Kisah Cinta Daddy

Kisah Cinta Daddy
Bahu yang diremehkan


__ADS_3

"Hoammm!" Nongsi menguap menepuk mulutnya pelan. ia kaget dengan posisi tidurnya yang tidur dipangkuan Fortan.


"Pagi," ucap Fortan melihat Nongsi yang sigap langsung duduk.


Nongsi masih mengucek-ngucek matanya dan menatap sekeliling.


"Sudah jangan males-malesan! Ayo kita shalat berjamaah!" titah Fortan dan ia melangkah hendak mengambil wudhu'. Nongsi yang tadi malam dibuat tenang oleh Fortan seketika mendadak badmood karena perintah Fortan. Dengan rasa mlas yang membebat itu, Nongsi berjalan gontai menuju kamarnya untuk berwudhu'.


Fortan membentangkan sajadah sesudah berwudhu', ia menunggu Nongsi yang menurutnya sangat lama berada di dalam kamar mandi. karena tidak tahan menunggu Nongsi begitu lama, terpaksa Fortan mengecek langsung Nongsi ke dalam kamarnya.


Diketuklah dengan kerasnya pintu kamar Nongsi. dan Fortan masuk ke dalam berniat mencari Nongsi, ia tidak mendengar suara air di dalam kamar mandi Nongsi. Digedorlah kamar mandi Nongsi dengan sangat keras kemudian tanpa sengaja kamar mandi Nongsi tidak dikunci.


"Astaga Nongsi! Ngapain kamu tidur di kamar mandi? Daddy kan sudah menyuruhmu untuk berwudhu'!" bentak Fortan seketika Nongsi berdiri memberi hormat.


"Siap komandan!" ucap Nongsi tegas, rupanya Nongsi sedang bermimpi dan terbawa hingga mengucapkan kata itu. Fortan ingin sekali terkekeh namun ia tahan dan menatap garang Nongsi.


"Sudah cepetan ambil wudhu' dan segera laksanakan shalat bersama Daddy!" Fortan menutup kasar kamar mandi dan meninggalkan Nongsi.


"Aduh ini masih pagi banget kan ya? Dia gak salah bentak aku sepagi ini dan mengomeli aku sepagi ini? Sungguh kau terlalu ayah baru!" batin Nongsi.


Denggan cepat Nongsi bergegas berwudhu' setelah itu dia mengambil mukena dan langsung menuju Fortan untuk melaksanakan shalat berjama'ah.


Disana sudah terlihat Fortan yang menunggu Nongsi. Nongsi membentangkan sajadah dan merekapun melaksanakan shalat.


Selesai shalat Nongsi mencium punggung tangan Omnya.


"Eh kenapa aku cium punggung tangan Omku? Ini tidak benar. Kami kan bukan suami istri? Ada-ada aja aku ini!" batin Nongsi.


Fortan dan Nongsi melipat sajadah dan menaruhnya ditempatnya.


"Kamu ingat dengan peraturan-peraturan yang sudah Daddy bilang kan? Daddy akan belikan kamu baju yang sesuai, Daddy tidak mau melihat kamu berpakaian di atas lutut lagi dan menggunakan pakaian tanpa lengan, itu sungguh tidak sopan!" titah Fortan yang menurut Nongsi mengomel.


"Iya," sahut Nongsi malas. Ia memutar bola matanya dan kembali ke kamarnya.


"Dia bilang aku tidak sopan? Sementara Om Fortan masuk ke kamarku tanpa ketuk pintu dulu. Itu benar tidak sopan. Lain kali akan kuomeli dia," batin Nongsi.

__ADS_1


Sekarang waktunya Nongsi bergegas untuk masuk kampus. Dia menyiapkan beberapa keperluan yang akan dibawa ke kampus. Sesekali Nongsi membuang napas untuk melegakan pikiran, teringat kejadian yang membuatnya hampir kehilangan kesuciannya gara-gara terlalu percaya dengan lelaki.


Nongsi melangkah cepat menuju anak tangga. ia tak mau kalau Fortan akan mengomelinya layaknya mak-mak.


Dibawah Fortan mengangkat telepon dari Sayla.


"Nomer siapa?" gumam Fortan menatap layar gawainya.


"Angkat sajalah," ucap Fortan yang menggeser ponselnya.


"Halo? Assalamualaikum?" jawab Fortan.


"Waalaikumsalam Tu-tuan," jawab teleponnya.


"Hem?" Dahi Fortan mengernyit mendenggar suara perempuan yang sama sekali tidak ia kenal. Meski Fortan berusaha mengingat suara perempuan diseberang telepon. Ia masih sama, tidak mengingat perempuan ditelepon.


"Siapa ini?" tanya Fortan.


"Ini Sayla Tuan. Tuan yang kemarin nolong saya saat saya hampir tertabrak oleh Tuan," jawab Sayla gugup. Ia masih ketakutan meski sudah aman berada didalam hotel.


"Oh kamu! Ada apa?" tanya Fortan.


"Hah? Kamu bilang apa?" tanya Fortan seakan mencekam bagi Sayla, buru-buru Sayla mengelak.


"Eh enggak Tuan," kata Sayla.


"Oh iya kamu mau pulang kerumahmu ya? Nanti saya akan menjemputmu dan mengantarkanmu kerumahmu, kamu jangan pergi kemana-mana ya, tunggu saja dihotel," ucap Fortan langsung memutuskan telepon secara sepihak.


"Tuan ...." Sayla baru sadar kalau teleponnya terputus secara sepihak, membuat Sayla sangat kesal dibuatnya.


"Aku kan tidak meminta untuk mengantarkanku pulang! Dia nyebelin banget sih. Gimana mau pulang, wong keluargaku jahat banget," batin Sayla.


Nongsi menutup mulutnya. Ia kaget saat Fortan berbicara dengan wanita. Cerobohnya Fortan yang yang menglospeeker suara si penelepon tadi, membuat Nongsi berpikiran negatif terhadap Fortan.


"Wah itu siapa? Ternyata Om Fortan yang aku anggap Daddy dan pahlawanku. Ia menyimpan perempuan dihotel? Astaga apakah tadi malam dia memang berniat pergi ke hotel untuk perempuan itu?" batin Nongsi.

__ADS_1


"Eh anak Daddy sudah siap pergi ngampusnya ya!" Fortan berjalan ke arah Nongsi yang termenung. Ia mengacak rambut Nongsi layaknya anak kecil.


"Kenapa melamun?" tanya Fortan membuat Nongsi tersentak.


"Eh enggak gapapa kok Dad," ucapNongsi bohong. Padahal dirinya masih terbayang ucapan Fortan ditelepon dengan seorang perempuan yang katanya berada di hotel.


"Biar aku selidiki apakah memang Daddy menyimpan perempuan didalam hotel. Kalau aku tanya langsung dia pasti tidak mau ngaku," batin Nongsi.


Fortan mengantar Nongsi ke kampus. Diperjalanan yang ramai tidak ada perbincangan diantara mereka.


"Oh iya. Daddy dapat kabar kalau pacarmu ternyata sudah punya istri," kata Fortan.


Nongsi yang awalnya ceria, mendadak serasa dipatahkan oleh Kimal. Ternyata Kimal hanya menjadikan Nongsi sebuah pelampiasaan ketika sudah bosan terhadap istrinya.


"Apa?" ucap Nongsi sambil menggeleng ia meneteskan air mata.


"Sudah jangan sedih gitu! Kamu gak pantas menangisi seseorang yang sama sekali tidak mencintai kamu dan dia malah mempermainkan kamu," ucap Fortan berusaha menenangkan Nongsi.


"Ini bahu Daddy nganggur. Kalau mau buat nangis!" tawar Fortan menunjuk bahunya.


"Dih Daddy kepedean banget sih! Siapa juga yang perlu bahu Daddy yang kurang besar itu!" ledek Nongsi menjulurkan lidah.


Fortan ingin tertawa melihat kelucuan dari Nongsi. Tapi tidak jadi karena ia tak mau kalau Nongsi meremehkannya sebagai pengganti orang tuanya. Ia tetap akan terlihat galak.


"Dih kaku banget hidup Daddy ini. Dia sama sekali tidak tertawa lebar gitu. Kan nyebelin! Kimal, kamu pria bejad dan tidak mengerti tentang perasaan wanita, kamu benar-benar kejam," batin Nongsi.


Nongsi masih saja menangis ia tak tahan membendung air matanya yang terus mengalir tiada henti. Membuat dadanya sangat sesak.


Brukk


Tak teras kepala Nongsi bersandar di bahu Fortan membuat Fortan kaget. Ia tersenyum sedikit melihat Nongsi yang terus menangis dibahunya.


"Aku akan melakukan cara supaya hatiku bisa tenang,"batin Nongsi.


"Sudah sampai!" suara Fortan membuat Nongsi terkejud. Ia menjadi salah tingkah karena sudah menangis dibahu Fortan yang tadinya ia remehkan.

__ADS_1


Dilihat sekeliling ternyata belum sampai kampus. Nongsi menatap Fortan dengan garang.


"Kok bilang sudah sampai sih Dad!"


__ADS_2