
Dr. KH. Moh. Romzi Al-Amiri Mannan, S.H., M.Hi. Ketika Muroq Kitab Ihya' 'ulumuddin karangan Imam Ghozali
Di Wilayah Al-Amiri (J) Pondok Pesantren Nurul Jadid, dalam seminggu disetiap paginya terdapat pengajian kitab kuning. Saban hari jum’at, semua santri mengaji kitab tuhfa at-tullab. Untuk hari sabtu sampai senin ngaji kitab iqna’, sedang hari selasa sampai kamis mengaji kitab ihya’ ulumiddin karya imam al-Ghazali. Tapi kalau Kyai Romzi sedang berhalangan, ngaji ihya’nya diganti dengan kitab iqna’, karena memang khusus pengajian ihya’ ulumiddin ini hanya kyai yang mulang / muraq (baca : mengajar), kalau kitab-kitab lain bila kyai berhalangan untuk mulang biasanya akan digantikan oleh ustaz senior yang layak menggantikan kyai.
Ada cerita dibalik ngaji ihya’ yang tidak digantikan oleh ustaz senior siapapun, bahkan pada menantu beliaupun.
Suatu ketika dalam mimpinya, kyai Romzi didatangi gurunya yakni Kh. Maimoen Zubair, pengasuh PP. Al-Anwar – Sarang. Ulama yang sangat disegani di negeri kita ini. Dalam mimpinya, beliau disuruh muroq kitab ihya’ ulumddin karya imam Ghazali.
“Romzi, kamu mulang ihya’ ya. Biar saya ada jawaban saat ditanyai sama imam Ghazali nanti.” Kata mbah Moen dalam mimpi kyai romzi.
Awalnya kyai Rsomzi tidak langsung melaksanakan mimpi tersebut. Sampai beliau mendapat mimpi yang sama sebanyak tiga kali, dan kyai romzi tidak muroq kitab ihya’ juga. Hingga disuatu hari, beliau kedatangan seorang tamu yang merupakan santri utusan mbah moen sendiri. Utusan itu menyampaikan pesan mbah moen bahwa kyai romzi disuruh untuk ke PP. Al-Anwar – Sarang, Jawa tengah, untuk menemui Mbah Moen.
__ADS_1
Hingga berangkatlah Kyai Romzi Bersama ustaz – ustaz senior Ma’had Aly Nurul Jadid. Diantaranya ust. Faizin, ust. Badrus, Ust. Suliyanto dan lain-lain. Setiba disana, waktu menunjukkan sekitar pukul 07.00 WIB dan Mbah Moen masih mulang santrinya. Biasanya beliau mengakhiri pengajarannya masih setengah jam lagi, tapi tak ada yang tau bahwa kyai Romzi dan rombongannya datang, Mbah Moen kemudian mengakhiri pekerjaannya. Lalu, Mbah Moen memanggil kyai romzi.
“santri seng teko paiton, maju neng ngarep (santri yang dari paiton, maju kedepan”
Sontak semua santri clingak-clinguk. Bertanya-tanya siapa yang dipanggil oleh Mbah Moen. Kemudia kyai Romzi mendapat isyarah dari hadaman Mbah Moen bahwa beliaulah yang disuruh Mbah Moen maju ke depan.
Kemudian Kyai beserta rombongannya disuruh masuk ke rumah Mbah Moen. Bisa ditebak, Kyai Romzi disuruh mulang Ihya’. Sesuai yang ada di dalam mimpi yang dialami kyai Romzi. Sebagai santri, beliau merasa kurang mampu karena ketika ngaji ihya’ ke Mbah Moen dulu hanya ngaji ihya’ ulumiddin juz 1, itu pun tidak khatam. Kemudian, Mbah Moen menyuruh Kyai Romzi untuk mendekat dan membuka mulutnya.
Pesan Mbah Moen,
“sebelum mulang, tawassul al-fatihah ke saya sama Imam Ghazali semoga dibimbing ketika nerangkan isi kitab ihya’.”
Sesudah kejadian itu, kyai romzi dan rombongannya pulang ke Ma’had Aly Nurul Jadid dan beliaupun tidak langsung muroq (ngajar, Red) kitab ihya’. Kyai Romzi masih muthola’ah Ihya’ Ulumiddin tersebut berhari-hari dan masih belum muroq Ihya’. Sampai kyai Romzi kedatangan tamu lagi yang merupakan utusan Mbah Moen lagi. ia menanyakan, apakah Kyai Romzi sudah muroq kitab ihya’ atau belum ?
__ADS_1
Sontak kyai Romzi semakin kaget. Beliau merasa tidak layak dan kurang mumpuni ilmunya untuk muroq kitab sekelas ihya’ ulumiddin. Jalan terakhir, beliaupun sowan terlebih dahulu ke pengasuh PP. Nurul Jadid, yaitu Kh. Zuhri Zaini terkait masalah ini. Dawuh kyai Zuhri,
“bukan ngajar, tapi muthala’ah kitab ihya’ pakai mic.”
Semenjak itu, kyai Romzi tidak gelisah lagi. beliau pun memutuskan untuk muroq ihya’ ulumiddin disetiap hari selasa sampai kamis. tak lupa, Kyai Romzi sebelum muroq menjalankan perintah gurunya tersebut untuk tawassul pada Mbah Moen dan Imam Ghazali agar mendapat bimbingan saat menerangkan isi dari kitab Ihya’ ulumiddin.
Dan jika beliau berhalangan, beliau tidak meminta pada pengurus senior meski ilmunya sudah mumpuni, karena memang beliau lah yang mendapat perintah langsung dari Mbah Moen untuk muroq ihya’ ulumiddin, bukan santri-santrinya.
Dan pada tanggal 6 Oktober 2020, KH. Romzi dipanggil keharibaan Allah SWT.
Semoga kita mendapatkan barakah beliau. Amin
lahul Faatihah....
__ADS_1