
Rizma berjalan dengan lumayan cepat sementara Riska memarkirkan mobil ke besment. ketika ia telah sampai di ruangan khusus milik nya ia langsung duduk dan mangotak atik komputer yang ada di ruangan itu. ruangan itu di desain sedemikian rupa sehingga menampakan dekor antara alam, kesederhanaan, dan kemewahan yang bercampur menjadi satu.
disatu sisi sama hal nya dengan Rizma, Riska pun sedang berkutat dengan komputer milik nya hingga waktu tak terasa sudah satu jam setengah mereka berkutat di depan layar komputer.
tok... tok... tok...
"kak ini ka sekarang udah hampir dua jam kita harus ke kampus." ucap Riska memberitahu sang kakak waktu nya untuk kembali ke kampus karena sebntar lagi pelajaran kampus akan di mulai.
"ya...!! buka saja sebentar lagi aku akan selesai. " ucap Rizma agak keras. sebenarnya ruangan itu kedap suara namu itu bisa di matikan untuk sementara.
ceklek...
Riska membuka pintu itu setelah mengetik pasword di pintu itu. "ayo aku sudah selesai lagi pula ini masih ada waktu setengah jam lagi kita ke restoran punya abang dan kakak yang di bangun buat abang yang ulang tahun waktu itu." ucap Rizma mengingat saat abangnya merengek ingin pizza namun saat itu pengunjung sedang ramai jadi pizzanya tak tersisa untuk abang tengil mereka. dan tanpa sepengetahuan siapa pun ia membangun restoran yang mempunyai kesana harmonis namun juga ada kesan humoris.
Mereka pergi menuju mobil milik Riska kali ini kerena mobil milik Rizma sedang dalam tahap kemajuan. ya Rizma adalah seseorang yang menyukai dunia perbalapan ia sengaja memperbaiki mobilnya agar bisa lebih cepat lagi.
__ADS_1
"kak semua orang yang ada di situ gak ada yang tahu tentang kita yang adik sepupu abang dan Kakak."
"justru karena itu kita uji kualitas layanan restoran itu."
"Hmmm.... " ucap Riska yang hanya menanggapi dengan deheman saja.
driiinggg.....
driiinnnggg....
"ba-bang A-Arnet." keringat dingin seketika membasahi wajah Riska ketika mendapat panggilan dari sang kakak sepupu yang berada di Singapura.
"angkat saja." ujar Rizma santai padahal sedang menahan tawa yang ingin lepas.
"tapi kalo ka salah ngomong gimana nanti bisa bisa bang Arnet terbang kesini." ujar Riska yang tahu betul sikap kakak nya yang satu ini. keras kepala, bar bar, kadang cuek dan dingin. bahkan sering kali membuat Rizma pusing ketika abang Herman dan bang Arnet itu bertemu.
__ADS_1
"sudah angkat saja daripada nanti kejadian beneran." dengan berat hati ia mengangkat panggilan dari sang abang.
[kenapa lama sekali angkat nya!!! Riska Aprilia Alexander!!! ]
[iya tadi lagi ada study jadi lama ngangkat nya.]
[Hehh...!! kamu lupa investor terbesar di kampus kamu itu siapa. abang mu yang ganteng tiada tara ini!! dia tau apa saja kegiatan kampus kamu.]
[cihh.. langsung sama intinya aja lama lama darah tinggi ka ngadepin orang yang rasa percaya diri nya sampai ke langit.]
[cihh... cepat berikan ponselmu ke ima dia sedang bersamamu kab tadi di telpon tidak di angkat.]ucap arnet dengan nada yang mulai melembutkan ketika mengucap panggilan ima itu.
karena tak mau berdebat dengan sang abang yang sangat menyebalkan ia langsung
[halo bang]
__ADS_1
[halo ima kamu dimana? kamu apa kabar? kamu baik baik ajakan.]