
Nabi Ibrahim as.. berkata:
“Sebaik-baik penolong adalah kamu, wahai puteraku, untuk menghadapi perintah Allah swt. ini.”
Firman-Nya:
“Ketika keduanya menyerah. ” Yakni, menyerahkan diri dan patuh terhadap perintah Allah swt. “...dan Ibrahim membaringkan puteranya pada pelipisnya. ” Yakni, membaringkan puteranya pada sisi tubuhnya, laksana seekor kambing yang hendak disembelih. Ada yang menyebutkan, bahwa Ismail ditengkurapkan pada wajahnya, sesuai dengan saran puteranya, agar Ibrahim tidak melihat wajahnya yang dapat mengundang rasa kasihannya, dan dapat menghalanginya untuk melaksanakan perintah Allah.
Peristiwa itu dilakukan di atas sebuah batu di Mina. Ada juga yang mengatakan di sebuah tempat di dekat Mina. Ibrahim meletakkan pisau yang tajam itu di atas tenggorokan puteranya, melaksanakan penyembelihan, dia menekan dengan keras dan kuat, tetapi dia tidak mampu memotong tenggorokan puteranya. Allah benar-benar telah menghilangkan tabir dari penglihatan para malaikat langit dan bumi (mereka semua dapat melihat peristiwa penyembelihan itu).
Ketika mereka melihat bahwa Nabi Ibrahim menyembelih puteranya Ismail as. mereka merebahkan wajahnya, bersujud kepada Allah. Berfirmanlah Allah swt.; “Lihatlah hambaku, bagaimana dia menggerakkan pisaunya di atas tenggorokan puteranya, untuk mendapatkan ridha-Ku. Padahal apa yang kamu katakan ketika Kami berfirman:
وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰٓئِكَةِ اِنِّيْ جَا عِلٌ فِى الْاَ رْضِ خَلِيْفَةً...
“Dan ( ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, Aku hendak menjadikan khalifah di bumi” (QS. Al-Baqarah [2] : 30)
Kamu justru mengatakan:
قَا لُوْۤا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَآءَ ۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَـكَ ۗ قَا لَ اِنِّيْۤ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
“Mereka berkata, Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu? Dia berfirman, Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah [2] : 30)
Kemudian Ismail AS. berkata:
“Hai ayahku, lepaskanlah ikatan kedua tanganku dan kedua kakiku, sehingga Allah tidak melihatku dalam keadaan terpaksa. Yakni, di dalam mentaati perintah-Nya, (aku bukanlah orang yang) dalam keadaan terpaksa. Bahkan tepatkan pisau di atas leherku agar para malaikat mengetahui bahwa putera Nabi Al-Khalil, taat kepada Allah dan perintah-Nya dengan penuh kesadarannya”.
Maka Ismail membentangkan kedua tangan dan kakinya tanpa diikat, dan dipalingkan wajahnya ke tanah. Lalu Nabi Ibrahim menggerakkan pisau dengan semua kekuatannya. Tetapi pisau itu mental dan tidak mampu menggoreskan luka di leher Ismail atas izin Allah.
Nabi Ismail berkata:
__ADS_1
“Wahai ayah, kekuatanmu menjadi lemah disebabkan kecintaanmu kepadaku, sehingga engkau tidak dapat menyembelihku.”
Maka Nabi Ibrahim memukulkan pisaunya pada sebuah batu dan batu itu, pecah terbelah dua.
Nabi Ibrahim AS. berkata pada pisaunya:
“Engkau dapat memotong batu, tetapi mengapa tidak dapat memotong daging?”
Pisau itu berkata, atas izin Allah swt., katanya:
“Hai Ibrahim, engkau mengatakan “potonglah”,
tetapi Tuhan semesta alam berfirman:”
"Janganlah engkau potong.” Bagaimana aku harus menurut pada perintahmu, tetapi durhaka kepada Tuhanmu?”
Kemudian Allah swt. berfirman:
“Lalu Kami panggil dia, Wahai Ibrahim Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu. Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. As-Saffat [37]: 104-105)
Yakni, engkau benar-benar membenarkan apa yang kamu lihat dalam mimpi (wahyu dari Allah melalui mimpimu). Maka jelaslah bagi hamba-hamba-Ku bahwa engkau adalah memilih ridha-Ku mengalahkan cintamu pada puteramu. Dan dalam hal itu engkau telah menjadi orang yang berbuat baik. “Sesungguhnya demikianlah Kami akan membalas orang-orang yang . berbuat baik. ” Yakni, orang-orang yang taat kepada perintah-Ku.
Firman-Nya:
اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْبَلٰٓؤُا الْمُبِيْنُ
“Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” (QS. Ash-Shaffaat [37]: 106).
Yakni, penyembelihan itu adalah benar-benar merupakan ujian yang jelas dan cobaan yang nyata, yang dengannya dapat membedakan antara orang yang berlaku ikhlas dengan yang lain. Atau ia adalah cobaan yang berat, sebab meman g tidak ada sesuatu yang lebih berat daripada ujian penyembelihan itu.
__ADS_1
Firman-Nya:
وَفَدَيۡنَٰهُ بِذِبۡحٍ عَظِيمٖ
“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar:” (QS.Ash-Shaffaat [37]: 107).
Yakni, Kami selamatkan anak yang diperintahkan untuk disembelih itu (Ismail) dengan “binatang sembelihan yang besar” dari surga. Yaitu, seekor domba yang pernah di gunakan kurban Habil dan diterima Allah. Kambing itu hidup di surga, sehingga dapat di gunakan untuk menembus Ismail as. Ia adalah seekor domba yang besar tubuhnya.
Malaikat Jibril datang dengan membawa domba tersebut, sehingga dia melihat Nabi Ibrahim sedang menggerakkan pisaunya pada leher Ismail as.
Jibril berkara:
“Allahu akbar, Allahu akbar ”
Nabi Ibrahim pun menyambut:
“Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar ”
Ismail berkata:
“Allahu akbar wa lillaahil hamdu”
Allah memandang bagus kalimat ini, maka Allah mewajibkannya Pada kita pada hari-hari penyembelihan (nahr), karena mengikuti jejak Nabi Ibrahim AS."
sumber.
Durratun Nashihin 1
halaman. 596-598.
__ADS_1
اللهم صَل على سيدنا محمد وعلى ال سيدنا محمد
semoga bermanfaat