Kita Beda

Kita Beda
04


__ADS_3

"cha pindah ketempat duduk Lo, Gue mau duduk."tiba-tiba terdengar suara lelaki yang amat datarnya dan secara spontan kedua gadis itu mendongak keatas menatap si pemilik suara.


mata Echa melotot kaget karena yang menyuruhnya pindah adalah seseorang yang baru baru saja Ia bicarakan dengan Tara. sedangkan Tara hanya menatap lelaki itu dengan tatapan biasa saja, sebenarnya Tara hanya berpura-pura biasa saja setelah melihat lelaki itu, padahal jantungnya sudah berdetak kencang.


Echa beranjak dari tempat duduk milik lelaki itu dengan telapak tangannya menepuk-nepuk keras pundak Tara sehingga menimbulkan bunyi setelah itu Echa langsung lari terbirit-birit ketempat duduknya meninggalkan Tara yang mulutnya sudah komat kamit menyumpah serapahi sahabatnya itu.


setelah Echa beranjak pergi dari situ, lelaki itu langsung mendudukkan bokongnya dikursi miliknya tepat disebelah Tara tanpa mengatakan sepatah katapun tangannya bergerak mengambil alat tulis didalam tasnya lalu meletakkannya diatas meja satu persatu Ia susun dengan rapi.


tepat disebelahnya juga Tara melakukan hal yang sama tetapi bedanya yang ia keluarkan bukan alat tulis melainkan buku gambar dan alat-alat menggambar.


lelaki itu memalingkan wajahnya kesamping menatap Tara yang sedikit menunduk karena sibuk mengatur posisi posisi alat menggambarnya,Ia menatap lekat wajah Tara sedangkan yang ditatap tidak menyadarinya sedikit pun.


"plesternya kenapa ngga dipake?ngga takut apa tu muka jadi tambah jelek." suara itu berhasil membuat Tara mengangkat kepalanya dan langsung menatap si pemilik suara.


Tara menunjuk plester yang berada di atas mejanya yang sedikit tertutup oleh buku gambar miliknya "ini yang Lo maksut?."


"iya,kenapa ngga di pake hm?mau gue pakein?"


"apa sih!,emang Lo siapa nyuruh nyuruh gue pake gituan." Tara memalingkan wajahnya menghadap kearah lain sejujurnya Tara selalu menggunakan nada ketus ketika berbicara dengan lelaki itu hanya untuk menutupi rasa sukanya.


"gue jaren bumi chandra kalo Lo lupa." lelaki itu sedikit menekankan suaranya ketika menyebutkan namanya.


ya dia adalah lelaki yang memberikan plester motif Hello Kitty kepada Tara dibawah pohon beringin tadi.


Jaren mengambil plester itu dimeja Tara bahkan si pemilik meja pun tidak sedikitpun mengalihkan pandangannya dan tetap fokus dengan apa yang dilakukannya.


tangan lelaki itu menggapai dagu milik Tara sehingga gadis itu tertoleh kesamping dan kini mereka saling menatap dengan tatapan yang hanya bisa diartikan oleh pemiliknya masing-masing.


"kenapa si ren?."tanpa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Tara, lelaki itu tetap menahan dagu Tara agar tidak banyak bergerak lalu dengan cekatan Jaren langsung menempelkan plester di pipi Tara yang terluka kemudian mengelus lembut pipi gadis itu menggunakan ibu jarinya.


merasakan tindakan yang secara tiba-tiba seperti itu membuat bola mata Tara membulat sempurna tak lupa dengan laju detak jantungnya yang amat sangat kencang, Tara berharap semoga saja lelaki itu tidak bisa mendengar suara detak jantungnya yang teramat kencang.


"Eh L-lo apa apaan sih!.ngga sopan tau sembarangan aja nyentuh pipi gue." Ucap Tara gelagapan sebisa mungkin Ia menormalkan ekspresinya agar tak terlihat salting berhadapan dengan Jaren.


Mata Jaren mengerjap berkali kali karena melihat reaksi gadis itu yang bukannya berterima kasih malah mengatakan hal yang tidak tidak, padahal niatnya hanya membantu gadis itu untuk menempelkan plester di lukanya, ingat bahwa Jaren HANYA membantu tidak lebih.


"eh itu gue cuma bantuin Lo makein plesternya aja kok ngga lebih,serius deh Ra." Jaren sampai sampai mengangkat dua jarinya berbentuk peace.


Tara hanya mengangguk-anggukkan kepalanya lalu beralih ke kegiatannya tadi yang yang sempat tertunda karena tindakan Jaren yang bisa membuat Ia menyalah pahami perasaannya.


KRINGG


Bel berbunyi tanda jam pelajaran akan segera dimulai membuat para murid berlarian masuk kedalam kelas tetapi ada juga beberapa yang malah masih diam duduk dikantin atau ditaman hanya untuk bergosip yang tidak ada habisnya.


Tara menggelengkan kepalanya dan mencoba memfokuskan dirinya untuk tidak terlalu jatuh dalam perasaannya.


Tak lama kemudian seorang guru perempuan yang bernama Lia masuk kedalam kelas itu untuk membawakan materi pelajaran geografi,tidak ada pelajaran satupun yang gadis itu sukai makanya Ia lebih memilih untuk menggambar di setiap jam pelajaran. meskipun mendengarkan materi, Tara tak sepenuhnya mendengarkan materi sisanya pikirannya berkelana dikantin.


"oke buka bukunya di bab 4." ucap Bu Lia sembari membuka buku daftar hadir untuk mengabsen satu satu muridnya sebelum memulai pada pembahasan materi.


"Alvin Dirgantara." nama ketua kelasnya itu berada paling awal sesuai huruf abjad dipanggil pertama, barangkali kalau Malaikat maut ngambil nyawa orang sesuai huruf abjad mungkin Alvin orang pertama yang dipanggil.


"hadir bu guruku yang cantik." jawab Alvin yang direspon gelakan tawa oleh seisi kelas.

__ADS_1


"kamu tuh ada ada aja." Bu Lia lantas menggelengkan kepalanya karena sudah setiap Ia masuk dikelas ini pasti jawaban Alvin saat dipanggil tetap sama.


semuanya tertawa tapi tidak dengan Echa yang duduk bersebelahan dengan Alvin,gadis itu mencubit perut Alvin dengan jemarinya kontan lelaki itu meringis sembari mengelus perutnya.


"Lo tuh ya malu maluin aja nyet." bagaimana tidak malu karena hal itu membuat seisi kelas menoleh kearah Alvin yang tentunya bersebelahan dengan Echa.


Bu Lia melanjutkan panggilan nama-nama didaftar hadir.


"Christin Shintara .A." panggil Bu Lia sedangkan yang dipanggil tak mendengar panggilan dari Bu Lia karena gadis itu terlalu fokus dengan gambarannya.


"Christin Shintara." panggilnya sekali lagi karna tak kunjung menjawab Jaren yang ada disebelahnya menyenggol bahu Tara tanpa melihat apa yang sedang dilakukan gadis itu.


"nama Lo dipanggil tuh,budeg banget sih jadi orang." ucapnya masih melihat kearah depan dan tidak menyadari bahwa gadis disebelahnya sudah mengepalkan tangannya bersiap siap untuk meninju kepala Jaren karena akibat senggolannya itu membuat gambar nya tercoret.


"hadir Bu,tapi---" mendengar ada jawaban dari Tara membuatnya langsung mencentang nama Tara sebagai tanda hadir, tapi ketika mendengar ada lanjutan kata tapi selain kata hadir membuat kening Bu Lia mengerut heran entah hal apa lagi yang terjadi setelah ini guru itu sudah menduga duga.


"---Lo..Jaren jambul mati Lo ditangan Gue sekarang ." ucapnya langsung membalikkan badannya menghadap Jaren dengan tangannya yang sudah dikepala lelaki itu kemudian menariknya dengan kekuatan penuh yang Ia punya.


sedangkan Bu Lia yang sudah menduga akan terjadi hal ini hanya dapat mengelus dadanya sambil berteriak menyuruh Tara untuk berhenti menarik rambut milik Jaren.


"AAA TARAAA LEPASIN TAR,SAKIT ANJING." teriak Jaren kesakitan karna Ia kalah cepat dari gerakan yang secara tiba-tiba dari Tara bahkan saat Ia tidak menyadari apa kesalahannya.


"GAMBAR PUNYA GUE KE CORET AMA LO MONYET." Tara semakin menarik kuat rambut Jaren karena kepalang kesal.


Bu Lia yang kelabakan berteriak menyuruh anak kelas untuk memisahkan mereka, dimana posisi mereka adalah tangan Tara dikepala Jaren, sedangkan tangan Jaren mencubit keras kedua tangan Tara yang menjambak rambutnya.


akhirnya mereka dipisahkan dengan beberapa siswa yang memegangi tangan dan memeluk perut keduanya agar tidak lagi bertengkar.


"ya makanya liat liat dulu dong!, punya matakan?." oke Jaren terpukul kalah oleh perkataan Tara sebenarnya Ia bisa saja menjawabnya tapi Jaren mengalah karena memang itu adalah salahnya, ditambah lagi oleh Tara yang kesabarannya setipis tisu.


" kalian berdua keluar! berdiri dilapangan sampe saling maaf maafan baru ibu suruh masuk." mendengar hukuman dari Bu Lia, Jaren menganggukan kepalanya dan kakinya melangkah menuju keluar dari kelas. berbeda dengan Tara bukannya segera keluar malah mengatakan hal yang membuat Bu Lia ingin menabok muridnya yang satu ini.


"maaf maafan nya nanti dulu ya Bu nunggu Natalan atau ngga nunggu lebaran dulu."Jaren yang sudah ada di pintu langsung berbalik masuk lagi dan menghampiri Tara kemudian menarik tangannya agar mengikutinya kelapangan untuk menjalani hukuman yang diberikan Bu Lia.


"apaan sih Ren, lepasin ngga!."


"iya,iya galak banget sih ni anak kingkong." kata Jaren melepaskan tangan Tara yang Ia genggam.


Plak!


mendengar bahwa ia disebut sebagai anak kingkong, membuat Tara menabok lengan Jaren dengan keras sehingga si empunya lengan meringis kesakitan.


"rasain tuh." Tara langsung segera berlari menuju lapangan agar tidak mendapat balasan pukulan dari Jaren.


melihat itu Jaren berlari lari kecil mengikuti Tara menuju lapangan.


kini hanya ada mereka berdua yang berdiri ditengah lapangan dibawah teriknya sinar matahari yang terasa seperti membakar kulit secara langsung.


Jaren menyenggol pelan lengan milik Tara yang membuat mata gadis itu mendelik menatap Jaren "ngapain Lo nyenggol gue?,mau kejambak lagi tu rambut?." sungguh Jaren tidak berniat untuk mengajak ribut,Ia hanya ingin meminta maaf tetapi sepertinya hari ini gadis itu sedang mode singa.


"gue minta maaf ya Ra,tadi gambarnya jadi rusak karena gue nyenggol Lo tapi sumpah ngga sengaja." ucap Jaren dengan tulus, bukan hanya ucapannya tetapi tatapan lelaki itu tampak sangat tulus.mungkin jika ditanya apa yang Tara sukai mengenai Jaren maka Ia akan langsung menjawab dengan lantang bahwa yang paling ia sukai dari Jaren adalah mata dan senyumannya.


Jaren memiliki tatapan mata yang teduh membuat siapapun yang menatap matanya merasakan ketenangan dan Jaren memiliki senyuman yang selalu membuat siapapun yang melihatnya merasakan hangat dihatinya,ketika Jaren senyum maka matanya akan berbentuk bulan sabit, mungkin ketika lelaki itu tertawa Ia tak bisa melihat apapun.

__ADS_1


oke stop membahas tentang Jaren dan segala keindahannya


mendengar kata maaf dari Jaren sontak membuat Tara menatap lelaki itu lalu dengan cepat mengalihkan pandangannya kearah lain sambil menganggukkan kepalanya.


melihat respon Tara yang hanya menganggukkan kepalanya membuat Jaren mengangkat tangannya dan jemarinya bergerak mengacak-acak rambut Tara sehingga rambut yang tadinya rapi jadi berantakan dibuatnya.


"jadi dimaafin ngga nih?."


"iya, dimaafin.orang tadi juga gue salah karena langsung ngejambak rambut Lo--"


"iya Gue maafin kok." belum sempat Tara mengucapkan kata maaf tapi Jaren sudah lebih dulu menyela ucapannya membuat Tara tertawa kecil.memang dasarnya Jaren itu menyebalkan tapi sayang.


"nanti mau pulang bareng ga." kali ini Jaren mengucapkan sesuatu yang membuat Tara teramat kaget sampai melupakan panasnya matahari yang menusuk kulit itu. Ia terdiam sejenak berusaha untuk tidak terlalu jatuh kedalam perasaannya.


"kok tiba-tiba?,kalo ngerasa bersalah karena gambar gue yang tadi ga sengaja rusak lupain aja." Tara berusaha mengontrol perasaannya untuk tidak terlalu menerima sesuatu berdasarkan pemikirannya saja.


"ngga kok,ini gue murni ngajak pulang bareng dari hati yang terdalam."ucapan Jaren yang teramat menggelikan ditelinga menurut Tara.


"ga perlu,Gue bawa motor sendiri."tolak Tara dengan suara pelan membuat Jaren menganggukan kepalanya tanda Ia mengerti dengan ajakannya yang ditolak oleh gadis itu.


"oh iya. Lo kenapa dalam waktu beberapa jam ini banyak ngomong dan sedikit punya rasa manusiawi haha." Tara tertawa mengingat sifat Jaren yang saat ini menurutnya berbeda dengan hari hari sebelumnya.


sejenak Jaren menundukkan kepalanya lalu mengangkat kepalanya lagi memandang lurus kedepan tanpa menatap gadis yang ada disebelahnya "ngga ada yang berubah sih menurut gue."


setelah mendengar jawaban dari Jaren tidak ada salah seorang dari mereka yang membuka suaranya barang sedikitpun.


hingga 5 menit, 10 menit pun berlalu mereka masih berada di bawah teriknya matahari.


"hey kalian!,coba saliman dulu tanda maaf." suara Bu Lia terdengar dari jarak 10 meter ditempat mereka berdiri.


Tara menyipitkan matanya karna begitu teriknya matahari kemudian tanpa aba-aba menarik tangan Jaren agar bersalaman. "udah kaya natalan aja salam salaman."gumam gadis itu tapi telinga Jaren masih menangkap apa yang dikatakan oleh Tara.


"UDAH KAN BU." ucap Tara dengan suara yang keras tanpa menunggu jawaban dari gurunya,gadis itu langsung berlari meninggalkan Jaren menuju tempat teduh dibawah pohon mangga.


melihat hal itu Bu Lia menggelengkan kepalanya tak mau ambil pusing Ia beranjak pergi dari situ.


~~~~~~~••~~~~~~~~


KRINGG


Bel berbunyi menandakan waktunya pulang membuat seisi kelas berteriak kegirangan.banyak yang berlarian menuju keparkiran untuk mengambil motornya karena tak sabar untuk pulang memberi makan bayi bayi cacing perut yang menangis. semuanya nampak kegirangan mendengar bel berbunyi berbeda dengan Tara yang selalu nampak murung jika sudah jam pulang.


Tara melajukan motornya dengan kecepatan yang amat lambat.


Tin!


suara klakson motor disamping Tara yang membuat gadis itu memutar bola matanya malas karna Echa yang berada disebelahnya tak hentinya menekan klaksonnya berkali kali.


"heh, Gue gampar juga Lo ya nyet." Tara sedikit menambah kecepatan laju motornya.


"HAHAHA DULUAN YA MAU MAEM." tawa Echa berpamitan dengan Tara yang dibalas anggukan oleh Tara.


membosankan.iya hidup ini terlihat sangat membosankan seberapa keras usahanya untuk menciptakan kehebohan atau tantangan dihidupnya maka hidupnya tetap akan kembali kepada hal yang membosankan.sungguh Tara hanya merasakan kekosongan dalam hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2