Kisah Cinta Daddy

Kisah Cinta Daddy
Menjadi anak angkat?


__ADS_3

"Fortan. Kamu adalah omnya Nongsi. Sekarang kamu harus menjadi ayahnya. Aku tidak tahu berapa lama lagi akan hidup," kata Jirdan ayah Nongsi yang sekarat.


Gadis itu terus menangisi sang ayah tiada henti.


"Jangan bilang begitu Dad! Daddy pasti kuat. Jangan gampang menyerahkan puteri Daddy kepada orang lain," tolak Nongsi yang masih berderai air mata tak henti.


Fortan hanya terpaku. Ia juga menangis. Meski Nongsi menganggap dirinya adalah orang lain. Fortan tidak kesal ataupun marah pada Nongsi. Ia tahu kalau Nongsi masih bocah, menurutnya.


"Nongsi kamu jangan membantah," lirih Jirdan menatap puteri semata wayangnya dengan sangat sedih dan cukup kecewa karena telah menolak permintaan sang ayah.


Dengan tangisan Nongsi sama sekali tidak suka kalau dirinya akan memiliki ayah baru, dan ayah barunya itu adalah Omnya dari mantan istri kakeknya yang entah keberapa. Omnya terbilang masih muda dan sekitar umur 28 tahunan. Maka dari itu Nongsi merasa tidak cocok jika Fortan akan menjadi ayah angkatnya.


"Tapi Dad ...."


Belum Nongsi melanjutkan perkataannya Jirdan kejang-kejang dan menutup mata. Seketika jiwa Nongsi runtuh melihat pemandangan yang membuatnya rapuh.


Nongsi berteriak histeris memanggil dokter hingga dokter berkata,"Nyawanya sudah tidak tertolong. Maafkan kami. Kami sudah berusaha semampunya."


Sebagai puteri yang paling disayang oleh Jirdan. Nongsi tentu tidak terima. Ia pukul keras dada dokter yang mengatakan bahwa ayahnya telah tiada.


"Nongsi sabar!" ucap Fortan. Tanpa sadar Nongsi masuk ke dalam pelukannya. Seketika Nongsi tenang.


Setelah pemakaman selesai, hati Nongsi masih saja rapuh serapuh dedaunan yang kering. dia tak henti-hentinya menangsi dipemakaman sang ayah. Nongsi sampai tidak makan dan pingsan. Seketika dengan terpaksa Fortan membopong tubuh mungil Nongsi dan membawanya pulang.


--


Dengan segala keterpaksaan. Nongsi menerima Fortan menjadi ayah angkatnya. Ia tak menyangka bahwa Fortan yang masih muda sudah menjadi ayahnya.


"Nongsi jangan lupa sebelum jam sepuluh malam kamu harus tidur, jangan suka keluyuran terus. Daddy tidak suka kamu bergaul dengan anak jalanan seperti mereka," ucap Fortan tegas dengan memakai kacamata yang bertengger dihidungnya.


"Sejak kapan?" tanya Nongsi membuat alis Fortan terangkat sebelah.


"Sejak kapan Anda mengatur hidup saya seperti ini? Baru tahlilan Daddy saya yang kedua. Anda malah mengatur segala hidup saya!" bentak Nongsi menggebrak meja.


"Nongsi jangan gitu," lirih Fortan tapi Nongsi malah tetap berangkat dengan rok diatas lutut melewati Fortan.


Seketika Fortan menghentikan langkah Nongsi dan mencekalnya.


"Mau dia apa sih? Bukankah dia hanya menginginkan aku menjadi anak angkatnya? Kenapa dia harus mengatur kapan aku keluar rumah dan kapan aku tidur serta memilih-milih teman? Aku tidak pernah memilih teman."

__ADS_1


"Amanah Daddy mu ada di saya. Kalau kamu memang masih menghargai Daddy mu. Tanah Daddy mu masih belum kering. Jangan berulah!" titah Fortan.


"Apalagi sih Om gak laku? Mungkin Anda terlalu lama ngejomlo terus sehingga Anda bosan hidup dan malah mengurusi saya? Kali ini saya tidak pergi dengan teman-teman saya kok! Saya akan pergi dengan pacar saya," sahut Nongsi santai.


Rahang Fortan mengeras. Ia berpikir keras untuk bisa membujuk ponakannya sekaligus sekarang menjadi anak angkatnya.


"Jangan berduaan dengan pacar! Itu tidak baik Nongsi! Dan kalian bukan mahram!" bentak Fortan suaranya meninggi. Mendadak Nongsi menangis histeris, dia belum pernah dibentak siapapun. Sekarang malah ada sosok yang mencoba menggantikan posisi ayahnya dihatinya dan membentaknya sesuka hati.


"Dad dia siapa? Daddy dimana? Mengapa Daddy meninggalkan Nongsi begitu cepat? Daddy tahu kan kalau Nongsi tidak pernah dibentak dan tidak suka dibentak oleh siapapun di dunia ini? Daddy tahu kan betapa manjanya Nongsi terhadap Daddy?" Nongsi.


"Tuan Fortan. Saya bukanlah gadis gampangan jadi tenang saja! Lagian saya disini dengan Anda pun bukan mahram!" bentak Nongsi tak mau kalah.


"Tapi disini ada art. Lagian saya tidak mungkin berbuat hal yang tidak-tidak padamu," sanggah Fortan.


"Omongan Anda tidak bisa dipegang Tuan Fortan!"


"NONGSI! KAU AKAN MENYESAL JIKA KELUAR SEKARANG!" bentak Fortan sangat mencekam namun Nongsi tetap saja keluar rumah. Dia berlarian jauh.


Seseorang dengan memakai mobil berhenti di depan rumah Fortan. Dibukalah kaca mobil dan mengelakson. Pak satpam segera membuka mobil.


"Hai Sayang," ucap Kimal tersenyum pada Nongsi yang sudah menunggunya.


"Enggak kok," sahut Nongsi mengirim tubuhnya masuk ke dalam mobil.


"Kamu kenapa? Kok kelihatan sedih gitu?" tanya Kimal sambil perjalanan. Kimal sangat heran dengan wajah Nongsi yang nampak tidak seperti biasanya. Wajah Nongsi terlihat ketakutan dan terdapat beberapa jejak keringat dipelipisnya.


"Aku gapapa kok Sayang, cuma sedikit pusing aja," sahut Nongsi bohong. Kimal mengangguk dan tersenyum miring.


"Bentar lagi aku akan kasih kamu kejutan Sayang. Jadi pusing kamu dijamin ilang," kata Kimal sembari menggenggam tangan Nongsi dengan erat. Nongsi tidak tahu kejutan apa yang diberikan Kimal nanti dia hanya mengangguk.


--


Mereka sudah sampai disebuah hotel. Dahi Nongsi menyerngit. Ia heran mengapa Kimal mengajaknya ke hotel. Sementara rencana awal mereka akan ke cafe. Dengan cukup keraguan, Nongsi berjalan beriringan bersama Kimal memasuki hotel.


"Ngapain kesini?" tanya Nongsi penasaran.


"Nanti juga kamu akan tahu, kejutannya ada dihotel Sayang," bisik Kimal ditelinga Nongsi. Nongsipun manut saja tanpa ada rasa curiga terhadap Kimal karena selama menjadi pacar Kimal. Lelaki itu selalu melindungi Nongsi dan tidak pernah berbuat yang macam-macam terhadap Nongsi. Apalagi ketika ada cowok yang selalu memperhatikannya bahkan mau mengajak Nongsi berkenalan, Kimal menepis tangannya dan selalu menjaganya. Itulah kenapa Nongsi selalu mempercayai Kimal.


Mereka berdua sudah ada di lift, setelah bertanya ada kamar kosong. Ada sedikit curiga dihati Nongsi karena Kimal memesan satu kamar saja.

__ADS_1


"Sayang? Kenapa kamu pesan satu kamar saja. Kalau nanti aku akan beristirahat bagaimana? Kita gak mungkin tidur dalam satu kamar kan?" tanya Nongsi memastikan.


"Tenang saja. Disana kita cuma makan berdua kok. Habis itu kita pulang deh," kata Kimal.


"Tapi aku pengennya nginep dulu di hotel Sayang. Soalnya aku dan ayah baruku itu lagi bertengkar," ucap Nongsi. Begitu polosnya Nongsi berkata bahwa dia lagi bertengkar dengan ayah barunya.


"Yasudah Sayang, nanti kalau makan malam kita selesai, aku saja yang pulang. Kamarnya kamu gunain buat istirahat."


"Ululuh kamu baik banget sih Sayang," ucap Nongsi mengecup pipi Kimal.


Ting


Lift terbuka mereka melangkah mencari kamar yang sudah Kimal pesan. Kuncinya memakai kartu. Kamarpun terbuka.


"Silakan masuk Tuan putri Nongsi," ucap Kimal dengan sangat lembut. Senyum Nongsi mengembang. Nongsi sangat senang diperlakukan seperti Tuan putri, seketika dia membandingkan perlakuan Fortan yang menurutnya sangat tidak layak jika dianggap sebagai ayah barunya. Kimal adalah satu-satunya orang yang paling bisa mengerti keadaannya sekarang.


"Thank Kimal," sahut Nongsi.


Nongsi melangkah masuk ke dalam kamar hotel. Betapa terkejutnya ia ketika bunga-bunga bertebangan dari kipas angin yang menyala. Tempat tidur juga dihiasi bunga. Nongsi memutar-mutar tubuhnya dan dia menangkap makanan sudah tersaji dihadapannya. Betapa bahagianya dia melihat pemandangan yang menurutnya sangat indah. Terlihat dari bawah gedung-gedung, itu sangat indah dan memukau baginya.


"Wah sungguh luar biasa pemandangan ini Sayang," kata Nongsi menghampiri Kimal.


Tanpa aba-aba Kimal memeluk Nongsi. membuat Nongsi kaget dibuatnya.


"Sayang jangan gini," ucap Nongsi. Seketika dia teringat dengan pesan Daddynya.


"Sayang, jika pria benar mencintaimu, maka pria itu akan selalu menjagamu dengan tidak menyentuhmu. Karena pria yang baik tidak akan merusak atau menodaimu. Pria yang bagi akan menjaga pandangan serta tidak akan menyentuhmu. Kalau kamu menemukan pria kurang ajar seperti Daddy katakan, maka segera sadarlah Sayang dan menjauhlah darinya," kata Daddy Nongsi sebelum meninggal.


Dengan cepat Nongsi berusaha melepas pelukan dari Kimal. Namun tentu saja itu tidak bisa. Badan Kimal yang kekar itu tidak mungkin bisa dikalahkan dengan Nongsi yang kecil.


"Kita akan melakukannya sekarang Sayang," bisik Kimal membuat Nongsi heran apa yang dikatakannya.


"Maksud kamu apa Kimal?" tanya Nongsi perlahan dengan suara takut. Wajah Kimal menurut Nongsi berubah menjadi wajah srigala yang sangat mencekam dan membuat aura kamar mencekik Nongsi.


"Kamu polos, kita akan melakukan suatu hubungan dan aku akan melakukannya dengan pelan kok tenang saja," bisik Kimal. Nongsi langsung menyadari arah pembicaraan Kimal tapi ia berusaha berulang kali untuk menyangkal perasaan negatif terhadap pacarnya itu.


Tapi saat Nongsi akan membuka suara. Kimal langsung ******* bibir Nongsi. Seketika pikiran negatif Nongsi berfungsi.


"TOLONG!" pekik Nongsi berteriak. Namun siapa yang mendengarkan teriakannya. ia begitu bodoh masuk ke dalam perangkap Kimal. Lelaki yang ia pikir bisa menjaganya ternyata hanyalah kepalsuan dan tipu muslihat Kimal untuk menjerat Nongsi yang begitu polos.

__ADS_1


__ADS_2