Kisah-Kisah Menggugah Jiwa; Para Nabi, Shufi & Orang Shalih

Kisah-Kisah Menggugah Jiwa; Para Nabi, Shufi & Orang Shalih
KH. Maimoen Zubair; Sang Paku Bumi


__ADS_3


KH. Maimoen Zubair (Mbah Moen)


Para santri Al-Anwar setelah periode tahun 2000 banyak menyaksikan tentang kehidupan Mbah Maimoen yang sudah lumayan mapan secara ekonomi. Tetapi apakah kehidupan beliau tiba-tiba saja mapan?.


Tidak, kehidupan beliau terutama dalam kehidupan berkeluarga juga dimulai dengan nol.


Pernah pada suatu malam Idul Fithri, Syaikhona Maimoen Zubair sama sekali tidak mempunyai beras untuk digunakan sebagai zakat fithrah dan bahkan tidak mempunyai uang sedikit pun untuk membeli sekedar untuk jajan Idul Fithri, sedangkan waktu itu putra-putri beliau masih kecil-kecil.


Malam hari raya itu berjalan sampai pertengahan, dengan tetap tanpa ada yang membantu. Setelah pertengahan malam, Syaikhona Maimoen Zubair pun melaksanakan shalat tahajjud. Dalam sholat itu, beliau membaca berulang surat Al-Waqi’ah.


Pertolongan Yang Maha Kuasa seringkali datang pada waktu seseorang sudah sangat terpepet dan seolah-oleh hendak berputus asa. Dan pertolongan itu pun datang pada waktu yang tepat. Dalam Surat Al-Baqarah disebutkan:


..... مَّسَّتۡهُمُ ٱلۡبَأۡسَآءُ وَٱلضَّرَّآءُ وَزُلۡزِلُواْ حَتَّىٰ يَقُولَ ٱلرَّسُولُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ مَتَىٰ نَصۡرُ ٱللَّهِۗ أَلَآ إِنَّ نَصۡرَ ٱللَّهِ قَرِيبٞ - سورة البقرة, آية ٢١٤


...... Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat. (QS. Al-Baqarah [2]: 214)


Pada saat subuh tiba, ada seseorang yang mengetuk pintu rumah beliau. Orang itu datang dengan membawa beras yang cukup untuk menunaikan zakat fitrah dan juga membawa sesuatu yang bisa digunakan untuk membeli jajan dan kebutuhan untuk Idul Fithri.


Mbah Maimoen juga bercerita bahwa dulu pada tahun enam puluhan, makanan sehari-hari beliau dan keluarga adalah “Sredek”, ketela pohon yang diparut kemudian dikeringkan agar awet. Parutan ketela itu kemudian dimasak kukus, setelah matang kemudian dicampur dengan parutan kelapa.


Saat masih kecil dulu, Wakil Gubernur Jawa Tengah Gus Taj Yasin Maimoen dan adik beliau Gus Idror Maimoen sarapan seringkali hanya dengan nasi putih dengan lauk telor setengah matang yang dicampur dengan kecap. Padahal waktu itu sudah memasuki tahun delapan puluhan. Ibunda mengatakan bahwa makanan itu menambah kecerdasan anak.


Gus Taj Yasin Maimoen bercerita bahwa dulu juga ikut membantu ibunda membuat es lilin untuk dijual.


Dari dulu makanan keseharian Mbah Maimoen memang apa adanya, tetapi bila ada tamu orang khusus semisal ulama’ dan pejabat negara, maka beliau akan membeli sate kambing maupun sate ayam sebagai penghormatan atas kunjungan tamu tersebut.


Bahkan saat awal pernikahan dulu, Mbah Maimoen juga belum mempunyai bantal untuk tidur.


Begitu pula dengan kendaraan, pertama kali beliau membeli Vespa ereg-ereg. Setelah itu membeli mobil pickup doplak, kemudian kijang hijau daun, kemudian kijang warna putih. Saat beliau mempunyai kijang warna putih, mobil ini juga digunakan untuk mengantar santri yang sakit. Semua adalah kendaraan bekas yang dibeli secara kontan.


Setelah itu beliau sedikit demi sedikit berganti kendaraan mulai dari Katana, BMW, Baleno, Mersi, Honda CRV kemudian Mazda. Setelah itu baru kemudian mempunyai Alphard. Dua kendaraan terakhir ini dibeli baru dengan kontan.

__ADS_1


Mobil yang lumayan bagus itu dimiliki beliau setelah beliau sudah mulai berumur sepuh.


Suatu saat ada seorang santri beliau yang sudah berumah tangga berkata kepada beliau:


“Mbah, Njenengan itu sudah sepuh. Agar perjalanan njenengan nyaman, maka sudah pantas njenengan memiliki mobil yang nyaman”.


Saat membelikan kendaraan putra-putri beliau yang sudah menikah, beliau biasanya membelikan mobil bekas. Hal itu memberikan pelajaran tentang kesederhanaan. Artinya beliau memberikan modal pertama berupa kendaraan bekas, walaupun setelah itu tetap membuka kesempatan untuk mengembangkan sehingga dimungkinkan bisa membeli mobil baru.


Gus Rojih bercerita bahwa kakek beliau Mbah Maimoen dawuh:


“Kowe tak tukokno montor elek-elekan Yo. Nek mbangun omah ojo apik-apik”. (Kamu saya belikan mobil bekas ya, bila kamu membangun rumah, jangan terlalu megah).


Syaikhona Maimoen dulu pernah bekerja dengan membeli padi hasil panen Sarang. Padi kering itu kemudian dibawa ke Pati untuk dijadikan beras. Karena waktu itu di daerah Rembang belum ada penggilingan padi. Setelah menjadi beras, kemudian di jual di toko.


Beliau juga pernah berdagang sapi di pasar hewan Kragan Rembang beberapa waktu. Dan bahkan pernah menjadi kepala pasar Sarang selama sepuluh tahun. Beliau juga pernah bekerja sebagai kepala TPI tempat pelelangan ikan Sarang Rembang. Beliau juga pernah menjadi anggota DPRD kabupaten Rembang selama 7 tahun.


Pada tahun tujuh puluhan setelah beliau berumur empat puluh tahun, para santri banyak datang dan meminta menetap. Akhirnya beliau meninggalkan semua ikhtiar mencari rizki dan fokus mengurus pondok pesantren yang dulunya hanya sebuah tanah kosong di depan rumah beliau. Di tanah itu didirikan Musholla kecil dan kamar santri.


Setelah sekitar tujuh tahun setelah itu, beliau diangkat menjadi anggota MPR RI utusan Jawa Tengah selama tiga periode.


Waktu saya datang ke pondok tahun dua ribu tiga, sampai pada tahun dua ribu sebelas tamu juga tidak terlalu banyak yang sowan ke Mbah Yai.


Mulai dua ribu tiga belas sampai puncaknya tahun dua ribu sembilan belas, banyak tamu berdatangan mulai dari perseorangan sampai rombongan, dan mulai masyarakat pada umumnya maupun para Syaikh dari dalam dan luar negeri serta para pejabat.


Begitulah, bahwa kehidupan para kekasih ALLAH di dunia dipenuhi oleh perjuangan yang sangat lama, dan ALLAH memberikan sedikit kemenangan di akhir hayatnya dan biasanya tidak terlalu lama agar tidak mengurangi kenikmatan yang disediakan untuk para kekasih ALLAH di akhirat nanti.


وَلَلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ لَّكَ مِنَ ٱلۡأُولَىٰ - سورة الضحى, آية ٤


“dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu dari yang permulaan” (QS. Adh-Dhuha [93]: 4)


Pernah suatu ketika Mbah Maimoen dawuh kepada saya saat beliau melihat santri yang semakin banyak dan tamu yang datang terus menerus.


“Piye cong menurutmu?.” (Bagaimana nak menurutmu).

__ADS_1


Entah mengapa saat itu saya teringat surat An-Nashr. Saya hanya menjawab:


إِذَا جَآءَ نَصۡرُ ٱللَّهِ وَٱلۡفَتۡحُ (١) وَرَأَيۡتَ ٱلنَّاسَ يَدۡخُلُونَ فِي دِينِ ٱللَّهِ أَفۡوَاجٗا (٢) فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ وَٱسۡتَغۡفِرۡهُۚ إِنَّهُۥ كَانَ تَوَّابَۢا (٣) - سورة النصر, آية ١ - ٣


“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan (1) dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah (2) maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima tobat (3)” (QS. An-Nashr [110]: 1-3)


Mendengar jawaban kanthongumur, beliau hanya terdiam dan melihat dengan pandangan yang jauh.


Dalam Al-Qur'an ALLAH selalu menceritakan masa-masa sulit para Nabi terdahulu sebagai pelajaran bahwa kita melihat orang hebat bukan hanya dari segi kesuksesannya saja, namun yang lebih penting kita bisa meniru perjuangannya dan masa-masa sulitnya. Semoga kita bisa meniru dan meneladani.


النَّصْرُ مِنَ اللّٰهِ، وَالْفَتْحُ مِنَ اللّٰهِ، مَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ خَيْرٍ تَقْضِيْهَا لَهُ يَا اللّٰهُ....آمين


“Pertolongan itu dari Allah, dan Kemenangan juga dari Allah. Orang-orang yang memiliki hajat baik, semoga engkau mengabulkan hajat itu pada orang tersebut Ya Allah. Amin”


Kramatsari, Sabtu Wage 5 Dzul Qo'dah 1441 H/ 27 Juni 2020 M.


≈≈≈


Copas dari Facebook


Postingan aslinya bisa dicek di


👇


https://m.facebook.com/story.php?story\_fbid\=1748702695283122&id\=100004302244939


≈≈≈


Dalam Judul saya berikan Gelar Sang Paku Bumi untuk Mbah Moen, karena saya yakin beliau adalah Paku Bumi. Sebelum beliau wafat, beliau sering dauh ingin wafat di hari Selasa, karena hari Selasa adalah hari dimana Allah menciptakan gunung. dan Gunung itu adalah Paku Bumi/Paku Alam. Gunung adalah penyanggah bumi, tanpa gunung maka bumi ini akan goncang dan tidak seimbang.


Sesuai keinginan beliau, beliau wafat hari Selasa tanggal 6 Agustus 2019 di Makkah Al-Mukarramah sert di semyamkan di Ma’la.


Mari kita kirim Faatihah kepada Mbah Moen beserta seluruh keluarga dan guru-guru beliau...

__ADS_1


Lahumul Faatihah.... Amin


__ADS_2