Kisah Cinta Daddy

Kisah Cinta Daddy
Punya pacar?


__ADS_3

"Kita mau beli baju baru. rokmu diatas lutut dan itu tidak sopan kan? Seperti kekurangan bahan sajah," kata Fortan. Ia turun dari mobil.


Nongsi sangat malas harus berganti pakaian lagi. Ia merasa sudah cukup nyaman dengan pakaiannya.


Fortan membukakan pintu Nongsi. Melihat anak angkatnya yang tak kunjung keluar, pria itu langsung menarik lengan Nongsi hingga tubuhnya seakan tercekik.


"Eh tunggu sabuknya belum dibuka! Main tarik aja," kata Nongsi yang baru sadar kalau sealbeltnya belum dibuka. Ia membuka sabuk pengamannya dan berjalan ke arah Fortan.


[Pantesan tadi tubuhku tercekik] batin Nongsi.


Dengan langkah malas Nongsi mengikuti langkah Fortan yang cukup cepat.


"Duh males banget sih pagi-pagi gini harus ganti penampilan. Bukankah pakaianku sekarang memakai lengan? Dan rok ini tidak terlalu pendek kan? Cuma diatas lutut doang," batin Nongsi.


Setelah dirasa cocok di Fortan. Pria itu menyodorkan beberapa pakaian.


"Ayo ke kasir!" ajak Fortan berjalan.


"Tunggu dulu Dad! Ini bajunya gak mau dicoba dulu satu persatu? Takutnya gak muat Dad," kata Nongsi yang mulai menyejajarkan langkahnya dengan Fortan yang langkahnya sangat lebar itu.


Fortan menatap datar Nongsi dari atas sampai bawah.


"Lihatlah dirimu yang tidak terlalu gemuk ituh! Sudah jelas pakaian yang saya pilihkan itu pantas dan pas," tegas Fortan sudah seperti peramal saja.


"Tapi Dad ini warna hitam semua. Gak salah tah?" tanya Nongsi menimang bajunya dan membentangkan satu baju dihadapan Fortan. Fortan hanya menggeleng tanpa senyum. Ya wajahnya sangat dingin tegas tapi tampan ya..


"Terus apaan ini kok kelebaran sih? Nongsi maunya yang ukuran pas gitu dibadan," tolak Nongsi memberikan bajunya pada Fortan.


"Oh mau ngebantah ya? Daddy gak suka kamu pakai pakaian yang pas sampai lekukan tubuhmu terlihat! Ini pakaian longgar supaya kamu nyaman memakainya. Jangan ngebantah lagi, atau Daddy akan mengeluarkan Kimal itu. Kamu mau?" ancaman Fortan menakutkan bagi Nongsi. Dengan sigap Nongsi berkata, "Duh jangan galak Dad. Iya Nongsi akan nurut aja dah."


Fortan tersenyum miring penuh kemenangan.


"Akhirnya aku tidak bisa kalah dengan bocah ini!" batin Fortan.


Sesudah membayar ke kasir. tiba-tiba Fortan melihat wanita pujaannya berjalan bersama lelaki lain.


"Sial!" umpatnya.


"Hah? Ada apa Dad?" tanya Nongsi kebingungan. Fortan baru sadar kalau dirinya lagi bersama dengan Nongsi.


"Kamu masuk ke mobil duluan. Daddy ada urusan sebentar," ucap Fortan membuat Nongsi terpaksa balik ke mobil sendiri.


"Ada apa sih ayah baruku itu? Nyebelin banget deh." batin Nongsi.


Fortan masih fokus mengejar pujaan hatinya. Ia tak mau kalau sampai lolos begitu saja.

__ADS_1


"Tisia tunggu!" teriaknya membuat Tisia menoleh kearahnya.


"Fortan?" tanya Tisia. dan dia berlarian menghampiri Fortan serta memeluk Fortan. Mata mereka sempat beradu penuh kerinduan dan seakan sudah berabad-abad tidak bertemu. Tisia menangis dibahu Fortan.


"Sudah lama kita tidak bertemu," ucap Fortan. Tisia hanya mengangguk dan tak bisa membendung tangisannya.


"Kamu kemana saja Tisia? Nomermu sudah tidak aktif dan kamu sudah lama tidak mengabariku," kata Fortan menyeka air mata Tisia. Tisia hanya termenung tetap menangis.


"Maafkan aku Fortan," ucap Tisia merasa bersalah.


"Ehem," dehaman seseorang membuat mereka menoleh. Alis Fortan terangkat sebelah setelah baru menyadari kalau ada sosok lelaki yang bersama dengan Tisia.


"Dia siapa?" tanya Fortan menatap sekilas lelaki disamping Tisia dan menatap Tisia kembali.


"Kamu memang harus menjelaskan siapa saya kepada pria ini, Sayang," ucap pria disamping Tisia.


"Dia adalah suamiku. Maafkan aku Fortan. Aku tak berniat menodai cinta kita. Namun aku sudah dijodohkan," ucap Tisia penuh penyesalan.


"Kamu!" Saking kesalnya Fortan mengangkat tangannya hampir ke wajah Tisia.


"Pantes Tisia tidak menganggapmu ada. Jadi pria yang dicintainya adalah seorang pria kasar?" ledek suami Tisia membuat Fortan sadar dia hampir saja menampar Tisia.


"Baiklah Tisi. Kalau ini keputusanmu. Aku bisa apa? Aku akan pergi!" ketus Fortan melangkah menjauhi mereka.


"Sudahlah ngapain kamu mikirin dia lagi," ucap suami Tisia dan menarik lengan Tisia meninggalkan Mall.


Dengan kekesalan diujung tanduk. Fortan berjalan tegak ke mobilnya dan menutup Mobil dengan begitu kerasnya membuat wanita didalam mobil sangat kesal.


Ya Nongsi sedang menambahkan lipstik dibibirnya hingga membuat lipstik itu berantakan mengenai pipinya.


"Is Daddy! Lihat nih muka Nongsi jadi cemong dengan lipstik. Ngapain Daddy pakek ngagetin aku segalak sih!" ucap Nongsi kesal. Fortan menatap pipi Nongsi yang penuh dengan coretan lipstik.


"Suruh siapa pakek lipstik dimobil?" tanya Fortan lalu tergelak melihat Nongsi.


Nongsi malah terpaku melihat Fortan yang tergelak. Baru kali ini Nongsi melihat Fortan dengan wajah begitu ceria.


"Cakep," lirih Nongsi membuat Fortan berhenti tertawa.


"Apa?" tanya Fortan


"Eh enggak kok," kata Nongsi mendadak salah tingkah.


"Ah apaan sih aku? Aku gak boleh merasa aneh begini. Dia kan ayah baruku. Aku harus bisa jaga sikap. Ya aku harus bisa jaga sikap," batin Nongsi.


"Gimana ini pipiku ya Dad? Daddy punya tisu kan?" tanya Nongsi yang mengecek tempat tisu dimobil. Ternyata tisu dimobil udah habis. Nongsi memanyunkan bibirnya sepanjang lima centimeter.

__ADS_1


"Aduh udah habis loh Dad," ucap Nongsi memelas.


"Itu berarti takdir Nongsi," ledek Fortan. Ia malah fokus menyetir mobil dan tidak menghiraukan Nongsi yang gelisah karena pipinya tercoreng oleh lipstik. Fortan kembali fokus mengingat rasa sakitnya saat bertemu dengan Tisia dan suaminya di Mall tadi. Benar-benar hati Fortan merasa dipatahkan oleh Tisia.


Srek srek srek


Bahkan Nongsi mengelap lipstik dibaju Fortan dan ia tidak menyadarkan dari lamunannya. Ia terus terbayang wajah Tisia.


Srek srek. Nongsi mengelap lagi lipstik yang ada di bibirnya. Ia berencana akan mengganti lipstik dengan warna lain. Warna nude mungkin akan lebih cocok pikirnya. Nongsi mempunyai kotak khusus make up yang selalu dia bawa kemana-mana.


Mata Fortan membulat saat menyadari pakaiannya penuh lipstik dilengannya.


"Nongsi apa yang kamu lakukan tadi? Mentang-mentang tidak ada tisu didalam mobil. Lalu kamu mengelapnya memakai pakaian saya?" cecar Fortan tiada henti.


Entah mengapa kali ini Nongsi tidak takut dengan kegalakan muka Fortan. Malah ketampanannya bertambah. Nongsi hanya bertambah terkekeh melihat wajah Fortan penuh amarah. Nongsi membayangkan kepala Fortan dipenuhi dengan tanduk merah yang semakin membuat Nongsi tertawa menampilkan deretan gigi ratanya.


"Lucu banget sih," ucap Fortan tak sengaja.


"Hah? Apa Dad?" tanya Nongsi.


"Enggak kok," elak Fortan.


"Ini memalukan Nongsi," ucap Fortan menunjuk bajunya.


"Sudahlah Dad nanti kan bisa ganti," ucap Nongsi dengan tenang dan tanpa merasa bersalah.


Nongsi hendak turun dari mobil dan ternyata tangannya ditahan oleh Fortan.


Dada Nongsi berdegup kencang.


"Apakah Daddy mulai menyukaiku?" tanya Nongsi didalam hati.


"Cium tangan Daddy dulu," ucap Fortan membuat Nongsi menghentikan langkahnya dan bersalaman.


[Ah mikir apa sih aku. Buang pikiran kotormu Nongsi] batin Nongsi.


Tring


Ponsel Fortan berdering. Diangkatlah telepon seseorang.


"Hei kamu menyebalkan sekali ya! Kenapa telepon muluk sih? Saya kan sudah bilang kalau kamu tunggu saja dihotel, bawel banget sih!" bentak Fortan langsung menutup sambungan telepon secara sepihak. Kebiasaan Fortan yang selalu menutup telepon secara sepihak seperti itu.


Nongsi mengenyitkan dahi menatap aneh ke arah Fortan.


"Itu pasti cewek Daddy. Kenapa galak banget sih Daddy. Kenapa pula ceweknya mau sama Daddy yang super galak ini," batin Nongsi.

__ADS_1


__ADS_2