
Kimal semakin ganas menggigit bibir Nongsi hingga Nongsi tak tahan lagi membuka mulutnya membuat Kimal semakin menjadi ******* mulutnya. Tiba-tiba ....
Bruakk!
Pintu terbuka dengan kasar. Mata kekhawatiran dari seseorang menatap Nongsi yang tidak berdaya berada di pelukan Kimal si bejad.
"Nongsi!" teriak pria diambang pintu menatap Nongsi. Seketika keduanya menoleh ke arah pintu. Fortan bergegas menghampiri Nongsi. Pria itu merebut puterinya dari Kimal. Fortan membogam mentah wajah Kimal tanpa ampun.
Kimal berusaha melawan akan tetapi ia kalah dengan kekuatan Fortan. Kimal lunglai tak berdaya.
"Nanti kita teruskan masalah ini ke kantor polisi," lanjut Fortan menatap garang Kimal yang memegangi pipinya dan Kimalpun pingsan.
"Dad!" Nongsi berlarian menghamburkan semua ketakutan tadi dipelukan Fortan. Pria itu cukup kaget karena baru pertama kalinya Nongsi memanggil dirinya dengan sebutan Dad. Seketika Fortan tersenyum dan mengelus kepala Nongsi supaya dia bisa tenang.
"Kamu memanggil saya dengan sebutan Dad? Saya tidak salah kan?" tanya Fortan memastikan pendengarannya masih normal.
"Huhu maafin Nongsi Om. Nongsi tidak tahu kalau Kimal adalah pria bejad," ucap Nongsi sambil menangis. Ternyata fikiran Fortan salah, Nongsi hanya membayangkan sosok ayahnya tadi hingga memanggil Fortan dengan sebutan Dad.
"Tenanglah! Ayo kita pulang saja dari sini," pinta Fortan membuat Nongsi salah tingkah karena sudah memanggil Omnya Dad.
"Tak apa Nongsi. Mungkin kamu masih butuh waktu untuk menganggap saya sebagai ayah kamu. Saya akan terus melindungi kamu, meski kamu belum bisa menerima saya sebagai pengganti ayah kamu," batin Fortan.
Sebelumnya ....
Bukan Fortanna Argama kalau tidak penasaran kemana Nongsi akan pergi dan dengan siapa dia akan pergi. Fortan melihat Nongsi berangkat dengan mobil putih. Dengan cepat Fortan mengegas mobilnya.
"Tak kusangka aku akan memiliki bocah! Bener-bener bocah kau Nongsi! Kenapa kamu malah pergi dengan lelaki itu tanpa sebab? Ini sudah malam! Akan kuomeli habis-habisan Nongsi!" batin Fortan.
Rahang Fortan mulai mengeras saat mobilnya mengejar mobil Kimal.
Cittt!
Hampir saja Fortan menabrak sosok gadis dihadapannya. Dengan sigap Fortan keluar mobil dan mengecek keadaan gadis yang hampir ia tabrak.
"Are you oke?" tanya Fortan. Sebelum mengecek keadaan gadis disampingnya. Fortan cepat menyuruh anak buahnya untuk mengejar mobil Kimal.
Perempuan yang ditabrak Fortan mendadak histeris ketakutan. Ia bahkan tidak melihat wajah Fortan sedikitpun.
"Jangan perkosa saya," ucapnya membuat Fortan terbelalak. Terpaksa Fortan membopong tubuh perempuan yang tidak ia kenal. Ia tidak mau kalau sampai keadaan bertambah macet cuma gara-gara menunggu perempuan yang menurutnya aneh.
"Loh kamu siapa? Lepasin saya!" ucap perempuan itu setelah menyadari Fortan memasukkan tubuhnya ke dalam mobil.
"Sudah! Kamu ikut saya sebentar! Saya ada urusan sangat penting dan tidak bisa ditunda!" bentak Fortan lalu Fortan masuk ke kursi pengemudi dan menancap gas. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, membuat gadis yang berada dibelakang seakan hampir terpelanting.
"Gila kamu ya!" bentaknya.
Fortan tidak menghiraukan wanita disebelahnya ia malah tengah fokus berselancar digawainya.
"Halo! Apakah sudah ditemukan jejak anakku?" tanya Fortan.
"Belum Tuan," sahut seseorang dibalik telepon.
"Goblok!" bentak Fortan langsung menutup sambungan telepon secara sepihak.
Perempuan dibelakang mematung mendengar bahwa Fortan menyebutkan dirinya memiliki anak.
__ADS_1
"Sebesar apa sih anaknya? Sampai mau membahayakan orang seperti ini? Tapi beruntunglah aku ditolong oleh pria ini, sebab hampir saja aku diperkosa oleh orang yang tidak kukenal," batin perempuan yang bernama Sayla.
"Tuan makasih ya tadi ...."
"Makasihnya nanti aja!" bentak Fortan. Ia mulai ingat kalau dirinya memiliki nomer Nongsi dan saat dilihat, beruntunglah Nongsi mengaktifkan gps.
"Dih ketus banget jadi orang yah. Padahal kan mau bilang terima kasih aja loh. Baru nemu spesies langka kayak gini. Nyebelin banget asli dah!" batin Sayla.
"Akhirnya ketemu!" pekik Fortan membuat Sayla kaget. Ia memegangi dadanya.
"Apa yang ketemu?" tanya Sayla. Tapi Fortan tak menjawab. Ia malah menancap gas membuat tubuh Sayla hampir terpental.
Ciiitttt!"
Sampailah ia ditempat dimana Nongsi berada. Fortan bergegas keluar mobil dan menutup mobil dengan garang. Ia tidak ingat kalau meninggalkan perempuan di dalam mobil.
"Eh Tuan tungguin!" ucap Sayla melambaikan tangan dikaca mobil. Fortan menepak jidatnya dan menghampiri gadis itu.
"Oh ya saya lupa? Kakimu tidak sakit kan? Ayo ikut saya!" ucap Fortan.
Sayla keluar dan dengan cepat Fortan menarik lengan Sayla. Lutut Sayla lecet membuat jalannya jadi lambat.
"Aduh bentaran ini lutut saya kayaknya terkilir deh Tuan," lirih Sayla.
"Ah kenapa aku bawa perempuan ini sih? Menyusahkan sekali tauk! Aku harus segera mencari Nongsi. Pikiranku kacau. Gimana kalau Nongsi diperkosa dihotel ini? Astaga aku memakai tutorial menyusahkan dengan membawa wanita asing ini!" batin Fortan.
Greb! Tanpa aba-aba. Fortan segera membopong Sayla. Sayla sangat kaget. Pria itu dengan cepat memesankan kamar buat Sayla.
"Sesudah urusan saya selesai saya akan mentransfer uang untukmu biar kamu bisa berobat. Untuk sementara kamu istirahatlah dihotel ini, melihat keadaanmu dan wajahmu yang kusam begitu, segarkan dulu wajahmu dihotel ya," ucap Fortan menuju lift. Napasnya terengah-engah karena menurut Fortan gadis yang dibopongnya berat.
"Tuan kenapa saya dibopong sih? Saya tadi bisa jalan loh," ucap Sayla. Mendadak darah Fortan mendidih, karena dia tidak suka dipertanyaan oleh hal yang menurutnya tidak penting dijawab. Apalagi sekarang dirinya benar-benar takut dengan keadaan Nongsi.
"Berat!" Tak sengaja Fortan melontarkan perkataan berat. Sayla membulatkan mata dan menyadari bahwa Fortan mengatakan hal itu padanya.
"Tuan! Saya tidak minta dibopong kalau Tuan tidak ikhlas!" bentak Sayla.
"Jangan banyak omong yah! Kalau saya gak bopong kamu, gimana saya bisa cepat berjalan? Tadi kamu terkilir kan?" tanya Fortan.
Sayla mengangguk pasrah. Ia mendadak takut dengan wajah Fortan yang menurutnya galak.
"Disini kamar kamu," ucap Fortan membaringkan tubuh Sayla perlahan ditempat tidur. Membuat Sayla gugup.
"Ini kunci hotelnya ya dan ini kartu nama saya. Segera kamu kirim rekeningmu ke nomer saya, supaya saya bisa langsung transfer. Oke!" ucap Fortan berlalu dari hadapan Sayla.
"Baik sih! Tapi galak juga bikin atut deh," batin Sayla menimang kartu nama Fortan.
Fortan tidak mengetahui kamar mana yang dimasuki Nongsi dan pacarnya. Ia segera menuju lift dan bertanya dimana kamar mereka. Fortan bahkan mengancam jika mereka tidak memberi tahu maka Fortan akan mencoreng nama baik hotel. Akhirnya Fortan diberi tahu dimana Kimal memesan kamarnya dan memberi Fortan kunci cadangan.
--
Sampailah mereka dikediaman ayah Nongsi. Ya Nongsi masih berada di rumah peninggalan ayahnya. Dia sangat senang berada disana. Turunlah Nongsi dengan lemas berjalan ke pintu.
"Maafin Nongsi ya Om," kata Nongsi merasa bersalah sudah tidak mendengarkan nasihat Omnya.
"Kita masuk dulu, tidak baik berbicara diluar rumah," kata Fortan dan Nongsi menurutinya.
__ADS_1
Didalam Fortan meminta art untuk menyiapkan jus dan makanan kecil untuk Nongsi.
Sebelum art datang membawakan jus. Fortan memberikan air pada Nongsi.
"Minumlah Nongsi," pinta Fortan menyodorkan minuman kemulut Nongsi. Gadi itu menegak pelan minuman dan tanpa disadari Nongsi menerima bantuan Fortan untuk membantunya minum dengan memegang gelasnya.
"Maafin Nongsi Om. Nongsi merasa bersalah sama Om. Kalau tidak ada Om disana, mungkin Nongsi sudah ...." Nongsi menggantung perkataannya dan malah menangis mengeluarkan air mata bersalahnya. Ia menumpahkan seluruh kesedihannya dengan menutup kedua wajahnya. Ia merasa begitu sangat malu dan hina didepan Omnya itu.
"Sudahlah. Yang berlalu biarlah berlalu Nongsi. Sekarang kan Nongsi sudah baik-baik saja. Om akan selalu menjaga Nongsi," kata Fortan memantapkan hati Nongsi.
"Kau kah itu Dad? Aku melihat dirimu berada di dalam diri Om Fortan Dad. Sungguh sekarang Om Fortan adalah malaikat tak bersayapku. Aku sudah salah menganggap dirinya. Aku akan menganggap Om Fortan seperti Daddyku. " batin Nongsi.
"Boleh saya panggil Anda dengan sebutan Daddy?"
pertanyaan Nongsi membuat Fortan kaget bukan kepalang. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Nongsi akan berubah secepat itu untuk menganggapnya sebagai ayah.
"Tentu," ucap Fortan membuat senyum Nongsi selalu mengembang.
"Boleh Nongsi meluk Daddy?" tawar Nongsi ragu. Fortan dengan lugunya mengangguk saja. Tanpa aba-aba, Nongsi memeluk Fortan.
"Makasih Dad!" ucap Nongsi.
"Seneng yah udah punya ayah baru?" tanya Fortan membuat Nongsi mendongak melihat wajah Fortan. Nongsi mengangguk cepat dan memeluk Fortan lagi.
"Jangan seneng dulu deh!" ucap Fortan meruntuhkan hati Nongsi dan membuat senyum Nongsi sirna seketika.
"Kamu harus mematuhi seluruh peraturan Om. Jika kamu mau menganggap Om sebagai ayahmu. Peraturan Om banyak loh. Nongsi harus sanggup! Jangan alasan kayak tadi hingga hampir membuat Nongsi masuk keperangkap buaya! Nongsi mau kan mematuhi segala perintah Om?"
pertanyaan Fortan membuat bulu kuduk Nongsi merinding hebat.
"Astaga Om Fortan! Kaku banget hidupnya. Baru dipuji dan disayang. Eh malah minta Nongsi mematuhi peraturannya lagi. Kan bikin mood Nongsi sirna? Peraturannya pasti bikin Nongsi gak betah hidup di dunia ini. Itu pasti!" batin Nongsi.
"Gimana Nongsi?" tanya Fortan menatap Nongsi.
Dengan ketakutan yang membebat dihati. Nongsi menggigit bibir bagian bawah. Ia melepas pelukan tadi dan berusaha menatap wajah Fortan.
"Baik Om. Eh Dad, emang apa aja peraturannya?" ucap Nongsi.
"Banyak! Baik bakalan Daddy sebutin. Pertama Nongsi harus berpakaian melebihi lutut bahkan sampai kaki kalau perlu. Terus shalatnya kudu rajin, jangan bolong-bolong lagi, karena Daddy lihat kamu selalu suka gak shalat kan? Kamu juga harus tidur tepat waktu jam sepuluh dan jangan keluar malam. blablabla ...."
Sudah hampir setengah jam Nongsi mendengar peraturan dari Fortan yang menurutnya Fortan adalah makmak yang biasa marah kepada anaknya.
Bruk!
Tiba-tiba kepala Nongsi jatuh dipaha Fortan membuat Fortan kaget.
"Lah? Sudah bobok rupanya ya?" tanya Fortan pada dirinya sendiri. Ia tersenyum karena dengan cepatnya dia mempunyai anak, walaupun itu anak angkat.
Fortan melirik jam ternyata sudah jam sebelas malam. Ia merasa terkekeh sendiri dengan peraturannya yang bilang ke Nongsi kalau dia harus tidur jam sepuluh malam sementara Fortan sendiri yang melanggar peraturan karena menceramahi Nongsi hingga larut malam.
Fortan tak tega membangunkan puteri barunya itu. Ia tertidur dengan posisi duduk.
Kukruyukk!
Entah suara ayam siapa yang terdengar membuat Fortan bangun. Ia kaget dengan wajah Nongsi yang dipenuhi oleh air liurnya. Segera Fortan mengusap pipi Nongsi dengan tangannya.
__ADS_1
"Astaga kalau sampai Nongsi tau air liurku mengenai pipinya. Dia bakal marah besar sama aku," ucap Fortan pada dirinya sendiri.