menganggap bahwa ini hanya mimpi, tapi ini sudah takdir, ini adalah takdir yang maha kuasa.


Kulihat wanita yang kini berstatus sebagai wanita kedua. Ya, wanita kedua. Ia tersenyum, namun itu tidak sama seperti senyuman yang dulu, senyuman yang akan selalu kukenang, senyuman ini berbeda!


Kuayunkan kaki ini menuju anak tangga. Ya, tempat ini adalah saksi bisu, saksi bisu kejadian lima bulan yang lalu. Kejadian yang akan selalu membuatku menyesal.


"Afwan, aku mau ke TPU dulu," ujarku sembari menatap manik mata wanita itu. Ya, wanita kedua yang aku sebut tadi.


Ia mengangguk, kemudian dia mencium punggung tanganku.


"Assalamu'alaikum." Aku langsung pergi begitu saja.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam."


_____


TPU (tempat pemakaman umum).


Kubawa bunga yang sengaja tadi kubeli di jalan. Sejurus kemudian aku melangkahkan kaki menuju tempat tujuan.


Seulas senyum kupancarkan, namun tanpa aku sadari ... air mata ini menetes. Kembali aku teringat kenangan-kenangan bersamanya.


Tak ingin berlarut-larut, kusimpan setangkai bunga tadi, lalu dengan segera aku pergi menuju tempat parkir.


"Huft, bodoh! Andai saja aku bisa menjaganya, mungkin kejadiannya tidak akan sama seperti sekarang ini."


Aku sadar, ini semua takdir yang sudah ditentukan oleh-Nya. Kembali kupancarkan seulas senyum.


_____


"Assalamu'alaikum, jagoan abi!" panggilku dengan sedikit berteriak.


"Wa'alaikumsalam."


"Makan yang banyak, ya? Abi mau mandi dulu." Wanita itu mengangguk, senyumannya tidak pernah luntur.


Kamar ini ... kamar yang selalu mengingatkan aku tentang dirinya, tapi, sudahlah.


"Abi, tadi gimana?" tanya wanita itu.


"Gimana? Gimana apanya?" Bukannya menjawab, aku malah balik tanya.


"Ziarah," ujarnya sedikit dengan sedikit geram.


"Oh, gak ada apa-apanya, gitu aja," jawabku sedikit cuek.


Kudorong kursi roda wanita itu menuju taman belakang rumah. Ia tersenyum menatap manik mataku, kubalas senyumannya dengan senyuman yang tak kalah indah.


"Nis, nanti kita pergi ke pesantren, yu!"


Ya, wanita itu adalah Nissa, lebih tepatnya Ilmy Al-Fatunissa. Dia istri pertama dan terakhir untukku.


Masih belum paham? Kita kembali menuju lima bulan yang lalu.


_____


Flashback ....


"Gak! Ini hanya mimpi, hiks."

__ADS_1


"Nis, Sayang, Khumaira, bangunlah! Aku belum siap kehilangan kamu."


"Kasian anak kita, Sayang, please bangun."


Tubuhku ambruk, lemas tak berdaya. Segera kuseka air mata, aku kembali berdiri, kedekap tubuh pucat itu.


"Sayang ...," panggilku lirih.


Aku berdiri tegap. "Kalau seperti ini, lebih baik aku ikut bersamanya, aku akan mengakhiri hidupku!"


Mama mengusap punggungku, ia menangis tersedu-sedu. "Jangan, Nak! Itu dosa besar."


Kudekap wanita paruh baya itu, air mata terus menetes tanpa henti.


Untuk terakhir kalinya, aku pandang istriku. Mataku membulat, secercak sinar kembali menerangi hidupku. Jarinya bergerak!


"Dok! Istri saya ... lihatlah!"


Dokter berbalik, dia menatap tubuh Nissa. Dengan cepat dia melakukan tindakan.


"MasyaAllah, ini mukzizat Allah, Mbak Nissa ... ia datang kembali, tuhan telah memberinya kesempatan kedua untuk kembali hidup!" ujar dokter dengan semangat penuh haru.


MasyaAllah, alhamdulillah, Allahuakbar! Terima kasih ya Allah. Kau memang adil terhadap hambamu.


Sejak saat itu, Nissa rawat inap di RS selama kurang lebih satu bulan. Tentu dengan suami di sampingnya.


Sejak saat itu pula, aku selalu merasa bersalah, penyesalan itu tetap ada.


Saat Nissa pulang dari RS, kabar duka kembali datang. Athan, dia telah berpulang.


Athan, ia meninggal akibat tusukkan tepat pada jantungnya, ia tidak bisa diselamatkan.


_____


"Maaf, ya, Sayang. Andai dulu aku tidak egois, mungkin keadaan kamu tidak akan seperti ini."


Nissa menggeleng, ia mencium punggung tanganku lama. "Ini sudah takdir."


Wanita itu belum sepenuhnya pulih, saat ini dia menggunakan kursi roda.


TBC ....


Wanita kedua: (Istri) adalah cinta kedua di hati suami. Jangan menuntut untuk jadi yang pertama. Karena itu adalah milik ibunya.


Alvin tadi ziarah ke makam sang sahabat, Athan.


Konwelnya ditunggu. Ngaku, tadi pasti ada yang berpikir kalau wanita kedua itu adalah istri baru si Alvin.

__ADS_1


Maafin author yang jail ini. 😂


__ADS_2